Bab 20. Kepedihan Hati

"Dia istri pembawa sial!"

Rangkaian kalimat terakhir yang diucapkan oleh Sonya sudah cukup menjadi kalimat yang berhasil membuat tubuh Dinda terdiam, terpaku dan membeku. Sendi-sendi di tubuhnya melemas, dadanya terasa begitu sesak, bahkan untuk bernapas pun seakan tidak mampu. Bibir pun hanya terkatup, tak mampu berkata apapun karena lidahnya terasa begitu kelu.

"Bu ... jangan sembarangan kalau berucap. Dinda bukanlah wanita pembawa sial Bu. Dia ini istriku!"

Sama halnya dengan Dinda, Bayu juga turut terkejut dengan ucapan yang dilontarkan oleh Sonya. Tidak seharusnya sang ibu mengatakan sesuatu yang bisa membuat siapapun terluka. Terlebih Dinda, yang merupakan sang istri yang secara otomatis juga menjadi anak untuk sang ibu tercinta. Bayu menatap wajah sang istri yang terlihat begitu sendu dan sorot matanya seakan tiada terbaca. Gegas, Bayu beranjak dari posisi duduknya dan menghampiri Dinda.

"Din .... maafkan perkataan ibu ya. Ia hanya sedang emosi dan kata-kata itu mungkin tidak sengaja ibu ucapkan ke kamu,"

Bayu berdiri di samping Dinda dengan memegang erat bahu milik sang istri. Sesekali, Bayu mengusap punggung Dinda untuk menenangkan hati. Hati yang mungkin telah terkoyak dan tercabik oleh sebuah belati. Belati tajam dari sebuah lisan yang sanggup melumpuhkan tulang maupun sendi.

Jatuh sudah setetes kristal bening dari sepasang jendela hati milik Dinda. Wanita itu berupaya mati-matian untuk tidak sampai meneteskan air mata. Namun, ada benda tajam tak kasat mata yang seakan menghujam jantungnya. Rasanya sungguh perih, nyeri, menghadirkan luka yang terasa menganga.

Dinda masih terdiam, sama sekali tidak merespon ucapan sang suami. Wanita itu seperti larut dalam luka batinnya sendiri. Nyawa dalam raga seakan dicabut oleh malaikat maut seketika. Tanpa bisa melawan ataupun meminta jeda. Ia nikmati kepedihan itu dengan jiwa yang dipaksa untuk kuat dan tegar. Meski tubuhnya terasa begitu bergetar dengan tangis lirih terdengar. Siapa saja yang kebetulan melihatnya, pasti hanya bisa menatap dengan nanar.

"Bu, minta maaflah kepada Dinda. Perkataan Ibu ini sudah sangat keterlaluan. Tidak seharusnya Ibu mengatakan hal yang tidak pantas seperti itu," pinta Bayu kepada Sonya. Ia berharap sang Ibu bisa menyadari kesalahannya.

Sonya menatap wajah Dinda dengan jengah. Tangis perih sang menantu nampaknya tidak cukup membuat jiwa kemanusiaan wanita paruh baya itu tergugah. Yang ada sebaliknya, Sonya semakin menunjukkan sikapnya yang pongah.

"Ibu rasa, Ibu tidak harus minta maaf kepada istrimu ini Bay. Karena apa yang Ibu katakan memang benar adanya."

"Benar? Benar bagaimana maksud Ibu?" tanya Bayu dengan mengernyitkan dahi. "Semua yang Ibu katakan tidaklah benar. Dinda bukan istri pembawa sial. Dia ini istri yang Bayu cintai, Bu!"

Sonya tergelak lirih seakan menertawakan sang putra yang tengah dibutakan oleh cinta. "Buka matamu Bay. Coba kamu ingat. Sebelum menikah, kamu bisa meraih semua mimpi, angan dan citamu. Kesuksesan karir dan kesuksesan hidup berada di dalam genggaman tanganmu. Tapi sekarang apa? Apa yang kamu dapatkan?"

Sonya sengaja menghentikan ucapannya, berharap agar sang putra mulai berpikir akan apa yang menjadi maksud perkataannya. Benar saja, pandangan Bayu nampak menerawang seakan memikirkan kata demi kata yang terlontar dari bibir Sonya. Lelaki itu semakin menunduk dalam dan larut dalam pikirannya.

"Benar bukan apa yang Ibu katakan?" tanya Sonya dengan memasang wajah berbinar. "Istrimu ini pembawa sial, karena setelah kamu menikahinya karirmu hancur, hidupmu blangsak, dan sekarang ditambah lagi Ibu yang ditipu oleh Angelica. Itu semua awal muaranya dari istrimu yang membawa sial Bay," sambung Sonya tanpa sedikitpun memfilter ucapannya.

Bak anak panah yang melesat dari sebuah busur, anak panah itu menancap tepat pada seonggok daging bernyawa yang bersemayam di dalam rongga dada milik Dinda. Ucapan lantam dari sang mertua terasa begitu menikam, menghujam, yang mengalirkan darah luka tak kasat mata. Ini bukan lagi tentang seorang mertua yang tidak dapat menerima kehadiran menantunya. Namun juga tentang sebuah harga diri seorang menantu yang sudah diinjak-injak tanpa belas kasih.

"Cukup Bu, cukup!!!" Dinda berteriak untuk menghentikan ucapan sang mertua yang sudah sangat keterlaluan. Ia menghirup udara dalam-dalam seakan kesusahan mendapatkan oksigen di dalam ruangan.

Sonya semakin menampakkan wajah angkuhnya. Bibirnya sedikit mencebik seakan menghina dan semakin tidak peduli dengan wajah Dinda yang sudah dipenuhi oleh lelehan air mata. Wanita itu hanya terdiam sembari menyilangkan lengan tangannya di dada. Ia ingin mendengar, apa yang akan dikatakan oleh menantunya.

Dinda menyeka air mata yang mengalir deras, menyusuri tiap lekuk wajah cantiknya. Sekuat apapun ia mencoba untuk memahami dan memaklumi apa perkataan Sonya, pada kenyataannya tidak bisa ia lakukan. Karena sungguh, ucapan sang mertua benar-benar telah melukai hatinya.

"Mertua macam apa Ibu ini, yang tega mengucapkan kata-kata seperti itu kepada menantunya sendiri? Ibu seakan tidak mengenal Tuhan bahwa apa yang terjadi kepada setiap hamba merupakan goresan sebuah takdir. Dan Ibu menyalahkanku dan menganggapku sebagai pembawa sial? Di mana nurani Ibu, di mana?"

Sonya berdecih lirih. "Aku berbicara sesuai fakta. Kalau saja putraku Bayu tidak menikah denganmu, pastinya saat ini karirnya semakin melesat tinggi dan aku tidak akan pernah ditipu oleh sahabatku seperti ini. Namun sekarang apa kenyataannya? Karir Bayu hancur, hidupnya belangsak dan aku tertipu. Ini semua karena siapa lagi jika bukan kamu, Dinda?"

"Apa? Ibu juga menyalahkanku di saat Ibu ditipu oleh sahabat Ibu? Bukankah itu karena kebodohan Ibu sendiri yang tidak berhati-hati dan mudah percaya dengan orang lain. Menga...,"

"Stop. Cukup Din!" teriak Bayu memangkas perkataan Dinda. "Kamu jangan berbuat kurang ajar kepada Ibuku, Din. Tidak sepantasnya kamu mengatakan bahwa ibuku bo*doh!" sambung Bayu yang seakan tidak terima jika Sonya dikatakan bo*doh oleh istrinya.

"Mas....?" lirih Dinda dengan wajah yang dipenuhi oleh tanda tanya. "Mengapa kamu lebih membela ibu, Mas? Di sini aku yang menjadi korban karena perkataan ibu yang sudah sangat keterlaluan. Tapi mengapa kamu seakan menutup mata dan menutup telinga, Mas?"

Raga Dinda seakan semakin terluka kala sebuah kenyataan terpampang jelas di depan mata. Kenyataan bahwa sang suami tidak membelanya dan justru ikut menyalahkannya. Kesendirian itu semakin membelenggu jiwa. Tidak ada yang berada di sisinya, untuk membelanya.

Bayu membuang napas kasar. Lelaki itu menghadap ke arah tubuh sang istri namun sorot matanya sama sekali tidak terarah pada wajah Dinda. Lelaki itu memilih menatap ke sembarang arah dan seakan tidak peduli.

"Apa yang Ibu ucapkan ada benarnya. Sebelum aku menikah denganmu, jalan hidupku seakan mulus-mulus saja layaknya jalan tol. Bahkan aku berada di puncak karir sebagai kepala cabang. Namun saat ini, semua seakan berbalik seratus delapan puluh derajat. Hidup dan karirku hancur satu persatu. Bahkan hidup ibuku juga. Aku rasa keberadaanmu memang tidak membawa kebaikan untukku, Din!"

Tubuh Dinda semakin terhenyak tiada terkira. Air mata yang sebelumnya ia paksa untuk mengering dari bingkainya kini mendadak kembali mengalir deras. Ia yang beranggapan akan dibela oleh sang suami, yang terjadi justru sebaliknya. Lelaki itu turut menjerumuskannya ke dalam jurang luka.

"K-Kamu bercanda kan Mas? Apa yang kamu katakan itu bukan kesungguhan kan?"

Bayu mengayunkan tungkai kaki menuju pintu kamar. Sejenak, ia berhenti dan berucap, "Aku ingin menenangkan diri terlebih dahulu. Ada banyak hal yang harus aku pikirkan dengan matang."

Bayu melenggang pergi meninggalkan kamar. Sepersekian detik tubuh lelaki itu hilang di balik pintu. Sedangkan Sonya, ia juga ikut melangkahkan kaki untuk bersegera pergi dari kamar ini.

"Kamu lihat bukan? Bayu tetaplah Bayu. Selamanya dia akan tetap menjadi putraku yang patuh pada setiap ucapanku. Hanya saat dia menikahimu saja dia menjadi anak pembangkang. Namun setelah kejadian ini, aku yakin bahwa ia akan membenarkan sikapku dimana dulu aku melarangnya untuk menikahimu."

Sekuat apapun Dinda berupaya terlihat tegar di depan sang ibu mertua, ia tetaplah wanita lemah yang telah kehilangan sandaran. Tubuh juga kakinya terasa bergetar hebat, tulang-tulang tubuhnya serasa lepas satu per satu. Tubuhnya sudah tidak lagi dapat menopang semua luka yang ia rasakan. Ia pun merosot hingga kini terduduk lunglai di atas lantai.

Kristal bening yang sedari tadi mengalir, kini semakin tumpah ruah seakan ikut menumpahkan semua rasa sakit yang ia rasa. Dinda kembali meraung dengan air mata luka yang begitu deras mengalir di pipinya. Berkali-kali Dinda memukul dada untuk mengusir rasa sakit yang terasa menghujam jiwa. Otaknya juga serasa buntu, dengan siapa ia harus membagi perih yang saat ini ia rasa. Dan dinding kamar yang membisu ini seperti turut menjadi saksi betapa luka itu benar-benar terasa tak terperi.

.

.

.bersambung..

Terpopuler

Comments

Rumini Parto Sentono

Rumini Parto Sentono

fiks sudah pasti, tinggalkan suami yang seperti itu Dinda. Biarkan dia hidup blangsak bersama ibunya, kalau masih bisa diingatkan sih pertahankan kalau gak bisa lepasin aja. Gapai masa depan mu masih panjang,yang sabar ya...

2022-07-29

0

🥜⃫⃟⃤🍀⃟🦘𝙼𝙰𝙼 ᶠᵉⁿᶦ 𒈒⃟ʟʙ

🥜⃫⃟⃤🍀⃟🦘𝙼𝙰𝙼 ᶠᵉⁿᶦ 𒈒⃟ʟʙ

Udh din ga usah km tangisi ibu dan anak macam mereka berdua, terlalu berharga air mata mu din nangisin mereka berdua...

km msh muda, klo seandainya suami mu mau lepas dr km, lepaskan saja msh byk kebahagiaan diluar sana yg menanti mu din

2022-07-29

0

☠ᵏᵋᶜᶟբɾҽҽթαlҽsԵíղαKᵝ⃟ᴸ𒈒⃟ʟʙᴄ

☠ᵏᵋᶜᶟբɾҽҽթαlҽsԵíղαKᵝ⃟ᴸ𒈒⃟ʟʙᴄ

lambaikan tanganmu din ke kamera nyerah ajh punya suami+mertua GK ada akhlak kek gt😏😏😏

2022-07-26

2

lihat semua
Episodes
1 Bab 1. Pernikahan
2 Bab 2. Ibu Mertua
3 Bab 3. Salah Di Mata Mertua
4 Bab 4. Malam Panjang
5 Bab 5. Salah Lagi
6 Bab 6. Merasa Tersaingi
7 Bab 7. Hari-Hari Indah
8 Bab 8. Hidup Yang Sempurna
9 Bab 9. Doa Seorang Istri
10 Bab 10. Kabar dari Pimpinan
11 Bab 11. Bertemu Teman Lama
12 Bab 12. Mabuk
13 Bab 13. Menguatkan
14 Bab 14. Solusi
15 Bab 15. Kegelisahan Sonya
16 Bab 16. Ikut Hancur
17 Bab 17. Terkejut
18 Bab 18. Kemalangan Yang Bertubi-tubi
19 Bab 19. Pembawa Sial
20 Bab 20. Kepedihan Hati
21 Bab 21. Niat Terselubung
22 Bab 22. Memaafkan
23 Bab 23. Sadar Ditipu
24 Bab 24. Apes Lagi
25 Bab 25. Semakin Tak Mengenali
26 Bab 26. Di Belahan Kota Jakarta
27 Bab 27. Sebuah Tawaran
28 Bab 28. Bertandang
29 Bab 29. Permintaan Dinda
30 Bab 30. Dimanfaatkan?
31 Bab 31. Berangkat
32 Bab 32. Tiba di Ibu Kota
33 Bab 33. Sambutan Hangat
34 Bab 34. Pencuri?
35 Bab 35. Salah Duga
36 Bab 36. Ndoro Putri
37 Bab 37. Kopi Pas di Hati
38 Bab 38. Guru Geografi
39 Bab 39. Protes Erlan
40 Bab 40. Kebohongan Bayu
41 Bab 41. Pingsan
42 Bab 42. Dendam Pribadi?
43 Bab 43. Menguping
44 Bab 44. Celah Bagi Bayu
45 Bab 45. Meragu
46 Bab 46. Maukah?
47 Bab 47. Licik
48 Bab 48. Kesiangan
49 Bab 49. Detak Jantung
50 Bab 50. Lah Kok Ngamuk?
51 Bab 51. Sah
52 Bab 52. Siap-siap
53 Bab 53. Tidak Terasa
54 Bab 54. Pamit
55 Bab 55. Merenungi
56 Bab 56. Drama King
57 Bab 57. Palsu
58 Bab 58. Disiram
59 Bab 59. Tak Dihargai
60 Bab 60. Membangkang
61 Bab 61. Party
62 Bab 62. Angin Surga
63 Bab 63. Dingin
64 Bab 64. Nggak Jadi
65 Bab 65. Tiket Honeymoon
66 Bab 66. Tiga Ratus Ribu
67 Bab 67. Sertifikat
68 Bab 68. Bekas Milik Siapa?
69 Bab 69. Bertemu Calon Besan
70 Bab 70. Semakin Terkesima
71 Bab 71. Liburan ke Eropa
72 Bab 72. Hanyut
73 Bab 73. Sedang Tidak Berhasrat
74 Bab 74. Rencana Menikah
75 Bab 75. Renternir
76 Bab 76. Semakin Lancar
77 Bab 77. Berangkat Liburan
78 Bab 78. Apes
79 Bab 79. Menyusul
80 Bab 80. Mengintai
81 Bab 81. Kita Lihat Nanti
82 Bab 82. O O Kamu Ketahuan
83 Bab 83. Bukan Istriku Lagi
84 Bab 84. Alasan
85 Bab 85. Rencana Pulang
86 Bab 86. Persiapan
87 Bab 87. Tiba di Kampung Halaman
88 Bab 88. Teman Lama
89 Bab 89. Perlahan Terkuak
90 Bab 90. Cerita Sebenarnya
91 Bab 91. Memasang Badan
92 Bab 92. Aku Sudah Siap
93 Bab 93. Apa Kabar Mas Bayu?
94 Bab 94. Atiku Tatag
95 Bab 95. Kembali Miskin Lagi?
96 Bab 96. Keluar dari Istana
97 Rilis Novel Baru..
98 Bab 97. Salah Alamat?
99 Bab 98. Terapi
100 Bab 99. Para Preman
101 Bab 100. Tuan Erlan?
102 Bab 101. Kembali ke Tangan
103 Bab 102. Jadilah Istriku
104 Bab 103. Resmi Menjadi Sepasang Suami-Istri
Episodes

Updated 104 Episodes

1
Bab 1. Pernikahan
2
Bab 2. Ibu Mertua
3
Bab 3. Salah Di Mata Mertua
4
Bab 4. Malam Panjang
5
Bab 5. Salah Lagi
6
Bab 6. Merasa Tersaingi
7
Bab 7. Hari-Hari Indah
8
Bab 8. Hidup Yang Sempurna
9
Bab 9. Doa Seorang Istri
10
Bab 10. Kabar dari Pimpinan
11
Bab 11. Bertemu Teman Lama
12
Bab 12. Mabuk
13
Bab 13. Menguatkan
14
Bab 14. Solusi
15
Bab 15. Kegelisahan Sonya
16
Bab 16. Ikut Hancur
17
Bab 17. Terkejut
18
Bab 18. Kemalangan Yang Bertubi-tubi
19
Bab 19. Pembawa Sial
20
Bab 20. Kepedihan Hati
21
Bab 21. Niat Terselubung
22
Bab 22. Memaafkan
23
Bab 23. Sadar Ditipu
24
Bab 24. Apes Lagi
25
Bab 25. Semakin Tak Mengenali
26
Bab 26. Di Belahan Kota Jakarta
27
Bab 27. Sebuah Tawaran
28
Bab 28. Bertandang
29
Bab 29. Permintaan Dinda
30
Bab 30. Dimanfaatkan?
31
Bab 31. Berangkat
32
Bab 32. Tiba di Ibu Kota
33
Bab 33. Sambutan Hangat
34
Bab 34. Pencuri?
35
Bab 35. Salah Duga
36
Bab 36. Ndoro Putri
37
Bab 37. Kopi Pas di Hati
38
Bab 38. Guru Geografi
39
Bab 39. Protes Erlan
40
Bab 40. Kebohongan Bayu
41
Bab 41. Pingsan
42
Bab 42. Dendam Pribadi?
43
Bab 43. Menguping
44
Bab 44. Celah Bagi Bayu
45
Bab 45. Meragu
46
Bab 46. Maukah?
47
Bab 47. Licik
48
Bab 48. Kesiangan
49
Bab 49. Detak Jantung
50
Bab 50. Lah Kok Ngamuk?
51
Bab 51. Sah
52
Bab 52. Siap-siap
53
Bab 53. Tidak Terasa
54
Bab 54. Pamit
55
Bab 55. Merenungi
56
Bab 56. Drama King
57
Bab 57. Palsu
58
Bab 58. Disiram
59
Bab 59. Tak Dihargai
60
Bab 60. Membangkang
61
Bab 61. Party
62
Bab 62. Angin Surga
63
Bab 63. Dingin
64
Bab 64. Nggak Jadi
65
Bab 65. Tiket Honeymoon
66
Bab 66. Tiga Ratus Ribu
67
Bab 67. Sertifikat
68
Bab 68. Bekas Milik Siapa?
69
Bab 69. Bertemu Calon Besan
70
Bab 70. Semakin Terkesima
71
Bab 71. Liburan ke Eropa
72
Bab 72. Hanyut
73
Bab 73. Sedang Tidak Berhasrat
74
Bab 74. Rencana Menikah
75
Bab 75. Renternir
76
Bab 76. Semakin Lancar
77
Bab 77. Berangkat Liburan
78
Bab 78. Apes
79
Bab 79. Menyusul
80
Bab 80. Mengintai
81
Bab 81. Kita Lihat Nanti
82
Bab 82. O O Kamu Ketahuan
83
Bab 83. Bukan Istriku Lagi
84
Bab 84. Alasan
85
Bab 85. Rencana Pulang
86
Bab 86. Persiapan
87
Bab 87. Tiba di Kampung Halaman
88
Bab 88. Teman Lama
89
Bab 89. Perlahan Terkuak
90
Bab 90. Cerita Sebenarnya
91
Bab 91. Memasang Badan
92
Bab 92. Aku Sudah Siap
93
Bab 93. Apa Kabar Mas Bayu?
94
Bab 94. Atiku Tatag
95
Bab 95. Kembali Miskin Lagi?
96
Bab 96. Keluar dari Istana
97
Rilis Novel Baru..
98
Bab 97. Salah Alamat?
99
Bab 98. Terapi
100
Bab 99. Para Preman
101
Bab 100. Tuan Erlan?
102
Bab 101. Kembali ke Tangan
103
Bab 102. Jadilah Istriku
104
Bab 103. Resmi Menjadi Sepasang Suami-Istri

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!