Jenderal Virendra menatap tajam pada orang-orang yang dia kenal sebagai musuh dalam selimut. Para elite politik yang haus akan kekuasaan dan menghalalkan segala cara demi mencapai keinginan mereka.
Mereka yang di sana hanya bisa menunduk menghindari tatapan tajam Jenderal Virendra yang begitu mengerikan.
"Aku rasa kalian semakin berani! Ingin bermain-main di belakangku?" Jenderal Virendra menyorot tajam satu per satu elite politik yang dia tahu diam-diam berkhianat.
"Kami tidak berani Jenderal!" Jawab Ben, salah satu elite politik yang masih setia pada Jenderal Virendra.
"Benar, Jenderal. Kami tidak akan berani mengkhianati Anda." Sahut John mengundang tatapan sinis Jenderal Virendra.
John dan Endo terlihat begitu santai, seolah mereka tidak melakukan tindakan kejahatan apapun. Mereka pikir Jenderal Virendra hanya sekedar mengancam tanpa tahu siapa yang berani berkhianat.
"Kalian pikir aku bodoh? Kalau kalian lupa, aku ada Jenderal besar yang terkenal begitu pintar. Berani sekali berpura-pura tidak bersalah? Hentikan rencana busuk kalian atau aku sendiri yang akan menyeret para pengkhianat itu ke sel bawah tanah." Ancam Jenderal Virendra begitu tegas dan menakutkan.
John, Endo dan pada pengkhianat lainnya seketika gemetar ketakutan. Mereka terlalu berambisi hingga lupa bahwa Jenderal Virendra bukanlah pria biasa. Jenderal Virendra sudah pasti tahu tindakan mereka karena itulah Jenderal Virendra sendiri yang turun tangan memperingatkan.
"Aku peringatkan sekali lagi, siapapun yang berani ikut campur mengenai pernikahanku maka dia siap menerima hukumannya!" Tegas Jenderal Virendra sekali lagi, kemudian pria itu pergi meninggalkan aula.
"Aku tidak menyangka ada yang begitu berani bermain di belakang Jenderal." Ucap Ben keras menyendiri para pengkhianatan.
Ben memang tidak tahu siapa saja pengkhianat itu, akan tetapi dia tahu departemen politik yang bersebrangan dengannya pasti salah satu pengkhianat itu.
Sedangkan para pengkhianat hanya bisa terduduk takut. Mereka sangat tahu Jenderal Virendra tidak pernah main-main dengan ancamannya. Inilah resiko yang harus mereka terima, tapi mau bagaimana lagi mereka sendirilah yang memilih jalan ini.
Untuk sementara mereka akan memilih untuk berdiam diri. Mereka jelas tidak akan berani bertindak gegabah karena ini merupakan rencana besar. Mereka akan menunggu sampai mendapat dukungan yang kuat untuk melawan Jenderal Virendra.
*
*
Di sisi lain, Putri Selena tengah termenung. Gadis cantik itu masih tidak percaya dengan tindakan Venus yang begitu berani. Dia semakin yakin Venus bukanlah gadis biasa yang mudah dipengaruhi.
Ada hal istimewa yang gadis kecil itu miliki, mungkin alasan itulah yang membuat Jenderal Virendra menikahi Venus. Sebuah fakta yang membuat Putri Selena ingin segera membatalkan pernikahan itu.
Bagi Putri Selena tidak ada yang lebih pantas darinya untuk mendampingi Jenderal Virendra. Meski Venus terlihat pintar dan istimewa, tetapi bagi Putri Selena dirinyalah yang lebih menawan. Dia seorang Putri, begitu anggun dan cantik. Sedangkan Venus, dia hanyalah gadis kecil yang tidak diketahui asal usulnya.
"Putri, tindakan apa yang akan Anda lakukan?" tanya salah satu dayang setia Putri Selena.
"Untuk saat ini aku masih tidak tahu. Aku tidak menyangka gadis kecil itu begitu berani dia bahkan mengancam akan mengadukanku pada Jenderal." Ucap Putri Selena yang masih begitu marah mengingat ancaman Venus.
Putri Selena pikir, Venus begitu berani hanya karena dia adalah istri dari Jenderal Virendra.
"Saya pikir gadis itu terlihat bukan seperti gadis biasa, Putri." ucap sang dayang mengutarakan pemikirannya.
"Aku juga berpikir seperti itu, tapi aku yakin bisa dengan mudah menyingkirkan gadis itu." Putri Selena berucap dengan sangat yakin seolah tidak ada gadis yang lebih hebat dari dirinya.
Tidak lama seorang mata-mata yang dikirim oleh Putri Selena datang. Mata-mata itu ingin segera menyampaikan berita yang dia dengar dari pertemuan diam-diam para elite politik dengan Jenderal Virendra.
"Lapor, Putri." Sang mata-mata segera memberi hormat.
"Bagaimana?" tanya Putri Selena langsung.
"Sepertinya Jenderal sudah tahu siapa saja yang mengkhianati beliau. Jenderal bahkan mengancam orang-orang yang berani berkhianat di belakangnya." Jawab mata-mata itu menyampaikan apa yang dia dengar.
"Lalu bagaimana dengan orang-orang yang berada dipihak kita? Apa mereka memilih untuk menyerah?" tanya Putri Selena tidak sabar.
"Mereka sementara memilih untuk mundur, Putri. Ancama Jenderal terdengar tidak main-main, mungkin mereka ingin mengamankan posisi mereka."
Putri Selena terlihat begitu marah, rencananya gagal total karena Jenderal Virendra sudah tahu. Semua sia-sia, usahanya tidak membuahkan hasil apapun.
"Putri, tenanglah. Saya yakin ini hanya sementara, mungkin orang-orang yang ada dipihak kita sedang menyiapkan rencana lain." Dayang setia itu segera bergerak menenangkan sebelum Putri Selena menghancurkan kama ini.
"Lakukan sesuatu, hubungi Ayahku dan katakan aku ingin segera menjadi istri Jenderal Virendra. Aku tidak akan pulang ke Negara Selatan jika keinginanku tidak terwujud!" Teriak Putri Selena sembari melempar barang-barang yang ada di kamarnya.
Mata-mata itu segera pergi dan melaksanakan perintah Putri Selena, sedangkan sang dayang berusaha keras menenangkan amarah Putri Selena.
TBC
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 80 Episodes
Comments
Mam Lilu
lanjut thor
2022-08-23
0