"Bagaimana?" Tanya Jenderal Virendra begitu Sean masuk ke dalam ruang kerjanya.
Sean memberi hormat sebelum menjawab dengan tegas.
"Sudah saya jalankan. Beberapa sudah terpengaruh, hanya membutuhkan bukti agar rakyat kembali menaruh percaya pada Jenderal." Jawab Sean yakin membuat Jenderal Virendra menatapnya puas.
"Bagus, terus buat rakyat mempercayai keputusanku. Untuk bukti, aku rasa saat ini belum ada hal yang bisa ku buktikan. Venus belum boleh melihat dunia luar, cukup sebarkan Venus adalah gadis yang baik dan pintar."
Sean mengangguk, mengerti perintah dari Jenderal Virendra. Jenderal Virendra akan terus berusaha membuat para rakyat kembali berpihak padanya. Dia tidak sudi jika, kaum elit politik yang haus akan kekuasaan itu mengambil keuntungan dari kekacauan ini.
*
*
Disisi lain Venus terus mendengar desas desus mengenai rakyat yang tidak menyukai dirinya. Venus merasa dirinya tidak berguna, merasa apa telah terjadi adalah hal yang salah.
Bukan keinginan Venus untuk menikah dengan Jenderal Virendra. Venus tahu dirinya tidak pantas menjadi pendamping Jenderal Virendra.
Disini Venus adalah korban, tapi mengapa orang-orang buka bersimpati padanya malah berbalik mencela dirinya.
"Nyonya, mengapa Anda melamun?" Tanya Avi yang baru saja meletakkan secangkir teh bunga untuk Venus.
"Kau mendengar berita itu?" Venus balik bertanya.
"Berita apa yang Nyonya maksud?" Avi menatap bingung, dia tidak tahu apa maksud pertanyaan Venus.
"Berita tentang rakyat yang melakukan demo." Velly yang baru masuk langsung menjawab.
Avi segera menoleh dan melotot kearah Velly, memberi peringatan untuk gadis itu.
"Ah, maaf Nyonya ... saya terlalu lancang." Velly segera sadar dan langsung berlutut memohon ampun.
Velly memang gadis yang selalu berbicara tanpa berpikir terlebih dulu. Gadis itu terlalu ceplas ceplos.
"Velly, aku sudah memperingatkan kau untuk tidak berbicara sembarangan." Tegur Avi tegas membuat Velly semakin menunduk takut.
"Tidak apa, Avi. Apa yang dikatakan oleh Velly benar. Di luar sana, rakyat melakukan demo. Mereka mempertanyakan keputusan Jenderal Virendra yang menikahi secara tiba-tiba." Venus berkata dengan tenang, berusaha menenangkan Avi.
"Nyonya, dari mana Anda mendengar berita buruk itu. Jangan percaya pada perkataan orang lain, Nyonya." Ucap Avi, seolah mengingatkan perkataan Jenderal Virendra yang melarang Venus untuk mempercayai orang lain.
"Tapi, begitulah keadaanya. Aku yakin kau juga tahu, semua orang di istana ini membicarakan hal itu. Itulah alasan aku tidak boleh keluar, bahkan untuk keluar dari kediaman Jenderal saja aku tidak diizinkan."
"Nyonya, izinkan saya bertanya." Velly segera memotong sebelum Avi berbicara. Gadis itu seperti menentang Avi.
"Silahkan," ucap Venus mempersilahkan.
"Dari mana Anda tahu berita ini, Nyonya? Bukankah Anda tidak boleh keluar dari kediaman Jenderal." Tanya Velly tanpa ragu, bahkan dia tidak takut ketika Avi melotot kearahnya.
Venus terdiam, terlihat enggan untuk menjawab. Gadis itu seperti merahasiakan sesuatu dan hal itu membuat Avi serta Velly menaruh curiga.
"Sudahlah, kalian tidak perlu tahu. Yang jelas, berita yang aku dengar adalah sebuah kenyataan yang terjadi di luar sana." Jawab Venus menghindari tatapan penuh selidik dari Avi dan Velly.
"Nyonya, saya rasa-" Avi tidak melanjutkan ucapannya saat Venus mengangkat tangan.
Istri Jenderal Virendra itu tidak ingin mendengar bantahan dari Avi. Dia memiliki rahasia yang tidak bisa diberitahukan pada siapapun.
Venus segera pergi meninggalkan kedua pelayannya. Venus kembali ke kamarnya, sengaja menghindari Avi dan Velly. Hal itu semakin membuat kedua pelayannya semakin menaruh curiga.
"Aku rasa ada seseorang yang menjadi mata-mata. Bagaimana menurutmu, Kakak?" Velly berbalik menatap Avi tanpa rasa takut.
Firasat Velly begitu kuat, dia merasa ada hal yang tidak beres di kediaman Jenderal Virendra. Ada seseorang yang akan menjadi duri dalam daging.
"Itu bukan urusanmu, aku rasa tidak ada yang berani menyusup kemari. Kau tahu betul bagaimana Jenderal menyeleksi para pelayan disini." Avi segera membantah, membuang jauh-jauh pikiran buruk Velly.
Velly terdiam, memang apa yang dikatakan Avi ada benarnya. Jenderal Virendra adalah orang yang teliti dan sangat waspada. Rasanya hampir mustahil ada penyusun yang bisa masuk ke dalam kediamannya, kecuali orang yang sangat terpercaya.
"Bisa saja, orang itu adalah orang yang terpercaya dan mungkin orang yang sudah lama berada di istana ini." Ucap Velly begitu mendapat petunjuk yang tiba-tiba hadir dibenaknya.
Avi memilih diam, dia tidak bisa berbuat apapun karena statusnya adalah pelayan. Dia tidak memiliki wewenang apapun untuk menyingkirkan para pengganggu.
TBC
Rekomendasi novel menarik karya author
mampir dan dukung karyanya ya 😉😊
Judul : KEKASIH GELAPKU
*Blurb:
Zidane telah bertunangan dengan Sonya. Namun, dia tak bisa menahan perasaan untuk mencintai orang lain yaitu Alana.
Dia pun menjalin hubungan gelap dengan Alana.
Padahal, Alana hanya menginginkan uang Zidane agar bisa mengubah penampilannya untuk balas dendam terhadap mantan suaminya.
Bagaimana kisah cinta segitiga yang didasari dendam ini*?
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 80 Episodes
Comments