Dinda berbalik badan untuk kembali masuk ke dalam rumah setelah bayang mobil yang dikemudikan oleh Bayu sudah tak lagi nampak di penglihatan. Ia berjalan gontai kala menyusuri tiap sudut ruangan. Pikirannya ikut kalut kala teringat air wajah sang suami yang menunjukkan rona kekhawatiran dan juga kepanikan. Entah mengapa, ia merasa ada hal buruk yang akan terjadi di kantor yang menjadi tempat Bayu menjemput rezeki.
Dinda masuk ke dalam kamar dan memilih untuk duduk di tepian ranjang. Saat ini hati dan perasaannya benar-benar tidak bisa dikendalikan. Ia merasakan resah dan gelisah yang dia sendiripun tidak tahu apa penyebabnya. Pandangan mata Dinda tertuju pada mukena yang menggantung di belakang pintu kamar. Ia pun memilih untuk beranjak dari posisinya, menuju kamar mandi mengambil air wudhu dan berencana menunaikan shalat Dhuha.
Kemana lagi tempat bagi seorang hamba untuk mengadu selain kepada Sang Maha penggenggam kehidupan? Kemana lagi tempat paling nyaman bagi seorang hamba untuk mencurahkan segala keresahan selain kepada Yang Maha membolak-balikan hati? Dan kemana lagi tempat untuk kembali mencari ketenangan batin selain kepada Sang Maha Agung? Ya, Dinda berpikir dengan menunaikan salah satu shalat sunnah ini bisa sedikit meredam keresahan dan kegalauan hati yang tengah ia rasakan. Wanita itu dengan tumaknimah menyelesaikan ritual ibadahnya. Selesai salam, ia menunduk takdzim, mengadu kepada Yang Maha Kuasa tentang keresahan hati yang begitu terasa membelenggu jiwa.
***
Bayu berjalan dengan tergesa-gesa menyusuri lorong-lorong kantor. Lelaki itu seakan berpacu dengan waktu untuk bisa segera tiba di ruang meeting, di mana di sana kepala pimpinan pusat telah menunggu. Dengan prasaan yang bercampur aduk, ia memilih untuk lebih dahulu berdiri di depan pintu. Mengatur napas dan menetralisir segala kepanikannya. Setelah merasa sedikit lebih tenang, ia memutar knop pintu dan masuk ke dalam ruangan.
"Selamat siang Pak Anton, maaf saya sedikit terlambat."
Bayu menghampiri lelaki paruh baya dengan pakaian formal yang tengah duduk di atas kursi ergonomis yang tersedia di ruangan ini. Tak lupa, Bayu juga menjabat tangan Anton sebagai salah satu bentuk rasa hormatnya kepada pimpinan pusat.
"Siang Pak Bayu. Tidak mengapa. Mari silakan duduk."
Sosok lelaki penuh kharisma itu mempersilakan Bayu untuk duduk di hadapannya. Jika dilihat dari cara Anton berbicara saat ini tidak sepanik saat lelaki itu berbicara melalui via telepon. Hal itulah yang membuat hati Bayu sedikit lebih tenang. Ia semakin yakin bahwa tidak ada hal buruk yang terjadi pada PT Kayu Perkasa ini.
Bayu menganggukkan kepala sebagai isyarat rasa terima kasihnya. Ia mendaratkan bokong di kursi dan bersiap untuk mendengar dengan saksama semua hal yang akan disampaikannya oleh pimpinannya ini.
"Jadi bagaimana Pak Bayu perihal progres PT ini? Apakah semua berjalan lancar? Ataukah ada kendala dalam operasionalnya?"
Dengan penuh perhatian, Bayu mencerna setiap kata yang diucapkan oleh Anton. Sejatinya saat ini pabrik memang sedang tidak baik-baik saja karena ada kendala dalam hal pengiriman bahan baku.
"Untuk progres sebenarnya cukup baik Pak, karena hampir setiap hari selalu ada permintaan dari para konsumen. Namun selama dua bulan terakhir ini, saya dan tim kesulitan untuk mencari bahan baku. Kalaupun bahan baku tersedia, jumlah yang dikirimkan tidak bisa mencover permintaan yang masuk. Sehingga membuat kami juga terlambat untuk mendistribusikannya kepada konsumen. Hal itulah yang membuat mereka sedikit kecewa dengan pelayanan kita."
Anton mengangguk-anggukkan kepala sembari mengetuk-ngetuk sebuah pena di atas meja. Nampaknya, ia sudah paham dengan kendala apa yang tengah dialami oleh PT ini.
"Ya Pak Bayu, saya tahu semua tentang kendala yang tengah melilit perusahaan. Dan karena hal itu pula lah saya sempatkan datang kemari untuk meeting dadakan bersama Pak Bayu yang mana sebagai kepala cabang di kota ini."
"Jadi bagaimana Pak? Sebenarnya apa yang membuat PT sebesar PT Kayu Perkasa ini sampai kesulitan untuk mendapatkan bahan baku? Padahal sebelum-sebelumnya kita tidak pernah mengalami hal demikian."
Bayu sekan sudah tidak sabar untuk mendengar apa yang sebenarnya terjadi. Ia juga ingin segera mengetahui jalan apa yang harus ditempuh pimpinan pusat untuk bisa keluar dari kasus ini.
Anton tersenyum getir. Sejatinya ada rasa berat hati kala harus menyampaikan keadaan yang sebenarnya tengah dialami oleh perusahaan yang sudah sejak puluhan tahun yang lalu ia rintis. Namun sepertinya tidak bisa untuk ia tutup-tutupi lagi. Semua pekerja di kantor pusat telah lebih dulu mendapatkan kabar buruk ini. Kini, giliran kantor cabang yang harus mendengarnya.
"Sejatinya jumlah bahan baku tidak pernah kekurangan, Pak Bayu. Namun saat ini ada pesaing bisnis kita yang berbuat curang. Mereka berani membeli bahan baku lima kali lipat dari harga yang biasa kita berikan. Hal itulah yang membuat penyedia bahan baku tergiur untuk bekerja sama dengan pesaing bisnis kita."
Kedua bola mata Bayu terbelalak sempurna. Ia tidak menyangka bahwa ada hal sepelik ini yang tidak ia ketahui. "Lima kali lipat? Tapi Pak, meskipun pesaing bisnis kita bisa menawarkan harga lima kali lipat, bukankah penyedia bahan baku tidak bisa secara sepihak membatalkan kerjasama? Bukankah diantara PT dengan mereka juga sudah terikat oleh MoU?"
"Itu benar sekali Pak Bayu. Namun ada hal yang harus Pak Bayu ingat bahwa setiap dua tahun sekali MoU itu diperbaharui. Bulan ini merupakan bulan terakhir mereka terilat kontrak dengan kita dan mereka memutuskan untuk tidak lagi melanjutkan kerja sama ini."
Bak dihantam sebuah batu, tiba-tiba saja kepala Bayu terasa begitu pusing dan pening. Bayang-bayang gelap tentang kariernya seakan tergambar jelas di depan matanya. Ia merasa sudah seperti berada di ujung tanduk.
"Tapi Pak? Bukankah ada banyak para penyedia bahan baku yang bisa kita ajak bekerja sama? Jadi, kita bisa mendapat bahan baku dari yang lainnya bukan?"
Bayu seakan tidak ingin menyerah oleh keadaan. Ia merasa masih banyak jalan lain yang bisa ditempuh untuk keluar dari permasalahan ini. Jika tidak lagi bekerja sama dengan penyedia bahan baku sebelumnya, ia berpikir masih bisa bekerja sama dengan penyedia bahan baku lainnya.
Lagi-lagi Anton hanya tersenyum kecil dan justru membuat Bayu semakin pesimis. Anton menghela napas sedikit dalam dan perlahan ia hembuskan.
"Hal itu juga sudah saya pikirkan sebelumnya Pak. Namun ternyata pesaing bisnis kita juga telah melobi para penyedia bahan baku yang lainnya. Intinya, mereka tahu di mana saja kita bekerja sama dan mereka juga menawarkan harga jauh lebih tinggi dari kita."
Bayu masih terdiam untuk mencoba memahami perkataan Anton. Namun, sejenak kemudian ia mengeluarkan suaranya. "Itu artinya sudah tidak ada lagi para penyedia bahan baku yang mau bekerja sama dengan perusahaan kita, begitu Pak?"
Anton mengangguk pelan. "Ya, memang seperti itu Pak Bayu."
"Dan itu artinya....?"
.
.
. bersambung...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 104 Episodes
Comments
indriyani
ujian dimulai 🥱🥱
2022-07-17
0
Rona Jingga
apakah bangkrut kak? aduhh kasian Dinda 🙃🙃🙃
2022-07-15
0
𖣤᭄ اندي وحي الد ين
Musim hujannya sepertinya akan segera di mulai ya! Siapin tisu takut banjir💦💦😁
2022-07-15
4