Jenderal Virendra sampai di kediaman dan langsung mencari Venus. Beruntung Venus sedang bersantai bersama kedua pelayannya. Sepertinya Venus belum tahu mengenai masalah demo itu.
"Jenderal?" Venus menoleh kaget mendapati Jenderal Virendra sudah berdiri di hadapannya.
"Tinggalkan kami." Perintah Jenderal Virendra yang segera dilaksanakan oleh Avi dan Velly.
Setelah memastikan kedua pelayan itu pergi, Jenderal Virendra langsung mengambil posisi duduk di depan Venus.
"Ada apa, Jenderal?" Tanya Venus penasaran.
"Bagaimana harimu?" Jenderal Virendra balik bertanya, pertanyaan tidak biasa dari pria itu.
"Baik, ada apa Jenderal bertanya seperti itu? Apakaha terjadi sesuatu?" Tanya Venus lagi, gadis itu benar-benar pandai membaca situasi.
"Ya, ada masalah di luar sana. Mungkin untuk beberapa hari kedepan aku akan melarangmu keluar." Ucap Jenderal Virendra tidak bisa sepenuhnya jujur.
Jenderal Virendra memikirkan perasaan Venus. Sejujurnya dia takut jika Venus merasa dibenci oleh rakyat. Venus masih terlalu muda untuk menerima kebencian rakyat Negara Aleister.
"Apakah masalahnya sangat penting?" tanya Venus.
"Ya, masalah berat dan aku harap kau tetap disini. Jangan biarkan siapapun mendekat dan jangan percaya pada siapapun." Perintah itu harus Venus turuti, mau tidak mau.
Sebenarnya Venus sangat sedih, kebebasan yang baru saja dia rasakan langsung terampas begitu saja. Akan tetapi, Venus tidak memiliki kuasa apapun.
"Baiklah, Jenderal." Sahut Venus lemah, gadis itu masih sedih dengan kebebasan yang kembali diambil paksa.
"Setelah semua berlalu, aku akan memberimu kebebasan." Ucap Jenderal Virendra yang tidak suka melihat raut sedih dimata Venus.
"Berjanjilah pada Venus, Jenderal." Pinta Venus penuh harap.
"Ya, aku berjanji." Jenderal Virendra berjanji dengan sungguh-sungguh, menatap mata Venus dengan penuh keyakinan.
*
*
*Kami tidak menerima pernikahan Jenderal!
Jenderal sungguh keterlaluan menikahi gadis belia!
Lepaskan gadis itu!
Gadis itu tidak pantas menjadi istri seorang Jenderal besar*!
Banyak sekali seruan serta coretan tangan sebagai bentuk protes rakyat kepada pernikahan Jenderal Virendra.
Semua ini tentu didatangi oleh elit politik yang ingin Jenderal Virendra menikah dengan Putri Selena. Para elit politik itu ingin menguasai Negara Aleister dan Negara Selatan.
Para kaum haus akan kekuasaan dan kejayaan. Para kaum gila harta.
"Aku dengar, gadis yang menikah dengan Jenderal adalah gadis cantik yang pintar." Celetukan itu berasal dari pendukung Jenderal Virendra. Wanita itu bernama Dea, seseorang yang dikenal memiliki banyak kerabat di istana.
Sengaja memengaruhi pikiran rakyat yang menentang pernikahan Jenderal Virendra.
"Apa kau pernah melihatnya?" Tanya salah satu penentang Jenderal Virendra.
"Aku memiliki banyak mata dan telinga di istana. Lagipula, kenapa kalian menentang Jenderal? Kalian sehebat apa?" Tanya Dea sinis.
"Kerabatmu orang yang bekerja di istana, tentu saja kau mendukung Jenderal."
"Kau pikir Jenderal itu anak kecil yang tidak tahu apapun? Beliau Jenderal besar, keputusannya pasti sudah dia pertimbangkan dengan baik!" Ucap Sean yang kini menyamar sebagai rakyat biasa.
"Benar juga, aku rasa Jenderal tahu dengan pasti keputusan tepat atau tidak." Ujar Beni, salah satu penentang yang kini mulai goyah.
"Gadis itu terlalu muda, kau pikir menikah dengan gadis muda itu baik?" Ucap Hesti, seorang Ibu-Ibu yang menolak dengan keras pernikahan gadis berusia dibawah 20 tahun.
"Apa yang salah dengan menikah muda? Yang terpenting, gadis itu baik, pintar dan bisa mengimbangi prestasi Jenderal." Balas Sean tidak mau kalah.
"Sudahlah, tidak ada habis bicara dengan pendukung Jenderal. Membuang waktuku saja." Hesti berbalik menatap tidak suka pada Sean.
"Seharusnya aku yang berbicara seperti itu. Berbicara dengan penentang Jenderal sungguh membuang waktu. Sekali tidak suka tetap akan tidak suka, mau diberikan fakta sekalipun tetap saja akan salah." Gerutu Sean, kemudian berbalik pergi meninggalkan kerumunan.
Sebagian mulai goyah, mereka memikirkan ucapan Sean yang ada benarnya. Jenderal Virendra adalah Jenderal besar yang pintar dan sangat tegas, rasanya tidak mungkin Jenderal Virendra mengambil keputusan yang akan merugikan dirinya sendiri.
*
*
Perdebatan di luar masih belum usai. Rakyat masih ribut menentang serta mendukung pernikahan Jenderal Virendra.
Sedangkan di istana, berita itu mulai menyebar dan kemudian terciptalah 3 kubu. Kubu pertama adalah pendukung, kubu kedua adalah penentang dan kubu ketiga adalah orang-orang netral yang hanya mengikuti arus.
Venus sendiri masih belum tahu apapun, hingga sebuah bisik-bisik itu sampai ditelinga Venus. Entah siapa yang memulai, yang jelas kini Venus sudah tahu mengenaik kekacauan di luar sana.
"Jadi, akulah penyebab kekacauan itu? Itulah alasan Jenderal melarangku keluar?" Tanya Venus pada dirinya sendiri.
Venus mulai merasa bersalah. Dia merasa tidak pantas menjadi istri seorang Jenderal besar. Dia merasa rakyat membenci dirinya. Venus merasa semua yang karena dirinya.
TBC
Rekomendasi novel menarik untuk kalian karya author Mphoon
yuk mampir dan dukung karyanya 😊
Judul : KETULUSAN HATI SEORANG ISTRI
BLURB :
Seorang istri bernama Suci Permata Sari berusia 24 tahun, yang telah di diagnosa oleh seorang dokter bahwa dia tidak bisa memiliki keturunan.
Suci menyuruh sang suami yaitu Dimas Hartawan berusia 26 tahun, untuk mencari wanita lain agar mereka bisa secepatnya memiliki keturunan dengan syarat wanita itu bisa membagi Haknya dengan adil bersama Suci.
Apakah Dimas berhasil menemukan pengganti Suci dengan syarat tersebut?
Dan apakah Suci dan madunya bisa hidup akur serta saling membagi haknya?
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 80 Episodes
Comments