Sejak berita mengenai hubungan Jenderal Virendra dan Venus menyebar luas, sejak saat itu juga pintu kediaman Jenderal Virendra tertutup rapat. Seluruh pelayan yang bekerja disana dilarang untuk keluar. Hal ini tentu bertujuan untuk mempersempit pencarian pengkhianat.
Venus yang tidak tahu menahu hanya bisa menatap tidak mengerti tentang peraturan baru yang dibuat oleh Jenderal Virendra.
“Jadi, kalian semua tidak boleh keluar?” Tanya Venus pada para pelayang di kediaman Jenderal Virendra.
“Benar, Nyonya.” Jawab mereka serentak. Sekitar ada sepuluh pelayan di kediaman Jenderal Virendra, baik itu laki-laki maupun perempuan.
“Memang ada apa? Apakah di luar berbahaya?” Tanya Venus lagi.
Salah satu pelayan sudah akan menjawab ketika Avi dengan cepat menyela, “Tidak ada apa-apa, Nyonya. Hanya saja Jenderal ingin membuat peraturan baru.”
“Oh begitu, baiklah aku mengerti. Kalian bisa kembali bekerja.” Ujar Venus dan berlalu meninggalkan para pelayan.
Avi segera berbalik, selaku pelayan yang sangat dekat dengan Venus membuatnya ditakuti.
“Dengar, berita yang beredar di luar sana jangan sampai diketahui Nyonya. Jika ada yang berani membuka mulut maka siap berhadapan dengan Jenderal.” Ucap Avi mengancam para pelayan yang lain.
“Kami tidak berani,” ucap mereka bersamaan.
Usai mengatakan hal itu, Avi segera berlalu disusul oleh Velly. Para pelayan tidak ada yang berani membuka mulut, meski sebenarnya mereka penasaran apakah gosip yang beredar itu benar tau hanya sekedar gosip belaka yang dibuat oleh orang-orang yang tidak menyukai penikahan Jenderal Virendra.
Yang mereka tidak sadari, ada seseorang yang sedang mengawasi mereka dari jauh. Dia adalah Sean, pengawal yang bertugas menjaga Venus.
*
*
Jenderal Virendra sedang berada di kantor memeriksa beberapa laporan Negara Aleister. Beberapa hari ini banyak pekerjaan yang sedang menunggu, sejak kabar pernikahannya.
Banyak yang menentang, meski begitu ada pula yang mendukung keputusan Jenderal Virendra. Yang menentang tentu saja dari kubu yang ingin menjalin kerja sama dengan Negara Selatan.
Sebuah suara menginterupsi kegiatan Jenderal Virendra.
"Masuk!" Perintah Jenderal Virendra.
Sean segera masuk dan memberi hormat.
"Maaf mengganggu, Jenderal." Ucap Sean setelah selesai memberi hormat.
"Katakan ada apa. Apakah ini mengenai istriku?" tanya Jenderal Virendra.
"Benar, Jenderal. Ini mengenai Nyonya, saya baru saja mengamati orang-orang di sekitar Nyonya dan mencurigai beberapa orang."
"Siapa mereka? Sebentar aku sudah mengantongi sebuah nama. Tapi, aku memerlukan bukti dan karena itulah kita harus berpura-pura tidak tahu."
Sean mengangguk setuju atas usul Jenderal Virendra .
"Benar, Jenderal. Saya bermaksud untuk memberi umpan dan jika tebakan saya benar, maka kita hanya perlu mengeksekusi."
"Lakukanlah, tapi, kau harus ingat untuk berhasil jangan sampai ada yang tahu termasuk istriku." Ucap Jenderal Virendra disertai ancaman.
"Siap, Jenderal!" Sean memberi hormat dan segera berpamitan.
Setelah Sean pergi, Letnan Dean muncul dengan sebuah berita hangat.
"Lapor Jenderal, ada berita penting mengenai dalang penyebaran gosip tentang Nyonya." Ucap Letnan Dean setelah memberi salam hormat.
"Katakan siapa orangnya," Perintah Jenderal Virendra.
"Dia adalah Putri Selena, sepertinya dia memiliki seseorang yang menjadi mata-matanya."
"Sudah ku duga, aku yakin dia tidak suka dengan pernikahanku karena dialah yang ingin menjadi istriku agar bisa berkuasa di Negara Aleister." Jenderal Virendra berkata dengan tenang, akan tetapi raut wajahnya menunjukkan hal lain.
"Apa yang harus saya lakukan, Jenderal?" Tanya Letnan Dean menunggu perintah.
"Sebarkan berita bahwa gosip yang beredar tidak benar. Katakan bahwa pernikahanku baik-baik saja dan istriku sudah menjalankan tugasnya sebagai seorang istri."
"Baik, Jenderal!" Ucap Letnan Dean tegas.
"Satu lagi, biarkan Putri itu untuk sementara waktu. Aku ingin lihat sejauh mana tindakannya dan aku ingin lihat siapa saja pendukungnya."
"Baik, Jenderal. Saya akan segera laksanakan, saya juga akan segera mengirim penyusun di sekitar Putri Selena." Letnan Dean berpamitan untuk segera menjalankan tugasnya.
Jenderal Virendra mengangguk puas. Dia berharap semua berjalan sesuai rencananya.
Jenderal Virendra menatap bosan pada setumpuk dokumen di hadapannya. Pria itu ingin melihat mata biru istrinya, mata yang begitu cantik dan membuatnya tenang meski hanya menatap sesaat.
*
*
"Jenderal?" Venus menatap Jenderal Virendra bingung.
Gadis itu tidak menyangka kedatangan Jenderal Virendra yang tiba-tiba. Biasanya pemimpin Negara Aleister itu baru pulang saat matahari hampir terbenam.
"Kau tidak suka kedatanganku?" tanya Jenderal Virendra.
Venus buru-buru menggeleng, takut jika menyiapkan Jenderal Virendra.
"Tidak, Jenderal. Venus hanya terkejut karena biasanya Jenderal pulang saat matahari hampir terbenam." Ucap Venus apa adanya membuat sedikit rasa bahagia menyusup dihari Jenderal Virendra.
Jenderal Virendra bahagia karena merasa Venus sudah mengetahui kebiasaannya.
"Aku hanya lelah dan butuh sedikit istirahat. Bisa kau membuat teh herbal untukku?" Pinta Jenderal Virendra setelah selesai berganti pakaian dan bersiap untuk merebahkan dirinya.
"Baik, Jenderal akan segera Venus buatkan." Venus baru berbalik ketika Jenderal Virendra memanggil namanya.
"Venus," panggilan itu membuat Venus tertegun.
Selama menjadi istri Jenderal Virendra, tidak pernah Jenderal Virendra memanggilnya seperti itu.
"Iya, Jenderal." Sahut Venus pelan.
"Aku pernah berkata sebelumnya, bahwa jangan pernah percaya pada siapapun. Cukup percaya padaku, apapun yang terjadi di kediaman ini jangan sampai diketahui orang lain."
Venus mengangguk pelan, "Venus mengerti, Jenderal."
"Percaya padaku, bahwa tidak ada satupun yang bisa kau percaya di dunia ini kecuali suamimu sendiri. Kau tahu, status itu adalah incaran seluruh Negara termasuk Negara tetangga."
"Maksud, Jenderal?" tanya Venus tidak mengerti.
"Belum saatnya kau tahu, cukup percaya padaku maka semua baik-baik saja." Ucap Jenderal Virendra melembut.
Venus mengangguk, menyetujui ucapan Jenderal Virendra.
Sebenarnya Venus tahu, bahwa posisinya sangat istimewa karena itulah banyak yang membenci dirinya. Untuk itulah Venus harus berpura-pura tidak tahu apapun, dia harus menjadi polos untuk mengelabuhi orang yang ingin menjatuhkannya.
TBC
Ada rekomendasi novel seru untuk kalian karya author David Widia
yuk mampir dan jangan lupa dukungannya 😊
Judul : IDENTITAS RAHASIA SANG MAFIA
*Ilona Delvisa Anumarta adalah Wanita berusia 25 tahun yang sudah bisa mendirikan sebuah perusahaan bernama "Delvisa Company" yang bergerak di bidang tambang. Wanita yang mandiri, cantik, perfect, dan idaman semua pria. Selain menjadi CEO di perusahaan "Delvisa Company", ia juga seorang ketua Klan Mafia "Devil Dark" Klan Mafia yang paling di takuti dan terkuat Di Eropa. Jika berada di dunia Mafia Ilona bernama Queen Isabell. Tujuan Ilona menjadi Mafia adalah untuk membalaskan dendam kematian Keluarga Besar Ilona 15 tahun silam.
Teka - teki siapa yang membunuh semua keluarga besar Ilona belum di ketahui, bahkan, penyelidik, Polisi, Hacker, semua sudah di kerahkan tapi hasilnya tetap nihil.
Nyawa di bayar dengan nyawa ~ Ilona Delvisa Anumarta.
.
Belmond Azbara Turgana adalah seorang pria CEO di perusahaan "Azbara Corp" yang bergerak di bidang Pembangunan, parasnya yang tampan serta rupawan membuat kaum hawa ingin menjadikan Belmond pacar meskipun sudah berumur 35 tahun. Bahkan ada suatu hari di mana ada seorang wanita secara terang - terangan ingin One Nigt Stan dengan Belmond secara percuma dan menawarkannya kepa Belmond. Tapi Belmond tidak pernah menerima tawaran wanita itu.
Siapakah orang yang sudah membunuh semua keluarga besar Ilona?
Penasaran?
Yukk Cus langsung baca ❤️*
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 80 Episodes
Comments
putrirhaya
kayaknya venus gadis yg pintar n kuat tapi ditutupi dengan kepolosan dia
2022-07-14
3
sully cungliiee
mudah2an sosok venus bukan sosok yg mudah ditindas ya thor....soale bosen thor kalo mc ceweknya lemah....smangat thor
2022-07-11
3