"Mas!!!"
Tubuh Dinda terperanjat seketika saat melihat Bayu yang tiba-tiba beranjak dari posisinya. Tiba-tiba saja lelaki itu berdiri, melangkahkan kaki menuju cermin. Tanpa basa-basi Bayu memukul cermin itu hingga hanya menyisakan puing-puing yang berserakan di lantai.
"Aaarrrggggghhhh .... aku tidak mau miskin Tuhan. Aku tidak mau!!"
Dinda mendekat ke arah Bayu. Gegas, wanita itu memeluk tubuh sang suami dengan erat. Berupaya untuk menghentikan kekalapan Bayu.
"Ya Allah ... cukup Mas, jangan seperti ini!"
Bak tanggul yang dihantam oleh banjir bandang, air mata Dinda mengalir deras membanjiri bingkai wajahnya. Hatinya serasa semakin pilu ketika melihat darah yang sudah merembes dari sela-sela jemari tangan Bayu. Tubuhnya seakan ikut remuk redam melihat sang suami yang hancur seperti ini.
"Mengapa ini semua terjadi kepadaku? Baru satu tahun aku merasakan karierku yang memuncak, tapi mengapa secepat ini Engkau mengambilnya Tuhan?"
Bugghhh!!!
"Cukup Mas. Istighfar!"
Jika sebelumnya cermin yang menjadi incaran Bayu dalam melampiaskan amarahnya, kini dinding kokoh kamar ini yang menjadi sasaran. Tubuh Bayu meronta hingga bisa mendekat ke arah dinding dan tanpa berpikir panjang, lelaki itu memukul dinding di depannya.
"Aaarrrggggghhhh ... aku tidak bisa terima semua ini Tuhan. Aku tidak bisa terima!"
Tubuh Bayu sedikit melemah hingga kini ia meluruh dan bersimpuh di atas lantai. Sedangkan Dinda, wanita itu masih menangis tergugu sembari memeluk tubuh kekar Bayu.
"Istighfar Mas ... istighfar! Astaghfirullahalazim ... Astaghfirullahalazim .... Kumohon jangan seperti ini Mas. Ini bukan kamu!"
Dengan erat, Dinda mendekap tubuh Bayu untuk berupaya menenangkan lekaki itu. Menjadi air untuk memadamkan api amarahnya. Dan menjadi pengingat akan keberadaan Tuhan. Tubuh Bayu benar-benar seperti kerasukan setan yang membuatnya kalap seperti ini.
Dinda melerai pelukannya. Ia seka air mata yang masih membanjiri pipi dan ia tatap lekat wajah Bayu yang terlihat begitu sayu itu. Kini, ia geser pandangan matanya ke arah telapak tangan Bayu dan terlihat darah itu masih mengalir deras di sana.
"Mas Bayu duduk tenang di sini, aku ambilkan kotak obat. Aku khawatir lukanya akan bertambah parah kalau tidak segera diobati."
Lagi, Bayu hanya terdiam dan membisu tanpa sedikitpun merespon ucapan Dinda. Namun Dinda tidak peduli, meskipun Bayu mengacuhkannya, ia tetap melenggang pergi untuk mengambil kotak obat.
****
"Sabar Mas ... semua ujian hidup yang kita jalani, pasti akan ada jalan keluarnya. Bukankah Allah tidak akan pernah menguji hambaNya di luar batas kesanggupan? Itu berarti kita sanggup untuk melewatkan ujian ini Mas."
Dengan tutur bahasa yang lembut, Dinda mencoba untuk berbicara dari hati ke hati dengan sang suami. Tangan wanita itupun juga tidak berhenti beraktivitas untuk membalut telapak tangan Bayu dengan perban. Luka di tangan Bayu sungguh terlihat begitu ngeri. Karena amarah yang menguasai, ia sampai hati melukai dirinya sendiri dengan cara seperti ini.
"Tapi mengapa Tuhan harus memberikanku ujian seperti ini Din? Baru sebentar aku merasakan berada di puncak karier tapi dalam waktu sekejap semua itu sirna dengan penutupan pabrik itu."
Bayu mencoba untuk menanggapi perkataan Dinda meskipun pandangannya juga masih terlihat kosong. Lelaki itu masih saja menatap ke arah luar jendela dengan sorot mata yang sulit untuk diartikan.
Dinda mengulas senyum manis di bibirnya. Ia mengusap pipi Bayu dengan lembut dan penuh perasaan. "Mas, semua harta dan jabatan yang kita miliki hanyalah sebuah titipan. Jadi terserah Allah, kapan Ia akan mengambilnya kembali. Siap tidak siap kita harus ikhlas jika kapanpun Allah akan mengambilnya."
"Tapi jika seperti ini kita akan jatuh miskin Din. Tidak akan pernah ada pekerjaan yang bisa memberiku gaji sebesar gajiku di PT Kayu Perkasa. Setelah ini hidup kita pasti akan blangsak."
Dinda menghela napas panjang untuk kemudian ia hembuskan perlahan. Rupa-rupanya suaminya ini takut miskin hingga membuatnya gelap mata dan tega menganiaya dirinya sendiri. Dinda masih mencoba untuk memberikan senyuman terbaik yang ia miliki.
"Mas, kita tidak akan pernah menjadi miskin jika kita gigih dalam bekerja. Aku percaya bahwa kamu akan kembali berada di puncak kesuksesan Mas, asalkan kamu tidak pernah berhenti untuk bekerja keras."
Bayu menggeleng-gelengkan kepalanya sembari menjambak rambutnya sendiri dengan kuat. "Lalu, setelah ini kita akan tinggal di mana Din? Rumah inipun juga akan dikembalikan ke perusahaan."
Dinda tersenyum. Kini, wanita itupun juga sudah bisa mengendalikan perasaan yang bergejolak di dalam dada. Bayu yang sudah bisa sedikit lebih tenang, juga menjadi energi positif pula untuknya. Dinda memegang kedua bahu milik dengan Bayu dan menatap lekat netra suaminya ini.
"Apakah kamu lupa bahwa aku masih memiliki rumah peninggalan orang tuaku Mas? Meskipun rumah itu tidak semewah dan sebesar rumah ini, namun kita bisa menjadikan rumah itu sebagai tempat awal bagi kita untuk menata kembali kehidupan kita Mas. Pastinya dengan kehidupan yang lebih sederhana."
Bayu menyipitkan mata seraya memandang Dinda. "Kamu serius kita akan tinggal di sana? Lalu, nanti apa kata orang Din? Tidak ada dalam kamus hidupku tinggal di rumah istriku."
"Mas, untuk kali ini buang jauh gengsi dan juga ambisimu untuk selalu hidup dalam kemewahan materi. Kini, waktunya kita untuk berbenah agar bahtera rumah tangga kita ini tidak akan pernah karam meskipun badai dan ombak besar datang menghantam."
Bayu masih menatap wajah Dinda tanpa mengatakan apapun. Nampaknya lelaki itu sedang menimbang-nimbang perkataan yang terlontar dari bibir sang istri.
.
.
bersambung...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 104 Episodes
Comments
Rumini Parto Sentono
kayak nya kurang sedekah nih si Bayu....
2022-07-29
0
Rumini Parto Sentono
kamus apa yu... yu... tinggal di rumah istri atau suami itu sama saja, asal kan bahagia gak ada salahnya. Ya gak Kak Rasti.....
2022-07-29
0
☠ᵏᵋᶜᶟբɾҽҽթαlҽsԵíղαKᵝ⃟ᴸ𒈒⃟ʟʙᴄ
oalah bay2 pantes ajh allah ambil lg titipan nya wong km nya ternyata kufur nikmat gt😒😪😒
2022-07-24
0