Kania dan Satria masih berjalan bergandengan tangan. Menikmati malam terakhir mereka di Jogja sebelum kembali ke rutinitas. Yang artinya, mereka tidak akan bisa lagi tampil mesra di tempat umum seperti saat ini.
“Besok pagi aku udah balik. Karena besok siang aku ada rapat,” kata Satria.
Kania bersorak dalam hati. Dia menundukkan kepala sambil senyum-senyum membayangkan hari bebasnya tanpa Satria.
“Hati-hati di jalan, Sayang,” balas Kania yang tidak bisa menahan senyumnya.
Satria menangkup wajah Kania. “Kenapa senyum-senyum? Kamu bahagia ya jauh dari aku?” tanya Satria sambil memasang wajah dinginnya.
Kania ingin tertawa karena bukannya terlihat menyeramkan, Satria malah terlihat semakin menggemaskan. Namun, dia cukup sadar diri untuk tidak melewati batas sebagai istri kontrak.
“Sayang, aku senyum karena kamu kelihatan ganteng, bukan karena aku bahagia jauh dari kamu.” Kania menatap wajah laki-laki yang dua bulan ini sudah mengisi hari-harinya, juga menghangatkan malam-malam bahagianya.
“Bener? Aku ganteng?” tanya Satria.
“Iya, Tuan Satria yang terhormat. Anda sungguh terlihat tampan malam ini. Sayangnya, besok malam kita tidak bisa jalan-jalan bersama lagi,” jawab Kania yang terlihat sedih.
“Kalau begitu, kita nikmati saja malam ini sebagai malam terindah.” Satria merangkul tubuh Kania.
Satria juga ingin menikmati hari bebas ini, karena belum tentu mereka mendapatkan momen-momen berduaan seperti saat ini lagi.
***
***
Kania dan rombongan sudah sampai di ibu kota tepat saat hari telah gelap. Mereka yang membawa kendaraan bisa langsung pulang. Sementara Kania, dia harus pulang naik taksi.
Tahu Kania sudah pulang, Satria langsung memaksa untuk menjemputnya karena khawatir hari sudah sangat malam.
Kania harus memikirkan tempat yang tepat karena tidak mungkin dia dijemput di kantor mereka. Akhirnya, Kania mengirimkan alamat halte yang cukup jauh dari kantor, dan ia memutuskan untuk naik ojek online supaya lebih cepat sampai.
Semoga saja, Pak Satria belum sampai. Bisa gawat kalau dia sampai lebih dulu.
Kania harap-harap cemas sambil menatap ponselnya.
Sementara itu, Satria sudah sampai di halte yang Kania katakan, tapi tidak ada tanda-tanda wankta itu. Perasaan Satria mendadak khawatir, takut jika Kania kenapa-kenapa sebelum dia sampai.
Laki-laki itu menunggu di mobil sambil berusaha menelepon Kania. Tepat sebelum telepon diangkat, Kania turun dari boncengan seorang laki-laki.
Satria yang kesal langsung turun dari mobil dan menghampiri Kania. Namun, belum sempat dia menginterogasi tukang ojek yang membonceng istrinya, laki-laki itu sudah melarikan diri.
“Siapa dia?” tanya Satria yang memasang raut serius.
Aduh, jujur enggak ya. Bisa ngamuk nanti dia.
“Itu tukang ojek, Sayang. Udah yuk pulang!” ajak Kania sambil merangkul tubuh Satria.
“Kenapa naik ojek? Aku bisa jemput ke kantor, ‘kan?” tanya Satria sambil membukakan pintu mobil untuk Kania.
“Aku udah pesan ojek tadinya, Sayang. Aku enggak enak kalau cancel, dia ‘kan juga cari uang, Sayang,” jawab Kania.
“Oke oke aku percaya, sebagai gantinya kamu malam ini tiga kali keluar,” kata Satria yang kemudian menutup pintu mobil dan berjalan memutarinya.
Mendengar permintaan Satria itu, Kania tentu tidak terima.
“Sayang, aku baru sampai loh. Capek banget aku, Sayang.” Kania menatap suaminya yang baru masuk ke mobil dan malah nyengir kuda.
“Aku enggak mau tau,” balas Satria yang kemudian menyalakan mesin mobilnya.
Mereka saling berdebat, tapi perdebatan itu justru membuat Kania dan Satria semakin mesra. Keduanya semakin dekat seolah tidak ada Felicia di antara hubungan mereka.
Mereka akhirnya sampai di apartemen. Saat baru keluar dari apartemen, tiba-tiba ponsel Satria berdering. Satria terpaksa menjawab panggilan itu karena Felicia menelepon.
“Kanya, sebentar.” langsung menggeser tombol penjawab telepon di layar ponselnya. “Halo!”
“Halo, Sayang. Kamu lagi di mana?” tanya Felicia.
“Aku lagi di apartemen, Sayang. Kenapa?”
“Ah, jangan bohong, Sayang. Ini aku di depan apartemen kamu. Aku pencet bel dari tadi enggak ada yang buka, emang kamu enggak dengar, Sayang?”
Feli di apartemen. Aduh, gawat!
“Ini aku di parkiran, Sayang. Kamu beneran di apartemen? Oke, aku segera ke sana. Tunggu ya, jangan ke mana-mana!”
Jadi, istrinya pulang lagi. Itu artinya aku tidur sendiri lagi?
Satria sudah memasukkan ponselnya dan berjalan menuju lift.
“Istri kamu pulang ya, Sayang?” tanya Kania yang berjalan mengekor di belakang Satria.
“Iya, Kanya. Kayaknya kita harus pisah lagi. Kamu enggak apa-apa, ‘kan?”
“Aku enggak apa-apa. Kamu naik duluan aja. Biar aku tunggu setelah kamu naik,” kata Kania sembari memasang senyum simpul.
“Jangan menelepon ya, aku akan usahakan untuk menemuimu.” Satria masuk ke lift terlebih dahulu. Meski unit tempat tinggal pribadinya dan unit tempat tinggal Kania yang biasa mereka tinggali bersama itu berbeda lantai, tetap saja jalan terpisah adalah cara terbaik untuk menghindari Felicia.
Kania mengangguk pasrah. Sebagai istri kontrak yang dirahasiakan, dia sadar posisinya akan mengganggu hubungan Satria dan istrinya. Jika Satria itu diibaratkan mobil, maka dia hanyalah sebuah bengkel yang menjadi tempat sementara untuk memenuhi kebutuhannya, dan Felicia adalah garasi yang menjadi tempat ternyaman untuk pulang.
Tidak mungkin jika mobil akan tinggal selamanya di bengkel. Akan ada saatnya dia harus pulang dan berbahagia. Namun, saat dia membutuhkan sesuatu, Kania tetap menjadi bengkel yang menyanbutnya penuh suka cita.
Kembang kopinya jangan lupa 😚😚
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 105 Episodes
Comments
Hera Puspita
nah bingung kan satria nya 😁😁😁
2024-08-19
0
Izza Driani
jadi kucing" gini ya... padahal sama apartemen nya...
2023-07-10
0
Puji Rahayu
istri n cinta kok di padak e sama bengkel to thor....
ana2 bae...😃😃😃
2023-03-14
0