Satria dan Kania terengah-engah setelah menyelesaikan permainan mereka. Rasa lega dan puas tercetak jelas di wajah Satria yang kini tersenyum bahagia. Sementara Kania, terlihat lemas dan seperti mau pingsan.
“Ternyata sesuai dengan imajinasiku, Kanya. Aku bahagia karena bisa menikmatinya sama kamu,” kata Satria yang kini mengeratkan pelukannya di tubuh lemah Kania. Dia lalu mencium Kania dengan sangat mesra.
Melihat wajah puas suaminya, membuat Kania bahagia berkali-kali lipat. “Senang bisa melayanimu di jam kantor begini, Sayang,” kata Kania lalu membalas pelukan Satria.
Dia hanya bisa pasrah saat Satria menurunkannya dari meja. Kakinya yang lemas, membuat keseimbangan Kania menurun, dan dia hampir saja jatuh kalau Satria tidak menangkapnya.
“Capek ya?” tanya Satria semakin gemas. Dia terkekeh geli melihat ekspresi istrinya yang tidak berdaya.
“Lemes banget,” jawab Kania jujur.
Satria langsung menggendong istrinya itu ke toilet yang ada di ruangannya. Lalu, membiarkan Kania bersih-bersih.
Setelah Kania selesai dari toilet, laki-laki itu menatap sang istri dan mengamati penampilan Kania yang sudah tidak acak-acakan lagi karena ulahnya.
“Sayang, aku sudah bisa kerja, ‘kan?” tanya Kania sembari mengikat rambutnya dengan rapi.
Satria mengangguk tanpa mengatakan apa pun. Bukan karena dia bersikap tak acuh, tapi Satria sedang terpesona oleh kecantikan Kania yang terlihat berbeda dengan pakaian kantornya.
“Kalau ada yang tanya kita ngapain lama, aku jawab apa, Sayang?”
Kania baru menyadari sekarang, bahwa dia sudah satu jam di ruangan Satria. Sudah bisa dipastikan bahwa saat ini dia dan Satria menjadi topik hangat pembicaraan para karyawan.
“Biar Gio yang urus,” jawab Satria lalu menghubungi sekretarisnya.
Tidak lama, laki-laki yang menjadi orang kepercayaan Satria itu muncul.
Kania masih bingung dengan sikap Satria. Ya, memang sih laki-laki itu tidak mungkin akan keluar dari ruangannya dan mengatakan bahwa ia adalah istri kedua dari sang bos. Tapi, setidaknya Satria memberi alasan yang logis karena semua terjadi juga karena ulahnya.
“Gio, jelaskan sama mereka apa yang Kania lakukan di sini, dan bungkam mulut mereka.” Satria memberi instruksi.
Laki-laki bernama Gio itu mengangguk patuh, seolah dia sudah siap dengan keadaan ini. Sementara Kania, justru semakin bingung dengan interaksi bos dan sekretarisnya itu.
“Baik Tuan. Nona Kania, mari kita keluar!” ajak Sekretaris Gio.
Kania berjalan mengikuti Sekretaris Gio keluar dari ruangan Satria, tapi saat sampai di pintu dia menoleh untuk melihat suaminya.
‘I love you’ Satria mengucap kata cinta itu tanpa suara, hanya gerakan bibir saja yang mengisyaratkan perasaan itu, tapi sayangnya Kania tidak mengerti apa yang Satria maksud.
Wanita itu akhirnya keluar dari ruangan suaminya dengan debaran kencang di dada. Tatapan sinis para staf sekretaris itu menyambut Kania. Susah payah ia menelan saliva untuk menghadapi cibiran dan hinaan para karyawan.
“Nona Kania sudah dipilih menjadi asisten pribadi Tuan Satria. Jadi, bersikap baiklah padanya dan jangan bergosip sembarangan. Ingat, Tuan Satria adalah bos yang memberi kalian gaji berkali lipat dari perusahaan lain!”
Suara bariton Sekretaris Gio membuat Kania membeku. Dadanya semakin berdebar membayangkan pekerjaan baru yang disebutkan oleh sekretaris itu.
Asisten pribadi? Memangnya dia artis? Tidak bisa apa-apa sendiri?
“Nona, silakan perkenalkan diri Anda!” seru sekretaris Gio.
Kania menatap laki-laki yang berdiri di sampingnya itu, lalu mengambil napas dalam-dalam untuk menetralkan debaran di dadanya.
“Halo semuanya! Saya Kania dari devisi administrasi gudang. Sekarang saya ditugaskan untuk menjadi asisten pribadi Tuan Satria. Mohon kerja samanya,” ucap Kania sembari menautkan kedua jari telunjuk di depan roknya. Rok yang sudah tidak rapi lagi karena ulah Satria.
“Selamat bergabung, Nona Kania.”
Pada akhirnya, Kania mendapat satu meja khusus di ruangan yang penuh dengan orang-orang sibuk dan berpendidikan tinggi. Dia merasa seperti makhluk asing di antara mereka. Apalagi Sekretaris Gio yang menjadi kepala sekretaris itu sangat dingin tanpa menjelaskan rinci apa saja yang harus Kania kerjakan.
***
***
Kania hanya benar-benar bekerja saat Satria memanggil ke ruangannya. Membuatkan kopi, memijatnya, menyiapkan menu makan siang, memuaskan hassratnya dan semua yang Satria butuhkan tanpa ada hubungannya dengan perusahaan.
“Kenapa kerjaan aku sekarang seperti pembantu kamu sih, Sayang?” tanya Kania saat selesai membuatkan kopi untuk Satria.
“Karena tugas utama kamu memang melayaniku, Kania. Sudahlah jangan protes, yang penting kamu tetap bekerja dan aku bahagia,” jawab Satria dengan entengnya.
Kania menghela napas berat. Percuma bicara dengan Satria karena dia tidak akan menang.
Desas-desus mengenai hubungan Kania dan Satria mulai santer menjadi topik hangat di kantor. Mereka mencurigai Kania yang sering datang ke ruangan Satria dalam waktu yang cukup lama. Mereka yakin, Kania memanfaatkan posisinya sekarang untuk menggoda Satria.
Saat ini Kania di kantin untuk mengambil makan siang yang telah disediakan perusahaan. Tiba-tiba seorang wanita menghampirinya dan berbisik.
“Eh, ada simpenan bos di sini. Boleh dong, kasih tau trikya biar bisa menggoda bos Satria,” kata wanita itu yang membuat telinga Kania terasa panas.
“Maaf ya, saya cuma bekerja sebagai asisten pribadinya,” balas Kania enggan meladeni omongan pegawai itu.
“Asisten pribadi kerjanya apa? Setahuku, Bos tidak pernah punya asisten pribadi. Oh, pasti karena kamu diam-diam menggodanya, atau malah menggunakan pelet. Padahal, kamu sama istrinya si bos itu enggak ada apa-apanya,” sindir wanita itu memancing emosi Kania. “Oh, asisten di ranjang. Pantas aja sih, bagian sekretariat bilang kalau kamu udah masuk ke ruangan Bos, enggak mungkin keluar kalau belum satu jam.”
Darah Kania serasa mendidih mendengarnya. Meski suara wanita itu sangat pelan, dan mungkin hanya dia yang bisa mendengar, tapi justru itu membuat Kania sangat marah. “Kalau kamu ada keluhan, sampaikan sama Tuan Satria. Jangan asal menuduh tanpa bukti.” Kania mengepalkan tangan dengan tatapan sinis. Dia sangat kesal karena dibanding-bandingkan dengan Felicia.
Memang, Feli lebih sempurna darinya, tapi kenapa kesempurnaan Feli itu tidak bisa membuat Satria tetap setia bersamanya.
“Belagak sekali pelakor satu ini. Jadi pelakor aja sok banget,” cibir wanita itu.
Kania tidak mau menguumpat, maka ia bergegas pergi meninggalkan wanita itu. Namun, nasib sial memang sedang menimpanya. Kaki wanita itu sengaja menyandung Kania sampai semua makanannya berjatuhan ke lantai.
“Ups, maaf ya, Nona Pelakor! Sengaja!” kata wanita itu dengan lirih.
Beberapa pegawai yang ada di kantin sontak menatap mereka dengan bingung. Detik berikutnya, Kania sudah bisa berdiri dan hendak membalas hinaan wanita itu. Akan tetapi, suasana kantin yang mendadak sepi membuat Kania menatap sekeliling.
Sekretaris Gio sudah berdiri di dekat pintu dengan tatapan tajam mengarah pada makanan Kania yang jatuh ke lantai.
“Ada apa, Nona Kania?” tanya Sekretaris Gio. Dia berjalan mendekati Kania dan wanita itu yang kini sama-sama mematung.
“I-ini bukan kesengajaan kok. Akan saya bereskan.” Kania hampir berjongkok untuk membersihkan kekacauan itu, tapi Sekretaris Gio langsung menahannya.
“Biar Cleaning Service saja, Nona. Kita harus pergi sekarang, Tuan Satria sudah menunggu,” kata Sekretaris Gio sambil menahan lengan Kania. “Tapi benar ‘kan tidak ada masalah?” tanyanya sekali lagi. Tatapannya kini tertuju pada wanita yang tadi mengganggu Kania.
***
***
Jangan lupa hadiahnya.. Bagi vote juga dong 💋💋
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 105 Episodes
Comments
💘Ƴᾰуᾰ💘✨
awas knya nanti viral di medsos 🫣
2024-04-01
0
Borahe 🍉🧡
ngeri" sedap sih dgn hubungan mereka
2023-09-27
0
Izza Driani
gimn ga curiga... tiap masuk ruangan satria lama banget keluarnya
2023-08-18
0