Matahari mulai naik ke singgasana. Memancarkan kilau sinar keemasan di ufuk timur yang memberikan kehangatan bagi jiwa-jiwa yang semalam dipeluk oleh hawa dingin. Membuat mereka bersemangat untuk mengawali hari baru dengan semangat yang baru pula.
Tubuh Dinda menggeliat kala rasa ada rasa nyeri yang tiba-tiba datang mengusik lelap tidurnya. Ia mengerjapkan mata dan perlahan kelopak mata itu terbuka. Ia sedikit memicingkan mata ketika sinar matahari yang masuk melalui celah gorden mulai terasa menusuk korneanya.
Dinda meraba ke arah samping. Dahinya pun mengernyit ketika tak ia temui sang suami di sisi. Dengan menahan sedikit rasa nyeri di bagian inti, Dinda menggeser tubuhnya untuk bisa bersandar di head board ranjang. Sejenak, ia juga nampak merenggangkan otot-ototnya yang kaku.
Pandangan Dinda terlihat menerawang. Tiba-tiba saja memori otaknya memutar ulang kejadian apa yang semalam ia lakoni bersama Bayu. Tulang pipi wanita itu seakan memerah karena malu jika mengingat bagaiamana permainan ranjang yang ia lakukan bersama sang suami. Ia yang sebelumnya malu-malu sembari menahan sensasi rasa nyeri seketika berubah menjadi jauh lebih berani untuk memanjakan tubuh Bayu. Bahkan ia sampai tiga kali merasakan puncak kenikmatan kala dirinya yang memimpin permainan itu. Pada akhirnya, perkataan orang perihal seorang wanita akan sulit mencapai orgasme di malam pertama, terbantahkan ketika berkali-kali ia merasakan puncak kenikmatan itu.
"Sayang ... kamu sudah bangun?"
Bayu yang masuk ke dalam kamar dengan membawa nampan berisikan susu hangat dan sandwich membuat lamunan Dinda buyar seketika. Ia pun menoleh ke arah sumber suara seraya tersenyum manis menyambut kedatangan Bayu.
"Maaf Mas, aku kesiangan."
Bayu mendaratkan bokongnya di atas ranjang. Ia ulurkan satu gelas susu hangat itu ke arah sang istri. "Tidak masalah Sayang. Wajar kalau kamu sampai kesiangan. Semalam, kamu benar-benar terlihat menggoda dan menggairahkan. Dan ... aku menyukainya Sayang."
Dinda menyeruput pelan susu hangat yang diberikan oleh Bayu. Seutas senyum manis tersungging di bibir tipisnya. Lagi-lagi pipinya menghangat dan memerah karena malu.
"Sudahlah Mas ... jangan menggodaku seperti itu. Aku hanya berusaha untuk mengimbangi permainanmu. Tidak mungkin kan kalau aku terdiam seperti gedebog pisang?"
"Hahahaha ... kamu itu bisa saja Sayang." Bayu merapatkan tubuhnya ke arah Dinda. Ia belai lembut pipi wanitanya ini. "Aku menyukai caramu dalam memanjakanku Sayang. Aku ingin kamu selalu seperti itu jika kita sedang bercinta. Gaya bercintamu di atas ranjang sungguh menjadi candu untukku. Dan terima kasih karena kamu sudah memberikan mahkota terindah yang kamu miliki kepadaku."
Hati Dinda menghangat kala mendengar ucapan terima kasih yang terlontar dari bibir Bayu. Baginya, ucapan terima kasih itu seperti salah satu bentuk bahwa Bayu menghargai apa yang telah ia jaga selama ini. Dan ia merasa tidak salah memberikan mahkotanya kepada Bayu, lelaki pertama yang mengenalkannya tentang cinta.
"Itu sudah menjadi kewajibanku Mas, karena sejak dulu hanya kamu yang aku inginkan untuk menjadi pendamping hidupku, bukan yang lainnya."
Bayu kembali tersenyum. Ia beranjak dari posisi duduknya dan mulai membereskan sprei yang sudah dihiasi oleh bercak warna merah.
"Bersihkan badanmu Sayang agar terasa lebih segar. Aku akan membersihkan bercak merah ini."
"Biarkan aku saja yang membersihkannya Mas sekalian mandi."
Dinda beranjak dari posisinya. Ia tutupi tubuh polosnya dengan selimut. Dengan langkah kaki pelan, ia berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri dan mencuci sprei.
***
"Enak ya, baru hari pertama menjadi seorang istri tapi bangunnya sudah kesiangan. Jika terus menerus seperti ini bisa jadi putraku dipecat karena kamu yang lelet dalam mengurus suami."
Sonya menyenderkan tubuhnya di daun pintu yang menjadi penghubung antara dapur dengan halaman belakang sembari menyilangkan kedua tangannya di dada. Suaranya terdengar begitu lantang yang membuat perhatian Dinda yang tengah fokus dengan jemuran menjadi terusik. Dahi wanita itu berkerut dalam seakan menatap penuh tanda tanya wajah mertuanya ini.
"Maksud Ibu apa?"
Dinda meletakkan kembali ember plastik ke tempatnya seraya berjalan menghampiri Sonya. Ia ingin tahu apa yang sebenarnya menjadi maksud dari ucapan sang mertua. Sepertinya ada hal yang harus ia luruskan perihal ucapan Sonya.
Sonya berdecih lirih. "Masih bisa kamu bertanya maksudnya apa. Lihatlah, baru hari pertama kamu menjadi istri putraku saja kamu sudah malas-malasan dengan bangun siang seperti ini. Lalu bagaimana dengan hari-hari selanjutnya?"
"Tapi maaf Bu, aku bangun kesiangan bukan karena malas-malasan. Aku hanya ...."
Dinda memangkas perkataannya kala pikiran warasnya mengingatkannya akan satu hal. Tidak mungkin jika ia mengatakan alasannya kesiangan karena kelelahan setelah menjalani ritual malam pertama. Sungguh sangat tidak etis dan tidak pantas jika sampai didengar oleh orang lain.
"Hanya apa hah? Nyatanya aku melihat putraku yang sibuk membuatkan sarapan untukmu. Bukankah itu sebagai tanda bahwa wanita yang dinikahi oleh putraku itu merupakan seorang pemalas?"
"Bu, aku tidak seperti apa yang ibu pikirkan. Biasanya pagi buta aku sudah bangun dan mulai beraktivitas. Dan ini untuk pertama kalinya aku kesiangan. Masa Ibu tidak paham dengan apa yang aku alami semalaman? Atau haruskah aku menerangkannya secara gamblang kepada Ibu?"
Sonya mengedikkan bahu seraya mengangkat kedua alisnya. Ekspresi wajah wanita ini seakan begitu meremehkan apa yang diucapkan oleh Dinda.
"Aku tidak mau tahu. Aku tidak ingin putraku menjadi babumu karena menyiapkan sarapan untukmu. Meskipun nantinya aku tidak tinggal serumah dengan kalian, tapi akan aku pantau kamu dari kejauhan. Awas saja kalau kamu tidak bisa mengurus putraku dengan baik."
Tanpa aba-aba, Sonya mulai melenggang pergi meninggalkan Dinda. Sedangkan wanita itu hanya bisa menatap punggung sang ibu mertua dengan tatapan sendu. Bisa-bisanya sang ibu mertua memiliki pemikiran yang sempit seperti itu.
Ya Tuhan, apakah berdosa jika saat ini aku meminta kepadaMu agar ibu mertuaku segera pergi dari rumah ini? Rasa-rasanya batinku tidak kuat jika harus satu atap dengannya.
.
.
. bersambung..
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 104 Episodes
Comments
Lia Yulia
q bantu doain jg ya mbak biar cpt pergi dia dr rumah anaknya🤭
2022-07-23
0
☠ᵏᵋᶜᶟբɾҽҽթαlҽsԵíղαKᵝ⃟ᴸ𒈒⃟ʟʙᴄ
si ibu mertua kek gak pernah muda ajh sih bu bu mau nyari mantu yg kek gmn lg coba gk semua kaya berpendidikan tinggi itu berakhlak 🙁
2022-07-23
3
💜⃞⃟𝓛 ༄༅⃟𝐐🇺𝗠𝗠𝗜ᴰᴱᵂᴵ 🌀🖌
itu mertua GK pernah ngerasain masa muda x yak...
2022-07-16
0