Seminggu sudah Satria di luar negeri dan itu artinya sudah dua minggu lebih dia tidak menemui Kania. Rasa rindu yang merasuk di hati Kania memang wajar terjadi. Walau dia hanya istri kontrak yang seharusnya tidak menuntut apa pun di luar kontrak, tapi Kania sudah melibatkan hatinya dalam hubungan pernikahannya.
Harus diakui, memiliki suami yang sempurna seperti Satria, wanita mana yang tidak akan jatuh ke dalam pesonanya? Sebagai wanita normal, apalagi yang setiap hari melayani Satria layaknya suami istri normal, Kania tidak bisa menolak pesona seorang Satria. Dia tidak akan bisa lagi menarik perasaannya yang telah terjatuh dalam hati laki-laki itu.
Kontrak sudah dilanggar, keduanya sama-sama menggunakan perasaan dalam pernikahan itu. Lalu, untuk apa lagi ada kontrak, hitam di atas putih?
Suara pintu apartemen yang terbuka membuat Kania bergegas keluar dari kamarnya. Dia sangat yakin itu Satria.
Benar saja, senyum laki-laki tampan itu muncul ketika Kania melihat ke arah pintu yang kini terbuka. Hati kecil Kania berbunga dan merasa lega setelah melihat pria berhidung mancung dengan mata sipit itu menatapnya penuh cinta.
Namun, dua minggu diabaikan, membuat Kania merajuk. Dia merasa marah karena Satria tidak mau menjawab teleponnya. Wanita itu memasuki kamar menutupi raut bahagianya yang tidak bisa menahan senyum.
“Sayang, aku pulang. Kenapa malah kabur sih?” tanya Satria yang kini berjalan menuju kamarnya bersama Kania.
Dia baru sampai dari luar negeri. Rasa rindunya pada Kania membuat Satria mempercepat kepulangannya tanpa memberi tahu Kania atau pun Felicia.
Laki-laki itu melihat istrinya sedang duduk di tepi ranjang membelakanginya. Satria tahu, Kania pasti sedang marah.
“Hei, Sayang. Beginikah cara menyambut suami yang baru pulang?” tanya Satria. Dia naik ke kasur dan merangkak mendekati Kania, lalu memeluknya dari belakang.
“Kenapa pulang ke sini? Memangnya enggak takut ketahuan istri kamu?” tanya Kania dengan cemberut.
Satria meraih wajah Kania, lalu mencium bibir bawahnya dengan lembut. Sudah dua minggu tidak merasakan kenyalnya bibir sang istri membuat rasa rindu di dadanya semakin menggebu.
“Aku merindukanmu, Sayang. Kenapa cemberut sih?” Satria kembali memeluk Kania dan bersandar di bahunya. Dia mendekap erat sang istri seakan Kania akan terbang jika tidak didekap seerat itu.
“Enggak apa-apa. Aku enggak cemberut kok,” jawab Kania.
“Kamu marah karena aku enggak angkat telfon ya?” tebak Satria yang membuat Kania memalingkan wajah. “Sebenarnya, aku sangat sibuk Kania. Apalagi Feli menyusulku jadi aku tidak bisa mengabarimu. Maaf ya, aku janji ini, malam ini aku akan menginap di sini sampai besok siang. Jangan marah ya.”
Kania menatap lekat wajah suaminya. “Janji, tidur di sini sama aku sampai besok?” Binar bahagia di wajah Kania mulai terlihat, apalagi saat Satria mengangguk dan menciumi lehernya.
Malam ini menjadi saksi mereka memadu kasih, saling melepas rindu melalui sentuhan dan penyatuan sempurna yang telah lama tidak mereka nikmati.
***
***
Pagi mulai menjelang, Kania menatap wajah teduh suaminya yang tengah terlelap diiringi dengkuran halus yang menandakan tidurnya pulas. Dia tidak membangunkan sang suami dan hanya mengecupnya sekilas karena perutnya terasa tidak nyaman sama sekali.
Kania merasa sangat mual pagi ini, dan berakhir muntah di kamar mandi. Dia yakin penyakit lambungnya pasti sedang kumat karena sejak Satria ke luar negeri, selera makannya jadi berkurang. Ya, karena tidak begitu paham tanda-tanda kehamilan, Kania berpikir dia sedang sakit.
Setelah mengeluarkan cairan kuning seperti telur yang terasa pahit, akhirnya perut Kania mulai terasa lega. Dia lalu memutuskan untuk mandi supaya saat Satria bangun, dia sudah segar dan cantik.
Sementara itu, Felicia yang juga merasakan mual dan muntah langsung memakai alat tes kehamilan karena sangat berharap bisa cepat hamil. Ya, keinginannya terkabul, alat tes di hadapannya menunjukkan hasil positif. Dia hamil.
Namun, kebahagiaannya itu tidak berlangsung lama karena saat dia mengambil ponsel untuk menelepon Satria, ternyata dia menerima pesan dari Andrew. Dia telah mendapatkan bukti kuat mengenai perselingkuhan Satria dan Kania yang merupakan pegawai biasa di kantor Satria. Bahkan, sekarang wanita itu telah diangkat sebagai asisten pribadi Satria.
Aku sudah memenuhi janjiku, kalau sampai kamu mengabaikanku lagi, aku akan mengirim bukti tentang kita pada suamimu. Sama seperti yang saat ini kamu rasakan, dia pasti akan marah besar Felicia Sayang.
Felicia mengabaikan pesan dari Andrew itu dan fokus pada masalah Satria. Dia merasakan kehancurannya sebentar lagi akan dimulai. Satria sudah berpaling darinya dan menyukai pegawai biasa seperti Kania.
Feli sangat tidak terima. Bisa-bisanya suaminya direbut wanita yang tidak lebih cantik darinya.
***
Dengan amarah yang bergemuruh di dadanya, Felicia mendatangi apartemen Kania. Dia harus memberi pelajaran pada wanita itu.
Kania baru selesai mandi dan belum sempat membangunkan Satria saat mendengar bel berbunyi.
“Siapa yang bertamu ke sini? Apa mungkin Sekretaris Gio?”
Kania mengecek siapa yang datang melalui monitor yang terhubung dengan kamera di luar unitnya. Matanya memicing saat melihat di layar ada seorang wanita yang berdiri membelakangi kamera.
“Siapa ya?” gumam Kania. “Apa tetangga sebelah?”
Dia membuka pintu tanpa berpikir macam-macam karena keamanan di apartemen pasti terjamin. Tidak mungkin jika orang jahat yang tidak punya akses bisa masuk ke sana bukan?
Saat pintu terbuka, Felicia langsung memaksa masuk, membuat Kania syok dan tidak bisa berkata-kata.
“Kamu Kania, ‘kan?” teriak Felicia yang tidak bisa menahan amarahnya.
“Kamu kenapa masuk rumah orang tanpa permisi. Mau apa berteriak-teriak di sini?” Kania mulai ketakutan, apalagi Satria masih tidur sekarang. Jika Felicia melihat suaminya, pasti keributan tidak bisa terelakkan lagi.
“Aku ke sini untuk menemui selingkuhan suamiku.”
Felicia membuka pintu kamar Kania dan menemukan seseorang tengah terlelap membelakanginya. Dengan cepat dia berjalan ke arah ranjang dan melihat Satria yang sama sekali tidak terganggu dengan teriakannya tadi.
Tangan Feli terulur membuka selimut, dan terlihatlah tubuh Satria yang berteelanjang dada.
“Kanya, aku masih lelah,” kata Satria tanpa membuka matanya, dia menarik kembali selimut untuk menutupi tubuhnya.
Rasa sesak di dada Felicia saat mendengar Satria menyebut nama wanita lain, membuat air matanya meluncur dengan sangat cepat. “Aku bukan Kania.” Suara Felicia terdengar bergetar menahan sakit di dadanya.
Satria langsung membuka mata lebar-lebar saat mendengar suara istri pertamanya. Dia melihat Felicia sedang menatapnya dengan tatapan membunuh dan membuatnya mengucek mata berulang-ulang untuk memastikan itu bukanlah mimpi atau halusinasi.
***
Mon maaf ya readers kece yang aku sayang, aku baca semua koment² kalian, but cerita ini sudah disetujui oleh eddiitor dan harus sesuai dengan alur awal yg kubuat. So, maaf aku belum bisa memenuhi keinginan kalian. Tapi, aku janji akan memberikan sesuatu yang terbaik. Meski mungkin akan mengaduk-aduk emosi kalian 😂😂 Tapi, aku janji akan ada saatnya kalian tersenyum puas. Karena semua perbuatan harus mendapat balasan. Satria, Kania, Felicia, semua akan mendapat balasannya masing-masing. Harap bersabar dan jangan menimpukku dengan sendal. Cukup dengan bunga atau kopi di kolom hadiah aja wkkkkkk
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 105 Episodes
Comments
Nurul Fatimah
👟👟👟👟👟👟👠👠👠👠👠buat dirimu Thor🤣🤣🤣🤣
2024-12-17
0
anonim
Kania kalau hamil jelas itu anaknya Satria.
Laaaahhh Felicia hamil anaknya Andrew atau Satria ????
2024-06-23
0
Jenn
kok gue yg merasa jijik sih🥲
2023-08-28
0