Kania dan Satria kembali bekerja seperti biasa setelah dua hari di Puncak. Meski tidak bermain di kantor, tapi mereka tetap mencuri-curi kesempatan untuk bisa bermesraan. Saling meraaba, saling mengusap, bahkan berciuman. Semuanya itu bebas mereka lakukan di ruangan Satria yang tidak mungkin bisa diintip atau pun di dengarkan dari luar.
“Sayang, apa kamu benar-benar memecat wanita itu?” tanya Kania setelah wanita itu mendatanginya untuk meminta maaf dan berpamitan karena dia telah dipecat.
“Ya, kenapa, Kanya? Bukankah aku sudah bilang, tidak ada yang bisa mengganggumu?” Satria menarik Kanya hingga wanita itu terduduk di pangkuannya.
“Kenapa kamu kejam sekali? Padahal, kemarin aku hanya kesal saja, jangan jadi orang jahat dong, Sayang. Siapa tahu dia memang berkontribusi baik untuk perusahaan,” kata Kania sambil mengusap wajah Satria.
Satria merasakan hatinya berdebar kuat saat Kania mengusap wajahnya dan menatapnya penuh kasih. Dia semakin tidak rela jika harus kehilangan Kania yang sangat baik, nantinya.
“Biarkan saja, wanita seperti itu tidak akan membuat perusahaan maju. Memang apa urusannya sama dia kalau kamu menggodaku. Toh, dia bukan istriku,” balas Satria sambil mengusap-usapkan wajahnya di dada Kania.
Diperlakukan seperti itu, membuat Kania merasakan geli luar biasa. Jika saja Satria menginginkannya sekarang, dia pasti tidak akan menolak.
Satria tidak membuka kancing kemeja Kania seperti biasa, dia hanya bermain-main di dadanya.
“Sayang, sudahlah. Jangan menggodaku. Bagaimana kalau aku memijatmu?” Kania bangun dari posisinya dan langsung memijat pundak Satria.
Siapa yang tidak bahagia jika saat kepala pening di kantor, dengan suka rela istri langsung memijatnya.
“Kamu yang terbaik Kanya,” kata Satria sambil menikmati pijatan-pijatan Kania.
Ya, karena aku memang ingin menjadi yang terbaik, dan aku bahagia melakukannya.
Sementara itu, Feli menyuruh seseorang untuk menyelidiki suaminya, sayangnya orang suruhannya itu menolak perintah karena tidak mau berurusan dengan Satria dan sekretarisnya. Sudah tiga orang yang ia hubungi dan semuanya menolak, membuat Feli merasa putus asa.
Di tengah rasa putus asa dan kebingungannya itu, tiba-tiba ponselnya berdering. Satu nama yang muncul dalam tampilan layar itu membuat Felicia memalingkan wajah, malas menanggapinya.
Untuk apa lagi Andrew menghubungiku? Apa sih yang sebenarnya dia inginkan?
Feli mengabaikan panggilan itu karena tidak mau berurusan lagi dengan Andrew. Saat ini, hubungannya dengan Satria sedang tidak aman-aman saja, kalau sampai Satria atau sekretarisnya tahu, maka tamat sudah riwayatnya.
Andrew terus menghubungi Felicia sampai akhirnya membuat wanita itu kesal dan memblokir nomornya. Namun, tidak lama setelahnya, Feli menerima pesan dari nomor tidak dikenal yang mengatakan bahwa dia akan membantu menyelidiki suaminya.
Karena rasa penasaran, Felicia menghubungi nomor itu. Dia ingin memastikan siapa orang yang bersedia membantunya itu.
“Kamu siapa?” tanya Felicia setelah panggilannya terjawab.
“Akhirnya, kamu mencariku, Feli Sayang,” jawab laki-laki yang sangat Felicia kenal.
“Andrew.” Feli mereeemas jemarinya saat mendengar suara laki-laki yang masih tersimpan di hatinya itu. Namun, rasa itu harus dikubur dalam-dalam karena memang hubungan mereka adalah sebuah kesalahan.
“Ya, Sayang. Kenapa kamu mencampakkanku begitu saja?” tanya Andrew yang sebenarnya sangat menggilai Feli.
“Sudah aku bilang, aku mengakhiri hubungan kita. Jadi, jangan menggangguku lagi,” jawab Feli yang hampir menangis.
“Kamu yakin tidak ingin menemuiku? Aku ada di dekatmu, Feli. Aku merindukanmu, dan aku punya sesuatu untukmu. Kalau kamu mau aku menyelidiki suamimu, temui aku sekarang,” kata Andrew yang kemudian mengakhiri panggilan teleponnya.
“Maksud kamu apa, Andrew? Halo! Halo! Halo!” Feli berteriak kesal, karena Andrew benar-benar membuatnya frustrasi. Tidak lama laki-laki itu mengirimkan pesan berisi alamat hotel tempatnya menginap.
Karena bingung dia akhirnya mendatangi hotel tempat Andrew menginap. Dia ingin melihat langsung apakah laki-laki itu benar-benar menyusulnya sampai ke negara ini?
Kamar 703 menjadi saksi pertemuan Feli dan Andrew. Laki-laki itu benar-benar mengejarnya sampai ke mari.
Andrew menarik Feli masuk agar tidak ada yang melihat mereka. Laki-laki itu langsung memeluk Feli dan menumpahkan rasa rindunya pada sang pujaan hati.
“Fel, aku merindukanmu,” kata Andrew yang kemudian mengecupnya dengan lembut.
“Andrew lepas!” Feli mendorong tubuh sang mantan kekasih yang masih mengharapkannya. “Cepat katakan, apa yang kamu punya!” sentak Feli dengan tidak sabar.
“Aku punya bukti suamimu dengan wanita lain, tapi aku tidak akan memperlihatkannya padamu, kalau kamu meninggalkanku begitu saja,” kata Andrew. Dia berpaling dari Felicia dan berjalan menuju ranjangnya.
Feli yang tentunya penasaran, langsung mengejar laki-laki itu. Dia harus membereskan masalah suaminya itu sebelum Satria meninggalkannya.
“Apa yang kamu punya, Andrew. Cepat beritahu aku!” pinta Feli dengan nada memaksa.
Andrew kini menatap wanita yang dicintainya itu. Dia harus bisa mendapatkan Feli apa pun yang terjadi. “Tidak akan. Kalau kamu mendapat bukti dan meninggalkanku, maka aku yang rugi,” balas Andrew.
Feli menghela napas dengan kasar. Dia tahu, Andrew tidak bisa dipermainkan dengan mudah, karena itulah laki-laki itu tidak akan memberikan bukti itu padanya.
“Setelah aku melahirkan anaknya, aku akan kembali padamu. Aku janji,” ucap Feli yang membuat Andrew menyunggingkan senyum.
“Benarkah? Tapi aku tidak akan melakukannya dengan gratis, Feli. Aku menginginkanmu sekarang ini,” kata Andrew yang kemudian mencium bibir Feli.
Feli yang sebenarnya juga merindukan Andrew, akhirnya membalas ciuman itu dan membiarkan Andrew menyentuhnya. Sentuhan yang selalu dirindukannya karena Satria sekarang sangat jarang menyentuhnya.
Feli dan Andrew menuntaskan kerinduan mereka di ranjang hotel tempat Andrew menginap. Tidak bisa Feli pungkiri, permainan Andrew yang cenderung kasar membuat fantasinya bangkit. Berbeda dengan Satria yang selalu bermain lembut dan memperlakukannya dengan sangat baik. Tidak ada hal menantang dari hubungannya dengan Satria.
Setelah menyelesaikan permainannya, Andrew mengirimkan sesuatu di ponsel Feli. Sebuah foto Satria yang merangkul pundak seorang wanita, tapi sayangnya tidak terlihat jelas siapa wanita di foto itu. Juga sebuah potongan video yang memperlihatkan wajah tertawa Satria sambil menatap seorang wanita.
Feli sangat marah melihatnya. Entah dia cemburu, atau malah takut kehilangan. Yang jelas, saat ini kepalanya terasa panas.
Feli tidak tahu siapa wanita itu karena wajahnya sama sekali tidak terlihat. Membuatnya semakin yakin untuk melanjutkan penyelidikannya.
“Kamu harus mendapatkan informasi siapa wanita itu, Andrew. Kalau tidak, aku pasti akan kehilangan Satria dan Mama pasti tidak akan merestui kita,” kata Feli sambil mengepalkan tangannya. Emosinya sudah tidak tertahan lagi.
“Tenang, Fel. Selama kamu tidak mengkhianatiku, aku akan mencari tahu tentang suamimu. Tapi, kalau kamu berkhianat aku tidak akan segan-segan membuatmu dibuang oleh suamimu yang sangat kaya itu.”
“Kalau boleh jujur, aku lebih nyaman bersamamu, Andrew. Hanya saja, Mamaku ....”
Aku tidak akan membiarkanmu dimiliki orang lain, termasuk suamimu Feli. Aku harus menarik simpatimu dulu,supaya kamu tetap bersamaku. Dan aku berharap, kamu akan mengandung anakku, bukan anak laki-laki itu.
Part ini, aku takut baca komen.. 🙈🙈🙈
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 105 Episodes
Comments
Hilmiya Kasinji
disini karakter semua tokoh gak patut dan gak ada yg baik ... 😅 maaf ya kak othor. Satria sama Feli sama2 bukan orang yg setia, Kania juga ternyata bukan wanita yg baik juga ya 🤭
2024-05-26
1
Whita Secha Wiraguna
baru baca,sepertinya Feli menikah dg satria terpaksa Krn keinginan mamanya,Krn itu dia lbh memilih karir ketimbang menjalani rmh tangga pd umumnya secara suaminya kyj mo menikah dg satria yg penting diijinin jd model
2023-08-06
1
Yusi Lestari
Felli yg mengawali perselingkuhan tp dia juga yg gak terima jika suaminya juga berselingkuh heeemmm dasar cewek egoid
2023-07-11
0