Kania naik bis di urutan paling akhir karena menunggu Satria pergi dengan mobilnya. Wanita itu akhirnya bisa bernapas lega saat dia bisa naik ke bis tanpa diketahui suaminya sendiri.
Hampir sembilan jam perjalanan yang akan mereka tempuh membuat Kania bisa sedikit bernapas lega setelah menonaktifkan ponselnya. Dia tidak ingin diganggu karena liburan kali ini dia ingin terbebas dari Satria.
Satria berkali-kali menghubungi Kania, tapi ponsel Kania malah tidak aktif dan itu membuatnya khawatir.
Kenapa tidak aktif? Padahal aku mau kasih tahu dia kalau aku akan menyusulnya ke sana.
Satria masih harus menyelesaikan beberapa pekerjaan dan baru bisa menyusul Kania esok harinya.
Saat dia masih memikirkan Kania, tiba-tiba Felicia meneleponnya. Rutinitas membosankan yang mulai Satria rasakan, tapi sebagai suami yang dalam tanda kutip baik, Satria tetap menjawab telepon Feli.
“Sayang, kamu lagi apa?” tanya Felicia di telepon.
“Lagi kerja, Sayang. Kenapa? Kamu mau beli parfum, tas, apa sepatu?” Satria langsung menebak karena biasanya Feli menghubunginya jika uang bulanan menipis.
“Kok kamu nanyain itu sih, Sayang. Aku lagi kangen sama kamu.”
Satria menutup berkas-berkasnya. Dia masih mencintai Feli sebenarnya. Hanya saja, wanita itu sangat sibuk dan berambisi dengan karirnya. Bahkan, Satria tidak pernah mencari tahu kehidupan sosial Feli di negara itu.
“Sayang, kamu masih mencintaiku apa tidak sih?” tanya Feli mulai ragu.
Mencintai Feli? Rasanya tidak ada yang lebih mencintai Feli dibanding Satria. Sejak Feli masuk ke kampus dan menjadi juniornya, Satria sudah jatuh hati pada Feli, sampai akhirnya dia menunggu cukup lama untuk bisa menikahi Feli.
Hubungan Feli dan Satria juga tidak mulus. Ayah Satria awalnya menentang hubungan mereka, tapi Satria terus meyakinkan ayahnya bahwa Feli adalah yang terbaik. Bahkan, ibunya Satria juga akhirnya mendukung. Namun, setelah tiga tahun menikah ini, Feli tidak juga berubah seperti harapan Satria.
Lalu, apa sekarang Satria masih tetap mencintai Feli?
“Tentu saja. Aku sangat mencintaimu Fel. Kenapa kamu ragu?”
“Oh, tidak. Aku hanya takut kehilanganmu saja, Sayang. Kalau gitu, aku tutup dulu ya. Aku mau pemotretan, Sayang.”
“Fel, kamu sampai kapan sih jadi modelnya?”
“Kenapa nanya itu lagi sih, Sayang. Aku ‘kan udah bilang. Aku masih kontrak dua tahun ke depan. Jadi, setelah itu baru kita bisa program anak, Sayang. Oke, aku tutup ya. I love you.”
Lagi-lagi Satria harus bersabar. Jika dulu dia akan sangat kecewa dengan keputusan Feli, sekarang sudah ada Kania. Dia tidak akan kesepian lagi. Kalau Feli memperpanjang kontraknya, dia juga bisa memperpanjang kontrak pernikahan dengan Kania.
***
***
Kania sudah sampai di hotel tempatnya menginap. Dia mendapat kamar bersama tiga rekannya yang lain.
Saat sudah selesai bersih-bersih. Kania baru mengaktifkan lagi ponselnya. Ada banyak sekali pesan dan panggilan dari Satria.
Baru beberapa menit aktif, Satria langsung menelepon.
“Kamu ke mana saja, Kanya? Kenapa HP kamu mati?” tanya Satria yang terdengar sangat kesal.
“Aduh, maaf ya Sayang. Aku tadi lupa enggak carge HP. Jadinya mati. Maaf ya,” jawab Kania dengan selembut mungkin.
“Kita ketemu yuk, aku di Jogja.”
“Jangan sekarang ya, Sayang. Aku masih capek banget hari ini.”
“Kanya, aku di Jogja loh. Kok kamu biasa aja, kayak enggak kaget gitu sih?”
Kania langsung bingung. “Oh, di Jogja? Sebelah mana, Sayang? Aku pikir kamu bercanda aja,” kata Kania berbohong.
“Kamu di mana biar aku samperin?”
Kania lalu menyebutkan nama hotel di sebelah tempatnya menginap. Setelah itu, Satria memaksa untuk menemuinya.
“Karyawan aku juga kayaknya pada nginep di sebelah,” kata Satria saat Kania masuk ke mobil yang Satria sewa.
“Hah? Kok bisa? Mungkin kebetulan aja kali ya, Sayang.” Kania memalingkan wajah dan berucao dalam hati. Matilah aku kalau sampai dia curiga terus seperti ini.
“Ya, mungkin kebetulan aja. Tapi, untungnya kamu bukan pegawai aku sih, Sayang. Pasti aneh ya kalau kita kerja di kantor yang sama, dan tidur di ranjang yang sama.”
Kania hanya terkekeh seolah yang dikatakan Satrua memang tidak akan menjadi nyata.
“Tapi, di sini kita bisa pergi bareng ya, Sayang. Kita lebih bebas ‘kan di sini?” tanya Kania mengalihkan pembicaraan.
“Oh, tentu saja. malam ini kita akan berbulan madu. Aku siapin tempat spesial buat bulan madu kita,” jawab Satria sambil menaik turunkan alisnya.
“Bulan madu?”
“Iya dong, pasangan yang menikah ‘kan biasanya bulan madu juga, Kanya. Kita juga akan berbulan madu.”
“Tapi, teman-teman aku. Bos aku gimana?”
“Ya, kamu cari cara dong. Setiap malam ‘kan tugas kamu melayani aku.” Satria tidak mau dibantah lagi. Dia sudah memutuskan, maka Kania harus setuju dan tidak bisa diganggu gugat lagi.
Padahal aku ke sini karena ingin kabur darinya. Kenapa aku tetap harus melayaninya. Kalau begini terus. Kapan tubuhku akan istirahat?
Kania dan Satria akhirnya bermalam di hotel mewah. Mereka makan malam bersama di hotel itu juga. Tentu saja, mereka berakhir di kasur dan mengarungi surga dunia bersama.
“Sayang, aku ke sini ‘kan enggak bawa pil penunda kehamilan. Gimana dong?” tanya Kania setelah Satria menumpahkan benih-benihnya ke rahim Kania.
“Ya, besok pagi beli dong, Sayang. Ingat ya, aku enggak mau ada anak. Apalagi kita hanya menikah kontrak Kania. Status anak itu pasti akan bermasalah, kamu paham ‘kan?” Satria mengecup kening Kania sebelum merebahkan tubuhnya di samping sang istri muda.
Kalau saja aku ada alasan untuk menceraikan Feli. Maaf, Kania. Aku hanya tidak ingin kamu terlalu berharap, sementara aku sendiri masih sangat menikmati semua ini.
“Iya besok aku akan beli pilnya,” balas Kania. Dia masih ingin memeluk tubuh kekar Satria sebelum membersihkan diri.
***
***
Kania dan Satria harus berpisah di pagi hari karena Kania masih harus mengikuti kegiatan bersama teman-temannya. Beruntung, Satria lebih banyak di hotel untuk bekerja dan tidur, karena malam harinya, dia akan bekerja ekstra saat bersama Kania.
Sementara itu, Kania beralasan menemui saudaranya sehingga tidak tidur di hotel. Untung saja teman-temannya baik dan tidak banyak komentar karena Kania membawakan mereka cukup banyak makanan.
Satria dan Kania benar-benar memanfaatkan waktu selama di Jogja. Kania pun nerasa bahagia karena seolah memiliki Satria sepenuhnya. Mereka menikmati waktu berdua layaknya pasangan yang baru menikah. Tanpa takut ketahuan siapa pun, mereke berani menunjukkan kemesraannya.
“Besok hari terakhir ‘kan? Kegiatan kamu juga udah seleIesai. Kalian mau ke mana lagi?” tanya Satria saat mereka berjalan bergandengan tangan di jalan Malioboro.
“Tim aku sih ngajak ke Pantai Parangtritis, Sayang. Kamu besok langsung balik aja biar bisa selesaikan pekerjaan. Jadi, kita bisa berduaan di apartemen sepuasnya lagi,” jawab Kania.
Jangan bilang kamu mau ke sana juga! Ayolah biarkan aku bersenang-senang sendiri.
Kembang kopinya jangan lupa 💋💋
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 105 Episodes
Comments
liberty
yaelah aku gak liat loh..kalian di mana? 😎
2024-06-28
0
Hilmiya Kasinji
hmmmm...
2024-05-26
0
💘Ƴᾰуᾰ💘✨
ah geloo
2024-03-26
0