"Ya Tuhan .... mengapa ini semua bisa terjadi Bu? Mengapa Ibu sampai tertipu oleh Angelica?"
Bayu yang terduduk di lantai, menyenderkan kepalanya di permukaan dinding. Berkali-kali ia mengacak rambutnya dan membuang napas kasar. Dari ekspresi wajahnya terlihat jelas bahwa lelaki itu tengah frustrasi.
"Ibu juga tidak paham Bay ... Angelica yang Ibu kenal bukanlah seperti itu. Dia sahabat karib Ibu semasa SMA. Perangainya begitu baik, dan Ibu rasa dia tidak sampai hati jika melakukan hal ini. Tapi kenyataannya dia tega menipu Ibu."
Tak jauh berbeda dari Bayu, Sonya juga terlihat begitu frustrasi. Entah sudah berapa kali ia memijit-mijit pelipisnya yang terasa begitu nyeri. Dua kabar buruk yang ia dapatkan di hari ini sungguh sangat memporak-porandakan hati. Wanita itu seakan tidak memiliki gairah untuk hidup di dunia lagi. Semua yang ada di dalam genggaman tangannya terlepas dan tidak akan mungkin bisa kembali lagi.
Sedangkan Dinda, wanita itu juga hanya terduduk lesu di sebuah kursi yang terbuat dari kayu. Entah apa yang salah dalam keluarganya ini, sehingga ia dan keluarga harus merasakan ujian serta kemalangan hidup yang bertubi-tubi.
Ya Allah .... aku hanya minta, tolong beri aku kekuatan sehingga aku bisa kuat dalam menjalani segala ketetapan yang sudah Engkau gariskan.
Dinda tiada henti merapalkan doa dalam hati. Doa yang ia panjatkan untuk meminta kekuatan kepada Ilahi Rabbi sehingga ia tetap berada di jalan yang lurus dan di ridhoi. Ia percaya bahwa ia sanggup untuk menghadapi serta menjalani.
Bayu bangkit dari posisi duduknya di atas lantai. Ia berjalan ke arah sang ibu dan duduk di tepian ranjang. "Apakah Ibu sudah berusaha mencari keberadaan Angelica di rumahnya? Ibu tahu tempat tinggal Angelica bukan? Ibu sudah cari di sana? Barangkali Angelica masih bersembunyi di rumah!"
Bayu berupaya mati-matian mencari celah untuk bisa keluar dari permasalahan yang tengah dihadapi oleh sang ibu. Lelaki itu mempertanyakan tempat tinggal Angelica yang mungkin dari sana bisa didapatkan jalan keluarnya.
Sonya menggelengkan kepala pelan. "Tidak bisa Bay ... sudah sejak lama Angelica tidak tinggal di kota ini. Dia tinggal luar kota."
Bayu semakin terhenyak dan terperanjat setengah mati. Perkataan ibunya ini sudah cukup menjadi firasat kecil bahwa keberadaan Angelica akan sulit dilacak. Namun tiba-tiba saja ia teringat akan satu hal.
"Atau mungkin Ibu memiliki scan KTP Angelica yang dikirimkan via WhatsApp? Dari sana kita mungkin bisa mencari keberadaan Angelica?"
Lagi, Bayu mencoba untuk menanyakan segala celah yang mungkin bisa menjadi peluang dalam menemukan keberadaan Angelica. Namun sayang seribu sayang, wanita paruh baya itu lagi-lagi hanya menggelengkan kepala.
"Tidak Bay, Ibu sama sekali tidak memiliki data diri Angelica, termasuk KTP nya, Ibu tidak memiliki."
"Astaga Bu .... lalu bagaimana Ibu bisa dengan mudah percaya pada Angelica jika dia sama sekali tidak berani memberikan jaminan apapun? Jaminan bahwa ia bukanlah seorang penipu. Bahkan uang yang disetorkan bukanlah uang dalam nominal kecil, seharusnya Ibu meminta data diri yang dimiliki oleh sahabat Ibu itu," tanya Bayu dengan intonasi yang sedikit tinggi.
"Ibu juga tidak tahu Bay. Ibu merasa sudah begitu percaya pada Angelica. Maka dari itu, Ibu merasa tidak perlu repot-repot meminta KTP nya." Sonya menjawab dengan suara lirih. Nampaknya, wanita paruh baya itu juga merasa takut melihat air wajah sang putra yang berubah seperti seseorang yang sedang menahan amarah itu.
Bayu menghela napas panjang dan perlahan ia hembuskan untuk menghalau emosi yang mulai merajai hati. Bagaimanapun juga, yang berada tepat di depan matanya ini adalah wanita yang telah mengandung, melahirkan, mendidik serta membesarkannya sehingga tidak pantas jika sampai terlontar kata-kata kasar yang mungkin akan keluar dari bibirnya karena dibelenggu oleh emosi itu.
"Atau mungkin, Ibu memiliki surat perjanjian dengan Angelica? Surat perjanjian yang menyatakan bahwa Angelica bukanlah penipu dan akan siap bertanggungjawab sepenuhnya jika sampai terjadi hal-hal yang tidak diinginkan seperti ini?"
Sonya kembali menggelengkan kepala. "Tidak Bay, Ibu sama sekali tidak memiliki surat perjanjian apapun."
"Astaga, jadi selama ini Ibu dan Angelica berkomunikasi dengan cara bagaimana?"
"Ibu dan Angelica hanya berkomunikasi via chatting dan video call melalui whatsapp, Bay..."
"Ya Tuhan...," lirih Bayu dengan memijit pelipisnya. "Jika seperti ini akan sulit untuk menemukan keberadaan Angelica, Bu. Lagipula mengapa Ibu begitu mudah percaya dengan Angelica tanpa meminta jaminan apapun? Meskipun dia adalah sahabat karib Ibu, tapi tidak menutup kemungkinan dia bisa menipu Ibu. Terlebih dalam kehidupan yang serba sulit seperti ini. Siapapun bisa berubah menjadi orang jahat karena keadaan yang semakin menghimpit seperti ini," sambung Bayu pula yang dari nada bicaranya terdengar seperti seseorang yang sedang kecewa berat.
"Kamu jangan seperti itu Bay, dimana ucapanmu itu seakan menumpukan semua kesalahan kepada Ibu, padahal belum tentu keadaan yang kita alami ini karena kesalahan Ibu," ucap Sonya yang tidak ingin sepenuhnya disalahkan atas apa yang menimpanya ini.
Kepala Bayu yang sebelumnya menunduk, kini ia tegakkan. Pandangannya pun bersiborok dengan netra milik sang ibu. "Jika bukan kesalahan Ibu lalu kesalahan siapa lagi Bu? Yang terlibat di sini adalah Ibu sendiri yang mudah ditipu oleh seseorang yang Ibu anggap sebagai sahabat sendiri yang pada akhirnya dia menjadi seseorang yang paling tega menipu Ibu."
Pandangan Sonya yang sebelumnya lurus ke depan, kini sedikit ia geser ke arah samping di mana Dinda berada. Wanita paruh baya itu seakan dengan sinis menatap wajah menantunya ini. Sepersekian menit Sonya menatap Dinda, kemudian ia kembali menatap ke arah sang putra. Sedangkan Dinda hanya bisa menyipitkan mata, tidak paham dengan apa maksud yang tersirat melalui tatapan sang ibu mertua.
"Bisa jadi semua kemalangan yang menimpa keluarga kita ini karena istrimu Bay. Bisa jadi istrimu ini yang menjadi akar dari kepelikan-kepelikan hidup yang kita alami."
Perkataan yang terlontar dari bibir Sonya, sukses membuat Dinda dan juga Bayu terkejut. Dinda hampir saja mengeluarkan suara untuk menanyakan apa maksud sang ibu mertua dengan ucapannya ini. Namun ia urungkan ketika sang suami sudah membuka suara terlebih dahulu.
"Karena Dinda? Apa hubungannya dengan Dinda Bu? Di sini Dinda tidak terlibat apapun, bagaimana bisa Ibu menyalahkan Dinda?" tanya Bayu dengan kernyitan di dahi. Perkataan sang ibu sungguh membuatnya semakin tidak mengerti akan apa maksud semua ini.
Sonya kembali menoleh ke arah Dinda. Kali ini, kilatan rasa benci, rasa marah nampak jelas dari sorot mata wanita paruh baya itu. "Bisa jadi istrimu ini pembawa sial untuk kehidupan kita Bay. Dia istri pembawa sial!"
.
.
. bersambung...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 104 Episodes
Comments
Rumini Parto Sentono
benar benar tajam tuh lidah mertua, kesalahan sendiri malah menyalahkan orang lain menantu sendiri pula. Hdhhh.... 🤦♀️🤦♀️
2022-07-29
0
🥜⃫⃟⃤🍀⃟🦘𝙼𝙰𝙼 ᶠᵉⁿᶦ 𒈒⃟ʟʙ
Idih... ada ya manusia macam si buson gtu...
Bodoh di pelihara, glran susah aja bawa² anak mantu nya, bahkan dgn ga tau malu nya mlhan mengkambinghitamkan sang menantu atas kesalahan nya sendiri, astaghfirullah tolong Tuhan buru2 cabut dah tu nyawa si buson.... 😤😤
Enak bnr ngatain si dinda istri pembawa sial, ada jg lo ibu pembawa sial buat anak nya 😤😤
2022-07-28
0
🥜⃫⃟⃤🍀⃟🦘𝙼𝙰𝙼 ᶠᵉⁿᶦ 𒈒⃟ʟʙ
astaga manusia yg ga pernah mengaca diri seperti ini nih, dia yg 10000% salah, tp mlahan menyalahkan orang lain yg bahkan ga tau apa2... 😌😌
2022-07-28
0