Di kediamannya Venus tidak berhenti berjalan bolak-balik, sesekali menatap ke arah pintu menanti kehadiran Bibi Martha. Venus benar-benar gelisah, Bibi Martha sudah lama pergi dan belum kembali.
"Ada apa, Nona?" Tanya salah satu pelayan yang biasa melayani Venus.
"Tolong cari tahu keadaan Bibi Martha. Aku tidak bisa keluar, Bibi melarangku meninggalkan kediaman." Pinta Venus memelas.
Pelayan bernama Avi itu segera mengangguk, dia memang bertugas menjalankan apapun perintah Venus.
"Baik, Nona. Tapi, saya mohon Nono segera masuk ke dalam dan beristirahat." Ucap Avi pelan seperti berbicara pada seorang anak kecil.
"Baiklah," Venus menyerah dan segera menuruti ucapan Avi.
Avi memang pelayan Venus, namun, Bibi Martha sudah memberi perintah bahwa apapun yang Avi suruh demi kebaikan Venus maka harus segera dituruti tanpa bantahan.
Dimata Bibi Martha, Venus adalah gadis kecil meski usia gadis itu sudah menginjak 18 tahun. Bibi Martha akan selalu menjaga gadis itu sebagai mana menjaga putri kandungnya sendiri.
Tidak lama, Bibi Martha datang. Wanita paruh baya itu tampak gelisah mengingat apa yang diinginkan Jenderal Virendra.
Avi yang melihat hal itu memilih diam, dia jelas tidak memiliki hak untuk bertanya dan ikut campur.
*
*
Di kediamannya, Jenderal Virendra tengah termenung memikirkan sosok gadis bermata biru. Beberapa hari sejak pertemuan pertamanya dengan gadis itu, Jenderal Virendra terus memikirkan mata birunya yang begitu jernih.
Terlalu larut dengan lamunannya membuat Jenderal Virendra tidak mendengar suara ketukan pintu.
“Jenderal! Mohon maaf ini saya, Letnan Dean.” Suara teriakan Letnan Dean akhirnya membuat Jenderal Virendra tersadar.
“Masuk!" Perintah Jenderal Virendra dengan tegas.
Letnan Dean segera masuk dan langsung memberi hormat ala militer.
"Maafkan saya Jenderal, saya tidak bermaksud mengganggu waktu istirahat Anda. Hanya saja, ada tamu dari Departemen Timur dan Barat serta perwakilan Negara Barat."
Jenderal Virendra sudah tahu dengan pasti apa maksud kedatangan para tamunya itu. Dengan segera Jenderal Virendra menyiapkan dirinya dan meminta Letnan Dean untuk pergi bersamanya.
Sepanjang jalan, raut wajah Jenderal Virendra begitu menakutkan. Sorot matanya begitu tajam, bahkan Letnan Dean takut untuk sekedar mengajak bicara.
"Salam hormat, Jenderal!" Seru para tamu memberi hormat pada Jenderal Virendra begitu pria itu masuk ke dalam aula pertemuan.
"Aku harap kalian menyampaikan sesuatu yang penting, sampai-sampai begitu berani mengganggu waktu istirahatku." Ucapan Jenderal Virendra membuat para tamu sedikit tegang.
Ini memang sudah malam hari dan mereka baru memiliki waktu untuk datang berkunjung. Selain itu, ada hal penting yang ingin mereka bahas.
"Maafkan kami, Jenderal. Kami ingin mengadakan rapat penting dengan Anda. Hal ini menyangkut kekuatan politik Negara kita." Ujar John mewakili para tamu. John adalah kepada departemen politik Barat.
"Katakan dengan singkat karena aku tidak punya banyak waktu." Jenderal Virendra segera duduk, menunggu hal apa yang akan disampaikan oleh orang-orang penting ini.
"Begini Jenderal, Anda sudah menjabat selama dua tahun dan sampai saat ini Anda belum memiliki pendamping. Kami hanya takut hal ini akan merusak kepercayaan Negara lain yang ingin bekerja sama dengan Negara Aleister."
Jenderal Virendra menatap sinis, "Apa urusannya pendampingku dengan kepercayaan Negara lain?"
"Mereka takut Anda tidak bisa segera memberi pewaris tahta tepat waktu. Anda tahu, selama beberapa tahun Negara Aleister-"
Ucapan itu terhenti ketika Jenderal Virendra dengan marah memukul meja. Suasana menatap tegang, Letnan Dean segera bersiap takut jika terjadi hal diluar kendali.
"Berani sekali mereka mengungkit masa lalu Negara Aleister! Lancang!" Teriak Jenderal Virendra murka.
Jenderal Virendra tidak suka jika ada orang lain yang membahas masa lalu Negara Aleister, hal itu dikarenakan menyangkut kisah orang tuanya.
"Jenderal, saya mohon-" Lagi-lagi Jenderal Virendra memukul meja, tidak suka jika ada yang berniat membantah.
"Katakan pada orang-orang itu, aku akan segera menikah. Secepatnya ... tapi, harus kalian ingat. Dengan siapa aku menikah, kalian tidak boleh ikut campur."
Usai mengatakan hal itu Jenderal Virendra segera pergi, meninggalkan para tamu yang menghela napas lega.
Mereka berpikir setidaknya Jenderal Virendra mau menikah. Dengan siapapun Jenderal Virendra menikah mereka tidak akan ikut campur, karena mereka yakin calon istri Jenderal Virendra adalah gadis terbaik.
*
*
Jenderal Virendra berdiri tegak di bawah pohon, matanya memperhatikan gerak gerik seseorang. Di samping Jenderal Virendra ada Letnan Dean yang dengan setia menemani.
"Katakan secepatnya pada Martha, aku akan menikahi gadis bermata biru itu." Ucap Jenderal Virendra kemudian pergi begitu saja.
Letnan Dean hanya menatap bingung, dia tidak mengerti jalan pikiran Jenderal Virendra. Letnan Dean tahu siapa gadis uang dimaksud Jenderal Virendra, tapi, demi Tuhan gadis itu masih begitu muda.
Orang-orang politik dan Negara Barat serta Negara Selatan pasti akan mengkritik keputusan Jenderal Virendra.
Namun, Letnan Dean tentu tidak berhak ikut campur. Dia yakin Jenderal Virendra pasti sudah memikirkan rencana ini dengan matang.
Dengan langkah yakin, Letnan Dean berjalan menuju kediaman Bibi Martha. Bermaksud menyampaikan pesan sang Jenderal.
"Bibi Martha!" Panggil Letnan Dean membuat Bibi Martha dan Venus yang tengah berbincang segera menoleh.
Bibi Martha tahu ada hal penting yang ingin disampaikan Letnan Dean, karena itulah dia segera memberi kode pada Venus untuk masuk ke dalam kamar.
"Ada apa Letnan?" Tanya Bibi Martha setelah memastikan Venus maka ke dalam kamarnya.
"Jenderal menitip pesan penting. Jenderal akan segera menikahi gadis bermata biru itu." Ucap Letnan Dean menyampaikan pesan dari Jenderal Virendra.
"Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa tiba-tiba seperti ini?" tanya Bibi Martha.
"Orang-orang politik mendesak Jenderal untuk segera menikah. Saya tidak tahu alasan Jenderal memilih gadis bermata biru itu."
Bibi Martha menghela napas lelah, jujur saja dia tidak rela melepas Venus yang masih begitu muda.
"Saya akan segera menemui Jenderal. Tolong sampaikan pada Jenderal, saya akan segera berkunjung."
Letnan Dean mengangguk dan segera berpamitan menuju kediaman Jenderal Virendra.
Bibi Martha tidak tahu harus bagaimana menghadapi Jenderal Virendra yang terkenal keras kepala itu. Oh Venus yang malang, gadis itu masih terlalu muda untuk menghadapi beratnya melawan kekuasaan dan keserakahan orang-orang.
TBC
Rekomendasi novel menarik karya author senja_90
jangan lupa mampir dan dukung karyanya ya 😊
Judul : DIKHIANATI KARENA TAK KUNJUNG HAMIL
*Blurb : Kehamilan merupakan sebuah impian besar bagi semua wanita yang sudah berumah tangga. Begitu pun dengan Arumi. Wanita cantik yang berprofesi sebagai dokter bedah di salah satu rumah sakit terkenal di Jakarta. Ia memiliki impian agar bisa hamil. Namun, apa daya selama 5 tahun pernikahan, Tuhan belum juga memberikan amanah padanya.
Hanya karena belum hamil, Mahesa dan kedua mertua Arumi mendukung sang anak untuk berselingkuh.
Di saat kisruh rumah tangga semakin memanas, Arumi harus menerima perlakuan kasar dari rekan sejawatnya, bernama Rayyan. Akibat sering bertemu, tumbuh cinta di antara mereka.
Akankah Arumi mempertahankan rumah tangganya bersama Mahesa atau malah memilih Rayyan untuk dijadikan pelabuhan terakhir?
Kisah ini menguras emosi tetapi juga mengandung kebucinan yang hakiki. Ikuti terus kisahnya di dalam cerita ini!
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 80 Episodes
Comments
Mam Lilu
ini setting nya di negara mna thor
2022-07-17
1
putrirhaya
awal bucinya jendral ya thor
2022-07-14
2