"Selamat pagi mbak Dinda. Wah, pagi ini wajah mbak Dinda nampak berseri. Apakah mbak Dinda sedang berbahagia?"
Bu Affa, yang merupakan tetangga Dinda menyambut kedatangan wanita itu saat tiba di lapak sayur milik bang Andik. Melihat wajah Dinda yang berseri seakan menjadi suplai energi positif bagi siapapun yang memandangnya.
Dinda menunduk malu. "Ah, bu Affa ini bisa saja. Alhamdulillah setiap hari saya bahagia Bu, jadi tidak hanya hari ini saja."
"Hmmmm ... bu Affa ini seperti tidak tahu saja. Mbak Dinda ini kan istri dari kepala cabang PT Kayu Perkasa, jadi pasti selalu bahagia. Bahagia lahir maupun batin. Jadi alasan apa lagi yang membuat wajah mbak Dinda tidak berseri? Semua yang menjadi keinginan sosok seorang istri sudah terpenuhi. Benar begitu kan mbak Dinda?" ujar bu Fenni memberikan argumennya.
Dinda terkekeh pelan. Ternyata, di mata orang lain kehidupannya ini terlihat begitu sempurna. "Apapun itu, akan saya syukuri Bu. Jadi meskipun suami saya bukanlah seorang kepala cabang, saya akan selalu berbahagia dengan keadaan suami saya."
"Nah, istri seperti mbak Dinda ini yang menjadi idaman setiap laki-laki Bu, Ibu. Seorang istri yang pandai bersyukur dan menerima apapun keadaan suaminya. Ibu-ibu harus mencontoh mbak Dinda ini biar makin disayang suami."
Sembari menata sayur segar di atas lapak, bang Andik, yang merupakan juragan lapak sayur satu-satunya di kampung ini mengemukakan pendapatnya. Seorang juragan lapak sayur yang begitu sukses dan tetap low profile yang membuat lapaknya selalu ramai dikunjungi oleh para pelanggan.
"Hmmmm ... aku dan Bu Fenni tentunya berbeda Bang. Ada uang, suami kami sayang, kalau tidak ada uang ya kami suruh tidur di halaman. Iya kan Bu Fenni?" tanya bu Affa dengan diselilpi tawa yang membahana. Hal itu pulalah yang membuat semua yang berada di lapak sayur bang Andik ini juga ikut terbahak.
Bang Andik hanya bisa berdecak pelan seraya menggelengkan kepala. "Ckckckck ... ganas sekali ya ibu-ibu zaman now ini!"
"Hahahaha ... bagaimanapun juga kita harus realistis dong Bang," pungkas bu Fenni mengakhiri pembicaraannya perihal suami idaman.
Dinda yang mendengar percakapan ibu-ibu muda dengan juragan lapak sayur ini juga hanya bisa terkekeh geli. Ia bersyukur karena tetangga-tetangganya ini termasuk tipe tetangga yang baik.
Dinda menyerahkan beberapa sayuran dan ikan laut yang telah ia pilih ke arah bang Andik. "Ini belanjaan saya Bang. Totalnya berapa?"
"Lima puluh lima ribu ya mbak Din. Maaf, harga cabai rawit, cabai keriting, dan bawang merah melonjak tinggi. Jadi membuat belanjaan mbak Dinda yang lebih mahal dari biasanya."
Bang Andik sedikit mengeluh yang seakan menyuarakan hati para ibu rumah tangga yang hanya bisa geleng-geleng kepala karena harga sayuran yang melonjak setiap harinya. Pantas saja, saat ini salonpas dan koyo' menjadi barang langka. Itu semua bisa terjadi karena kaum ibu-ibu seringkali pusing karena harga barang kebutuhan pokok yang semakin mencekik ini. (authornya lagi curhat 😆😆)
"Tidak masalah Bang. Tidak mengapa kalau harganya mahal asal barang tetap ada. Yang lebih membuat pusing itu, jika harga mahal namun langka. Kita berdoa saja semoga Allah senantiasa mencukupkan rezeki kita sehingga bisa memenuhi kebutuhan hidup yang serba mahal ini," imbuh Dinda dengan bijak seraya mengulurkan uang pas.
"Nah, kali ini aku setuju dengan mbak Dinda. Terima kasih banyak mbak Dinda. Besok belanja di sini lagi ya," ucap bang Andik dengan ramah untuk memberikan sugesti kepada Dinda agar besok kembali berbelanja lagi.
"Iya Bang, lagipula kemana lagi saya akan berbelanja kalau tidak di lapak bang Andik?"
"Hahahaha ... iya ya. Aku kok sampai lupa kalau aku juragan lapak sayuran satu-satunya di kampung ini? Sepertinya aku kurang minum aqua ini!"
"Bang Andik ini bisa saja. Kalau begitu, saya pamit ya Bang, Bu-Ibu...."
"Oke mbak Dinda, hati-hati."
***
"Wah, Pak Bayu setelah menikah hampir setiap hari rambutnya selalu basah saat berangkat ke kantor. Pasti keramas terus nih setiap pagi."
Tio, yang merupakan salah satu karyawan di kantor Bayu tiada henti menggoda atasannya ini. Pikirannya serasa menerawang jauh jika melihat sang atasan yang datang ke kantor dalam keadaan rambut basah.
Bayu yang baru tiba di depan ruangannya hanya bisa tergelak pelan saat Tio sengaja menghentikan langkah kakinya hanya untuk memberikan apresiasi terhadap rambutnya yang basah ini. Sesuatu yang tidak berfaedah namun terdengar menyenangkan untuk dibahas.
"Tio ... Tio ... maka dari itu cepat nikah jadi setiap hari kamu bisa keramas."
"Cckkkckkkk ... kalau untuk keramas sih aku juga sering Pak. Tapi yang membedakan adalah siapa yang membuat kita keramas," decak Tio seakan tidak ingin kalah.
"Oh ya? Memang siapa?" tanya Bayu dengan kernyitan di dahinya. Ia tidak segera memangkas celotehan Tio namun justru semakin larut untuk menanggapi obrolan bawahannya ini.
"Kalau pak Bayu dibuat keramas oleh sang istri, sedangkan saya dibuat keramas oleh sabun. Hahahaha!"
Pletakkk!!!
Sebuah jitakan kecil mendarat di kening Tio yang membuat lelaki itu meringis. Bayu pun memilih untuk segera masuk ke dalam ruang kerjanya.
"Dasar jomblo ngenes. Mainannya sama sabun."
Tio hanya bisa melongo mendengar ledekan dari sang bos. "Yee, mentang-mentang sudah menikah, jadi lupa pak Bayu kalau dulu dia juga sering mainan sabun. Dasar, lupa daratan!"
.
.
. bersambung....
Pinjam nama kak Feni, kak Affa dan bang Andik ya... Hihi hihihihi... InshaAllah nanti akan ada nama-nama pembaca lainnya yang saya masukkan ke dalam scene cerita. 🥰🥰🥰
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 104 Episodes
Comments
Rumini Parto Sentono
apa hubungannya salonpas dan koyok sama harga sayur mahal Kak Rasti, ngadi-ngadi aja.... biar harga cabai dan bawang naik, aku gak pake koyok lhooo ya kak...... 😂😂😂😂
2022-07-29
1
☠ᵏᵋᶜᶟբɾҽҽթαlҽsԵíղαKᵝ⃟ᴸ𒈒⃟ʟʙᴄ
astoge ngakak bang tio di buat keramas s sabun yg sabar ya mblo 🤣🤣🤣
2022-07-23
2
💜⃞⃟𝓛 ༄༅⃟𝐐🇺𝗠𝗠𝗜ᴰᴱᵂᴵ 🌀🖌
nakal bener nih mbak othor, kang Andi juragan sayur 🤣🤣🤣🤣
2022-07-16
0