Pesta telah usai, namun semua aktivitas masih terekam jelas di luar sana. Nampak beberapa orang berlalu lalang, membongkar tenda yang sebelumnya terpasang di depan kediaman Bayu.
"Bagaimana? Kamu bahagia bukan pada akhirnya bisa menjadi istri putraku satu-satunya?"
Gelombang suara seorang wanita merembet masuk ke dalam indera pendengaran membuat Dinda yang tengah berdiri di balik gorden, terperanjat. Pandangan mata yang sebelumnya ia arahkan ke arah sang suami yang sedang berada di depan teras berbincang-bincang dengan koleganya, kini ia arahkan ke arah samping. Sonya, wanita yang masih nampak cantik di usia paruh bayanya itu berjalan mendekati Dinda.
Dinda mengangguk pelan seraya tersenyum simpul. "Iya Bu, aku bahagia bisa menjadi istri mas Bayu. Karena pada akhirnya, kisah cinta kami berakhir di dalam ikatan pernikahan."
Tidak ada yang lebih membahagiakan bagi seorang wanita lajang selain rajutan kisah asmara yang telah terjalin selama tiga tahun itu berakhir dalam sebuah pernikahan. Sejak Dinda berusia tujuh belas tahun dan duduk di bangku kelas dua SMA, Bayu membuktikan rasa cinta yang dimiliki dengan bekerja keras untuk nantinya bisa menghidupi Dinda dengan layak.
Kini, semua terbukti dengan diangkatnya Bayu sebagai kepala cabang pabrik kayu yang berada di kota ini. Dan pembuktian itu juga dilakukan oleh Bayu dengan menikahi gadis yang sudah sejak lama ia cintai.
"Ya, ya, ya, siapapun pasti akan bahagia menjadi istri putraku. Dia seorang kepala cabang pabrik kayu terkenal di kota ini. Penghasilannya besar dan pastinya siapapun yang menjadi pendamping hidup putraku akan bergelimang dengan harta."
Meskipun halus, namun entah mengapa ucapan Sonya terdengar sedikit mencubit seonggok daging benyawa yang bersemayam dalam dada milik Dinda. Tutur kata wanita paruh baya ini seakan menggiring sebuah opini bahwa Dinda beruntung menjadi istri seorang Bayu karena lelaki itu memiliki jabatan tinggi dan membuatnya akan hidup dengan gelimang harta juga kemewahan.
"Tapi Bu, aku bersedia menjadi istri mas Bayu bukan karena jabatan ataupun harta yang ia miliki. Aku menikah dengan mas Bayu karena sudah sejak lama kami merajut jalinan kasih dan aku juga sudah berjanji akan menunggu mas Bayu sampai ia siap untuk menikahiku."
Senyum tipis terbit di bibir Sonya. Wanita itu juga tengah sibuk memperhatikan orang-orang yang tengah berlalu lalang di depan halaman.
"Tapi seandainya Bayu tidak menjadi seorang kepala cabang, aku rasa kamu juga tidak akan pernah mau menikah dengan putraku. Benar begitu bukan?"
Dinda menggelengkan kepala. "Tidak Bu, itu sama sekali tidak benar. Aku menunggu mas Bayu sampai ia benar-benar siap menikahiku bukan sampai ia sukses dalam kariernya. Andaikan saat ini mas Bayu menikahiku dalam posisi sebagai karyawan biasa akupun juga tida mengapa. Aku bisa menerima apapun keadaan mas Bayu."
Entah apa yang ada di dalam pikiran Sonya. Sang ibu mertua seakan meragukan apa yang menjadi ketulusan dan kesetiaannya kepada Bayu. Padahal selama ia menjalin hubungan dengan Bayu, ia tidak pernah menuntut apapun dari lelaki itu.
"Ya, semoga apa yang kamu ucapkan itu bukan hanya pemanis bibir semata. Zaman sekarang, mana ada seorang wanita yang tidak memandang calon suaminya dari materi yang ia punyai? Tak terkecuali kamu, bukan?"
"Bagiku, yang paling penting mas Bayu bisa bertanggung jawab terhadap keluarganya, Bu. Meskipun tidak memiliki jabatan tinggi, asalkan ia gigih dalam bekerja, itu semua sudah cukup bagiku. Karena jabatan tinggi hanya merupakan bonus yang diberikan oleh Allah kepada hambaNya yang telah bekerja keras."
Kekehan lirih terdengar dari bibir Sonya. Ia menutupi mulutnya dengan jemarinya seakan menertawakan apa yang diucapkan oleh Dinda.
"Ucapanmu ini sungguh terdengar sangat menggelitik telinga. Tapi sudahlah, semoga apa yang terlisan dari bibirmu itu bukanlah omong kosong belaka. Dan semoga putraku tidak keliru dalam memilihmu sebagai istrinya. Padahal aku rasa, dia seharusnya bisa mendapatkan seorang istri yang lebih segala-galanya daripada kamu. Lebih cantik, lebih kaya dan pastinya lebih memiliki background pendidikan yang jauh lebih tinggi daripada kamu."
Sonya menghentikan ucapannya. Wanita itu kemudian melenggang pergi meninggalkan Dinda yang masih dalam mode terdiam, terpaku dan membeku. Otak dan hatinya seakan dipaksa untuk mencerna setiap kata yang keluar dari bibir sang ibu mertua. Mencari makna dan maksud apa yang tersirat di dalam ucapan wanita yang kini juga menjadi orang tuanya itu. Namun, semakin ia mencoba untuk menyelaminya, justru hanya ada kebuntuan yang temukan.
Dinda menghela napas dalam dan kemudian ia hembuskan perlahan. Tidak ingin membebani hati dan juga pikirannya dengan apa yang diucapkan oleh sang ibu mertua, ia pun memilih untuk mengabaikan saja. Ia kembali menatap ke arah beranda di mana sang suami masih larut dalam obrolannya bersama kolega. Gurat-gurat ketampanan terukir jelas di wajah suaminya itu.
Aku benar-benar bersyukur menjadi istrimu, Mas. Aku benar-benar bersyukur. Saat ini akulah yang menjadi wanita yang paling bahagia di dunia karena dipersunting oleh sosok lelaki sepertimu.
.
.
.bersambung...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 104 Episodes
Comments
Hulapao
su udzon nih ibu mertuanya
2022-09-15
0
❁︎⃞⃟ʂ𝕬𝖋⃟⃟⃟⃟🌺 ᴀᷟmdani🎯™
mampukah bertahan dengan ibu mertua yang seperti ini...
2022-08-22
0
Nyai💔
semangat othor
2022-08-22
0