Hembusan angin menggoyangkan tirai putih bermotif bunga sakura. Membuatnya meliuk-liuk laksana sang penari yang tengah memperlihatkan kemampuannya dalam menggerakkan tubuhnya. Raja siang yang seharian mentransfer energi panasnya kini berganti dengan cahaya lembut sang rembulan. Menerangi kanvas langit yang temaram.
"Kopinya Mas," ucap Dinda sembari meletakkan secangkir kopi hitam tepat di hadapan sang suami. Ia menggeser kursi makan yang berada di samping Bayu, dan ia daratkan bokongnya di sana.
"Terima kasih Din," tutur Bayu seraya menyeruput kopi hitam buatan sang istri yang seketika membuat tubuhnya terasa lebih rileks dari sebelumnya. "Kopi buatan kamu memang selalu nikmat Sayang. Pas di lidah," sambung Bayu memuji.
Dinda hanya bisa tersipu malu. Ternyata hanya mendapatkan pujian kecil dari seorang suami benar-benar bisa membuat hatinya sebahagia ini.
"Kamu ini ada-ada saja Mas. Padahal aku sama sekali belum pernah membuatkan kopi untukmu. Karena setiap kali kamu bertandang ke rumahku, selalu aku suguhi wedang sekoteng."
Gelak tawa lirih terdengar dari bibir Bayu. Lelaki itupun kemudian menatap wajah sang istri dengan intens. "Jika memang benar seperti itu, berarti kamu memang istri yang hebat Din. Tanpa aku beritahu bagaimana rasa kopi kesukaanku, kamu bisa menyajikannya dengan sempurna. Aku benar-benar beruntung mendapatkanmu Sayang."
"Iya Mas, iya. Aku pun juga beruntung bisa menjadi istrimu."
Sonya yang duduk di hadapan anak dan menantunya ini hanya bisa menatap jengah wajah keduanya. Ia serasa geli sendiri kala mendengar sepasang suami istri yang sedang saling memuji ini. Entah, apa yang membuat telinganya seakan panas kala mendengar sang anak melontarkan pujian untuk istrinya sendiri. Wanita itu seperti iri hati dengan kemesraan yang terpampang jelas di depan matanya.
"Jangan banyak-banyak minum kopi Bay. Ingat darah tinggimu," ucap Sonya memberikan sebuah peringatan.
"Iya Bu, tenang saja. Aku sangat jarang bahkan hanya sesekali saja meminum kopi, jadi Ibu tidak perlu khawatir," ujar Bayu mencoba untuk memupus segala kekhawatiran yang dirasakan oleh sang ibu.
"Kamu juga Din, sebagai seorang istri seharusnya kamu tahu bahwa suamimu ini punya riwayat hipertensi, jadi jangan sering-sering membuatkannya kopi."
Sebuah ultimatum Sonya layangkan kepada sang menantu yang sukses membuat Dinda terhenyak seketika. Kedua bola matanya membulat sempurna kala mendengar peringatan yang diucapkan oleh sang ibu mertua. Dari kata-kata yang terucap, Sonya seperti sedang menyalahkannya.
"Bu, aku ini belum genap satu hari menjadi istri mas Bayu. Mana tahu aku perihal hipertensi yang dialami oleh mas Bayu. Mas Bayu juga sama sekali belum menceritakannya kepadaku."
Sonya mencomot roti panggang dengan selai kacang untuk kemudian ia masukkan ke dalam rongga mulutnya. Perlahan, ia kunyah roti panggang itu sembari tersenyum kecil mendengarkan pembelaan yang coba dilontarkan oleh Dinda.
"Maka dari itu aku beritahu kamu tentang hal itu. Seharusnya kamu berterima kasih kepadaku karena dengan begitu kamu bisa segera tahu."
"Tapi Bu maaf, perkataan Ibu tadi bukan seperti seorang mertua yang sedang memberitahu menantunya. Melainkan seperti seseorang yang tengah menyalahkan dan menyudutkanku."
Sonya mengangkat kedua alisnya. Ia heran, bisa-bisanya si menantu memberikan jawaban yang terkesan berani dan menggurui.
"Lihatlah Bay, istrimu ini benar-benar tidak punya tata krama. Seharusnya sebagai seorang menantu dia tidak menjawab ataupun menyanggah perkataan Ibu. Tapi yang terjadi apa? Dia malah dengan lantang menyanggah ucapan Ibu."
"Tapi Bu, aku tidak bermaksud untuk ...."
Brak!!!
"Hentikan Din. Aku tidak ingin mendengar ocehanmu lagi. Sebagai menantu seharusnya kamu tidak menyanggah ataupun melawan apa yang menjadi perkataanku. Atau apakah ini yang diajarkan oleh orang tuamu? Tidak patuh dengan apa yang menjadi perkataan mertua? Justru seharusnya kamu berterima kasih karena sudah aku beritahu perihal riwayat hipertensi yang ada dalam diri putraku."
Suara gebrakan meja makan membuat Bayu dan juga Dinda terkejut setengah mati. Baru kali ini mereka melihat amarah sang ibu yang begitu memuncak. Padahal mereka sama sekali tidak tahu kesalahan apa yang mereka lakukan.
Tanpa banyak kata, Sonya melenggang pergi meninggalkan ruang makan. Wanita paruh baya itu menaiki tangga untuk menuju kamar pribadinya. Bahkan wanita itu juga membanting daun pintu dengan kasar yang justru semakin membuat air mata Dinda meleleh tiada terkendali.
"Sayang ... maafkan perkataan Ibu ya. Mungkin dia hanya khawatir akan kesehatanku."
Bayu menarik lengan tangan Dinda untuk kemudian ia rengkuh tubuh wanita itu ke dalam dekapannya. Ia usap punggung Dinda dengan lembut, mencoba untuk membuat hati sang istri sedikit lebih tenang.
"Apakah yang aku ucapkan itu salah Mas? Aku sama sekali tidak menyanggah perkataan ibu karena kenyataannya ucapan ibu itu seperti menyudutkanku."
"Ssstttt ... sudah Sayang, kamu tidak bersalah. Mungkin ibu sedikit kelelahan karena acara pernikahan kita ini, sehingga membuatnya salah arti." Bayu merenggangkan sedikit pelukannya, ia usap kristal bening yang berjatuhan dari bingkai netra Dinda. "Lupakan semua perkataan ibuku ya Sayang. Sekarang kamu tunggu aku di dalam kamar, biarkan aku menemui ibu terlebih dahulu. Bukankah sebentar lagi kita akan menunaikan ibadah rohaniah?"
Kerlingan mata Bayu yang terlihat menggoda membuat senyum kecil terbit di bibir Dinda. Ia sadar bahwa mungkin sang ibu mertua memang sedang kelelahan sehingga membuat ucapannya tiada terkontrol. Dan tidak seharusnya malam pengantinnya ini ia lewati dengan kesedihan dan derai air mata.
"Baik Mas, aku tunggu kamu di kamar!"
.
.
. bersambung...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 104 Episodes
Comments
Hulapao
haloo kak aku nyicil bacanya yaa
jangan lupa mampir di karya terbaruku 'save you'
thankyouuu ❤
2022-09-15
0
🦈Bung𝖆ᵇᵃˢᵉ
keren banget
2022-08-22
0
Lia Yulia
semoga cuma prank🤭
2022-07-23
0