"Dia istri pembawa sial!"
Rangkaian kalimat terakhir yang diucapkan oleh Sonya sudah cukup menjadi kalimat yang berhasil membuat tubuh Dinda terdiam, terpaku dan membeku. Sendi-sendi di tubuhnya melemas, dadanya terasa begitu sesak, bahkan untuk bernapas pun seakan tidak mampu. Bibir pun hanya terkatup, tak mampu berkata apapun karena lidahnya terasa begitu kelu.
"Bu ... jangan sembarangan kalau berucap. Dinda bukanlah wanita pembawa sial Bu. Dia ini istriku!"
Sama halnya dengan Dinda, Bayu juga turut terkejut dengan ucapan yang dilontarkan oleh Sonya. Tidak seharusnya sang ibu mengatakan sesuatu yang bisa membuat siapapun terluka. Terlebih Dinda, yang merupakan sang istri yang secara otomatis juga menjadi anak untuk sang ibu tercinta. Bayu menatap wajah sang istri yang terlihat begitu sendu dan sorot matanya seakan tiada terbaca. Gegas, Bayu beranjak dari posisi duduknya dan menghampiri Dinda.
"Din .... maafkan perkataan ibu ya. Ia hanya sedang emosi dan kata-kata itu mungkin tidak sengaja ibu ucapkan ke kamu,"
Bayu berdiri di samping Dinda dengan memegang erat bahu milik sang istri. Sesekali, Bayu mengusap punggung Dinda untuk menenangkan hati. Hati yang mungkin telah terkoyak dan tercabik oleh sebuah belati. Belati tajam dari sebuah lisan yang sanggup melumpuhkan tulang maupun sendi.
Jatuh sudah setetes kristal bening dari sepasang jendela hati milik Dinda. Wanita itu berupaya mati-matian untuk tidak sampai meneteskan air mata. Namun, ada benda tajam tak kasat mata yang seakan menghujam jantungnya. Rasanya sungguh perih, nyeri, menghadirkan luka yang terasa menganga.
Dinda masih terdiam, sama sekali tidak merespon ucapan sang suami. Wanita itu seperti larut dalam luka batinnya sendiri. Nyawa dalam raga seakan dicabut oleh malaikat maut seketika. Tanpa bisa melawan ataupun meminta jeda. Ia nikmati kepedihan itu dengan jiwa yang dipaksa untuk kuat dan tegar. Meski tubuhnya terasa begitu bergetar dengan tangis lirih terdengar. Siapa saja yang kebetulan melihatnya, pasti hanya bisa menatap dengan nanar.
"Bu, minta maaflah kepada Dinda. Perkataan Ibu ini sudah sangat keterlaluan. Tidak seharusnya Ibu mengatakan hal yang tidak pantas seperti itu," pinta Bayu kepada Sonya. Ia berharap sang Ibu bisa menyadari kesalahannya.
Sonya menatap wajah Dinda dengan jengah. Tangis perih sang menantu nampaknya tidak cukup membuat jiwa kemanusiaan wanita paruh baya itu tergugah. Yang ada sebaliknya, Sonya semakin menunjukkan sikapnya yang pongah.
"Ibu rasa, Ibu tidak harus minta maaf kepada istrimu ini Bay. Karena apa yang Ibu katakan memang benar adanya."
"Benar? Benar bagaimana maksud Ibu?" tanya Bayu dengan mengernyitkan dahi. "Semua yang Ibu katakan tidaklah benar. Dinda bukan istri pembawa sial. Dia ini istri yang Bayu cintai, Bu!"
Sonya tergelak lirih seakan menertawakan sang putra yang tengah dibutakan oleh cinta. "Buka matamu Bay. Coba kamu ingat. Sebelum menikah, kamu bisa meraih semua mimpi, angan dan citamu. Kesuksesan karir dan kesuksesan hidup berada di dalam genggaman tanganmu. Tapi sekarang apa? Apa yang kamu dapatkan?"
Sonya sengaja menghentikan ucapannya, berharap agar sang putra mulai berpikir akan apa yang menjadi maksud perkataannya. Benar saja, pandangan Bayu nampak menerawang seakan memikirkan kata demi kata yang terlontar dari bibir Sonya. Lelaki itu semakin menunduk dalam dan larut dalam pikirannya.
"Benar bukan apa yang Ibu katakan?" tanya Sonya dengan memasang wajah berbinar. "Istrimu ini pembawa sial, karena setelah kamu menikahinya karirmu hancur, hidupmu blangsak, dan sekarang ditambah lagi Ibu yang ditipu oleh Angelica. Itu semua awal muaranya dari istrimu yang membawa sial Bay," sambung Sonya tanpa sedikitpun memfilter ucapannya.
Bak anak panah yang melesat dari sebuah busur, anak panah itu menancap tepat pada seonggok daging bernyawa yang bersemayam di dalam rongga dada milik Dinda. Ucapan lantam dari sang mertua terasa begitu menikam, menghujam, yang mengalirkan darah luka tak kasat mata. Ini bukan lagi tentang seorang mertua yang tidak dapat menerima kehadiran menantunya. Namun juga tentang sebuah harga diri seorang menantu yang sudah diinjak-injak tanpa belas kasih.
"Cukup Bu, cukup!!!" Dinda berteriak untuk menghentikan ucapan sang mertua yang sudah sangat keterlaluan. Ia menghirup udara dalam-dalam seakan kesusahan mendapatkan oksigen di dalam ruangan.
Sonya semakin menampakkan wajah angkuhnya. Bibirnya sedikit mencebik seakan menghina dan semakin tidak peduli dengan wajah Dinda yang sudah dipenuhi oleh lelehan air mata. Wanita itu hanya terdiam sembari menyilangkan lengan tangannya di dada. Ia ingin mendengar, apa yang akan dikatakan oleh menantunya.
Dinda menyeka air mata yang mengalir deras, menyusuri tiap lekuk wajah cantiknya. Sekuat apapun ia mencoba untuk memahami dan memaklumi apa perkataan Sonya, pada kenyataannya tidak bisa ia lakukan. Karena sungguh, ucapan sang mertua benar-benar telah melukai hatinya.
"Mertua macam apa Ibu ini, yang tega mengucapkan kata-kata seperti itu kepada menantunya sendiri? Ibu seakan tidak mengenal Tuhan bahwa apa yang terjadi kepada setiap hamba merupakan goresan sebuah takdir. Dan Ibu menyalahkanku dan menganggapku sebagai pembawa sial? Di mana nurani Ibu, di mana?"
Sonya berdecih lirih. "Aku berbicara sesuai fakta. Kalau saja putraku Bayu tidak menikah denganmu, pastinya saat ini karirnya semakin melesat tinggi dan aku tidak akan pernah ditipu oleh sahabatku seperti ini. Namun sekarang apa kenyataannya? Karir Bayu hancur, hidupnya belangsak dan aku tertipu. Ini semua karena siapa lagi jika bukan kamu, Dinda?"
"Apa? Ibu juga menyalahkanku di saat Ibu ditipu oleh sahabat Ibu? Bukankah itu karena kebodohan Ibu sendiri yang tidak berhati-hati dan mudah percaya dengan orang lain. Menga...,"
"Stop. Cukup Din!" teriak Bayu memangkas perkataan Dinda. "Kamu jangan berbuat kurang ajar kepada Ibuku, Din. Tidak sepantasnya kamu mengatakan bahwa ibuku bo*doh!" sambung Bayu yang seakan tidak terima jika Sonya dikatakan bo*doh oleh istrinya.
"Mas....?" lirih Dinda dengan wajah yang dipenuhi oleh tanda tanya. "Mengapa kamu lebih membela ibu, Mas? Di sini aku yang menjadi korban karena perkataan ibu yang sudah sangat keterlaluan. Tapi mengapa kamu seakan menutup mata dan menutup telinga, Mas?"
Raga Dinda seakan semakin terluka kala sebuah kenyataan terpampang jelas di depan mata. Kenyataan bahwa sang suami tidak membelanya dan justru ikut menyalahkannya. Kesendirian itu semakin membelenggu jiwa. Tidak ada yang berada di sisinya, untuk membelanya.
Bayu membuang napas kasar. Lelaki itu menghadap ke arah tubuh sang istri namun sorot matanya sama sekali tidak terarah pada wajah Dinda. Lelaki itu memilih menatap ke sembarang arah dan seakan tidak peduli.
"Apa yang Ibu ucapkan ada benarnya. Sebelum aku menikah denganmu, jalan hidupku seakan mulus-mulus saja layaknya jalan tol. Bahkan aku berada di puncak karir sebagai kepala cabang. Namun saat ini, semua seakan berbalik seratus delapan puluh derajat. Hidup dan karirku hancur satu persatu. Bahkan hidup ibuku juga. Aku rasa keberadaanmu memang tidak membawa kebaikan untukku, Din!"
Tubuh Dinda semakin terhenyak tiada terkira. Air mata yang sebelumnya ia paksa untuk mengering dari bingkainya kini mendadak kembali mengalir deras. Ia yang beranggapan akan dibela oleh sang suami, yang terjadi justru sebaliknya. Lelaki itu turut menjerumuskannya ke dalam jurang luka.
"K-Kamu bercanda kan Mas? Apa yang kamu katakan itu bukan kesungguhan kan?"
Bayu mengayunkan tungkai kaki menuju pintu kamar. Sejenak, ia berhenti dan berucap, "Aku ingin menenangkan diri terlebih dahulu. Ada banyak hal yang harus aku pikirkan dengan matang."
Bayu melenggang pergi meninggalkan kamar. Sepersekian detik tubuh lelaki itu hilang di balik pintu. Sedangkan Sonya, ia juga ikut melangkahkan kaki untuk bersegera pergi dari kamar ini.
"Kamu lihat bukan? Bayu tetaplah Bayu. Selamanya dia akan tetap menjadi putraku yang patuh pada setiap ucapanku. Hanya saat dia menikahimu saja dia menjadi anak pembangkang. Namun setelah kejadian ini, aku yakin bahwa ia akan membenarkan sikapku dimana dulu aku melarangnya untuk menikahimu."
Sekuat apapun Dinda berupaya terlihat tegar di depan sang ibu mertua, ia tetaplah wanita lemah yang telah kehilangan sandaran. Tubuh juga kakinya terasa bergetar hebat, tulang-tulang tubuhnya serasa lepas satu per satu. Tubuhnya sudah tidak lagi dapat menopang semua luka yang ia rasakan. Ia pun merosot hingga kini terduduk lunglai di atas lantai.
Kristal bening yang sedari tadi mengalir, kini semakin tumpah ruah seakan ikut menumpahkan semua rasa sakit yang ia rasa. Dinda kembali meraung dengan air mata luka yang begitu deras mengalir di pipinya. Berkali-kali Dinda memukul dada untuk mengusir rasa sakit yang terasa menghujam jiwa. Otaknya juga serasa buntu, dengan siapa ia harus membagi perih yang saat ini ia rasa. Dan dinding kamar yang membisu ini seperti turut menjadi saksi betapa luka itu benar-benar terasa tak terperi.
.
.
.bersambung..
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 104 Episodes
Comments
Rumini Parto Sentono
fiks sudah pasti, tinggalkan suami yang seperti itu Dinda. Biarkan dia hidup blangsak bersama ibunya, kalau masih bisa diingatkan sih pertahankan kalau gak bisa lepasin aja. Gapai masa depan mu masih panjang,yang sabar ya...
2022-07-29
0
🥜⃫⃟⃤🍀⃟🦘𝙼𝙰𝙼 ᶠᵉⁿᶦ 𒈒⃟ʟʙ
Udh din ga usah km tangisi ibu dan anak macam mereka berdua, terlalu berharga air mata mu din nangisin mereka berdua...
km msh muda, klo seandainya suami mu mau lepas dr km, lepaskan saja msh byk kebahagiaan diluar sana yg menanti mu din
2022-07-29
0
☠ᵏᵋᶜᶟբɾҽҽթαlҽsԵíղαKᵝ⃟ᴸ𒈒⃟ʟʙᴄ
lambaikan tanganmu din ke kamera nyerah ajh punya suami+mertua GK ada akhlak kek gt😏😏😏
2022-07-26
2