Jenderal Virendra tidak main-main dengan ucapannya. Ketika Bibi Martha datang menemui Jenderal Virendra, pria itu sudah menyiapkan jawaban yang tidak bisa dibantah oleh Bibi Martha.
Mau tidak mau, Bibi Martha harus merelakan Venus menikah diusia muda.
"Bibi ... Bibi Martha!" Venus berteriak memanggil Bibi Martha.
"Ada apa, Venus. Kenapa berteriak seperti itu?" Tanya Bibi Martha lembut, dia sudah terbiasa menghadapi sikap menggebu-gebu Venus.
"Mereka bilang ... mereka bilang, Venus mau menikah. Apa itu benar Bibi?" Venus bertanya pelan, memastikan berita yang beredar tidaklah benar.
Bibi Martha terdiam sejenak sebelum menjawab dengan ragu, "Benar, kau akan segera menikah."
Jawaban Bibi Martha membuat Venus terkejut, bagaimana bisa dia menikah saat usianya baru 18 tahun.
"Tapi ... Bibi ... Bagaimana ini bisa terjadi? Venus tidak memiliki kekasih. Bagaimana bisa Venus menikah?" Tanya Venus tidak mengerti.
Bibi Martha memaksakan senyuman agar menenangkan Venus.
"Jenderal Virendra akan menikahimu." Jawaban tenang dari Bibi Martha semakin membuat Venus terkejut.
"A-apa? Bagaimana mungkin? Ini mustahil, Bibi!" Venus melotot tidak percaya.
"Semua mungkin saja terjadi, Venus. Apa yang mustahil di dunia ini? Jika Tuhan berkehendak, semua akan menjadi mungkin."
"Tapi, Bibi maksudku bukan itu. Bibi tahukan dia seorang Jenderal dan Venus hanya gadis biasa."
Bibi Martha tersenyum, "percaya pada Bibi."
Bibi Martha terus berusaha meyakinkan Venus, meski hatinya sendiri meragu. Venus masih begitu kecil, begitu polos dan apa adanya. Dia takut Venus akan dimanipulasi orang-orang serakah.
*
*
Kabar mengenai pernikahan Jenderal Virendra sungguh mengejutkan banyak orang. Namun, yang lebih mengejutkan adalah calon istri Jenderal Virendra.
Departemen politik Mila bertanya-tanya, apa yang sebenarnya direncanakan oleh Jenderal. Untuk itulah Departemen politik Barat dan Timur segera meminta diadakannya rapat.
"Jenderal, kami mendengar berita mengejutkan. Apakah benar Anda akan menikah dengan gadis berusia delapan belas tahun?" Tanya Endo, kepala Departemen politik Timur.
"Benar, lalu apakah tujuan kalian mengadakan pertemuan ini hanya untuk mencari tahu kebenaran berita itu?" Jenderal Virendra menatap sinis para elit politik yang haus akan kekuasaan.
"Mohon maaf Jenderal, Anda jelas sangat tahu mengapa kami mempertanyakan keputusan Anda." Kali ini John bersuara, mengutarakan keresahannya.
"Sudah ku peringatkan untuk tidak ikut campur mengenai pernikahanku. Apakah kalian berniat menentang?" Jenderal Virendra berucap dingin membuat siapa saja yang mendengarnya menggigil ketakutan.
"KAMI TIDAK BERANI, JENDERAL!" Ucap mereka kompak mengundang kepuasan Jenderal Virendra.
"Kalau begitu, tutup mulut kalian semua!" Jenderal Virendra berteriak penuh peringatan.
"Bagaimana dengan Putri dari Negara Selatan? Anda tahu perjodohan Anda dan -" Ucapan Endo terpotong saat Jenderal Virendra dengan marah melempar gelas hingga hancur berkeping-keping.
"Siapa yang berani mengaturku akan bernasib sama dengan gelas itu!" Jenderal Virendra mengancam dengan sungguh-sungguh.
Tanpa berniat melanjutkan pembicaraan, Jenderal Virendra segera pergi meninggalkan aula.
Jenderal Virendra begitu marah karena pertentangan yang orang-orang itu lakukan. Mereka seolah meragukan keputusan Jenderal Virendra.
Jenderal Virendra sangat tahu alasan dibalik perjodohannya dengan Putri dari Negara Selatan. Dia tidak sudi jika harus menikahi gadis yang akan dijodohkan dengannya.
*
*
Venus duduk merenung di halaman kediamannya. Memikirkan nasibnya yang harus menikah dengan Jenderal Virendra. Seorang Jenderal yang terkenal kejam.
Venus tidak tahu alasan mengapa dia harus menikah dengan Jenderal Virendra. Mereka bahkan baru bertemu satu kali dan pertemuan itu tidaklah berkesan.
Venus terlalu asik merenung, hingga tidak sadar ada seseorang yang tengah memperhatikannya dari jauh.
Dia adalah Jenderal Virendra. Pria itu berdiri di bawah pohon sembari mengamati Venus. Entah apa yang ada dipikirannya.
"Maafkan aku karena kau harus terlibat seperti ini." Ucap Jenderal Virendra pelan.
Jenderal Virendra sesungguhnya menyesal telah menyeret gadis bermata biru itu. Terlebih usia gadis itu masih terlalu muda.
Jenderal Virendra juga tahu akan banyak pertentangan mengenai keputusannya ini. Namun, dia tidak akan mundur. Dia akan tetap pada keputusannya, yaitu menikahi gadis itu.
Jenderal Virendra juga tahu bahwa orang-orang di Negara Aleister sangat menentang pernikahan gadis dibawah usia 20 tahun.
Bagi mereka usia dibawah 20 tahun sangat rentan dan beresiko besar jika melahirkan. Negara Aleister sangat menjaga anak-anak gadis dibawah usia 20 tahun.
Namun, saat ini Jenderal Virendra pemimpin Negara Aleister justru melanggarnya. Jenderal Virendra justru memaksa untuk mempercepat pernikahannya dengan gadis berusia 18 tahun.
Tidak ada yang tahu apa rencana Jenderal Virendra sebenarnya. Mereka hanya bisa menebak-nebak tanpa tahu jawaban pastinya.
TBC
Rekomendasi novel keren dan menarik karya author CovieVy
yuk mampir dan dukung karyanya ya..
Judul : AKHIR PERNIKAHAN DINI
*Blurb :
Seperti biasanya, Bang Alan pulang kerja ketika Azan Subuh mulai menggema. Saat itu pula aku mulai bekerja mengais rezeki sebagai buruh cuci, pakaian para tetangga.
Sebelum mencuci pakaian orang lain, aku memprioritaskan mencuci pakaian keluargaku sendiri. Namun, aku sungguh dikejutkan oleh benda keramat dari kantong celana yang digunakan suamiku tadi malam.
Benda itu merupakan sebuah bekas bungkus ****** yang dulu sering aku lihat di televisi. Ini milik siapa? Kenapa ada di kantong celana milik suamiku*?
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 80 Episodes
Comments
SoVay
aku fav dan like ya kak, terima kasih sudah bantu promo ya 😇😇😇 mari sama2 berjuang 😇😇😇
2022-07-06
3