Hubungan Kania dan Satriya semakin lengket saja. Mereka sudah selayaknya pasangan suami istri sungguhan, bukan dalam artian kontrak yang mereka tanda tangani bersama.
Saat ini, Kania sedang datang bulan, tapi Satria tetap tidur bersamanya. Karena tidak melayani Satria di ranjang, dan terpaksa bangun subuh karena harus mengganti pembalut, akhirnya Kania memutuskan untuk memasak.
Stok bahan di kulkas sudah menipis, hanya ada telur, sosis dan sawi saja yang tersisa. Dia pun memutuskan untuk membuat nasi goreng. Kebetulan nasi tadi malam masih utuh karena Satria pulang membawa makanan dari restoran.
Kania sibuk berkutat di dapur sampai tidak sadar saat suaminya bangun dan memeluknya dari belakang.
“Kamu masak apa, Sayang?” tanya Satria sembari meletakkan dagunya di pundak Kania.
Kania menoleh dan menatap Satria yang sedang memeluknya. Laki-laki mendaratkan ciuman singkat di bibirnya. “Aku lagi bikin nasi goreng sederhana. Kok kamu udah bangun sih, Sayang?”
“Iya, habisnya masakan kamu bikin aku lapar,” jawab Satria kembali mencium Kania, kali ini ciuman di pipi yang sangat mesra. Tangannya tidak mau menganggur, dia menggenggam dua benda berharga Kania.
Satu kegiatan yang telah lama Satria inginkan, tetapi belum pernah terwujud meski sudah tiga tahun menikah dengan Felicia.
Sebenarnya, dia benar-benar menyukaiku, atau hanya melampiaskan naafsunya saja ya? Kadang sikapnya membuatku lupa bahwa aku hanya istri simpanan.
“Kalau masakan kamu enak, nanti pulang kerja aku belikan hadiah.” Satria melepaskan pelukannya dari tubuh Kania dan kini mengambil air minum, membiarkan Kania menyelesaikan masakannya.
“Hadiah apa?” tanya Kania sembari mencicipi masakannya.
“Ada deh, lihat nanti aja masakan kamu enak apa enggak,” jawab Satria.
Mereka lalu sarapan bersama dan ternyata masakan Kania cocok dengan lidah Satria.
“Ini benar-benar enak, Kanya. Kamu bisa buka restoran dengan masakan kamu ini,” puji Satria yang kemudian melanjutkan makan.
“Kapan-kapan kalau kita selesai kontrak, uangku pasti banyak, aku akan buka restoran,” balas Kania bersemangat.
Satria langsung tersadar, di antara mereka ada kontrak hitam di atas putih yang membuat mereka tidak akan bisa bersama, apalagi Satria masih memiliki Felicia.
***
Satria membawa hadiah untuk Kania seperti yang telah dia janjikan. Dia yakin, Kania pasti akan menyukainya.
Saat masuk ke apartemen, Kania langsung menyambutnya dengan senyum penuh kebahagiaan, padahal Satria belum memberikan hadiahnya.
“Kenapa senang sekali?” tanya Satria.
“Enggak apa-apa. Kamu ‘kan baru pulang kerja. Pasti capek dong dan aku harus menyambut dengan bahagia, karena kamu suamiku.” Kania membantu Satria melepaskan jasnya.
Satria benar-benar merasa memiliki istri yang perhatian dan sesuai harapan. Dulu, dia sangat berharap Felicia bisa bersikap seperti Kania saat ini, tapi nyatanya dia salah mengira. Cinta dan cantik saja tidak cukup.
Satria lalu memberikan hadiah yang telah disiapkan untuk Kania.
“Hadiah karena masakan kamu enak,” kata Satria saat menyerahkan kotak berwarna hitam.
“Apa ini?” tanya Kania sembari membuka hadiahnya.
Matanya membulat sempurna dengan mulut ternganga. Seumur-umur ini adalah hadiah termahal yang pernah dia terima.
“Ini ....”
“Nanti kamu bisa kursus mengemudi sama aku kalau kamu belum bisa menyetir. Aku berharap kamu bisa kerja membawa mobil sendiri karena aku tidak tega melihatmu naik bis. Masa' istriku naik angkutan umum sih,” jelas Satria panjang lebar.
Kania sampai kesusahan menelan ludahnya.
Masalahnya, kalau aku bawa mobil ke kantor. Apa kata yang lain? Dan pastinya kamu bisa mengenali mobil ini di kantormu. Bisa ketahuan dong!
Kania yang terus melamun, membuat Satria menggoyangkan tubuhnya. “Hei, mobilnya ada di bawah Kania, itu cuma kuncinya aja. Kok kamu bingung gitu?”
“Enggak apa-apa, Sayang. Aku merasa aneh aja, karyawan biasa bawa mobil ke kantor.” Kania merasa hadiah pemberian Satria itu terlalu berlebihan untuknya yang hanya seorang istri kontrak.
“Ya udah, kita bisa pakai kapan-kapan untuk jalan-jalan. Tapi, kamu harus terima.”
***
***
Kania sedang menunggu Satria pulang. Dia baru saja mendapat informasi dari kantor bahwa dia termasuk pegawai terpilih yang akan ikut berlibur ke luar kota.
Saat Satria sampai di apartemen, dia langsung menyambut suaminya dengan mesra.
“Sayang, aku ada kabar bahagia,” kata Kania sambil membantu Satria melepaskan pakaian.
“Kabar bahagia apa? Kamu enggak lagi hamil, ‘kan?” tanya Satria dengan curiga.
Kania menghela napas berat. “Enggaklah. Aku tahu kok isi kontrak kita. Aku itu cuma mau kasih tahu aja kalau aku akan ke Jogja dua hari lagi,” jawab Kania dengan sangat bahagia. Dia akan terlepas dari Satria untuk beberapa hari.
“Jogja? Kamu ke Jogja?” tanya Satria.
Satriya yang niatnya tidak ikut acara liburan kantornya karena ingin berduaan dengan Kania malah harus menelan kekecewaan karena ternyata Kania juga akan pergi.
“Iya, aku ada pekerjaan penting di sana, Sayang. Kamu izinin aku, ‘kan? Ini penting banget loh, Sayang.” Kania mulai merayu dan memanfaatkan kelemahan Satria sebaik mungkin.
Wanita itu membelai dada bidang Satria dan semakin turun sampai ke adiknya.
“Kok bisa samaan ya. Di kantor juga lagi ada libur tahunan ke Jogja.” Satria menatap Kania dengan tatapan bingung.
“Oh, mungkin cuma kebetulan saja, Sayang. Lagipula, aku ke sana untuk kerja bukan untuk liburan,” sahut Kania. Dia mulai mengeluarkan benda kebanggan Satria. “Ayolah, Sayang. Cuma beberapa hari saja kok. Nanti kalau pulang aku kasih lebih-lebih,” rayunya.
“Baiklah, tapi sebelum pergi, kamu harus memberiku sesuatu yang istimewa, Sayang.”
“Tentu saja, Tuan Suami.”
Baru saja mereka akan memulai kegiatan ranjang mereka, tiba-tiba ponsel Satria berbunyi.
“Sebentar, aku angkat telfon dulu. Biar dia enggak curiga,” kata Satria lalu mengecup bibir Kania sebelum akhirnya keluar kamar.
Kania menghela napas. Dia hanya istri simpanan, memang seharusnya dia sadar posisi.
Karena sudah mendapat izin dari Satria, Kania akhirnya memilih pakaian yang akan dia bawa saat ke Jogja, sambil menunggu Satria selesai menelepon istri sahnya.
Cukup lama Satria menelepon dan akhirnya baru selesai saat Kania sedang memasukkan baju-bajunya ke dalam koper.
“Kalau kamu pergi, aku gimana dong, Kanya?” tanya Satria memelas.
Dia sudah ditinggalkan Felicia, karena itulah Satria tidak rela jika ditinggal Kania juga.
“Ya ampun, Sayang. Enggak sampai seminggu udah selesai kok kerjaan aku. Jangan bilang kamu mau main ke kelab malam lagi,” goda Kania sambil menyentuh pundak Satria.
Laki-laki itu langsung menangkap tubuh Kania dan memangkunya di kasur.
“Kalau mau pergi, aku kasih bekal dulu. Biar enggak kangen sama aku,” kata Satria sembari mencium leher Kania. Tangannya bergerak pelan di punggung Kania yanga hanya bisa pasrah dengan perlakuan suami kontraknya.
***
Bekal sosis bakar jumbo, apa lele jumbo, apa lolipop banggg Sat-tria 😄😄😄
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 105 Episodes
Comments
liberty
karyawan biasa punya mobil....nyinyir gak nih laennya...😅
2024-06-28
0
Lina aja
lama"juga mereka bucin kan ...karena cinta akan tumbuh bila sering bersama
2024-05-09
0
💘Ƴᾰуᾰ💘✨
jangan tunda lagi bang sat
2024-03-24
0