Satria mendatangi apartemen Kania untuk mendapatkan sarapannya. Laki-laki itu tidak menemukan Kania, tapi hanya menemukan kotak bekal dan kertas dengan tulisan tangan Kania.
Aku harus berangkat pagi karena ada sesuatu yang harus aku urus, dan aku tidak mau mengirim pesan karena takut kamu marah, kalau kamu lapar, aku sudah memasak masakan spesial untukmu.
Satria menatap kotak bekal di meja makan dan tersenyum. Dia lalu menelepon Kania sambil berangkat ke kantor. Laki-laki itu ingin menikmati masakan Kania di kantor.
Saat sudah dekat dengan kantor, sekretarisnya menelepon dan mengatakan pada Satria bahwa Kania bekerja di kantor mereka. Laki-laki itu sangat syok dan tidak percaya dengan apa yang dikatakan sekretarisnya itu.
Namun, saat baru memasuki gedung kantornya, tiba-tiba dia melihat sosok Kania yang berjalan membelakanginya. Satria meninggalkan mobilnya begitu saja dan melemparnya pada satpam yang berjaga. Dia langsung mengejar wanita yang diyakini adalah Kania itu sambil membawa paper bag berisisi kotak bekalnya.
Kania yang merasa dicekal secara tiba-tiba, langsung menoleh ke belakang dan melihat suaminya berdiri dengan mata melotot.
“Kanya!” panggil laki-laki itu dengan lirih. Dari matanya saja Satria langsung mengenali istri keduanya.
Kania tidak bisa berkata-kata. Bibirnya bergerak seakan mengucapkan kata dengan terbata, tapi tidak ada suara yang keluar sama sekali.
“Jadi, kamu kerja di sini?” tanya Satria sambil melepas kacamata dan masker yang dipakai Kania.
Aduh, aku benar-benar akan mati. Bagaimana kalau dia marah dan memecatku?
Melihat istrinya yang bingung tidak bisa menjawab. Satria melepaskan cekalan tangannya. Dia masih bisa berpikir bahwa saat ini mereka ada di kantor.
“Kamu! Ikut ke ruangan saya!” titah Satria dengan nada bicara yang terdengar tegas.
Beberapa karyawan menatap mereka dengan pandangan aneh. Yang mereka pikirkan adalah Kania mendapat masalah besar karena Satria langsung memanggilnya ke ruangan.
Untuk pertama kalinya, Kania naik di lift yang sama dengan suaminya yang sama sekali tidak mau bicara. Apalagi, tampang dinginnya yang menyeramkan, sudah bisa membuat Kania menebak bahwa laki-laki itu sedang marah besar.
Kania terus memejamkan mata karena takut dengan tatapan lurus suaminya itu. Saat pintu lift terbuka, matanya pun ikut terbuka. Dengan kaki yang terasa lemas, Kania melangkah mengikuti suaminya.
Susah payah dia menelan ludah saat melihat deretan sekretaris Satria yang berdiri menyambut bosnya lalu menunduk memberi hormat. Di ujung ruangan itu, ada sebuah pintu besar yang merupakan ruang kerja Satria. Laki-laki tegap yang menjadi kepala sekretaris berdiri tepat di depan pintu.
Suasana terasa mencekam karena semua manusia itu menutup mulutnya rapat-rapat. Bahkan, saking heningnya, Kania bisa mendengar debaran jantungnya sendiri.
Ah, terserahlah. Kalaupun aku dipecat dan tidak menjadi istri kontraknya lagi, aku sudah melunasi utang-utangku. Kalau dia meminta denda, aku minta saja dia mengembalikan keperawananku.
Kania terus mengoceh dalam hati, sedangkan Satria meliriknya sekilas sambil tetap menenteng sarapannya.
“Cepat masuk dan jelaskan semuanya!” titah Satria pada Kania saat istrinya itu mematung di depan pintu.
“Nona, masuklah! Jangan membuat Tuan marah,” sahut sekretaris Satria.
Kania menghela napas dan masuk ke ruangan CEO untuk pertama kalinya. Ruangan yang sangat mewah dan dingin.
Satria meletakkan makanannya di meja, lalu dia duduk dengan santai di kursi kebesarannya.
Kania masih berdiri dengan berdebar. Wanita itu menunggu sang suami menyuruhnya duduk, tapi Satria seolah tidak peduli.
“Ma-maaf, Sayang.” Kania mengatur napas lagi, dadanya yang berdebar keras membuat napasnya terasa sesak, apalagi saat ini dia sedang berdiri.
Satria melirik sekilas, dan membiarkan Kania menjelaskan. Dia lebih memilih untuk membuka kotak makannya, dan mencicipi masakan wanita yang sedang berdiri ketakutan di hadapannya.
“Sebenarnya, dari awal aku sudah tahu kalau kamu bosku. Makanya aku kaget banget, tapi aku butuh uang dan karena itu aku merahasiakannya. Aku bukan bermaksud sengaja menjebak atau menggodamu, tapi aku butuh ....”
“Suapi aku!” potong Satria.
Kania mengernyit dan refleks sedikit memajukan wajahnya.
Satria berdiri dan mengecup bibir Kania yang sedari tadi bergetar karena takut.
“Suapi aku Kanya! Kamu hari ini tidak menemaniku sarapan, sebagai gantinya kamu harus menyuapiku!” lanjutnya yang paham dengan kebingungan Kania.
“Kamu enggak marah aku bohong soal kerjaan aku?” tanya Kania yang masih bingung.
“Kalau kamu terus berdiri dengan diam, aku akan memecatmu sekarang juga supaya kamu bisa di rumah saja dan tidak usah bekerja,” jawab Satria yang kini menyerahkan sendok ke tangan Kania.
Dengan terpaksa, Kania menerima sendok itu dan mulai menyuapi suaminya. Sementara Satria malah terlihat bahagia, bahkan sampai makanan habis pun dia masih senyum-senyum sendiri. Satu masalahnya bisa terselesaikan dan tinggal fokus dengan masalah lainnya.
Tiba-tiba Satria meraih ponselnya dan menghubungi sang sekretaris. “Pindahkan istriku ke bagian sekretariat, hari ini!” perintahnya dengan semena-mena.
Mata Kania membulat sempurna saat mendengar perintah suaminya itu. Satria menjadikannya sekretaris tanpa pengalaman apa pun, padahal dia hanya pegawai biasa yang tidak layak menjadi sekretarisnya.
“Kenapa tidak bilang dari awal, kalau tahu gini ‘kan kita bisa sering-sering main di kantor. Aku bisa wujudkan imajinasiku, Kanya,” kata Satria sambil berdiri dan kemudian merapatkan tubuhnya pada Kania.
Laki-laki itu mencium bibir Kania dan semakin merapatkan tubuh mereka.
“Imajinasi apa?” tanya Kania setelah ciuman Satria terlepas.
“Melakukannya di kantor, pasti seru,” jawab Satria sambil menyeringai.
“Kalau mereka curiga, gimana, Sayang? Mereka bisa melaporkannya pada istrimu!”
Kania merasa takut jika hubungan mereka menimbulkan kecurigaan dan akhirnya menjatuhkan nama baik Satria.
Ya, Kania sudah terjebak dalam perasaannya pada Satria. Dia seolah tidak peduli bahwa posisinya saat ini hanya orang ketiga yang menghancurkan rumah tangga lain. Menjadi istri dari suami wanita lain.
Namun, dari semua hal yang terjadi saat ini, Kania bisa merasa lega karena sekarang tidak perlu menyembunyikan identitasnya lagi.
“Biar saja semua terjadi seperti seharusnya, kalau dia tahu, maka aku akan mengatakan padanya bahwa kamu juga istriku.”
“Benarkah? Kita akan menikah resmi dan memiliki anak?” tanya Kania bersemangat.
Meski entah yang dikatakan Satria itu benar-benar terjadi atau tidak. Yang jelas, Kania sangat bahagia saat ini.
“Ya, kalau kita sudah resmi. Tapi sekarang, kita harus menundanya dulu,” jawab Satria yang kini mulai menyusuri punggung Kania naik turun dan akhirnya menggenggam dua bongkahan kenyal yang tidak muat di tangannya.
Kania mendadak kecewa, mendengar jawaban Satria, tapi jiwa ingin memilikinya tetap tumbuh di hati Kania.
Kalau aku mendadak hamil, kamu pasti akan menikahiku secara resmi, dan istrimu tidak akan bisa menentang hubungan kita.
“Tapi, aku suka membuat anak bersamamu.” Satria tiba-tiba menggendong Kania dan mendudukkannya di meja.
Laki-laki itu ingin sekali mewujudkan imajinasi liiar yang ada dalam pikirannya.
Visual ada di ig othor @ittaharuka
****
Kembang kopinya jangan lupa 💋💋💋
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 105 Episodes
Comments
liberty
sudah kuduga...bakalan lempoh koe Kania ....gempur trss😅🤣
2024-06-28
0
anonim
Satria bener nih tidak takut ketahuan sama Felicia kalau punya istri kontrak
2024-06-22
0
Izza Driani
kirain bakalan marah euuh ternyata malah punya pantasi sendiri
2023-08-18
1