Dinda berjalan mondar mandir di balik jendela dengan hati gundah gulana. Berkali-kali wanita itu mengintip dari balik gorden untuk menunggu kepulangan sang suami tercinta. Namun, sampai pukul setengah dua belas malam seperti ini yang ditunggu belum juga menampakkan batang hidungnya.
Keresahan semakin menggerogoti hati karena hal semacam ini tidak pernah terjadi. Biasanya, Bayu selalu pulang tepat waktu dan jikapun ada kepentingan mendadak, selalu memberi kabar. Namun, malam ini semua terlihat berbeda. Sejak tadi sore, ponsel milik Bayu tidak aktif dan keberadaannya pun tidak diketahui. Hal itulah yang semakin membuat Dinda dibelenggu oleh perasaan cemas.
Pikiran Dinda yang menerawang, sedikit terusik oleh suara derap langkah kaki seseorang yang masuk ke halaman. Dahi wanita itu sedikit mengernyit karena bukan deru mesin mobil sang suami yang terdengar. Buru-buru, Dinda kembali mengintip dari balik jendela.
"Mas Bayu!"
Kedua bola mata Dinda membulat sempurna dengan bibir menganga lebar kala melihat sosok sang suami berjalan sempoyongan memasuki halaman. Gegas, ia membuka pintu untuk menyambut kepulangan suaminya ini.
"Mas ... ada apa denganmu? Mengapa kamu mabuk seperti ini?"
Dinda terkejut setengah mati melihat sosok Bayu yang terlihat begitu kacau seperti ini. Pakaian, rambut dan juga wajahnya nampak awut-awutan, persis seseorang yang tengah depresi ataupun putus asa. Aroma alkohol juga menyeruak, memenuhi syaraf-syaraf indera penciuman milik Dinda. Hingga membuat Dinda ingin muntah. Karena sungguh, aroma seperti ini terlalu asing di indera penciumannya.
Bayu menatap Dinda dengan sorot mata yang sulit terbaca. Kedua bola mata yang sudah memerah hanya menyisakan kesan mengerikan bagi Dinda yang saat ini tengah bertatap netra dengan sang suami.
"Hahahaha ... siapa yang mabuk Din? Aku hanya sedang menikmati air surga dan kamu tahu rasanya? Rasanya begitu nikmat. Membuatku seperti terbang tinggi ke atas awan!"
"Mas, sebenarnya apa yang terjadi kepadamu? Mengapa kamu pulang dalam keadaan seperti ini?"
Tanpa terasa, setetes kristal bening terjun bebas dari bingkai netra bening milik wanita berusia dua puluh tahun itu. Melihat keadaan sang suami yang begitu kacau balau seperti ini sudah cukup membuat jantungnya berdenyut nyeri. Ia yang setiap hari menyambut kepulangan sang suami dari menjemput rezeki dengan wajah berseri, kini seketika berubah seratus delapan puluh derajat. Keadaan sang suami sungguh hanya membuat hatinya terasa semakin pilu.
"Aku tidak ingin jatuh miskin ... aku tidak ingin jatuh miskin. Aku masih ingin menikmati posisiku sebagai kepala cabang. Aku masih ingin menikmatinya."
Bayu semakin meracau. Tubuhnya pun semakin sempoyongan. Tak perlu menunggu waktu lama, tubuh lelaki itu tiba-tiba limbung.
"Mas!!!!" pekik Dinda kala menangkap tubuh Bayu yang sudah tidak sadarkan diri. Dengan susah payah ia menahan tubuh tegap suaminya ini agar tidak sampai jatuh ke lantai. Pandangannya mengedar ke arah sekitar, mencoba untuk mencari bantuan.
"Pak ... Pak ... Pak ... tolong saya Pak!" teriak Dinda saat melihat kumpulan bapak-bapak yang tengah ronda malam.
"Loh mbak Dinda! Ada apa Mbak?" tanya salah seorang bapak dengan raut wajah khawatir.
"Bantu saya untuk membawa mas Bayu ke kamar Pak. Dia pingsan!"
Kumpulan bapak-bapak itu bergegas menghampiri Dinda. Dengan cekatan mereka menggotong tubuh Bayu untuk dimasukkan ke dalam kamar. Dengan tergopoh-gopoh kumpulan bapak-bapak ronda itu menggotong tubuh Bayu. Postur tubuh yang tegap dan gagah sungguh membuat tenaga bapak-bapak ronda itu seakan terkuras habis.
"Sebenarnya apa yang terjadi pada mas Bayu ini Mbak? Mengapa dia bisa pingsan seperti ini?" tanya salah seorang bapak yang dari raut wajahnya nampak begitu prihatin.
Dinda menggeleng pelan. "Saya juga kurang paham Pak. Belum sempat saya bertanya namun mas Bayu sudah lebih dulu pingsan."
"Oh seperti itu. Lebih baik mbak Dinda langsung membuatkan wedang jahe dan membuat sup hangat untuk memulihkan keadaan mas Bayu," ucap salah seorang bapak memberikan sebuah usulan.
"Baik Pak, nanti biar saya buatkan. Sekali lagi saya ucapkan terima kasih banyak ya Pak karena sudah membantu menggotong mas Bayu."
"Sama-sama mbak Dinda. Kalau begitu kami pamit."
Bapak-bapak anggota kelompok ronda itu mengayunkan tungkai kaki mereka untuk bersegera meninggalkan kediaman Dinda. Sedangkan Dinda, wanita itu hanya bisa berdiri terpaku dan termangu melihat keadaan sang suami yang terlihat kacau seperti ini.
"Apa yang sebenarnya terhadapmu Mas? Dan apa yang sebenarnya telah membebani hatimu? Sampai membuatmu mabuk seperti ini?" ujar Dinda bermonolog lirih.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 104 Episodes
Comments
Evy
sudah satu tahun menikah kok usia Dinda tetap tidak berubah..
2025-01-26
0
💜⃞⃟𝓛 ༄༅⃟𝐐🇺𝗠𝗠𝗜ᴰᴱᵂᴵ 🌀🖌
hanya pria lemah yg ingin menyelesaikan masalah dgn minuman, menyedihkan 😤
2022-09-08
0
Fumiko Sora
ampun... Bayu malah mabok2an😪😪
2022-07-18
1