"Ini sebenarnya kita menunggu siapa lagi sih Jeng? Semua yang inden berlian pada Jeng Sonya sudah hadir semua. Namun mengapa berlian itu tidak segera jeng Sonya keluarkan?"
Wanita bernama Ummah Mahya terlihat begitu penasaran dengan sikap Sonya yang terkesan mengulur-ulur waktu dengan mengajak berbincang kumpulan ibu-ibu komplek yang tiada henti. Bahkan semua penjual makanan keliling yang melintas di depan rumah Sonya turut dipanggil. Mulai dari penjual siomay, penjual cilok, penjual es puter, dan penjual rujak semua dipanggil secara bergantian.
Hal itu tidak lantas membuat ibu-ibu komplek merasa bahagia karena telah ditraktir namun justru memunculkan sebuah kecurigaan. Curiga karena Sonya terkesan mengulur-ulur waktu. Padahal kumpulan ibu-ibu ini sudah sangat tidak sabar untuk memiliki berlian itu.
"Iya nih Jeng Sonya ini seperti mengulur-ulur waktu. Berliannya mana Jeng? Kita-kita ini juga ada urusan lain, tidak hanya terkungkung di rumah jeng Sonya saja!" kesal seorang ibu bernama Maulana ya Manna.
"Iya Jeng, mana berlian kami. Sudah dua bulan lho Jeng kami menanti berlian itu dan uang yang kita keluarkan tidak sedikit. Dua puluh juta kita keluarkan untuk berlian limited edition itu," timpal seorang ibu bernama Sri Astuti Rusli yang juga tak kalah gemas dengan sikap Sonya.
Sonya semakin menunduk dalam. Ia mere*mas-re*mas ujung pakaian. Jantungnya semakin berdegup kencang. Seseorang yang ia harapkan bisa hadir di detik-detik terakhirnya berhadapan dengan ibu-ibu komplek justru sama sekali tidak menampakkan batang hidungnya.
"Emmmmm ... anu Bu-Ibu ... itu saya ..."
"Jeng Sonya ini bicara apa? Mengapa terlihat gugup seperti itu? Jangan-jangan jeng Sonya menipu kami ya? Menawarkan berlian limited edition namun tidak ada wujudnya?" pangkas seorang ibu bernama Najwa. Bahkan nada bicara Najwa terdengar begitu mengintimidasi.
Sonya terhenyak. Ia yang sebelumnya menundukkan kepala, kini ia mendongak. "Bukan Bu, bukan seperti itu. Saya ..."
"Wah, wah, wah .... sepertinya kita semua ditipu oleh jeng Sonya ini Bu-Ibu. Berlian yang kita pesan tidak ada wujudnya. Ayo kita arak jeng Sonya ke pak RT!" teriak seorang ibu bernama Susi untuk memberikan sebuah instruksi.
Dikuasai oleh amarah karena telah tertipu, kumpul ibu-ibu komplek ini pun seketika menggelandang tubuh Sonya untuk mereka bawa ke kediaman pak RT. Di rumah pak RT, mereka akan meminta keadilan berupa ganti rugi atas penipuan yang dilakukan oleh Sonya. Dengan kasar, kumpulan ibu-ibu komplek itu menarik tubuh Sonya untuk bisa segera tiba di kediaman pak RT. Wanita itu hanya bisa menunduk pasrah dengan konsekuensi apa yang harus ia tanggung.
***
"Jadi ceritanya seperti itu Pak. Saya tidak berniat ataupun sengaja merencanakan ini semua karena saya sendiri pun juga telah ditipu, Pak. Teman yang menjanjikan berlian itu tidak bisa saya hubungi."
Dengan hati-hati, Sonya mencoba menceritakan duduk perkaranya. Ia harus berhati-hati agar apa yang ia sampaikan tidak semakin menyulut api amarah para korban penipuan yang dilakukan oleh Angelica. Suara wanita itu juga terdengar bergetar yang semakin menunjukkan bahwa saat ini ia dibelenggu oleh rasa takut. Takut, jika sampai ia dihakimi secara masal karena dituduh ikut merencanakan penipuan.
"Pokoknya kami tidak mau tahu Pak. Apapun alasannya bu Sonya harus bisa menghadirkan berlian itu, atau kalau tidak dia harus mengembalikan uang kami. Karena uang yang kami keluarkan lebih dari dua puluh juta," seru ibu Sri Waltiyah menjelaskan.
Pak RT mencoba untuk menelaah permasalahan ini. Pada akhirnya, ia pun membuat sebuah keputusan yang bisa menjadi penyelesaiannya.
"Kalau begitu, bu Sonya memang harus bertanggung jawab penuh karena para korban berhubungan langsung dengan Ibu. Jadi, saya minta agar bu Sonya mengembalikan uang ibu-ibu ini."
Sonya terhenyak, tidak menyangka jika dirinya akan menemui kasus seperti ini. "Tapi Pak, bagaimana mungkin saya menggantinya? Saya tidak ikut menikmati uang itu sama sekali. Bahkan saya juga ditipu, Pak!"
"Kami tidak mau tahu Bu. Pokoknya paling lambat satu minggu, uang-uang kami harus kembali tanpa berkurang sepeserpun," timpal seorang ibu bernama Arthi Yuniar menegaskan. Ucapan ibu Arthi inilah yang membuat Sonya semakin menunduk dalam dan hatinya dipenuhi oleh kekalutan yang luar biasa.
Ya Tuhan... aku harus bagaimana? Uang darimana yang harus aku gunakan? Bayu, ya Bayu ... aku harus minta tolong kepada putraku.
.
.
. bersambung...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 104 Episodes
Comments
Rumini Parto Sentono
itulah akibat dari tajam nya lidah mertua.... 😜😜😜
2022-07-29
0
☠ᵏᵋᶜᶟբɾҽҽթαlҽsԵíղαKᵝ⃟ᴸ𒈒⃟ʟʙᴄ
jual ajh bu rumahnya untuk bayar ganti rugi ibu2 komplek wkwk
2022-07-24
3
Maulana ya_Rohman
nah lho.... pusung sendiri🤦
2022-07-21
0