Jenderal Virendra tahu ada yang tidak beres. Ketika Sean terpaksa meninggalkan tugas mengawasi Venus, Jenderal Virendra merasa ada seseorang yang memanfaatkan situasi.
Saat Sean kembali mengawasi Venus, ternyata mereka sudah kecolongan. Ada seseorang yang berhasil memengaruhi Venus. Sean juga mengatakan, para pelayan mulai membicarakan Venus.
"Maaf, Jenderal. Saya mohon ampun karena telah mengecewakan Anda." Sean segera berlutut memohon ampun setelah melaporkan apa yang terjadi di kediaman Jenderal Virendra.
"Dalam hal ini aku juga bersalah. Seharusnya aku mengawasi orang-orang di sekitar Venus. Lupakan kejadian ini, mulai besok perketat penjagaan." Ucap Jenderal Virendra memilih melupakan kejadian hari ini.
"Siap, Jenderal!" Sean segera memberi hormat dengan patuh.
"Awasi para pelayan di kediamanku, termasuk kedua pelayan utama Venus. Aku rasa tidak menutup kemungkinan salah satu dari mereka adalah pengkhianat."
"Siap, Jenderal. Perintah akan segera saya laksanakan!" Sean kembali memberi hormat.
Jenderal Virendra segera menyuruh Sean menjalankan perintahnya. Pria itu tidak ingin kembali kecolongan.
Jenderal Virendra yakin, sebentar lagi pengkhianat itu akan tertangkap. Tapi, sebelum memberi hukuman, Jenderal Virendra akan bermain sebentar.
Bagi Jenderal Virendra, seorang pengkhianat tidak akan ada kata ampun. Hukuman untuk seorang pengkhianat jauh lebih kejam.
*
*
Venus mendapatkan surat. Sebuah surat dari Putri Selena yang memberitahu tentang keadaan di luar. Awalnya Venus tidak ingin mempercayai isi surat itu. Namun, semalam dia mendengar beberapa pelayan membicarakan dirinya.
Ternyata isi surat Putri Selena benar. Rakyat Negara Aleister tidak menerima dirinya. Selain karena usianya, juga status sosialnya adalah alasan utama.
Venus hanya seorang anak yatim piatu yang beruntung dirawat sepenuh hati oleh Bibi Martha. Wanita yang dulunya pengasuh Jenderal Virendra, seseorang yang juga dihormati di istana ini.
"Apa yang kau pikirkan?" Tanya Jenderal Virendra yang entah kapan datangnya.
Venus menoleh kaget. Dia melamun hingga tidak menyadari kehadiran Jenderal Virendra.
"Maaf, Jenderal." Ucap Venus lirih, kemudian gadis itu segera menghampiri Jenderel Virendra.
"Apa yang kau pikirkan, Venus?" Tanya Jenderal Virendra sekali lagi.
Venus menggeleng lemah, enggan untuk menjawab dengan jujur.
Jenderal Virendra menghela napas. Baru beberapa minggu menikah sudah banyak hal yang harus mereka hadapi.
"Aku mendengar kau sudah tahu mengenai berita di luar sana." Ucap Jenderal Virendra pada akhirnya, pria itu yakin Venus tidak akan mau berkata jujur.
"Jadi, berita itu benar?" tanya Venus.
"Aku tidak akan menjawab sebelum kau mengatakan dari mana kau mendapat berita ini." Jenderal Virendra berkata dengan tegas.
Venus ragu untuk menjawab, dia takut jika menjawab dengan jujur akan ada korban dari kemarahan Jenderal Virendra.
"Venus tidak ingin menjawab." Venus berkata dengan tenang, menolak untuk menjawab.
"Baiklah, aku juga tidak akan mengatakan apapun mengenai berita di luar sana." Jenderal Virendra berbalik, tidak ingin berdebat dengan Venus.
"Kenapa kau merahasiakannya, Jenderal? Bukankah Venus berhak mengetahuinya?" Tanya Venus dengan berani membuat Jenderal Virendra menghentikan langkah kakinya.
"Ini bukan hal penting." Jawab Jenderal Virendra tanpa menatap kearah Venus.
Venus hanya diam, tidak ingin membuka suara. Venus merasa dirinya tidak begitu berharga. Memang benar dia tidak pantas untuk seseorang yang hebat seperti Jenderal Virendra.
Sesungguhnya dia merasa kecewa dengan jawaban Jenderal Virendra. Venus merasa dia berhak tahu karena masalah ini berkaitan dengan dirinya.
"Istirahatlah, jangan mendengarkan berita buruk. Percaya padaku, semua akan selesai dalam beberapa hari." Ucap Jenderal Virendra penuh janji sambil menatap kedua mata biru milik Venus.
"Jenderal ... mungkin ada baiknya ... kita pikirkan ulang pernikahan ini." Ucap Venus yang dengan beraninya menatap mata tajam milik Jenderal Virendra.
"Apa maksudmu?" Tanya Jenderal Virendra tidak suka.
"Kita bisa membatalkan pernikahan kita." Venus menjawab dengan berani.
Jenderal Virendra menatap tajam Venus, pria itu tidak suka dengan ucapan Venus.
"Aku anggap kau tidak pernah mengatakan hal ini." Tandas Jenderal Virendra, kemudian pergi begitu saja meninggalkan Venus.
Venus hanya terdiam menatap kepergian Jenderal Virendra. Mungkin dia salah, tapi bagi Venus tidak ada pilihan lain selain membatalkan pernikahan mereka.
TBC
Rekomendasi novel keren karya author oktiyan
dijamin seru!! yuk, mampir dan jangan lupa dukungannya 😊
Judul : PEKA
*Di sebuah kampus mewah, tepat di ruang loby itu tiga anak muda terlihat sedang duduk beralaskan karpet di bawah pohon. Buku-buku pelajaran terbuka, sementara remah remah makanan ringan berceceran di atas meja.
Langkah Hanna dihentikan oleh sebuah tangan, Hanna terdiam pasi, kala sebuah akar yang tiba saja melilit kaki kanannya, jelas ia lihat benda kenyal seperti tangan menempel ke kakinya baru saja.
Saat itu remang remang. Sehingga tidak terlalu jelas apa yang ada di sekitar. Pandangan Hanna dipalingkan ke kiri dan ke kanan, tapi tak terlihat seorang pun. Hingga ia menatap atas atap pohon besar, tepat diatas kepalanya.
Sosok itu jelas mengeluarkan suara lidah, Hanna tiba saja menatap atas kepalanya. Begitu terdengar kaget, ketika dari ujung pohon sebuah lidah panjang menjulur menghampiri wajah Hanna.
Aaaaarrrrgh!! teriak Hanna saat itu, tanpa sadar suaranya mengecil dan wanita berwajah lidah melilit lehernya dengan darah yang menetes bau amis, membuat Hanna mual dan ingin muntah. Tapi saat berteriak Hanna tiba sudah berada di berbeda tempat.
Yuks! intip kisah Hanna indigo tersesat dihutan acara camping. Judul 👉 "PEKA*."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 80 Episodes
Comments
Mam Lilu
,venus masih labil
2022-08-13
1