Jenderal Virendra dan Venus tiba di istana secara diam-diam. Jenderal Virendra tidak ingin ada yang tahu mengenai Venus yang keluar istana.
Venus sendiri segera menuju kamarnya, gadis itu ingin beristirahat sejenak. Namun, ternyata ada Bibi Matha yang sudah menunggunya.
Ketika melihat Venus yang datang, Bibi Martha segera menyambut gadis itu dengan tangan terbuka. Memeluknya erat, seolah menyalurkan kelegaan yang luar biasa.
"Bibi ... Maaf membuat Bibi khawatir. Aku benar-benar ceroboh, maafkan Venus." Ucap VeVenus penuh sesal.
Bibi Martha melepaskan pelukan, kemudian menatap Venus seolah memastikan keadaan gadis itu baik-baik saja.
"Kau baik-baik saja, kan? Tidak ada yang terluka?" Tanya Bibi Martha sembari memutar tubuh Venus, memastikan keadaan gadis itu.
"Aku baik-baik saja, Bibi. Maaf membuat Bibi khawatir, seharusnya aku tidak berbuat kekacauan seperti ini." Venus menatap Bibi Martha menyesal perbuatan cerobohnya.
"Kau tidak boleh berbuat seperti ini lagi. Bibi hampir saja terkena serangan jantung, Bibi tidak bisa kehilangan kau. Jangan berbuat hal seperti ini lagi, jika ada masalah temuilah Bibi." Ucap Bibi Martha mencubit pelan pipi Venus, memberi hukuman kecil untuk gadis yang sudah dia anggap seperti putrinya sendiri.
"Maafkan aku, Bibi. Ini terakhir kali aku berbuat hal bodoh seperti ini. Masalah apapun itu aku akan mengatasinya sendiri."
"Tidak. Kau tidak boleh mengatasi masalah seorang diri. Ada aku dan suamimu yang akan membantu. Apapun itu, bicarakan pada kami karena itulah tugas kami disisimu."
Venus menatap haru Bibi Martha. Seseorang yang sudah menjaganya dengan begitu baik.
"Baik, Bibi." Jawab Venus dengan senyum cerahnya.
*
*
Disisi lain, Jenderal Virendra tengah duduk di ruangan kerjanya. Mendengarkan dengan seksama laporan dari mata-matanya. Mata-mata yang dia tugaskan untuk mengawasi Putri Selena.
Jenderal Virendra sangat yakin, Putri Selena akan berbuat apa saja demi menjatuhkan Venus. Gadis dari Negara Selatan itu begitu berambisi ingin menikah dengan Jenderal Virendra.
"Mereka berkata, para pemimpin dari Negara lain mulai mendesak. Mereka mempertanyakan bagaimana nasib perjodohan Jenderal dengan Putri Selena." Ucap sang mata-mata memberitahu hasil dari tugasnya memantau Putri Selena.
"Apa lagi yang mereka bicarakan?" tanya Jenderal Virendra.
"Ketua John dan ketua Endo mendesak Putri Selena untuk segera mengambil tindakan. Mereka ingin memperkuat posisi mereka."
Tatapan Jenderal Virendra menajam, seolah ingin membunuh lawannya saat ini juga.
"Cari tahu siapa saja yang mendukung perjodohan gila itu. Terus pantau Putri Negara Selatan itu, lihat tindakan apa yang akan dia ambil setelah ini." Perintah Jenderal Virendra yang segera dilaksanakan sang mata-mata.
Jenderal Virendra masih duduk dengan tenang kursi kerjanya. Ada hal yang saat ini mengganggu pikirannya. Mengenai Putri Selena yang sepertinya diam-diam menaruh seseorang yang memantau setiap gerak gerik Venus .
Jenderal Virendra yakin hal itu. Pertama, entah bagaimana caranya Venus bisa tahu mengenai masalah di luar sana. Kedua, bagaimana bisa Putri Selena tahu Venus kabur dari istana.
Jenderal Virendra semakin yakin, ada seseorang yang dengan berani menyusup masuk ke kediamannya. Satu hal yang Jenderal Virendra yakini, penyusup itu pasti berada di dekat Venus.
*
*
"Nyonya, ya Tuhan. Akhirnya Nyonya kembali." Avi berkata dengan penuh syukur ketika mendapati Venus sudah berada di kediaman Jenderal Virendra.
"Nyonya, apa Anda baik-baik saja? Apakah ada yang menculik, Nyonya?" Tanya Velly, seperti biasa gadis itu tidak bisa mengontrol ucapannya.
Venus tersenyum kecil sebelum menjawab, "aku baik-baik saja."
"Ah, syukurlah. Kami semua khawatir dengan Nyonya yang tiba-tiba saja menghilang." Velly kembali bersuara mengundang tatapan penuh peringatan dari Avi.
"Maaf membuat kalian semua khawatir. Aku baik-baik saja, maaf untuk kekacauan yang sudah ku ciptakan." Ujar Venus memohon maaf dengan tulus.
"Tidak apa-apa, Nyonya. Kami hanya mengkhawatirkan kondisi Nyonya." Kali ini Avi bersuara mencegah Velly yang ingin kembali berbicara.
"Sampaikan maafku pada yang lainnya. Katakan aku baik-baik saja, hanya ada sedikit kesalahpahaman." Ucap Venus disertai senyum menenangkannya.
"Baik, Nyonya." Jawab Avi dan Velly bersamaan.
"Kalau begitu kalian pergilah, aku ingin beristirahat dulu. Hari ini sangat melelahkan." Venus segera mempersilahkan kedua pelayannya untuk pergi.
Sepeninggalnya Avi dan Velly, Venus mengubah ekspresi wajahnya. Mata biru gadis itu terlihat begitu tegas, seolah menyimpan amarah di dalamnya.
"Ingin bermain-main denganku rupanya." Bisik Venus penuh teka teki.
TBC
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 80 Episodes
Comments
RINAWATI AZZA
avi ato velly ya penyusup suruhan dr putri selena...
2022-07-26
2
Lhia
lanjut
2022-07-26
2