Kania memasuki apartemen dengan perasaan kosong. Tidak ada yang tiba-tiba mencium dan membawanya ke kasur seperti biasa. Aneh memang, tapi sepertinya Kania mulai merindukan Satria.
Sementara di unit lain, Satria sedang berciuman mesra dengan Felicia. Wanita cantik yang sangat ia puja sejak lama.
“Sayang, kenapa tiba-tiba pulang dan langsung ke sini? Aku ‘kan bisa jemput ke bandara.” Satria melepaskan ciumannya. Dia selalu tergoda dengan pesona Felicia setiap kali berhadapan langsung dengan wanita itu.
Katakanlah Satria bodoh, tapi memang seperti itu kenyataannya. Hampir sepuluh tahun mereka bersama, dan Feli selalu mengisi hati Satri dengan penuh warna. Meski sekarang juga ada Kania, tapi Kania jelas berbeda dengan Feli yang lebih lama mengenalnya.
“Aku lagi free, Sayang. Lagipula sudah lama aku tidak cuti panjang ‘kan? Kamu tahu, aku sangat merindukanmu,” jawab Feli sembari melepaskan satu per satu kancing kemeja Satria.
“Aku juga merindukanmu, Sayang.” Satria menyambar bibir Feli dengan tidak sabar.
Dalam pelukan hangat Felicia, Satria menikmati malam-malam panas di apartemen mereka. Laki-laki itu melupakan wanita lain yang tidur sendirian sambil mendekap bantal yang biasa dia pakai untuk alas kepalanya.
Begitulah keadaan rumah tangga mereka. Satria membebaskan istrinya mengejar mimpi. Karena dari awal, itu adalah syarat dari Feli mau menikah dengan Satria.
Satria tidak mempermasalahkan soal anak, karena dia sendiri juga belum siap menjadi seorang ayah.
***
Felicia menyusul Satria ke kantor untuk mengajak sang suami makan siang bersama. Dia berdandan sangat cantik hingga membuat para pegawai yang melihatnya merasa iri.
Secara tidak sengaja, Feli yang sedang menunduk untuk mengambil ponselnya, bertabrakan dengan Kania yang baru mengambil berkas-berkas dari pegawai gudang.
Kertas-kertas bertebaran membuat Kania panik.
“Maaf, maaf, Nona. Saya tidak sengaja,” kata Kania sambil memungut berkas-berkas miliknya.
“Tidak apa-apa, saya yang minta maaf karena tidak lihat-lihat saat jalan,” balas Felicia sambil membantu Kania merapikan berkas-berkasnya.
Dua istri Satria itu saling merapikan kertas-kertas tanpa saling berpandangan. Mereka saling meminta maaf hingga semua kertas itu rapi di tangan Kania.
Kania mendongak dan menatap wanita yang membantunya. “Terima kasih, Nona.” Ekspresinya tiba-tiba berubah saat mengenali siapa yang ada di hadapannya.
Bukankah dia Felicia? Istri sah suamiku? Aduh, mati aku!
Kania sama sekali belum pernah melihat Felicia secara langsung, tapi dari gambar profil yang muncul di ponsel Satria saat wanita itu menelepon, membuat Kania dengan mudah mengenalinya.
Dia lebih cantik dari yang ada di HP. Aku bahkan tidak ada seujung kukunya.
Jantung Kania berdegup kencang seperti baru saja melihat hantu. Susah payah ia menelan ludahnya, membeku menatap Felicia yang mempesona.
“Sama-sama. Maaf ya sudah mengganggu pekerjaanmu,” ucap Felicia sembari mengusap lengan Kania.
Melihat reaksi istri pertama suaminya tersenyum, tiba-tiba rasa bersalah mendadak muncul menghinggapi hatinya.
Felicia terlihat ramah dan baik. Dia juga sangat cantik, jauh lebih segalanya dari aku. Tapi kenapa dia malah berselingkuh denganku?
“Maaf, Nona.” Kania menunduk. Dia tulus meminta maaf karena merasa bersalah sudah merebut suami wanita itu.
“Nia,” panggil Winda. Teman Kania itu menang sengaja menyusulnya karena khawatir Kania tidak juga kembali padahal hanya mengambil berkas yang dibawa orang gudang itu di lobi.
“Nama kamu Nia ya? Kamu kenapa nunduk gitu sih, Nia? Kamu takut sama saya apa sama manajer kamu?” tanya Felicia yang entah kenapa jadi ingin akrab dengan Kania.
Dia tidak tahu saja wanita di hadapannya adalah wanita yang ditiduri suaminya.
“Maaf, saya harus kembali, Nona. Permisi!” Kania menunduk memberikan rasa hormatnya pada istri dari pemilik perusahaan yang juga istri sah suaminya.
“Maaf, Bu Feli. Teman saya memang sedikit pemalu,” ucap Winda sambil merangkul Kania. Dia tahu Kania pasti sangat gugup berhadapan dengan super model yang sangat cantik.
“Nyonya, apa ada masalah?” tanya sekretaris Satria yang kini berjalan mendekati mereka. Dia melihat istri bosnya sedang berbincang dengan dua orang pegawai. Karena khawatir terjadi sesuatu, dia lantas bergegas menghampiri.
Kania mengenal suara laki-laki itu. Laki-laki yang mengurus perjanjian pernikahannya dengan Satria.
Kania berjalan cepat supaya tidak ketahuan, bisa gawat kalau sampai mereka bertemu. Winda ikut berlari mengejar Kania karena tidak mau terkena masalah dengan manajer mereka.
“Ya ampun, Nia kamu tahu enggak, wanita itu istrinya Pak Satria, dan yang laki-laki ganteng tadi sekretarisnya si bos. Ya ampun, gila. Cantik banget ya dia, wajar sih istri bos ‘kan pasti perawatan di salon mahal. Skin carenya juga bedalah sama kita,” oceh Winda.
Saat ini Kania dan Winda sudah berada di lift menuju ruangan mereka. Kania hanya diam masih terlalu syok dengan dengan apa yang baru saja dilihatnya. Bahkan jantungnya masih terasa berdebar keras.
“Nia, kamu sampai bingung ‘kan ada wanita secantik dia.” Winda terus mengoceh tanpa tahu apa yang sedang dipikirkan Kania saat ini.
“Winda, kira-kira kalau punya istri secantik itu. Apa laki-laki masih akan selingkuh ya?” tanya Kania dengan pandangannya yang kosong.
“Ya enggaklah Nia, mungkin cuma laki-laki gila yang tega menyelingkuhi istri secantik Bu Feli. Dia itu super model internasional loh. Dengar-dengar Pak Satria juga yang biayai sekolah modelingnya di Paris. Mereka sudah pacaran lama sebelum akhirnye menikah. Jadi, Pak Satria itu cinta mati sama istrinya. Kamu berharap jadi selingkuhan si Bos ya?” goda Winda sambil menowel pipi Kania.
“Ih, apa sih, Win. Ya enggaklah. Ngaco!” balas Kania sewot. Dia berjalan keluar lift lebih dulu meninggalkan sahabatnya.
Winda tertawa terbahak-bahak melihat temannya yang marah. “Iya, Nia. Mimpi kita terlalu tinggi,” sahut Winda masih sambil tertawa.
***
Sementara itu, di ruangan CEO. Feli mendatangi Satria yang sibuk dengan pekerjaannya.
“Sayang, makan siang yuk! Aku udah booking resto!” ajak Felicia saat baru duduk di hadapan suaminya.
“Sebentar lagi ya, Fel. Aku masih sibuk banget.” Satria hanya melirik sekilas dan kembali fokus pada pekerjaan.
“Ayolah, Sat. Aku lagi pengen makan masakan Jepang sekarang.” Feli mulai merengek dengan wajah manyun yang membuat Satria tidak bisa menolaknya.
“Iya, Sayang. Jangan manyun gitu, jelek!”
“Jelek-jelek gini juga istri kamu.” Feli menjulurkan lidahnya, mengejek Satria.
Satria mematikan laptop dan menghampiri Felicia.
“Sayang, tahu enggak tadi ada pegawai namanya Nia, dia kayak ketakutan gitu lihat aku. Apa wajah aku serem ya, kayak mak lampir gitu?”
“Nia? Aku belum pernah dengar. Mungkin pegawai biasa, Sayang. Lagipula, kamu itu cantik. Mungkin dia bukan ketakutan tapi terlalu kagum,” balas Satria. Mereka berjalan keluar dari ruangan Satria.
Tanpa mereka tahu, yang sedang mereka bicarakan adalah Kania. Orang ketiga dalam kehidupan rumah tangga mereka.
***
Kembang kopinya jangan lupa 💋💋
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 105 Episodes
Comments
liberty
nama & kelakuan sama...Bang Sat 🙃
2024-06-28
0
Izza Driani
kurang apa ya felica.... hingga satria harus nikah kontrak dgn perempuan lain
2023-07-10
0
Siti Horida
pasti diluar negeri felisia selingkuh
2023-05-27
0