Bab. 13 Seharusnya Tak Begini

“Persetan denganmu, Qui congkak! Aku akan membunuhmu malam ini dan memajang kepalamu di aula Guangli!!!” Zhao Juren menyerapah dalam amarah yang meledak.

Dia mengibaskan pedangnya membuat si jubah hijau yang kurang siaga itu terjengkang ke samping sehingga dengan mudahnya Zhao Juren melompat menyerang kearah si Jubah besi.

“Jenderal!!!”

Suara si jubah hijau itu tertahan, tanpa berbalik sedikitpun si jirah besi mengangkat tangannya menahan pedang yang menderu ke arahnya dengan sebuah kipas besi yang tiba-tiba merekah lebar.

“TRANG!!!” bunyi besi bertemu besi membuat percikan api kecil di dalam keremangan malam dan salju yang turun sedikit itu. Salju pertama di penghujung musim gugur!

Zhao Juren bukanlah seorang pembokong, dia hanya berusaha melompat melewati kepala si jubah merah supaya bisa berhadapan dengan orang yang berjalan membelakanginya ini tetapi kipas besi menahannya, membuatnya harus menjejakkan kakinya kembali.

“Jenderal Qui? Apakah kamu yang bersembunyi di balik ketopong besi sialan itu? Seburuk apakah wajahmu sehingga kamu malu untuk membukanya pada musuhmu?” Geram Zhao Juren.

Si jirah besi berbalik, sekarang mereka berdua berhadapan.

“Sriiiiiing!” bunyi kipas besinya di tutup, tapi dia sama sekali tak bersuara, hal ini sungguh memancing emosi Zhao Juren.

Seburuk-buruknya permusuhannya dengan jenderal Qin di masa lalu, tak pernah dia merasa dipermalukan seperti ini.

Beberapa saat kemudian mereka berdua bertukar jurus, gerakan si jirah besi terlihat sangat tenang dan lembut, seolah-olah baju jirahnya seringan jubah. Ilmu peringan tubuhnya tak main-main.

Ilmu pedang Zhao Juren bukanlah ilmu pedang biasa, dia bisa melawan berpuluh prajurit biasa hanya dengan beberapa gerakan,tetapi Jenderal Qui ini jelas bukan orang biasa. Dia terkesan menghindari setiap

cecaran pedang Zhao Juren.

“Jenderal, biarkan aku menghadapinya untukmu!” Wajah Si jubah hijau yang tampan itu merona di pantul cahaya obor dari kejauhan, tetapi jenderal Qui mengibaskan kipas besinya yang keperakan itu dan

menghalaunya dari pertarungannya dengan Zhao Juren.

Zhao Juren melancarkan beberapa serangan sekaligus dari berbagai penjuru tetapi sang jenderal misterius itu tetap memilih bertahan tanpa membalas, dia begitu tenang dan tidak terprovokasi dengan serangan Zhao Juren yang jelas-jelas sangat menuntut lawannya memberikan perlawanan.

Dalam cahaya remang, terpamntul oleh cahaya obor mereka berdua seperti cahaya keperakan yang berdentingan, bergerak serupa bayangan di atas gerbang Doting itu, melayang di udara. Beberapa prajurit yang menyaksikannya hampir tak berkedip. Dua orang ini bukanlah orang sembarangan.

Dalam beberapa saat, terlihat Jenderal Qui mulai kendor, menghindari setiap serangan yang di lancarkan oleh lawan memang bukanlah pilihan yang tepat, apalagi sekelas Zhao Juren. Perlahan gerakan sang jenderal mulai kewalahan, Zhao Juren tak memberinya celah untuk hanya bermain-main.

“Berikan aku sedikit kehormatan, Jenderal. Aku akan menerima seranganmu dengan senang hati.” Zhao Juren menyeringai lebar.

“Ukh!”

Suara itu terdengar serupa keluh, ketika Jenderal Qui terjajar beberapa langkah, mata pedang Zhao Juren hampir\ melukai lehernya.

“Ayolah, berhentilah bersikap seperti seorang yang sok…”Zhao Juren merangsek dengan tak sabar.

“Jenderal!” Teriakan Jubah hijau membahana, memberi peringatan atas serangan Zhao Juren selanjutnya, dia terlihat cemas dalam raut yang tak bisa di sembunyikannya.

Jenderal Qui melompat, terlihat sesaat dia ragu, tetapi kemudian dia menarik pedangnya, Zhao Juren tersenyum menyeringai lebar melihat bagaimana seorang Jenderal Qui yang sombong itu kini bersedia meladeninya.

“Akhirnya…”

Zhao Juren merasa puas dengan  reaksi Jenderal Qui, dia mundur dua langkah memberi ruang kepada jenderal Qui untuk mengayunkan pedangnya.

Saat Zhao Juren begitu fokus pada rasa penasarannya atas jenderal Qui yang terlihat sangat meremehkan dirinya ini, dia sama sekali tak waspada pada puluhan jarum kecil yang diterbangkan dalam kegelapan dari beberapa penjuru dan jelas itu ditujukan padanya. Dengan satu kali putaran jarum-jarum yang merupakan senjata rahasia beracun itu jatuh di atas lantai tembok menimbulkan sura berdentingan.

Beberapa saat kemudian, si jubah hijau mengangkat tangannya, suara desing yang sama datang dari dalam lengan jubahnya. Si jubah hijau berusaha mengambil kesempatan pada kelengahan Zhao Juren, dia membokong

untuk menyerang Zhao Juren dengan senjata rahasia.

“Tahan…!” Suara seorang perempuan melengking seolah datang dari dalam ketopong besi itu, saat Zhao Juren menoleh terpana pada suara itu, sebuah jarum melesat ke arah tengkuknya dan dalam beberapa detik kemudian tubuhnya terasa kaku dan kelu.

“Kenapa kalian membokongnya dengan tidak terhormat? Aku tak memerintah kalian menyerangnya!” Sekarang Zhao Juren antara sadar dan tak sadar merasa yakin jika suara perempuan yang tegas dan tajam itu

berasal dari dalam baju besi di depannya.

Zhao Juren terkejut bukan alang kepalang dengan apa yang di dengarnya, tetapi di saat bersamaan dia merasakan bagian tengkuknya sedikit kebas. Rasa kebas itu menjalar cepat dan dalam sekejap kakinya terasa gemetar, tak bisa menopang berat badannya sendiri.

“Si..si..si…ap..ah…kamuu?” pertanyaan itu dilontarkannya dengan terbata-bata. Entah mengapa dia merasa seperti orang yang tercekat, pangkal lidahnya tiba-tiba kelu luar biasa.

BRUKK!

Zhao Juren tersungkur di tanah, kepalanya terasa seperti di timpa batu besar. Betapa malu dirinya, saat menyadari mungkin nyawanya akan berakhir di tangan musuhnya dengan cara yang begitu hina, dia di keroyok di antara musuhnya dan dilumpuhkan dengan begitu mudahnya. Nama besarnya seolah menguap di antara udara malam yang dingin dan salju yang turun sedikit demi sedikit dari langit.

Di persimpangan diantara hidup dan mati, ketakutan terhadap kematian di hati manusia akhirnya mengungguli hati nurani mereka, tapi Zhao Juren tak takut bertemu maut. Dia hanya merasa begitu rendah, mati di depan seorang yang mungkin adalah perempuan! Suara yang keluar dari balik ketopong besi itu sangat jelas jika itu suara perempuan.

“Aku sudah menyuruhmu pulang…”Saat tubuhnya hampir menyentuh tanah. punggungnya di tangkap oleh tangan Jenderal Qui, tetapi suara perempuan itu begitu dekat dengan telinganya. Dia merasa seseorang berusaha menahan badannya yang berat dengan tubuhnya sendiri, sementara Zhao Juren sendiri kehilangan kemampuan meski itu sekedar untuk menopang tubuhnya.

“Seharusnya tidak perlu begini, jika kamu mendengarku…” suara itu lamat-lamat semakin sayup, menjelma seperti suara Xiao Yi yang manis dan kemudian berganti dengan suara Jiu Fei yang menggoda.

Zhao Juren berusaha membuka matanya tapi begitu beratnya, sebelum dunianya benar-benar lebih pekat dari malam.

Dirinya seorang prajurit, namun tak mampu melindungi dan dirinya sendiri, bayangan penglihatan pada ratusan mayat yang bergelimpangan di medan perang, sinar mata penuh rasa bersalah kepuasan ketika berhasil merenggut nyawa seseorang tanpa sedikitpun rasa bersalah, perasaan-perasaan itu berkecamuk lambat laun tumpeng tindih. Hujan salju tiba-tiba semakin lebat.

“Yi…er…” Sekujur tubuhnya dingin membeku tak bisa bergerak, hanya tangannya yang menggenggam hulu pedang sekuat tenaga sebelum dia tak ingat apa-apa lagi.

Terimakasih telah membaca novel CINTA TERAKHIR ZHAO JUREN ini💜 Yuk berikan VOTE, LIKE dan KOMEN biar Author tambah rajin

Terpopuler

Comments

mama yuhu

mama yuhu

kalau tidak bermain. curang.. pasukan niang akan kalah

2023-04-07

1

nengkirana

nengkirana

bener2 licik...pantas gak pernah menang dri dulu lawan yanzhi....niang pengecut!!!!

2022-09-16

2

Gembelnya NT

Gembelnya NT

Di saat begini msh bisa halu kamu ya 😅😅

2022-08-15

3

lihat semua
Episodes
1 BAB 1. Sejarah Singkat Yanzhie & Niangxi
2 BAB 2. VISUALISASI
3 BAB 3. Hati Yang Sakit
4 BAB 4. Pertempuran Terakhir
5 BAB 5. Cinta Tak Sampai
6 BAB 6. Berharap Bertemu Ujung
7 BAB 7. Istana Bidadari
8 BAB 8. Perang Hari ke-6
9 BAB 9. NAGA TERLUKA
10 BAB 10. Merebut Gerbang Seorang Diri
11 BAB. 11 Mari Bertarung
12 BAB 12. Salju Di Penghujung Musim Gugur
13 Bab. 13 Seharusnya Tak Begini
14 BAB 14. Membuka Mata
15 BAB.15 Perempuan Bercadar
16 BAB. 16 Di Atas Danau Lima Warna
17 BAB. 17 Tiga Pertanyaan
18 Bab. 18 Puteri Xue Lian
19 BAB 19. Menyelamatkan Dua Muka
20 Bab 20. Berhutang Nyawa
21 Bab. 21 Berkabung di Awal Musim
22 BAB. 22 Berjalan Di Garis Takdir
23 BAB. 23 Sebuah Rahasia di Balik Kisah
24 Bab 24. Mata Sebening Berlian
25 Bab 25. Cinta Yang Tak Terungkap
26 Bab 26. Pulang Kembali
27 Bab 27. Ikan Bakar Guo dan Saus Releng
28 Bab. 28 Sembayang Arwah
29 Bab 29. Tuan Seribu Nyawa
30 Bab 30. Setelah Menghilang
31 Bab. 31 Senja di Atas Lantian
32 Bab 32. Mengemban Misi
33 Bab 33. Menjadi hitam di antara Merah
34 Bab 34. Menjelang Pesta Lentera
35 BAB 35. Tak Bisa Kembali
36 BAB 36. Tujuan Yang Sama
37 BAB 37. Puteri Nan Luoxia
38 BAB 38. Menunggu Bertemu
39 BAB 39. Rindu di Bawah Pohon Liu
40 BAB 40. Tetaplah Di Sini
41 BAB 41. Pesta di Aula Wanxiang
42 BAB 42. Kesepian Dalam Keramaian
43 BAB 43. Tangisan Tanpa Suara
44 BAB 44. Pesta Dalam Kesedihan
45 BAB 45. Cemburu Yang Jahat
46 BAB 46. Menyelundup Masuk Istana
47 BAB 47. Mabuk Sampai Pagi
48 BAB 48. Cinta Dan Kesumat
49 BAB 49. Kabar Buruk
50 BAB 50. Jalan Masuk Ke Istana
51 BAB 51. Sandiwara Di Mulai
52 BAB 52. Pelayan Dapur Istana
53 BAB 53. Hukuman Jasad
54 BAB 54. Bijak Dalam Keraguan
55 BAB 55. Menghayati Peran
56 BAB 56. Pertemuan di Dalam Istana
57 Bab 57. Melayani Sang Puteri
58 BAB 58. Permainan Puteri Nan
59 BAB 59. Perempuan Seribu Wajah
60 BAB 60. Perjamuan Harem
61 BAB 61. Pengumuman di Perhelatan
62 BAB 62. Mencari Jalan Melupakan
63 BAB 62. Kebimbangan
64 BAB.63 Akhirnya Berbicara
65 BAB 64. Sandera Politik
66 BAB 65. Kisah Sedih pangeran Nan Yuhuai
67 Bab 66. Meninggalkan Janji di Gunung Beiyu
68 BAB 67. Bagian Dari Permainan
69 Bab 68. Membenci Dalam Senyum
70 Bab 69. Deburan Aneh
71 BAB 69. Sepenggal Ingatan Dari Masa Lalu
72 BAB 70. Takut Rindu
73 BAB 71. Bersembunyi Dalam Selimut
74 BAB 72. Isi Kepala Yang Kacau
75 BAB 73. Cinta Itu...?
76 Bab 74. Cinta Bertepuk Sebelah Tangan
77 BAB 75. Tentang Rasa Kehilangan
78 BAB 76. Mimpi-Mimpi Manis
79 BAB 90. MENANGIS DALAM PELUKAN
80 BAB 78. Pulang Sekali Lagi
81 BAB 79. Sama-Sama Hantu
82 BAB 80. Mari Berjanji
83 BAB 81. Permusuhan Yang Aneh
84 BAB 82. KAPAL KARAM
85 BAB 83.TAK PERNAH SAMA
86 BAB 84. BOLEHKAH AKU MENCINTAIMU
87 BAB 85. PERANG BESAR AKAN DI MULAI
88 BAB 86. MENULIS TAKDIR DENGAN DARAH
89 BAB 87. APA YANG KAMU TUNGGU?
90 BAB 88. MATA YANG SAMA
91 BAB 89. BERKACA DI PERMUKAAN TELAGA
92 BAB 90. MENANGIS DALAM PELUKAN
93 BAB 91. KEKACAUAN TIBA-TIBA
94 BAB 92. REMBULAN SEDINGIN ES
95 BAB 93. KUIL YICHEN
96 BAB 94. INGIN BERTEMU ORANG YANG SAMA
97 BAB 95. Mimpi Darah Menggenang
98 BAB 96. Sumpah Meterai Darah
99 BAB 97. Anak Catur Menuju Tahta
100 BAB 98. Tangga Menuju Langit
101 BAB 99. Menikam Jantung Hati
102 BAB 100. Sebelum Jatuh
103 BAB 101. SIAPA YANG MENYANGKA
104 BAB 102. Giok Naga Hijau
105 BAB 103. AKU PULANG
106 BAB 104. Pulang Ke Tempat Yang Di rindukan
107 BAB 105. Hari Perkabungan
108 BAB 106. Menuntaskan Rasa Usang
109 BAB 107. Mengantar Sampai akhir
110 BAB 108. Memilih Jalan Hidup Sendiri
111 BAB 109. Pusaran Takdir
112 BAB 110. Siapa Pengganti Raja?
113 BAB 111. Rumor Jahat dari Istana
114 BAB 112. Kembali Ke Danau Lima Warna
115 BAB 112. Bunga Juhua Musim Gugur
116 BAB 113. Berpisah di Ujung Ngarai
117 BAB 114. Lukisan Terakhir Yuhuai
118 BAB 115. Melepaskan Rindu
119 BAB 116. Di bawah Lentera Redup
120 BAB 117. Aku melamarmu
121 BAB 118. Mencari Xiao Perak
122 BAB 119. Berpura-pura
123 BAB 120. Tak perlu Mengangkat Telunjuk
124 BAB 121. Bangun Setelah Pemakaman
125 BAB 123. Menyembunyikan Rahasia Besar
126 BAB 124. Cinta Mencurangi Takdir
Episodes

Updated 126 Episodes

1
BAB 1. Sejarah Singkat Yanzhie & Niangxi
2
BAB 2. VISUALISASI
3
BAB 3. Hati Yang Sakit
4
BAB 4. Pertempuran Terakhir
5
BAB 5. Cinta Tak Sampai
6
BAB 6. Berharap Bertemu Ujung
7
BAB 7. Istana Bidadari
8
BAB 8. Perang Hari ke-6
9
BAB 9. NAGA TERLUKA
10
BAB 10. Merebut Gerbang Seorang Diri
11
BAB. 11 Mari Bertarung
12
BAB 12. Salju Di Penghujung Musim Gugur
13
Bab. 13 Seharusnya Tak Begini
14
BAB 14. Membuka Mata
15
BAB.15 Perempuan Bercadar
16
BAB. 16 Di Atas Danau Lima Warna
17
BAB. 17 Tiga Pertanyaan
18
Bab. 18 Puteri Xue Lian
19
BAB 19. Menyelamatkan Dua Muka
20
Bab 20. Berhutang Nyawa
21
Bab. 21 Berkabung di Awal Musim
22
BAB. 22 Berjalan Di Garis Takdir
23
BAB. 23 Sebuah Rahasia di Balik Kisah
24
Bab 24. Mata Sebening Berlian
25
Bab 25. Cinta Yang Tak Terungkap
26
Bab 26. Pulang Kembali
27
Bab 27. Ikan Bakar Guo dan Saus Releng
28
Bab. 28 Sembayang Arwah
29
Bab 29. Tuan Seribu Nyawa
30
Bab 30. Setelah Menghilang
31
Bab. 31 Senja di Atas Lantian
32
Bab 32. Mengemban Misi
33
Bab 33. Menjadi hitam di antara Merah
34
Bab 34. Menjelang Pesta Lentera
35
BAB 35. Tak Bisa Kembali
36
BAB 36. Tujuan Yang Sama
37
BAB 37. Puteri Nan Luoxia
38
BAB 38. Menunggu Bertemu
39
BAB 39. Rindu di Bawah Pohon Liu
40
BAB 40. Tetaplah Di Sini
41
BAB 41. Pesta di Aula Wanxiang
42
BAB 42. Kesepian Dalam Keramaian
43
BAB 43. Tangisan Tanpa Suara
44
BAB 44. Pesta Dalam Kesedihan
45
BAB 45. Cemburu Yang Jahat
46
BAB 46. Menyelundup Masuk Istana
47
BAB 47. Mabuk Sampai Pagi
48
BAB 48. Cinta Dan Kesumat
49
BAB 49. Kabar Buruk
50
BAB 50. Jalan Masuk Ke Istana
51
BAB 51. Sandiwara Di Mulai
52
BAB 52. Pelayan Dapur Istana
53
BAB 53. Hukuman Jasad
54
BAB 54. Bijak Dalam Keraguan
55
BAB 55. Menghayati Peran
56
BAB 56. Pertemuan di Dalam Istana
57
Bab 57. Melayani Sang Puteri
58
BAB 58. Permainan Puteri Nan
59
BAB 59. Perempuan Seribu Wajah
60
BAB 60. Perjamuan Harem
61
BAB 61. Pengumuman di Perhelatan
62
BAB 62. Mencari Jalan Melupakan
63
BAB 62. Kebimbangan
64
BAB.63 Akhirnya Berbicara
65
BAB 64. Sandera Politik
66
BAB 65. Kisah Sedih pangeran Nan Yuhuai
67
Bab 66. Meninggalkan Janji di Gunung Beiyu
68
BAB 67. Bagian Dari Permainan
69
Bab 68. Membenci Dalam Senyum
70
Bab 69. Deburan Aneh
71
BAB 69. Sepenggal Ingatan Dari Masa Lalu
72
BAB 70. Takut Rindu
73
BAB 71. Bersembunyi Dalam Selimut
74
BAB 72. Isi Kepala Yang Kacau
75
BAB 73. Cinta Itu...?
76
Bab 74. Cinta Bertepuk Sebelah Tangan
77
BAB 75. Tentang Rasa Kehilangan
78
BAB 76. Mimpi-Mimpi Manis
79
BAB 90. MENANGIS DALAM PELUKAN
80
BAB 78. Pulang Sekali Lagi
81
BAB 79. Sama-Sama Hantu
82
BAB 80. Mari Berjanji
83
BAB 81. Permusuhan Yang Aneh
84
BAB 82. KAPAL KARAM
85
BAB 83.TAK PERNAH SAMA
86
BAB 84. BOLEHKAH AKU MENCINTAIMU
87
BAB 85. PERANG BESAR AKAN DI MULAI
88
BAB 86. MENULIS TAKDIR DENGAN DARAH
89
BAB 87. APA YANG KAMU TUNGGU?
90
BAB 88. MATA YANG SAMA
91
BAB 89. BERKACA DI PERMUKAAN TELAGA
92
BAB 90. MENANGIS DALAM PELUKAN
93
BAB 91. KEKACAUAN TIBA-TIBA
94
BAB 92. REMBULAN SEDINGIN ES
95
BAB 93. KUIL YICHEN
96
BAB 94. INGIN BERTEMU ORANG YANG SAMA
97
BAB 95. Mimpi Darah Menggenang
98
BAB 96. Sumpah Meterai Darah
99
BAB 97. Anak Catur Menuju Tahta
100
BAB 98. Tangga Menuju Langit
101
BAB 99. Menikam Jantung Hati
102
BAB 100. Sebelum Jatuh
103
BAB 101. SIAPA YANG MENYANGKA
104
BAB 102. Giok Naga Hijau
105
BAB 103. AKU PULANG
106
BAB 104. Pulang Ke Tempat Yang Di rindukan
107
BAB 105. Hari Perkabungan
108
BAB 106. Menuntaskan Rasa Usang
109
BAB 107. Mengantar Sampai akhir
110
BAB 108. Memilih Jalan Hidup Sendiri
111
BAB 109. Pusaran Takdir
112
BAB 110. Siapa Pengganti Raja?
113
BAB 111. Rumor Jahat dari Istana
114
BAB 112. Kembali Ke Danau Lima Warna
115
BAB 112. Bunga Juhua Musim Gugur
116
BAB 113. Berpisah di Ujung Ngarai
117
BAB 114. Lukisan Terakhir Yuhuai
118
BAB 115. Melepaskan Rindu
119
BAB 116. Di bawah Lentera Redup
120
BAB 117. Aku melamarmu
121
BAB 118. Mencari Xiao Perak
122
BAB 119. Berpura-pura
123
BAB 120. Tak perlu Mengangkat Telunjuk
124
BAB 121. Bangun Setelah Pemakaman
125
BAB 123. Menyembunyikan Rahasia Besar
126
BAB 124. Cinta Mencurangi Takdir

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!