Sonya duduk di depan teras dengan sorot mata yang tidak lepas dari gawai yang berada di dalam genggaman tangannya. Hampir satu jam lamanya, ia mencoba untuk menghubungi salah satu rekan bisnis berliannya namun selama itu pula, tidak ada jawaban dari sang rekan. Kini ia seakan menyerah, setelah berpuluh kali mencoba untuk menghubungi, namun hanya hasil nihil yang ia dapati. Sang rekan bisnis sama sekali tidak mengangkat panggilan ponselnya.
"Aduuhhh ... ini Angelica kemana? Mengapa dia sama sekali tidak menjawab teleponku?"
Meskipun terlihat duduk santai di depan teras, namun rona kecemasan terlukis jelas di wajahnya. Hati wanita itu seakan dipeluk oleh perasaan khawatir yang begitu luar biasa. Semua juga tersirat melalui kakinya yang tiada henti ia hentakkan di lantai sehingga menimbulkan bunyi tuk, tuk, tuk, dari alas kakinya. Tangannya juga terasa begitu dingin yang semakin menandakan ia sedang ketakutan.
"Apakah Angelica menipuku dengan adanya bisnis berlian itu? Apakah saat ini dia membawa lari uangku dan uang ibu-ibu komplek yang sudah aku setorkan kepadanya?"
Berkali-kali Sonya mengusap wajahnya untuk mencoba terlepas dari rasa khawatirnya. Secangkir white coffee di hadapannya pun ia biarkan saja sedari tadi hingga tak lagi panas. Perasaannya yang kalut benar-benar bisa mengalihkan perhatiannya dari aroma white coffee yang sedari tadi ia mengeluarkan sensasi aroma nikmat.
"Tidak, tidak, tidak ... Angelica tidak mungkin menipuku. Aku dan dia adalah sahabat karib jadi tidak mungkin ia tega melakukan ini semua."
Sonya berkali-kali menggeleng-gelengkan kepala untuk membunuh segala prasangka buruk yang muncul tentang sahabatnya. Ia masih berupaya berpikir positif bahwa Angelica memang orang baik dan tidak mungkin menipunya. Namun, tetap saja, semakin ia meyakinkan diri bahwa Angelica adalah orang baik, justru kepingan-kepingan bayang masa depannya yang suram dan menyedihkan justru semakin tergambar jelas. Ia bahkan merasa akan merasakan ke-apesan yang membuatnya terjerembab ke dalam jurang kesusahan.
Mata wanita itu tiba-tiba memanas. Ia lirik penunjuk waktu yang berada di dalam ponsel. Sepuluh menit lagi, kumpulan ibu-ibu yang sudah menitipkan uang mereka untuk membeli berlian akan datang. Karena hari ini merupakan waktu yang telah dijanjikan oleh Angelica untuk menyerahkan berlian setelah inden selama dua bulan lamanya. Sonya semakin didera oleh rasa takut dan cemas, karena di detik-detik terakhir ia harus berhadapan dengan kumpulan ibu-ibu komplek, batang hidung Angelica pun sama sekali tidak nampak. Kali ini Sonya benar-benar merasa telah ditipu oleh sahabatnya sendiri.
"Ya Tuhan ... sekarang aku harus bagaimana? Sepuluh menit lagi mereka akan tiba di rumah dan wujud berlian itu sama sekali tidak ada. Sekarang apa yang harus aku lakukan Tuhan?"
Sonya sibuk bermonolog lirih sembari menggigit-gigit ujung kuku jari telunjuknya. Pikirannya pun sudah tidak lagi fokus dan bercabang-cabang untuk memikirkan apa yang harus ia lakukan. Dan tiba-tiba saja senyum seringai terbit dari bibir Sonya. Ia memiliki sebuah rencana yang ia yakini bisa menjadi jalan keluar dari kepelikan yang ia rasakan.
"Lebih baik aku ikut kabur saja dari sini. Masih ada waktu untukku meninggalkan rumah ini. Aku hanya akan membawa sertifikat rumah dan motor saja. Setelah keadaan aman, aku akan menjual rumah serta motor ini dan aku akan pindah ke rumah Bayu. Ya, aku rasa ini merupakan rencana yang cukup baik."
Sonya merasa kagum akan dirinya sendiri. Karena otaknya masih bisa diajak mencari solusi di detik-detik terakhir keselamatannya. Ia beranjak dari posisi duduknya dan masuk ke dalam rumah untuk mengambil sertifikat rumah dan juga BPKB motor. Setelah semua siap, wanita itupun bergegas untuk pergi dari rumah ini.
Namun, takdir baik nampaknya sedang tidak berpihak pada Sonya. Saat ia akan mengeluarkan motor, kumpulan ibu-ibu komplek sudah datang berbondong-bondong untuk bertemu dengan Sonya. Kedua bola mata Sonya pun hanya bisa membulat sempurna.
"Jeng Sonya .... wah pagi-pagi seperti ini mau kemana Jeng? Bukankah pagi ini kita akan mendapatkan berlian yang sudah kita inden selama dua bulan yang lalu? Kok jeng Sonya malah akan pergi seperti ini?" tanya salah satu kumpulan ibu-ibu yang bernama Aisha.
Sonya hanya mengangguk kikuk. "Tidak kemana-mana Jeng, saya hanya ingin meletakkan motor ini di halaman karena mau saya cuci."
"Mau cuci motor? Tapi kok membawa tas selempang juga Jeng? Jeng Sonya ini benar-benar terlihat seperti seseorang yang akan bepergian," sambung seorang ibu yang bernama Sri Waltiyah mengutarakan pendapatnya.
Sonya semakin terhenyak, ia baru sadar bahwa ia membawa tas selempang. "Astaga ... saya sampai lupa kalau membawa tas selempang ini Jeng. Aduuh .. aku benar-benar sudah tua dan mengalami pikun."
Sonya berkilah sembari meletakkan kembali tas selempang yang ia kenakan. Kali ini, ia benar-benar tidak bisa untuk melarikan diri, karena pergerakan kumpulan ibu-ibu komplek ini sungguh sangat cepat sekali.
"Kalau begitu, masa dari tadi kita tidak dipersilakan untuk masuk Jeng? Masa kita-kita ini hanya dibiarkan berada di depan halaman? Padahal kita ini tamu lho Bu," timpal seorang ibu bernama Candra Rahma tak ingin kalah untuk mengemukakan pendapat.
Sonya tersenyum kikuk sembari menggaruk tengkuknya yang tiada gatal. "Ah iya, saya sampai lupa Bu. Mari-mari silakan masuk Bu-Ibu. Kita ngobrol di dalam!"
Pada akhirnya, Sonya memandu ibu-ibu komplek untuk masuk ke araa ruang tamu. Meskipun tubuhnya sudah sedikit gemetaran dan keringat dinginnya sudah mulai merembes keluar melalui pori-pori kulit, wanita itu mencoba untuk tetap tenang agar tidak menimbulkan kecurigaan.
Ya Tuhan .... semoga Angelica akan menampakkan batang hidungnya di detik-detik terakhir seperti ini. Kalau tidak, hancur sudah hidupku Tuhan...
.
.
. bersambung..
Di Part ini saya pinjam nama kak Aisha, kak Sri Waltiyah dan kak Candra Rahma ya... Hihi hihihihi mohon maaf gak pakai izin dulu😂😂😂 untuk yang lainnya, Insha Allah di part-part berikutnya akan saya masukkan ❤️❤️❤️
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 104 Episodes
Comments
Rumini Parto Sentono
nahh lohh... anak sama emak pada terpuruk semuanya, di dalam harta kita ada hak anak yatim dan fakir miskin ya jadi bersihkan dengan zakat dan sodaqoh.
2022-07-29
0
Maulana ya_Rohman
bikin syok terapi🤔
2022-07-21
0
wanita biasa
wah, wah, wah... ketipu nih si Sonya😆😆😆
2022-07-21
0