Jenderal Virendra marah besar. Orang nomor satu di Negara Aleister itu sangat marah ketika mendengar kabar Venus menghilang.
Seluruh pelayan di kediamannya berkumpul, mereka semua akan diberi hukuman karena telah lengah hingga Venus bisa menghilang entah kemana.
Sean sendiri sudah menerima hukumannya, pria itu bahkan dihukum oleh Letnan Dean, saudara kembarnya sendiri.
"Temukan istriku dalam keadaan baik-baik saja atau nyawa kalian akan melayang. Jika sampai matahari terbenam kalian belum menemukannya, itu artinya hari ini adalah hari terakhir kalian hidup." Ucap Jenderal Virendra dengan dingin disertai ancaman mengerikan.
Seluruh pelayan termasuk Avi dan Velly bergidik takut. Mereka segera bubar dan mencari Venus dengan cepat. Ini sudah siang hari dan artinya waktu mereka tidak banyak.
"Jenderal, saya sudah menghukum Sean." Lapor Letnan Dean setelah semua pelayan pergi.
"Bagus, katakan padanya ini terakhir kali aku menerima kelalaiannya." Usai mengatakan hal itu Jenderal Virendra segera beranjak pergi.
Jenderal Virendra begitu kalut, hingga tidak bisa berpikir jernih. Dia ingin segera menemukan Venus dan memastikan bahwa gadis itu baik-baik saja.
Jenderal Virendra merasa begitu ceroboh hingga bisa kehilangan Venus. Jika saja Bibi Martha tahu kabar ini, mungkin wanita tua itu tidak segan-segan melayangkan pedang kearah leher Jenderal Virendra.
*
*
Disisi lain, Venus tengah duduk termenung di pinggir danau. Danau indah yang sejak kecil menjadi tempat dia menghabiskan waktu. Venus kembali mengingatkan masa-masa ketika dia kabur dari pengawas Bibi Martha.
Venus tidak bisa mengingat dengan jelas seperti apa masa kecilnya sebelum bertemu dengan Bibi Martha. Akan tetapi, setiap berada di danau ini Venus merasa seperti pulang ke rumah lama.
Rumah yang damai dan tenang. Rumah yang menjanjikan kehangatan yang sudah lama dirindukan oleh Venus.
Tersenyum kecil, Venus mengambil air danau menggunakan tangannya. Air itu sangat jernih dan tampak segar. Venus ingin mencuci wajahnya disana, hal yang dulu sering dia lakukan.
Melihat sekeliling yang tampak sepi, akhirnya Venus memberanikan diri membuat cadarnya. Wajah cantik itu tampak berkilau terkena pantulan air danau.
Venus tersenyum dan segera membasuh wajahnya. Dia tampak damai dan nyaman dengan melakukan hal kecil seperti ini.
Namun, Venus tidak sadar ada seseorang yang tengah mengawasinya dari jauh. Seorang pria yang dengan perlahan mendekat kearahnya.
"Venus!" Panggil pria itu membuat Venus menoleh dengan terkejut.
*
*
Jenderal Virendra tidak bisa tenang sebelum memastikan keadaan Venus. Akhirnya pria itu memutuskan untuk melakukan penyamarannya dan segera keluar istana demi mencari keberadaan Venus.
Jenderal Virendra menelusuri kota menggunakan mobil kecil agar tidak menarik perhatian orang-orang. Sampai akhirnya Jenderal Virendra tiba di sebuah tempat yang memiliki kenangan manis.
Tempat itu berada di pinggir kota dan cukup tersembunyi karena banyak pepohonan hijau yang menutupi. Entah mengapa Jenderal Virendra memutuskan untuk berhenti dan berjalan menuju tempat yang sudah lama tidak dia datangi.
Dari jauh Jenderal Virendra melihat seseorang yang tengah membasuh wajahnya menggunakan air danau itu. Jenderal Virendra tahu siapa sosok gadis itu.
Gadis yang berhasil membuatnya tidak bisa berpikir jernih. Gadis yang berhasil membuatnya kalut. Gadis itu adalah Venus, istri kecilnya.
"Venus!" Panggil Jenderal Virendra membuat Venus menoleh kaget.
Venus terkejut hingga tanpa sadar segera berdiri tegak. Hal itu menyebabkan cadar Venus terjatuh ke dalam danau.
"Jenderal," Venus berbisik lirih kemudian menoleh kearah danau dan mendapati cadarnya telah basah.
Jenderal Virendra tampak tertegun melihat wajah cantik Venus. Wajah yang selama ini tersembunyi dibalik cadarnya.
"Lihat aku, Venus!" Perintah Jenderal Virendra dengan nada tegas.
"Cadarnya jatuh, Jenderal." Ucap Venus pelan tanpa berani menatap wajah Jenderal Virendra.
"Aku tidak peduli dengan cadar itu. Sekarang lihat aku, lihat wajahku." Ucap Jenderal Virendra tegas membuat Venus akhirnya mengalah.
Venus memberanikan diri menatap wajah tampan Jenderal Virendra. Selama beberapa detik mereka terdiam saling tatap. Menatap dengan rasa kagum yang tersimpan rapat di dalam hati mereka.
"Kenapa kau bisa ada disini?" Tanya Jenderal Virendra berusaha mengalihkan perhatiannya.
"Venus hanya ingin melihat keadaan yang sebenarnya." Jawab Venus dengan jujur.
"Langkahmu salah Venus, kau membuat seluruh pelayan khawatir dan membuat mereka menerima hukuman dariku." Ucap Jenderal Virendra tajam.
Venus tampak terkejut, tidak menyangka aksi kaburnya walau sesaat bisa menimbulkan kekacauan seperti ini.
"Maafkan Venus, Jenderal. Maaf Venus mengambil langkah yang salah." Venus berkata penuh sesal, menatap Jenderal Virendra dengan tatapan penuh sesal.
"Kita lanjutkan pembicaraan ini nanti. Sekarang saatnya kembali ke istana." Putus Jenderal Virendra tanpa mau dibantah.
"Jenderal, bagaimana dengan cadarnya?" tanya Venus hati-hati.
"Mulai detik ini kau tidak boleh memakai cadar itu ketika bersamaku." Jenderal Virendra berucap dengan tegas, terdengar jelas tidak menerima bantahan apapun dari Venus.
TBC
Ada rekomendasi novel seru untuk kalian karya author Hilmiath_
yuk, mampir dan jangan lupa dukungannya ya 😊
Judul : Atmosphere
Adhara Andromeda, seperti namanya yang berarti bintang paling terang di antara rasi bintang. Adhara adalah gadis ceria yang selalu menerangi orang di sekitarnya. Adhara bukanlah gadis dari keluarga kaya, ia hanya gadis biasa yang berhasil masuk dalam sekolah elit. Namun, di hari pertamanya sekolah ia malah harus terjebak pada tiga laki-laki tampan yang di sebut pangeran sekolah. Masalah tak pernah henti melibatkannya pada ketiga pangeran tersebut. Hingga rasa sayang menjebak mereka, ketiga pangeran tersebut perlahan menyayangi Adhara dengan rasa yang berbeda. Sedangkan Adhara juga mulai menyayangi mereka delam berbagai arti menyayangi. Bagaimana Adhara akan menghadapi setiap masalahnya bersama tiga pangeran tersebut? Baca ceritanya agar kalian tidak penasaran siapa yang kira-kira akan menarik hati Adhara dan menjadi pelabuhan untuk gadis itu. Arche dengan sikap hangat nya, Chan dengan sikap dinginnya, Atau Antariksa dengan sikap kasarnya?
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 80 Episodes
Comments