Wanita yang mengganggu Kania itu merasa ketakutan karena tatapan Sekretaris Gio. Dia mulai tersadar bahwa ia telah membuat kesalahan yang sangat besar.
“Tidak ada apa-apa, Sekretaris Gio. Dia hanya tidak percaya kalau saya asisten pribadi Tuan Satria karena sebelumnya tidak ada posisi itu,” kata Kania sambil seikit menunduk. Matanya diam-diam menatap wanita di hadapannya yang kini mulai bergetar.
Sekretaris Gio tahu, ada sesuatu yang tidak beres dengan sikap wanita itu. Sikap Kania juga terasa aneh.
“Saya akan periksa CCTV. Jangan berani bertindak semena-mena dengan Nona Kania, apalagi bergosip tentangnya, kalau kalian masih mau bekerja di sini.” Sekretaris Gio menatap wanita itu.
Seorang wanita petugas kebersihan datang membereskan kekacauan itu.
“Sekretaris Gio tidak akan memecat dia, ‘kan? Dia tidak sengaja kok.” Kania berusaha memberi kode pada sekretaris Gio.
Sekretaris Gio tahu maksud dari Kania itu. “Biar CCTV yang menjadi bukti, Nona.”
“Ya, baiklah. Ayo, kita pergi. Anda bilang Tuan Satria sudah menunggu.” Kania berjalan lebih dulu meninggalkan Sekretaris Gio.
Laki-laki itu mengetikkan sesuatu di ponselnya, lalu meninggalkan kantin, menyusul Kania untuk menemui Satria.
Saat ini, Kania sudah ada di mobil Satria. Dia sangat lapar dan memasang raut kesal.
“Hei, kenapa, Sayang?” tanya Satria sambil merangkul pundak Kania. Dia tahu istrinya sedang merajuk, pasti terjadi sesuatu.
“Ada yang menyebutku pelakor, wanita penggoda. Memang beginilah nasib istri simpanan,” jawab Kania memalingkan wajah dari Satria.
Sebagai istri, tentu dia ingin diperlakukan istimewa, tapi tidak mungkin hal itu ditunjukkan di hadapan semua orang. Bagi orang lain, Kania bukanlah siapa-siapa.
“Siapa yang berani menyakitimu, Kanya?” tanya Satria tidak terima. Wajahnya menegang sempurna saat mendengar istrinya dihina. Menghina Kania sama saja menghina dirinya, ‘kan?
“Ada pegawai di kantin tadi. Kakiku disandung sampek sakit banget, untung aku enggak jatuh,” jawab Kania masih dengan nada merajuk. Dia kesal sekali karena tidak bisa membalas perbuatan wanita itu, karena posisinya saat ini memang seperti yang dituduhkannya.
“Maaf, Tuan. Saya sudah menyuruh orang untuk mengecek CCTV,” sahut Sekretaris Gio yang saat ini sedang mengemudi.
Mendengar penjelasan sekretarisnya, emosi Satria langsung naik.
“Berani sekali dia menyakiti istriku. Kania, apa kita perlu ke rumah sakit?” tanya Satria khawatir. Dia memeriksa kaki Kania sampai menunduk-nunduk.
“Enggak apa-apa kok, Sayang. Hati aku yang lebih sakit,” jawab Kania. Dia memasang raut muka memelas yang membuat Satria tidak bisa menolak pesonanya.
“Besok aku pastikan dia tidak akan bekerja di kantor lagi. Kania, walaupun kamu istri kedua, tapi menyakiti kamu, artinya juga menyakiti aku. Kamu harus bilang, kalau ada yang menyakiti kamu lagi,” kata Satria. Dia meraih tubuh Kania dan memeluknya dengan cinta.
Kania merasa sangat bahagia karena Satria begitu perhatian dan menyayanginya. Tidak masalah menjadi istri kedua, asal Satria mencintainya.
Bodoh? Ya, memang bodoh, karena Kania sudah menggunakan perasaannya dalam hubungan ini.
Mereka asik bermesraan sampai Kania tidak sadar bahwa dia tidak tahu tujuan mereka sebenarnya. Setelah tertidur dalam pangkuan Satria, Kania membuka mata dan menjadi bingung.
“Kita di mana?”
Satria merasakan pegal luar biasa di kakinya karena menjadi bantal Kania saat tertidur.
“Kita di Puncak, Sayang. Aku ada meeting besok pagi, jadi sekalian saja kita menginap,” jawab Satria. Mereka lalu keluar dari mobil dan masuk ke sebuah hotel bintang lima.
Perut Kania yang sudah lapar, tiba-tiba berbunyi dan bunyi itu sampai terdengar di telinga Satria.
Lagi-lagi Satria tertawa dan kemudian merangkul tubuh Kania. “Gio, siapkan makanan untuknya. Istriku kelaparan ternyata,” kata Satria menginstruksi.
Mereka menginap di hotel dengan pemandangan alam yang sangat bagus. Kania yang kelaparan langsung makan dengan lahap. Sementara Satria, ikut menemani Kania sambil membaca berkas-berkas yang akan digunakan untuk rapat.
“Sayang, aku enggak bawa baju ganti, gimana ya?” tanya Kania di sela makan. Dia memang tidak membawa persiapan apa pun, karena Satria tiba-tiba mengajaknya pergi. Bahkan, pil pencegah kehamilan yang biasa dia minum pun tidak dibawa.
“Kamu enggak butuh baju, Kanya. Yang kamu butuhin cuma aku, dan aku tidak akan membiarkanmu menutupi tubuh indahmu,” jawab Satria sembari mengedip-kedipkan matanya.
“Sayang, kamu lebai deh.” Kania memukuk manja paha Satria. “Kamu bilang apa sama istri kamu, Sayang?” tanya Kania lagi.
“Em, aku bilang Kanya, aku ada meeting besok pagi, jadi sekarang kita di Puncak,” jawab Satria yang sengaja menjawab lain, padahal dia mengerti maksud Kania.
“Ih, Sayang. Bukan itu maksud aku.”
“Kamu istriku Kanya. Jangan tanya apa-apa lagi deh. Tidak perlu kamu mencari tahu apa pun yang nantinya membuat kamu sedih. Kita ke sini untuk bersenang-senang,” kata Satria lalu mengusap rambut Kania.
“Benarkah? Kita akan bersenang-senang?” tanya Kania dengan mata berbinar. Dia sudah menyelesaikan makannya dan kini sedang menatap Satria dengan perasaan cintanya.
“Ya, kita akan berdua saja dan melupakan yang lain. Aku ingin menikmati hari ini sama kamu, Kanya.” Tatapan mata Satria tidak kalah serius. Dia mengatakan apa yang ada dalam hati dan pikirannya saat ini.
“Kalau begitu, matikan ponselmu, dan bersenang-senanglah, Sayang. Aku akan melayanimu sepuasmu, tanpa mau ada gangguan dari siapa pun.” Kania merapatkan tubuhnya dan mulai meraabaa dada bidang Satria yang masih tertutup kemeja.
“Tentu, Kanya. Aku sangat menantikan pelayananmu.” Satria menarik tengkuk Kania dan mencium bibir ranum yang membuatnya gila. Laki-laki itu bahkan menjiillat sisa saus yang ada di ujung bibir Kania.
Kania juga tak kalah panas. Dia lalu membuka satu per satu kancing kemeja Satria dan akhirnya menjiilati seluruh tubuh itu. Sementara Satria juga tak mau kalah, dia meraih apa saja yang bisa digenggam dari tubuh Kania, lalu memainkannya dengan gemas.
Ciuman Kania pun turun ke celana Satria dan dengan tidak sabar dia membuka kancingnya. Hingga akhirnya, tereksposelah benda panjang berurat yang cukup besar milik laki-laki tampan itu. Berdiri tegak mengacung dan menantang Kania yang telah membebaskannya dari penderitaan.
Satria begitu takjub dengan perlakuan Kania yang selalu membuatnya bahagia. Kania bersedia melakukan apa pun yang ada dalam imajinasi Satria, hal itulah yang tidak bisa Feli lakukan.
Kania menikmati benda panjang dan besar itu keluar masuk di mulutnya yang terasa penuh dan sesak. Dia tersenyum di sela-sela perlakuannya itu saat melihat Satria mengerrang sambil memejamkan mata. Dia lalu membuka seluruh pakaiannya.
Satria paham, dia memainkan seluruh tubuh Kania hingga membuatnya basah. Saat telah siap, Kania meraih benda milik Satria itu dan mengarahkannya untuk memasuki dirinya.
Ini kesempatanku untuk hamil. Sebelum dia hamil lebih dulu, aku harus bisa mengandung anak suamiku, supaya tidak ada lagi yang membuat kami berakhir.
***
Udah vote sama kasih hadiah belum.. 💋💋💋
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 105 Episodes
Comments
Trisna
yah satria dan istri pertamanya sama-sama selingkuh.
2024-10-23
0
liberty
lah makin tambah curiga karyawan dah
2024-06-28
0
Hilmiya Kasinji
hmmm sama2 pingin hamil
2024-05-26
0