Pagi-pagi sekali, Kania sudah bangun karena hari ini dia akan ke Jogja untuk acara liburan kantor. Dia belum berani jujur pada Satria karena takut jika laki-laki itu akan marah saat tahu dia adalah bawahan di kantornya.
“Enggak enggak enggak.” Kania bergidik ngeri saat membayangkan Satria mencaci makinya di kantor karena sekelas bos menikahi pegawai biasa di kantornya sendiri.
Mungkin itu hanya bayangan buruk Kania, tapi bisa saja itu terjadi. Masalahnya, utang-utangnya belum lunas sepenuhnya. Kalau sampai Satria memutuskan kontrak, siapa yang akan melunasi utang-utang itu.
“Kamu udah siap-siap, Sayang?” tanya Satria saat melihat Kania menyiapkan sarapan. Dia sudah terlihat cantik sekali pagi ini.
“Sudah, Sayang. Habis sarapan aku langsung berangkat,” jawab Kania sambil mengambilkan air putih untuk Satria.
Laki-laki itu sudah duduk di kursi makan saat ini. Penampilannya biasa saja, tidak berdandan layaknya akan pergi ke kantor. Itu berarti, ada kemungkinan Satria tidak akan ikut ke Jogja.
Mereka lalu sarapan dengan santai. Kania mencoba menyuapi Satria, dan ternyata Satria menerima suapan itu. Kania selalu memperlakukan Satria dengan romantis karena menganggapnya seperti suami sah.
“Aku akan mengantarmu ke kantor,” kata Satria saat mereka telah selesai makan dan Kania sudah bersiap akan berangkat.
“Tidak usah, Sayang. Kamu jangan repot-repot. Aku biasa naik bis, ‘kan,” tolak Kania sembari mengusap dada bidang Satria.
“Aku ‘kan suami kamu, Kanya. Kenapa kamu menolak diantar suami sendiri?” Satria mulai kesal.
“Sayang, teman-teman aku ‘kan enggak ada yang tahu aku udah menikah. Lagian kita menikah kontrak, kalau nanti kita pisah, semua orang akan tahu kalau kamu suami aku. Itu bisa bahaya, apalagi kalau sampai ketahuan istri kamu. Pokoknya, hari ini aku akan naik taksi, oke.”
Kania tidak bisa mengatakan alasan yang sebenarnya. Dia benar-benar belum siap jika ketahuan Satria. Apalagi kalau sampai teman-temannya tahu bahwa dia menjalin hubungan dengan Satria, pasti semuanya akan hancur.
“Kania, aku berniat baik ingin mengantar kamu, kenapa kamu malah menolak sih? Aku enggak harus keluar dari mobil. Cukup tahu aja kamu kerja di mana,” kata Satria.
“Sayang. Percayalah! Aku melakukan ini semua juga demi kebaikanmu. Bukan berarti aku menolak kebaikan kamu. Tapi, aku lebih peduli sama harga diri dan nama baik kamu,” balas Kania sambil memegangi pipi kanan Satria. Dia menatap lekat-lekat wajah tampan yang sementara ini menjadi miliknya.
Satria mematung. Dia tidak menyangka jika Kania akan memperlakukannya dengan tulus seperti ini.
Kania tidak ingin berdebat lagi, dia berjinjit lalu menarik tengkuk Satria dan menciumnya.
“Pulang nanti, aku akan kasih pelayanan terbaik. Anda pasti puas, Tuan,” kata Kania dengan tawanya yang khas.
Laki-laki itu bisa terperdaya karena sikap manis Kania. Dia lalu mengizinkan Kania untuk pergi.
Aku pasti akan merindukanmu. Atau, lebih baik aku ikut ke Jogja juga?
Kania buru-buru ke kantor dengan taksi. Dia tidak ingin terlambat dan malah tertinggal rombongan. Berdebat dengan Satria benar-benar menyita waktunya.
Sampai di kantor, Kania langsung berganti baju dengan kaus seragam yang diberikan oleh kantor sebagai penanda agar mudah mengenali rombongan nantinya. Tentu saja Kania tidak bisa memakai itu di rumah karena tidak ingin ketahuan oleh Satriya, jelas-jelas ada nama perusahaan mereka di sana. Bisa gawat kalau Satria tahu.
“Kamu kok enggak pakai kaosnya dari rumah sih?” tanya salah seorang teman kerja Kania yang juga baru keluar dari toilet.
“I-itu. Tadinya, aku pikir kita pakai kaos seragamnya pas udah di sana,” jawab Kania sambil cengar-cengir.
“Kirain kamu enggak dibolehin pergi sama pacar kamu,” goda teman Kania itu.
“Ya enggaklah, Win. Masih pacar aja berani ngelarang-ngelarang, gimana kalau udah jadi suami. Pacar aku tuh enggak kayak gitu. Tadinya dia mau nganterin sih, tapi aku tolak karena takut kamu sama yang lain syok,” balas Kania.
Saat ini mereka sedang berjalan bersama menuju halaman depan tempat parkir bus yang akan membawa mereka ke Jogja.
“Syok kenapa? Emang pacar kamu udah tua?” tebak Winda.
“Enak aja. Dia itu masih muda. Ganteng, gagah, berotot, pokoknya sempurna banget deh.” Kania membayangkan wajah Satria saat dengan gagahnya bergerak naik turun di atas tubuhnya. Ah, kenapa pikirannya jadi kotor begini?
Kania jadi bingung sendiri, niatnya ikut ke Jogja supaya bisa lepas dari suaminya itu, tapi ternyata, dia malah terbayang-bayang terus oleh pesona Satria. Apa dia sudah mulai jatuh cinta dengan suaminya itu?
“Lebih ganteng mana sama bos kita?” tanya Winda yang kini menghentikan langkah saat melihat Satria turun dari mobil yang berada tepat di samping bus mereka.
“Bos kita?” Kania mengerutkan kening saat melihat temannya senyum-senyum sendiri. Dia lalu melihat apa yang sedang Winda lihat.
Kelopak mata Kania terbuka dengan sempurna saat melihat Satria ada di hadapannya. Dengan cepat dia berbalik badan dan berlari ke kamar mandi.
Gawat! Kenapa dia ikut ke sini? Jangan sampai dia mengenaliku dengan penampilan seperti ini.
Kania kembali ke toilet untuk memakai masker dan kacamatanya. Untung saja semua itu lengkap ada di tasnya.
Sementara Winda jadi ikut bingung dengan tingkah Kania yang tiba-tiba kembali ke toilet.
“Nia buruan, jangan kelamaan nanti ketinggalan bis,” teriak Winda yang entah didengar Kania atau tidak.
Sekilas, Satria merasa seperti melihat Kania. Dia lalu bertanya pada sekretarisnya. “Kenapa aku seperti melihat Kania?”
“Mungkin Tuan terlalu merindukan istri muda Tuan,” jawab sekretaris Satria sambil berbisik.
“Ya, bisa jadi. Kalau begitu, siapkan semuanya, aku akan menyusul Kania ke Jogja. Dia pasti akan terkejut saat tahu aku ada di Jogja,” balas Satria dengan berbisik juga.
Laki-laki itu mengangguk patuh. Selain dia, tidak ada yang tahu tentang hubungan Kania dan Satria.
Kania sudah selesai memakai masker dan kacamatanya. Dia berharap dengan begitu Satria tidak akan mengenalinya. Wanita itu lalu berjalan pelan dengan jantung berdebar sambil menundukkan kepala.
Teman-temannya sudah mulai berbaris untuk berdoa dan instruksi singkat. Hanya Kania sendiri yang belum masuk barisan.
“Hei, kamu cepat jalannya!” teriak manajer Kania.
Satria ikut memperhatikan Kania, tapi beberapa detik kemudian dia kembali berbincang dengan sekretarisnya.
Kania berjalan cepat memasuki barisan tanpa menjawab sepatah kata pun. Dia tidak ingin bersuara yang mungkin bisa membuat Satria mengenalinya.
“Selamat bersenang-senang semuanya. Sampai bertemu di Jogja, karena saya juga akan ke sana,” kata Satria yang disambut tepuk tangan dan sorakan oleh pegawainya.
Namun, Kania mendadak bengong dan hanya berkedip-kedip mendengar pernyataann Satria.
Jangan bilang dia ingin menemuiku di Jogja? Ah, kenapa aku percaya diri sekali? —Kania
Kania, tunggu aku di sana. Kita belum berbulan madu, bukan? —Satria
***
Asikkk ada yang mau honeeey emuach 😚😚
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 105 Episodes
Comments
Hera Puspita
tambah seru nih 🤗
2024-08-19
0
liberty
11 12 lah🤣
2024-06-28
0
liberty
shock karena bos sendiri + suami orang 😅
2024-06-28
0