Sonya ... wanita paruh baya itu terlihat mondar-mandir di dalam kamar. Selepas berbincang sedikit dengan sang menantu di halaman belakang justru membuat hatinya serasa tidak nyaman. Entah, faktor apa yang membuatnya begitu tidak senang dengan keberadaan Dinda. Namun, ketika melihat sang putra begitu perhatian dengan sang istri seakan membuat rasa cemburu itu kian merajai hati.
"Sepertinya, putraku benar-benar mencintai Dinda. Dan mengapa sifatnya tidak sama dengan sifat ayahnya. Selama aku menjadi istri, aku sama sekali tidak pernah diperlakukan semanis itu oleh suamiku."
Memori Sonya berkelana jauh ke masa yang telah lalu di saat ia untuk pertama kali menjalani kehidupan berumah tangga bersama sang suami. Sifat dan sikap sang suami benar-benar berbanding terbalik dengan sifat yang dimiliki oleh Bayu.
"Hah ... jangankan membuatkan sarapan setelah malam pertama, mengucapkan rasa terima kasih karena sudah aku layani saja tidak pernah ia lakukan."
Sonya membuang napas kasar sembari bermonolog lirih. Melihat sang menantu diperlakukan begitu istimewa oleh Bayu, seakan membuat rasa iri dan dengkinya kian memuncak. Rupanya masa-masa pengantin baru yang dulu pernah ia lewati, tidak semanis dan seindah masa-masa pengantin baru sang menantu. Hal itulah yang membuatnya semakin gerah dan kepanasan jika melihat kemesraan anak dan menantunya.
"Hmmmm .. ingin rasanya aku berlama-lama untuk tinggal di sini, namun sepertinya aku tidak sanggup jika harus melihat kemesraan mereka. Harga diriku seakan diinjak-injak oleh perempuan itu karena dia bisa begitu dicintai oleh putraku."
Sonya berjalan ke arah lemari pakaian. Ia raih sebuah travel bag berwarna navi dan mulai ia kemasi pakaiannya. Wanita paruh baya itu memutuskan untuk pulang ke kediamannya.
***
"Loh Ibu mau kemana?"
Bayu yang masih berkutat dengan gawai di tangannya, seketika ia letakkan benda pipih itu di atas meja. Setelahnya, ia menghampiri sang ibu yang terlihat sedang menuruni anak tangga dengan membawa travel bag di tangannya.
"Ibu mau pulang ke rumah Bay," jawab Sonya singkat seraya menuju ke arah sofa. Dan ia pun mendaratkan bokongnya di atas sana.
Dinda yang kebetulan tengah melintas di area ruang tengah, ikut menghampiri di mana sang suami dan sang mertua berada. Nampaknya ia juga penasaran tentang apa yang akan dilakukan oleh ibu mertuanya ini. Yang terlihat begitu kesusahan membawa travel bag miliknya.
"Pulang? Mengapa tergesa-gesa Bu?"
Bayu menatap penuh tanya wajah sang ibu dengan kernyitan di dahinya. Ia merasa sangat aneh karena tidak ada angin dan tidak ada hujan, tiba-tiba sang ibu memutuskan untuk pulang. Padahal sebelumnya, ia merasa bahwa Sonya begitu nyaman dan betah tinggal di sini.
Sonya menatap sinis ke arah Dinda yang saat itu juga sedang diliputi oleh pertanyaan akan keputusan Sonya yang serba tiba-tiba ini. Meskipun sebelumnya ia sempat berdoa agar sang ibu mertua bersegera pulang ke rumah, namun melihat Sonya serba tergesa-gesa seperti ini membuatnya begitu penasaran tentang hal apa yang mendasarinya. Dan sepertinya tidak ada yang bisa menjawab selain Sonya sendiri.
"Tidak, sama sekali tidak tergesa-gesa. Ibu rasa lebih cepat Ibu pulang ke rumah akan semakin bagus untuk kalian. Ya, barangkali keberadaan Ibu justru akan mengganggu kemesraan kalian."
"Ahahaha ya ampun Bu..." kekeh Bayu seakan tiada mampu untuk menahan tawa. "Ibu ini seperti tidak pernah muda saja. Untuk pengantin baru kemesraan yang Bayu perlihatkan di depan Dinda juga merupakan kewajaran kan Bu? Jadi Ibu tidak perlu merasa menjadi pengganggu."
"Ya, ya, ya ... terserah apa katamu saja Bay, yang pasti Ibu ingin pulang sekarang."
"Ibu serius untuk pulang sekarang?" Bayu bertanya sekali lagi untuk memastikan.
"Iya Bay. Apa travel bag ini belum cukup menjadi bukti bahwa Ibu akan pulang sekarang? Sudahlah, sekarang kamu siapkan mobil dan antar Ibu pulang ke rumah."
Bayu menghela napas panjang untuk kemudian ia hembuskan perlahan. Rasanya, ia sudah tidak memiliki senjata ataupun alasan menahan sang ibu untuk tetap tinggal di rumah ini. Meskipun tidak selamanya, setidaknya untuk dua atau satu minggu ke depan.
"Baiklah Bu, aku siapkan terlebih dahulu mobilnya."
Bayu mengayunkan tungkai kakinya untuk menuju garasi. Namun kala melintas di hadapan Dinda, sejenak ia hentikan langkah kakinya. Ia tarik lengan tangan Dinda untuk kemudian ia bawa tubuh istrinya ini ke dalam dekapannya.
"Sayang, aku pergi mengantar Ibu dulu ya. Kamu di rumah sendirian tidak apa-apa kan?"
"Iya Mas, aku tidak apa-apa kok. Kamu hati-hati di jalan ya Mas. Pelan-pelan saja bawa mobilnya," ucap Dinda memberikan sebuah petuah.
"Kamu tenang saja Sayang. Aku akan selalu mengingat apa yang kamu ucapkan."
Tanpa merasa canggung ataupun malu-malu kucing, Bayu mencium lembut kening, pipi dan bibir Dinda. Sonya yang melihat secara langsung adegan itu tepat di depan matanya membuat darahnya seakan kian mendidih sampai ke ubun-ubun. Ia tidak menyangka bahwa masa-masa pengantin baru yang pernah ia jalani bersama sang suami tidak seindah yang dijalani oleh Dinda. Wanita itu benar-benar merasa tersaingi.
Dinda mendekat ke arah Sonya setelah Bayu melenggang pergi untuk menuju garasi. Ia bermaksud untuk menyalami sang ibu mertua sebagai bentuk rasa hormat dan sebagai salam perpisahan. Namun, betapa terkejutnya Dinda ketika sang ibu mertua sama sekali tidak menyambut uluran tangannya. Ia menampik telapak tangan Dinda dan tersenyum sinis ke arah menantunya ini.
"Ingat, kalau sampai putraku kurus ataupun kekurangan gizi karena tidak kamu rawat dengan baik, aku tidak akan segan untuk membuat kalian bercerai. Ingat itu baik-baik Dinda!"
Tanpa basa-basi, Sonya pergi dari hadapan Dinda. Ia bahkan tidak menyadari bahwa ucapan yang keluar dari mulutnya ini bagaikan belati, yang menancap tepat di dasar hati milik Dinda. Dinda hanya bisa tersenyum getir dengan setetes kristal bening yang sudah jatuh dari pelupuk mata.
Tuhan .... semoga aku senantiasa kuat untuk menghadapi dan menjalani ujian rumah tangga seperti apa yang akan aku lalui di depan nanti.
Tubuh Dinda hanya terpaku dan membeku di balik jendela. Dari tempat ini, ia melihat mobil yang dikemudikan oleh sang suami perlahan mulai menghilang dari pandangan.
.
.
. bersambung.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 104 Episodes
Comments
Rumini Parto Sentono
tajam amat tuh omongan mertua.....
2022-07-29
0
Lia Yulia
waduh....kurus dan kurang gizi??😲😲😲khawatir boleh Ibu...tp jangan keterlaluan begitu😤ini istrinya lho bukan pembantunya...pedes banget ngomongnya😅
2022-07-23
0
Lia Yulia
ooooo...jd hal ini yg bikin masalah rupanya🤔🤔🤔
2022-07-23
0