"Mengapa kau bisa berbicara seperti itu, Venus?" Tanya Jenderal Virendra yang mulai menaruh curiga.
...----------------...
"Apakah, Jenderal tidak merasa ada yang aneh dengan hubungan kita? Bahkan hanya sekedar makan bersamapun tidak pernah kita lakukan." Venus berkata dengan sangat berani, gadis itu saat ini terlihat tangguh.
"Ada orang yang menghasutmu? Mengapa kau bisa berbicara seperti itu?" Jenderal Virendra menatap Venus dengan tajam, mencari tahu apa yang sebenarnya disembunyikan oleh Venus.
"Venus hanya berbicara seperti apa yang Venus rasakan. Itu sebuah kenyataan, Jenderal." Jawab Venus tenang.
"Tidak ada yang aneh dengan hubungan kita. Sebenarnya apa yang ingin kau coba sampaikan?" Jenderal Virendra masih berusaha untuk mencaritahu apa yang telah terjadi.
"Tidak ada, Jenderal. Venus hanya menyampaikan apa yang sebenarnya terjadi." Venus kembali menjawab dengan tenang. Namun, Jenderal Virendra tentu tidak percaya begitu saja.
Menghela napas, Jenderal Virendra akhirnya memilih mengalah. Dia akan mencari tahu sendiri siapa yang berani menghasut Venus.
"Baiklah, kita mulai kembali hubungan ini. Pertama-tama, kita akan memulai dari mana?" Tanya Jenderal Virendra menatap Venus dengan dalam.
"Mungkin dengan memberikan sedikit waktu Jenderal untuk Venus." Venus menjawab dengan malu-malu.
Bagaimanapun, ini pertama kali mereka membahas hubungan keduanya. Tentu saja Venus malu, apalagi dia yang memulai pembahasan ini.
"Akan aku coba. Mungkin bisa memulai dengan makan malam bersama." Ucap Jenderal Virendra dengan pelan.
Venus hanya mengangguk lemah, dia masih merasa canggung.
"Baiklah, untuk sekarang kau bisa istirahat lebih dulu. Ada pekerjaan yang harus aku selesaikan." Putus Jenderal Virendra yang justru ditolak oleh Venus.
"Aku akan menemani, Jenderal. Mungkin kehadiranku tidak berarti apa-apa, tapi Venus ingin menemani Jenderal sebagai seorang istri yang menemani suaminya."
Sesaat Jenderal Virendra tertegun, jantungnya berdebar kencang. Dulu, dia melihat sang Ibu yang menemani Ayahnya menyelesaikan pekerjaan. Dia sangat ingat, bahwa tanpa sadar dia ingin mendapatkan perhatian seperti itu setelah menikah.
Saat ini, Venus mau mewujudkan keinginan kecilnya. Jenderal Virendra merasa hal kecil ini ternyata bisa menghangatkan hatinya.
"Baiklah, temani aku bekerja disini." Ucap Jenderal Virendra setelah berhasil menenangkan debaran di dadanya.
Venus tersenyum lebar, merasa permintaan kecilnya dihargai oleh Jenderal Virendra. Sedangkan Jenderal Virendra kembali dibuat tertegun melihat mata biru Venus yang tampak bersinar saat tersenyum.
Sepertinya pengantin baru ini sedang dilanda asmara. Perlahan cinta itu menyusup ke hati mereka tanpa mereka sadari.
*
*
Pagi harinya, Jenderal Virendra dibuat cukup terkejut dengan kehadiran Letnan Dean yang terlihat tergesa-gesa.
"Lapor, Jenderal!" Letnan Dean yang baru saja datang segera memberi hormat. Pria kepercayaan Jenderal Virendra itu ingin menyampaikan sesuatu.
"Ada apa?" Tanya Jenderal Virendra, mengalihkan perhatian dari setumpuk dokumen di hadapannya.
"Beberapa warga sudah mulai menunjukkan protes. Mereka melakukan demo, mempertanyakan alasan Jenderal menikahi gadis berusia delapan belas tahun."
Jenderal Virendra menatap tajam pada Letnan Dean yang masih berdiri dengan tegak. Pria itu tidak terlihat takut.
"Temui Sean dan katakan padanya untuk menggerakkan sebagian warga yang memihak padaku." Perintah Jenderal Virendra tegas, namun pemimpin Negara Aleister itu masih terlihat tenang.
"Baik, Jenderal!" Letnan Dean memberi hormat dan segera pergi melaksanakan perintah Jenderal Virendra.
Jenderal Virendra segera meninggalkan ruang kerjanya. Dia akan menemui Venus dan memastikan istrinya itu belum mendengar berita buruk ini.
Sayangnya, diperjalanan Jenderal Virendra justru bertemu dengan Bibi Martha. Wanita paruh baya itu menatap tidak suka pada Jenderal Virendra.
"Bukankah sudah saya katakan Jenderal, bahwa Venus masih terlalu muda untuk menikah." Bibi Martha membuka percakapan membuat Jenderal Virendra menghentikan langkahnya.
"Aku bisa menangani ini, Martha. Simpan rasa khawatirmu." Desis Jenderal Virendra, menatap tajam Bibi Martha.
"Saya mengkhawatirkan seorang anak yang telah saya besaran seperti putriku sendiri." Jawab Bibi Martha dengan berani.
"Kau terlalu berlebihan, aku bisa menangani masalah ini. Yang perlu kau lakukan adalah menutup mulut orang-orang di sekitar Venus agar tidak menyampaikan berita sampah ini."
Jenderal Virendra segera pergi, melanjutkan niatnya untuk menemui Venus. Dia harus memastikan bahwa Venus belum mengetahui masalah ini.
Bibi Martha sendiri hanya menatap kepergian Jenderal Virendra sambil mengelus dada. Jenderal Virendra begitu angkuh dan percaya diri. Mungkin pria itu lupa bahwa dia sendirilah sumber masalah untuk Venus.
"Semoga Venus selalu dilindungi dari orang-orang jahat dan selalu bahagia." Bisik Bibi Martha, memohon dia yang terbaik untuk Venus.
TBC
Rekomendasi novel keren karya author Alviesha_athninamisy
mampir dan jangan lupa dukungannya 😊
Judul : CINTA COOL DAN BARBAR
Blurb
Aliando Ivander sang idola sekolah. Dia mencintai murid baru yang ada di sekolahnya. Tepat di hari pertama gadis itu sekolah, dia langsung menyatakan perasaannya.
"Aku tidak minta persetujuanmu dan aku tidak menerima penolakan!" Itu kalimat andalannya.
Alisha Leandra gadis cantik murid pindahan dengan terpaksa harus menjalin hubungan dengan Aliando. Bagaimana dia menghadapi fans gilanya Aliando? Bagaimana akhirnya dia bisa menerima Aliando? dan apakah misteri kehidupan Alisha bisa diterima oleh Aliando? Karena ternyata Aliando bukan satu-satunya pria dalam hidupnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 80 Episodes
Comments
Mam Lilu
venus tuh sebnernya anak siapa
2022-08-13
1
putrirhaya
masih blm bisa nebak alurnya gimn apa aq nya yg g paham alurnya ya thor
2022-07-15
2