Jenderal Virendra tahu ada yang tidak beres. Entah mengapa dia merasa ada yang terus membicarannya dibelakang.
“Ada apa, Jenderal?” Tanya Letnan Dean saat menyadari ada hal yang tidak beres dengan Jenderal Virendra.
“Tidak, aku hanya lupa memberitahumu bahwa Sean akan segera kembali ke istana.” Ucap Jenderal Virendra mengalihkan perhatian Letnan Dean.
“Bagaimana bisa, Jenderal? Maksud saya, Sean bukan orang yang suka tinggal di istana.” Letnan Dean berkata dengan bingung.
“Aku sudah memberinya tugas khusus dan dia setuju untuk menjalankannya. Mungkin sudah waktunya dia untuk kembali ke istana.”
Letnan Dean terdiam, memang benar mungkin sudah waktunya Sean untuk kembali karena saudara kembarnya itu sudah terlalu lama hidup di luar.
“Kalau boleh tahu, tugas apa yang Anda berikan Jenderal?” tanya Letnan Dean.
“Belum saatnya kau tahu. Sekarang ada yang lebih penting, mengenai krisis kepercayaan di Benteng Blue City.” Jenderal Virendra kembali mengalihkan pembicaraan membuat Letnan Dean terpaksa menekan rasa ingin tahunya.
“Saya mendengar ada beberapa orang penting yang tidak menyukai kabar penikahan Jenderal. Mereka ingin Jenderal menikah dengan Putri Selena, karena itulah mereka tidak menyukai pernikahan Anda.”
“Aku sudah lebih dulu menduganya karena itulah aku memintamu untuk membuat pasukan khusus. Orang-orang yang setia pasti akan tetap mendukung keputusaku bukan malah mempertanyakan keputusanku."
"Saya akan segera mencari tahu, Jenderal. Mengenai pasukan khusus, mereka sudah bersiap menunggu perintah dari Anda."
"Belum sekarang, aku ingin bermain-main sejenak." Ucap Jenderal Virendra dengan seringai menyeramkannya.
*
*
Venus menatap bingung pada pelayan baru yang sepertinya berusia tidak jauh berbeda dengan Venus. Yang membuat Venus bingung adalah mengapa bisa ada pelayan baru di kediaman Jenderal Virendra.
"Siapa namamu?" tanya Venus.
"Nama saya Velly, Nyonya." Gadis muda itu membungkuk penuh hormat.
"Apakah Jenderal Virendra yang mengirimmu kemari?" tanya Venus lagi.
"Benar, Nyonya."
"Baiklah, kau boleh pergi. Aku ingin beristirahat dulu, tolong katakan pada Avi untuk beristirahat juga." Venus segera berlalu menuju kamarnya.
Sejujurnya dia agak bingung dengan tindakan Jenderal Virendra, pria itu tidak mengatakan hal apapun mengenai pelayan baru.
Rasa penasaran akan pelayan baru itu membuat Venus memutuskan untuk menunggu kedatangan Jenderal Virendra. Beruntung tidak lama kemudian pria itu datang.
Venus segera menyambut seperti biasa. Meski sampai detik itu gadis itu belum berani membuka cadarnya di hadapan Jenderal Virendra, dia tetap menjalankan kewajibannya.
"Jenderal, begini ada yang ingin Venus tanyakan." Venus membuka percakapan seraya menunggu Jenderal Virendra selesai berpakaian.
"Ada apa?" tanya Jenderal Virendra tanpa melihat kearah Venus.
"Mengenai pelayan baru, apakah Jenderal yang mengirimnya?"
"Benar, aku lupa memberitahumu. Pelayan itu aku tugaskan untuk menemanimu, usianya tidak jauh berbeda denganmu karena itu mungkin dia bisa menjadi temanmu."
"Tapi, Jenderal sudah ada Avi yang menemani Venus. Bagi Venus cukup dengan Avi." Venus menjawab pelan takut Jenderal Virendra tersinggung.
"Aku mengirimnya untuk menemanimu, kupikir kau suka jika ada teman baru." Ucap Jenderal Virendra membuat Venus akhirnya mengalah.
"Baiklah, Jenderal. Aku menerimanya, terima kasih atas perhatian Jenderal." Ucap Venus pada akhirnya membuat Jenderal Virendra diam-diam tersenyum kecil.
"Jenderal, maaf mengganggu. Ada sesuatu yang ingin sama sampaikan." Suara Letnan Dean membuat Jenderal Virendra segera mengalihkan perhatiannya.
Jenderal Virendra meminta Venus untuk beristirahat lebih dulu. Setelahnya Jenderal Virendra segera menemui Letnan Dean yang sedang menunggunya.
"Ada apa?" Tanya Jenderal Virendra langsung setelah mereka berada di tempat sepi.
"Saya mendengar gosip tidak baik yang beredar." Jawaba Letnan Dean mengundang kerutan didahi Jenderal Virendra.
"Apa kau sekarang mengurus gosip juga?" tanya Jenderal Virendra.
"Maaf Jenderal, ini gosip mengenai pernikahan Anda." Letnan Dean menunduk penuh hormat.
"Baiklah, katakan ada apa?"
"Gosip yang beredar adalah Anda memaksa Nyonya untuk menikah, serta mengancam keluarga Nyonya untuk merestui pernikahan kalian. Hal itu dibuktikan dengan ketidakhadiran keluarga Nyonya dipernikahan kalian."
Jenderal Virendra mendengus marah, "lelucon macam apa itu?"
"Satu lagi Jenderal, gosip ini mengenai hubungan pernikahan Anda. Mereka bilang Nyonya tidak ingin melayani Anda dan karena gosip itulah masyarakat mulai membenci Nyonya. Mereka pikir Nyonya tidak pantas menjadi istri Anda karena tidak mau memberi keturunan."
Jenderal Virendra semakin dibuat marah oleh gosip-gosip murahan itu.
"Cari tahu siapa dalangnya. Jangan sampai kabar ini sampai di kediamanku dan pastikan orang-orang yang berada di kediamanku tidak bisa keluar. Aku yakin ada tikus kecil yang sedang bersembunyi."
"Baik, Jenderal akan saya laksanakan." Letnan Dean memberi hormat dan segera berlalu menjalankan tugasnya.
Jenderal Virendra menatap kediamannya dari jauh. Memikirkan siapa tikus kecil yang berani bbermain-main dengannya. Sebenarnya sudah ada satu nama, namun Jenderal Virendra memerlukan bukti kuat untuk menangkap tikus kecil itu.
TBC
Rekomendasi novel menarik karya author Kaka Shan
yuk mampir dan jangan lupa dukungannya 😊
Judul : BUKAN DIJODOHKAN
*Blur :
Awalnya Alea hanya ingin memberikan kesan baik agar dapat memenangkan hati dua calon investor bagi proyek yang dia tangani. Mereka adalah CEO muda dari dua perusahaan berbeda. Namun, siap sangka jika lewat rencana itu Alea malah membuat kedua CEO itu tertarik padanya.
Alih-alih mengutamakan masalah kerja sama, kedua CEO tampan itu malah berlomba-lomba mendapatkan hati Alea. Lantas, siapakah yang akan memenangkan hati Alea? CEO Anderson yang terkenal sebagai Don Juan sejati Atau CEO Arga's Air yang pembawaannya begitu sholeh dan manley*?
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 80 Episodes
Comments