Felicia keluar dari kamar hotel dengan sangat hati-hati, jangan sampai ada yang mengenalinya, apalagi kalau anak buah Satria yang tahu. Dia harus membongkar perselingkuhan Satria dengan wanita lain dulu sebelum dia yang ketahuan oleh Satria.
Wanita itu lalu pulang ke rumah yang ia tinggali bersama Satria, menunggu sang suami yang tidak kunjung terlihat batang hidungnya meski jam pulang kantor sudah lewat.
Sementara itu, Satria yang baru pulang dari rapat dengan klien, memasuki rumah dan disambut oleh tatapan dingin Felicia.
“Sayang, kamu menungguku?” tanya Satria lalu memeluk pinggang Feli dengan mesra.
Felicia masih memasang wajah murung yang tidak Satria mengerti alasannya. Dia bukannya menjawab malah balik bertanya, “Kamu baru pulang? Dari mana saja?”
Merasa diintimidasi oleh pertanyaan Felicia itu, Satria melepas jas dan menggulung kemejanya dengan perasaan dongkol. Bukannya disambut hangat dan dibantu melepaskan pakaian, malah disambut pertanyaan tidak berdasar seperti itu.
“Baru pulang dari meeting, kenapa? Curiga?” Mata Satria mulai melotot, meski amarahnya masih bisa ditahan, tapi pertanyaan Feli sangat membuatnya kesal.
Ya, memang dia menjalin hubungan dengan Kania, tapi masalahnya saat ini dia memang baru pulang dari rapat, bukan menemui Kania.
Felicia yang berselingkuh, jelas saja curiga pada Satria. Orang bilang, perbuatan buruk itu pasti akan dibalas dengan keburukan pula. Dia takut Satria melakukannya juga, apalagi bukti foto itu terus menghantui pikirannya.
“Ya, tentu saja aku curiga. Aku berhak untuk curiga, karena ini!” Felicia menyodorkan ponselnya yang menampilkan sosok Satria bersama wanita yang diberikan oleh Andrew. Meskipun tidak terlihat jelas wajah wanita itu, tapi melihat adegan yang terbilang mesra itu, siapa pun pasti mengira Satria menjalin hubungan istimewa dengan wanita itu.
Satria menatap wajahnya sendiri di ponsel sang istri. Entah dari mana Felicia mendapatkannya, Satria tidak bisa mengelak bahwa itu bukan dirinya. Akan tetapi, wajah Kania yang tidak terlihat jelas pasti membuat Felicia tidak mengetahui fakta hubungan mereka.
“Dia pegawaiku. Foto itu waktu kami mengadakan liburan di Jogja. Memangnya salah kalau aku tertawa seperti itu dengan karyawanku sendiri?” jawab Satria setengah berbohong.
Memang benar Kania adalah pegawainya dan mereka sedang di Jogja saat itu, tapi masalahnya waktu itu dia belum tahu jika Kania adalah pegawainya.
“Delapan tahun aku sama kamu, Fel. Aku membebaskan kamu di luar negeri karena aku percaya sama kamu, tapi sekarang apa? Kamu meragukan aku!.” Satria meninggalkan Feli dengan keadaan emosi. Dia berjalan ke kamar untuk membersihkan diri. Dia tidak ada tenaga untuk meladeni Feli saat ini.
Felicia yang merasa ditinggalkan begitu saja tanpa menyelesaikan masalah, akhirnya menyusul suaminya ke kamar. Ternyata, Satria sudah masuk ke kamar mandi, dan terpaksa dia harus menunggu suaminya itu.
Beberapa waktu berlalu, Satria akhirnya keluar dengan pakaian tidurnya. Wajahnya masih terlihat kesal saat naik ke kasur.
“Jelaskan soal hubunganmu sama wanita itu, Sat!” teriak Felicia dengan kesal. Dia tidak akan membiarkan Satria menghindar begitu saja sampai mengakui siapa wanita yang bersamanya.
“Apalagi sih, Fel? Sudah aku bilang kalau dia itu pegawaiku. Cari saja di kantor sana, ratusan orang itu kamu tanya satu-satu biar kamu puas!” Satria mengurungkan niatnya untuk tidur bersama Felicia. Dia keluar dari kamar membawa ponselnya sambil membanting pintu dan memilih untuk tidur di kamar lain.
Felicia mengepalkan tangan menahan kesal. Sepertinya Satria tidak akan pernah mengaku. Mungkin sama seperti dia jika nanti Satria mengetahui perselingkuhannya.
Sementara di kamar lain, Satria mengirimkan pesan pada Kania untuk tidak saling bertemu dulu. Dia juga berpesan pada Kania untuk tidak terlalu dekat di kantor karena Felicia mulai curiga. Satria juga menghubungi Sekretaris Gio untuk mencari informasi sekecil apa pun tentang Felicia secepatnya.
***
***
Seminggu sejak bertengkar dengan Felicia, Satria memilih untuk tidak menemui Kania dan itu membuat kepalanya seperti mau meledak. Dia butuh pelampiasan sedangkan seleranya terhadap Felicia mulai menghilang dan akhirnya berakhir dengan senam lima jari di kamar mandi sambil membayangkan tubuh Kania. Kini, hubungannya dengan Kania harus kembali diuji karena dia harus melakukan perjalanan ke luar negeri selama seminggu.
“Bagaimana penyelidikanmu tentang Feli dan Kanya?” tanya Satria saat dia dan Sekretarisnya sudah berada di pesawat.
“Mengenai Nona Kania, dia sudah melunasi semua utangnya dan rumah serta motor yang tergadai juga sudah ditebus. Nona Kania sudah bebas sejak bulan lalu, dan uang dari Tuan bulan ini belum digunakan sama sekali,” jawab Sekretaris Gio dengan jelas.
“Tidak dipakai? Lalu untuk apa dia menyimpan uang itu?” gumam Satria.
“Sepertinya Nona Kania sedang menabung dan pengeluaran bulan ini masih menggunakan uang sisa bulan lalu, Tuan.”
Satria mengernyit. “Uang bulan lalu masih ada? Memangnya dia tidak pernah belanja?”
“Nona hanya memakai uang ke salon dan ke supermarket, Tuan. Selain itu juga penarikan tunai yang mungkin dipakai untuk transportasi.”
Satria tersenyum membayangkan istri keduanya yang tidak bisa menggunakan uangnya, kenapa dia sangat berhemat padahal dia mendapat uang bulanan yang sangat banyak?
“Kalau Feli, apa yang kamu dapatkan?”
Sekretaris Gio menunduk. Menyesal karena kesulitan mendapatkan petunjuk atau informasi mengenai Felicia. “Maaf Tuan, kami sudah menyelidiki dengan sangat baik, tapi tidak ada informasi aneh mengenai Nyonya. Mungkin Nyonya memang setia dengan Tuan, atau mungkin juga ibu Nyonya Felicia ibunya sudah menghapus semua bukti yang kita cari, Tuan.”
“Kalian harus bekerja lebih keras lagi, mamanya Feli pasti menyembunyikan sesuatu dari kita.”
***
Baru dua hari di luar negeri, Satria dikejutkan dengan kedatangan Feli yang tiba-tiba menyusulnya. Sebenarnya wanita itu datang karena ingin memastikan bahwa Satria sedang bersama wanita lain atau tidak.
“Kenapa kamu ke sini, Fel?” tanya Satria. Dia tahu, bahwa Felicia sedang menguntitnya untuk mencari tahu soal Kania, tapi sayangnya Feli tidak akan mendapatkan bukti apa-apa.
“Aku mau kasih kamu kejutan, Sayang. Aku kangen kamu, maaf ya waktu itu aku sangat bodoh,” jawab Felicia lalu memeluk Satria. Pelukan itu sangat erat seakan Feli takut kehilangan Satria.
Mama Feli sudah mengatur strategi ini supaya Satria dan Feli bisa berbaikan dan Satria tidak akan berpikir untuk berpisah dengan putrinya.
“Aku masih harus menyelesaikan urusan Fel, kamu bisa bersenang-senang di sini, tapi aku tidak bisa menemanimu,” kata Satria tanpa berniat membalas pelukan Felicia.
“Sayang, aku cuma sehari aja di sini, karena aku kangen banget sama kamu. Kamu enggak kangen aku? Kamu enggak sayang aku lagi?” tanya Felicia sambil menatap wajah Satria.
Mata Feli yang berkaca-kaca membuat Satria tidak tega dan akhirnya membalas pelukan itu. Feli bersorak dalam hati dan langsung memberikan ciuman bibir Satria.
“Aku mencintaimu, Sat.”
***
Sementara itu, Kania sedang merindukan Satria saat ini. Sudah dua minggu Satria tidak menemuinya, apalagi pulang ke apartemen karena sekarang Satria masih di luar negeri. Dia memberanikan diri untuk menelepon laki-laki itu, tapi begitu tersambung, teleponnya langsung ditolak. Dia mencoba lagi, tapi tetap ditolak. Sampai akhirnya, panggilan ketiga Satria mematikan ponselnya.
***
Sabar ya readers sayang. Biar enggak buru-buru ketahuan, nanti malah cepet tamat 😅😅😅 pelan-pelan aja ya 🤣🤣🤣
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 105 Episodes
Comments
liberty
tolonng beri kaca buat mereka berdua...kalo perlu segede Mall 😏
2024-06-28
0
💘Ƴᾰуᾰ💘✨
wkwkwk drama tukang slingkuh 🤣
2024-04-05
0
💘Ƴᾰуᾰ💘✨
sama2 slingkuh nieh berdua
2024-04-05
0