Felicia pulang dari luar negeri dan bermaksud untuk memberi kejutan pada suaminya. Tanpa mengindahkan sambutan pelayan-pelayan, dia berjalan cepat menaiki tangga menuju kamar yang sudah enam bulan ini dia tinggalkan. Dengan penuh percaya diri, Feli membuka pintu kamar yang ternyata tidak dikunci.
“Surprise!” Raut wajah Feli mendadak berubah. Suaminya tidak ada di rumah yang membuatnya mengerutkan kening, kecewa.
Dia lalu memeriksa kamar mandi, dan tidak juga menemukan laki-laki itu. Di manakah Satria?
Dengan kesal, Feli menuruni anak tangga dan menemui para pelayan yang masih setia menundukkan kepala.
“Di mana suamiku?” tanya Feli pada para pelayan.
Salah seorang dari mereka mengangkat wajah dan mulai bicara. “Maaf, Nyonya. Tuan sudah jarang pulang beberapa minggu ini.”
Seolah tidak percaya dengan informasi yang didapat dari pelayan, Feli mengambil ponselnya dan mendengus kesal. Dia lalu mencari kontak Satria dan menghubunginya.
Terdengar nada tunggu berbunyi beberapa kali, tapi tapi Satria belum juga menjawab sampai akhirnya telepon berakhir.
“Ke mana sih dia? Apa sudah ke kantor?” gumam Feli sembari mencoba menghubungi Satria lagi.
Sementara itu di apartemennya, Kania sedang mengeringkan rambut dengan handuk mandi yang melekat di tubuhnya. Dia berjalan mendekati ponsel Satria yang terus menyala tanpa suara maupun getaran.
Wanita itu lalu melihat nama si penelepon yang ternyata adalah Felicia, istri sah suaminya. Dia mengabaikan ponsel itu dan hendak ke meja rias. Akan tetapi, tangan Satria tiba-tiba menariknya hingga terjatuh di kasur dan menimpa tubuh kekar laki-laki itu.
“Kamu ngapain, sayang? Bangunin aku pakai wangi tubuh kamu.” Satria membuka mata, tangannya bergerak membuka tali handuk yang mengikat di pinggang Kania.
“Aku tadi enggak sengaja lihat handphone kamu nyala terus, Sayang,” jawab Kania sembari memosisikan tubuh supaya nyaman.
Satria sudah berhasil mengeluarkan dua benda kenyal milik Kania dan menikmati itu, seperti bayi yang kelaparan saat bangun dari tidur.
“Istri kamu telepon lagi, Sayang. Kayaknya ada hal penting,” kata Kania. Dia melihat ponsel suaminya yang kembali menyala, dan lagi-lagi Felicia menelepon.
Satria terpaksa melepaskan aset berharga milik Kania dari mulutnya. Dengan kesal dia meraih ponselnya. “Kenapa lagi sih dia, pasti ada tas atau sepatu yang mau dia beli.”
Kania merapikan pakaiannya, tapi Satria menahan gerakannya. Laki-laki itu masih ingin bermain dengan milik Kania.
“Halo.”
“Honney, kamu ke mana saja? Aku telepon enggak diangkat terus?” tanya Felicia dari seberang sana.
“Aku baru bangun tidur, Sayang. Ada apa? Minta uang lagi?” Satria masih sibuk memainkan benda kenyal Kania yang membuat wanita itu menggigit bibir bawahnya menahan kenikmatan.
“Kamu tidur di mana? Aku di rumah tapi kamu tidak ada,” kata Felicia terdengar kesal.
“Apa!?” Satria langsung terduduk dan mengusap wajahnya dengan kasar.
Kania sampai terkejut melihat tingkah Satria. Dia buru-buru merapikan kembali pakaiannya saat Satria bergerak turun dari ranjang.
“Aku di rumah kita, kata pelayan kamu sudah lama enggak pulang. Kamu di mana sih?”
“A-aku di apartemen, Sayang. Aku cuma ingin menyendiri karena pekerjaan yang bikin stres, aku butuh suasana baru,” jelas Satria yang kemudian memakai pakaiannya. “Kapan kamu sampainya, Sayang?”
Kania sekarang paham bahwa Felicia sudah ada di rumah. Itu artinya tugasnya akan sedikit berkurang. Dia berharap Felicia akan tinggal lama supaya dia bisa bebas dari Satria.
“Baru saja aku sampai rumah. Kamu di apartemen mana, biar aku ke sana?”
“Enggak usah, Sayang. Aku lagi siap-siap mau pulang ini,” cegah Satria. “Aku matikan dulu ya, sampai ketemu di rumah, istriku. I love you.” Satria lalu mematikan teleponnya.
Kini, laki-laki itu menatap Kania yang masih memakai handuk mandinya.
“Sepertinya kita akan berpisah dulu. Aku pasti akan merindukanmu, Sayang.” Satria mencium bibir Kania dan memainkan kedua aset kembar itu dengan kedua tangannya. Tak lama, dia pun melepaskan ciumannya.
“Kabari aku kalau kamu ke sini,” kata Kania. Senyum cantik terukir di bibir itu membuat Satria merasa berat meninggalkannya.
“Hem. Jangan macam-macam di belakangku ya. Dan jangan menelepon kalau aku tidak menelepon lebih dulu,” balas Satria lalu mengusap kepala Kania dan berpamitan untuk pergi.
Kania mengangguk dan mengantarkan laki-laki itu sampai pintu apartemen. Lalu, dia menutup pintu dan menguncinya.
Setelah kepergian Satria, Kania bersorak dan menari-nari. Malam ini dia bisa tidur dengan baik tanpa harus bekerja keras, ya walau sebenarnya dia juga menikmatinya.
****
Malam ini, Kania benar-benar tidur dengan nyenyak. Dia bebas menguasai kasur berukuran besar itu sendirian. Tanpa ada tangan jahil yang tiba-tiba membangunkannya untuk bekerja.
Lain halnya dengan Satria, laki-laki itu sedang menatap istrinya yang tidur membelakanginya. Walaupun dia juga mendapatkan haknya dari Felicia, tapi Feli berbeda dengan Kania yang biasanya akan bermanja-manja di dadanya.
Feli langsung tertidur tanpa mau bercerita kegiatannya di luar negeri, berbeda dengan Kania yang biasa menceritakan banyak hal setelah mereka bercinta. Satria malah mulai memikirkan cara agar Felicia segera pergi lagi dan dia bisa bebas bersama Kania.
***
Selama di rumah, Satria sama sekali tidak menghubungi Kania. Hanya di kantor saja dia berani menghubungi istri kontraknya itu. Namun, tentu saja itu menjadi masalah besar bagi Kania yang harus bekerja. Dia harus sembunyi-sembunyi saat menerima telepon dari Satria.
“Halo, kamu sedang apa?” tanya Satria dengan datar. Dia akan pergi dengan sekretarisnya untuk menghadiri rapat di luar kantor.
Kania yang juga dari luar kantor, menerima panggilan itu. Selama tidak ketahuan oleh manajernya, dia masih bisa menjawab panggilan telepon Satria.
“Aku di kantor, Sayang. ‘Kan masih jam kerja,” jawab Kania. Dia berjalan menuju lift dan langsung berbalik badan saat tahu Satria ada di lift itu.
Matilah aku.
“Kenapa wanita itu?” tanya Satria pada sekretarisnya. Dia berjalan keluar dari lift, dan memperhatikan Kania yang membelakanginya.
Penampilan Kania saat di kantor memang biasa saja. Rambut diikat rapi, dengan make up tipis dan juga kacamata yang membuat penampilannya berbeda.
Jantung Kania berdebar keras saat tahu Satria sedang memperhatikannya.
“Saya kurang tahu, Tuan. Apa perlu saya suruh menemui Tuan?” tanya laki-laki yang merupakan sekretaris Satria.
“Tidak perlu, kita ada rapat yang lebih penting.” Satria memilih untuk mengabaikan Kania yang masih mematung di tempatnya. Dia lalu kembali fokus pada teleponnya. “Halo, kamu masih di sana?”
Kania menghela napas lega karena berhasil menghindari Satria. Akan tetapi, laki-laki itu masih bersuara di ponselnya.
“Iya, Sayang. Tadi ada bos aku. Kamu kenapa telepon? Kangen ya?” goda Kania yang kini sudah masuk ke lift.
“Ya, begitulah. Feli masih di rumah, aku tidak bisa menemuimu, Kanya.”
****
Lima hari sudah Felicia di rumah. Sikap Satria terbilang normal, tidak ada yang perlu dicurigai. Feli merasa itu hanya pikiran buruknya saja karena menurutnya, Satria masih setia dengannya. Wanita itu lalu memutuskan untuk kembali ke luar negeri karena manajernya sudah mengingatkan untuk pemotretan majalah terkemuka di sana.
Satriya kini kembali bebas, dia bisa menemui istri keduanya dan menyalurkan kerinduannya selama beberapa hari berpisah. Laki-laki itu mendatangi apartemen Kania dan langsung menciumnya dengan mesra. Sedangkan Kania, dia menyambut kepulangan Satria dengan cinta karena kini tugasnya kembali aktif.
“Aku merindukan sentuhanmu, Kanya.” Satria tidak pernah memanggil Kania dengan benar, baginya nama Kanya jauh lebih seeksi dibandingkan nama asli Kania.
“Aku juga merindukan senjatamu, Sayang,” balas Kania. Dia menuntun Satria ke ranjang dan melakukan tugasnya dengan sangat baik.
Satria merasakan hal yang sangat berbeda aaat bersama Kania. Dia merasa Kania benar-benar sosok istri yang sempurna untuknya.
Kanya, kamu memang selalu mengerti aku. Suatu hari nanti, aku akan menceraikan Felicia dan hidup bahagia denganmu.
Kembang kopinya jangan lupa 💋💋
tambahan karena ada komentar yg kurang mengena di hatiku.. dari awal novel ini menceritakan pelakor sesuai event konflik rumah tangga ya.. Yang mengharuskan ceritanya benar-benar jadi pelakor, so yang anti selingkuh, atau benci pelakor jangan lanjut..
alasan selingkuh ada di bab bab selanjutnya.. So, yang penasaran, lanjut aja Sayang 🥰🥰🥰 aku jamin seru sampai ending 💋💋
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 105 Episodes
Comments
Jeissi
mungkin di luar negeri feli juga punya jajanan yang lain 😁
2024-11-20
1
Trisna
laki-laki membutuhkan sentuhan di bawah perut.
selain perut kenyang, di bawah juga harus di puasin
2024-10-23
0
liberty
nih kalo tau Kania karyawannya..bisa gempor di kantor 🤭
2024-06-28
0