Sup jamur dengan kaldu ayam kampung telah matang. Aromanya yang khas mulai menyeruak, memenuhi indera penciuman, membuat sensasi rasa nikmat kian terasa. Dengan perlahan, Dinda memindahkan sup jamur itu ke dalam sebuah mangkuk dan siap untuk ia bawa ke dalam kamar pribadinya.
Anak-anak sinar mentari mulai masuk ke dalam kamar melalui celah-celah jendela. Suasana yang sebelumnya dibalut oleh suasana gelap, kini berganti terang benderang dengan adanya sinar keemasan dari sang raja siang. Dinda meletakkan sup itu di atas nakas dan mendaratkan bokongnya di tepian ranjang.
Tatapan mata wanita itu tidak lepas dari sosok lelaki yang sejak semalam larut dalam lelapnya. Wajah yang kacau dan sayu seakan membuat Dinda tiada tega untuk berlama-lama untuk menatapnya. Hingga pagi ini pun ia belum paham akan apa yang sebenarnya telah terjadi.
Dinda terhenyak kala samar tubuh Bayu sedikit bergeliyat. Buru-buru ia menepuk-nepuk pundak sang suami berupaya untuk membangunkannya.
"Mas ... Mas ... bangun Mas!"
Dinda sedikit menggoyangkan tubuh Bayu, diiringi dengan bola mata lelaki itu yang bergerak-gerak meski kelopaknya masih tertutup. Ia mengerjap dan sejenak kemudian sepasang dua bola matanya terbuka sempurna.
"Aaaahhhh ...!" pekik Bayu seraya memijit-mijit pelipisnya kala rasa pening itu mulai terasa menghujam kepala. Bak ditusuk oleh ribuan jarum, lelaki itu nampak begitu kesakitan.
"Mari Mas, aku bantu untuk bersandar di head board ranjang!"
Dengan penuh kehati-hatian Dinda membantu sang suami untuk sedikit menggeser tubuhnya. Bersandar di head board ranjang untuk membuat tubuh suaminya ini lebih rileks. Tanpa banyak berucap, lelaki itu menuruti apa yang dilakukan oleh sang istri.
Suasana hening semakin terasa ketika Bayu hanya terdiam seribu bahasa. Tatapan matanya nampak menerawang dan tiada fokus akan satu titik.
"Mas, makan dulu ya. Sudah aku masakkan sup jamur kesukaanmu." Dinda meraih satu mangkuk sup jamur yang barada di atas nakas dan siap untuk menyuapi sang suami. "Ayo Mas, buka mulutnya. Dari kemarin kamu belum makan bukan? Sekarang makan dulu, biar kekuatan tubuhmu kembali pulih."
Tanpa mengalihkan pandangannya dari arah luar jendela, Bayu mulai membuka mulut. Perlahan, ia mengunyah menu makanan yang masuk ke dalam mulutnya.
"Mas .... tolong jangan seperti ini. Sebenarnya apa yang sedang kamu alami Mas? Mengapa semalam kamu pulang dalam keadaan kacau?"
Dinda seakan tidak sabar untuk mengetahui apa yang terjadi pada Bayu. Pulang dalam keadaan mabuk dan keadaan kacau yang sama sekali bukan seperti sosok lelaki yang selama ini ia kenal. Oleh karenanya, Dinda mulai mencecar sang suami dengan pertanyaan yang bertubi-tubi.
Bayu menggeser pandangannya. Ia yang sebelumnya menatap lekat ke arah luar jendela kini, ia tatap sosok sang istri yang duduk di hadapannya ini.
"Pabrik tutup, aku dan karyawan lainnya diberhentikan, aku sudah tidak lagi menjadi kepala cabang, rumah dan semua fasilitas dari kantor akan ditarik kembali. Aku pengangguran sekarang Din. Aku akan jatuh miskin. Aaarrrggggghhhh!!!"
Bayu kembali berteriak histeris sembari mengacak rambutnya kasar. Kehilangan pekerjaan sungguh membuat lelaki itu seakan menjadi sosok suami yang tidak memiliki pegangan hidup. Karena baginya, harga diri seorang laki-laki itu bekerja bukan untuk berongkang-ongkang kaki.
"Astaghfirullahal 'adziim," lirih Dinda.
Tubuh Dinda terpaku dan membeku kala mendengar tiap kata yang terlisan dari bibir Bayu. Mendadak, wanita itu tidak mampu untuk berucap sepatah katapun karena lidahnya serasa begitu kelu. Kabar yang dibawa oleh sang suami, semakin membuat hatinya terasa begitu pilu.
"Aku sekarang menjadi lelaki yang tidak berguna Din. Aku pengangguran. Aku tidak punya harga diri!"
Lagi, Bayu meracau yang justru semakin membuat jantung Dinda berdenyut nyeri. Wanita itu paham betul akan apa yang tengah dirasakan oleh Bayu. Meski hati dan juga jiwanya ikut terkoyak dengan kabar buruk yang dibawa oleh Bayu, namun ia mencoba untuk tetap bisa berpikir tenang. Ia tidak boleh berbuat sesuatu yang justru semakin membuat jiwa sang suami down.
Dinda menyeka air mata yang mulai jatuh dari bangkainya. Ia memaksakan diri untuk tersenyum meski senyum itu juga nampak begitu getir. Ia meraih telapak tangan Bayu dan menggenggamnya dengan erat.
"Sabar ya Mas. Ini merupakan salah satu ujian di dalam pernikahan kita. Mas Bayu harus sabar. Aku yakin, mas Bayu bisa segera mendapatkan ganti pekerjaan."
"Pekerjaan apa Din? Pekerjaan apa yang jauh lebih menjanjikan selain pekerjaanku saat ini? Di pabrik ini aku mendapatkan penghasilan yang lebih besar dari pekerjaan yang lainnya."
Sorot mata Bayu semakin tajam menatap wajah Dinda. Seakan memberi sebuah isyarat bahwa lelaki itu tidak bisa menerima keadaan dengan hidup yang serba kekurangan. Ia menganggap bahwa hanya pekerjaannya inilah yang mampu untuk menopang semua kebutuhan hidupnya.
Dinda kembali mengulas senyum. Kala sang suami sedang berada dalam kondisi seperti ini, ia harus bisa menjadi sosok penenang dan penyejuk hati.
"Mas ... aku tidak peduli berapa banyak gaji yang kamu dapatkan. Entah itu besar maupun kecil akan senantiasa aku terima dengan hati yang ikhlas. Aku tidak menuntut apapun darimu Mas. Besar ataupun kecil, yang terpenting Allah memberikan berkahNya untuk kehidupan kita."
Dinda berharap ucapannya ini bisa sedikit menjadi tetesan embun yang menyejukkan hati sang suami yang tengah panas. Namun ternyata, ia salah besar. Bayu menggelengkan kepala sembari melempar bantal juga guling.
"Tidak, tidak. Aku tidak bisa menerima ini semua. Aku tidak ingin hidup miskin!!"
Prang ... prang .... pranggg!!!!!
.
. bersambung...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 104 Episodes
Comments
Rumini Parto Sentono
sabar ya Dinda menghadapi suami yang temperamen dan mertua yang judes.
2022-07-29
0
☠ᵏᵋᶜᶟբɾҽҽթαlҽsԵíղαKᵝ⃟ᴸ𒈒⃟ʟʙᴄ
bay2 harta tuh hanya titipan harusnya km bersyukur disaat terpuruk msh ada support dr istri yg bs menerima km apa adanya😕
2022-07-23
3
Rona Jingga
lemah banget sih kamu Bay😪
2022-07-20
0