Seringkali kita melihat sebuah kejadian yang membuat kita berfikir mengapa orang jahat bisa selamat dari maut yang sudah di depan mata nya dan kita pasti juga sering mendengar jawaban bahwa orang yang banyak dosa nya susah mati nya sebab Tuhan masih menunggu orang tersebut bertaubat, Lalu apakah seperti itu definisi keselamatan seseorang sesungguhnya?
Ternyata tidak seperti itu fakta yang sesungguhnya melainkan keselamatan itu adalah anugrah yang di berikan Tuhan kepada umat nya terlepas siapa pun orang tersebut namun setiap anugrah yang kita terima memiliki harga bayar yang sesuai dengan yang kita terima, Lalu apa yang akan terjadi dengan Bu Hasanah dan Sulaiman apakah ia akan mendapat kan keselamatan dari jerat hukum ataukah mereka berdua harus membayar keselamatan yang sudah di sia-sia kan selama ini?
Siang ini Ustad Fadly, Pak Ali dan Pak Husein pergi di mana Bu Hasanah dan Sulaiman berada bukan lain di lapas wilayah setempat, Dengan niatan yang tulus ikhlas Ustad Fadly akan menjamin mereka agar bisa di lepaskan dari jeruji besi hukum yang menjeratnya dengan bersyarat lalu bagaimana upaya Ustad Fadly untuk bernegosiasi dengan pihak yang berwajib dan apakah akan membuahkan hasil.
Setiba nya mereka bertiga di lapas maka segeralah mereka bertiga menuju kantor dan menemui kepala lapas untuk menyampaikan niat Ustad Fadly namun seperti nya niatan Ustad Fadly tidak bisa semudah itu di ambilkan oleh pihak berwajib sebab Bu Hasanah dan Sulaiman terjerat pasal berlapis bukan lain perencanaan tindak kejahatan dan menghilangkan nyawa seseorang dengan di sengaja.
" Selamat siang Pak, Saya Ustad Fadly yang menjadi korban pembakaran rumah dan toko nya,"
Ucap Ustad Fadly diiringi dengan senyum tenang di hadapan pimpinan lapas.
" Silahkan duduk Bapak-Bapak, Ada yang bisa saya bantu Pak?"
Tanya pimpinan lapas setelah mempersilahkan mereka bertiga duduk.
" Begini Pak maksud kedatangan saya menemui Bapak untuk mengajukan pembebasan bersyarat untuk Bu Hasanah dan Sulaiman,"
Jawab Ustad Fadly menjelaskan tujuan nya.
" Begini ya Bapak-Bapak mengenai niat saudara Fadly itu baik tetapi ini masalah nya sudah membawa korban jiwa hingga meninggal, Jadi coba saudara Fadly membawa pengacara saat di tetap kan sidang perdana sesuai prosedur ya Bapak-Bapak,"
Ucap kepala lapas menjelaskan prosedur dalam hukum yang tidak bisa di permain kan.
" Begitu ya Pak, Baik bila begitu Pak saya mohon pamit untuk menemui Bu Hasanah dan juga Sulaiman,"
Ucap Pak Husein diiringi dengan senyum simpul.
" Baik Pak silahkan."
Jawab pimpinan lapas dengan ramah kepada mereka bertiga.
Kemudian mereka bertiga pun berjalan menuju ke ruangan untuk berjumpa dengan Bu Hasanah dan Sulaiman serta untuk melihat kondisi mereka saat ini apakah baik-baik saja atau kah sedang membutuhkan perawatan secara intensif sebab sudah mengalami guncangan secara psikis setelah kejadian yang mereka alami.
Selama mereka menunggu antrian untuk bertemu mereka berdua tidak henti-henti nya Pak Ali meminta maaf kepada Ustad Fadly yang sudah sangat baik sebab berniat untuk mencari pengacara agar hukuman kepada Bu Hasanah dan Sulaiman bisa di ringan kan atau bahkan bisa di bebaskan bersyarat, Pasti nya untuk menggunakan jasa pengacara itu tidak lah murah.
" Ustad saya tidak tahu lagi bagaimana cara nya berterimakasih kepada Ustad yang begitu mulia hati nya sampai-sampai berniat untuk mencari pengacara demi terbebas nya anak dan istri saya, Sedangkan mereka sudah banyak membuat kerugian selama ini,"
Ucap Pak Ali sambil sesekali menyeka air mata nya.
" Pak Ali jangan seperti itu yang pantas di mulia kan itu hanyalah Allah kita sebagai hamba Nya tempat nya salah dan khilaf dan yang saya lakukan kepada Bu Hasanah dan Sulaiman semata-mata hanyalah membantu mereka untuk bertaubat saja Pak,"
Jawab Ustad Fadly diiringi senyum simpul kepada Pak Ali.
" Saya tahu bagaimana pribadi Ustad Fadly selama ini dan dengan kejadian yang menimpa Ustad Fadly saya sebagai Kakak dari Hasanah benar-benar malu dan kehilangan muka di hadapan Ustad dan masyarakat,"
Ucap Pak Husein sambil menunduk dan mata berkaca-kaca.
" Pak Husein anggap lah semua ini musibah yang diijinkan Allah terjadi untuk mempertebal keimanan kita dan memang hidup itu harus ada masalah agar kita bisa semakin dekat kepada Allah."
Jawab Ustad Fadly sambil merangkul mereka berdua mencoba menguatkan mereka agar tidak terpuruk.
Mereka berdua pun hanya mampu mencoba tersenyum meski di dalam hati nya terasa sangat perih dan menahan malu di hadapan Ustad Fadly yang berhati malaikat, Ia begitu mudah nya mengampuni orang yang sudah memfitnah dan membakar rumah dan toko nya sehingga saat ini Ustad Fadly harus mengontrak rumah untuk tempat tinggal nya.
Orang lain bila di posisi Ustad Fadly tidak akan mau menjenguk Bu Hasanah dan Sulaiman namun yang di lakukan Ustad Fadly tidak hanya menjenguk tapi juga berniat untuk membebaskan mereka berdua dari jerat hukum melalui seorang pengacara yang akan di hubungi nya, Lalu bagaimana dengan Dinda yang menyimpan sebuah pertanyaan mengenai perseteruan antara Bu Isfa dan Bu Hasanah.
Sebenarnya ada masalah apa antara Ibu ku dan mertua ku, Mengapa sejak dahulu selalu saja mereka berdua selisih paham, Memang mertua ku bila berbicara tidak menggunakan filter alias tidak di pikir terlebih dahulu dan tidak berfikir apakah lawan bicara akan tersinggung atau tidak tapi sepertinya tidak hanya mengenai hal itu dan pasti ada hal yang sangat menyakitkan, Tapi apa ya?
Bergumam lah dalam hati Dinda sambil duduk di samping Ibu nya yang sedang menggendong Aida cucu nya dan sesekali menyeka air mata nya yang sudah membasahi air mata nya saat itu dengan tatapan menerawang ke langit yang cerah saat ini, Tidak lama kemudian mereka berdua pun tiba di rumah dan mereka berdua pun masuk kedalam rumah sebenarnya saat itu Dinda ingin menanyakan hal tersebut kepada Ibu nya namun di tahan melihat kondisi emosi Bu Isfa yang sedang tidak baik.
" Bu biar Aida aku yang menggendong nya, Pasti nya Ibu lelah dari tadi menggendong nya,"
Ucap Dinda diiringi dengan senyuman.
" Din duduk lah sini ada sesuatu yang harus kamu tahu yang selama ini Ibu sembunyikan dari siapa pun,"
Jawab Bu Isfa sambil memberikan Aida kepada Dinda.
" Masalah apa Bu kok seperti nya sangat serius?"
Tanya Dinda sambil memangku Aida duduk di samping Bu Isfa.
" Ini mengenai mertua mu yang sudah hilang akal sehat nya itu sampai-sampai hanya mengikuti dendam nya ia melakukan tindakan yang membuat celaka diri nya sendiri,"
Jawab Bu Isfa dengan nada gemetar karena menahan amarah nya.
" Ada sebenar nya Bu hingga Ibu semarah itu kepada mertua ku?"
Tanya Dinda dengan tatapan penasaran.
Kemudian Bu Isfa pun mulai menceritakan kejadian awal mula perseteruan mereka berdua hingga berimbas Dinda dan putri nya yang menjadi korban nya saat ini, Kejadian ini bermula di saat Pak Hadi Ayah dari Bu Isfa menikahi Bu Sarah Ibu dari Bu Hasanah dan Pak Husein dengan status Bu Sarah memiliki dua anak bawaan dari suami nya yang dahulu.
Pak Hadi adalah saudagar kaya pedagang kain yang lumayan banyak toko nya tersebar di beberapa wilayah saat itu sedangkan Bu Sarah hanyalah seorang pedagang nasi rames keliling dan Pak Hadi merasa iba dengan kondisi Bu Sarah yang harus berjuang sendiri demi kedua anak nya lalu di nikahi lah Bu Sarah untuk mengangkat derajat nya.
Namun ternyata Bu Sarah berniat jahat ingin menyingkirkan Bu Rahayu istri pertama Pak Hadi bukan lain Ibu dari Bu isfa dan akhir nya niat nya itu dilaksanakan oleh Bu Sarah dengan di bantu Hasanah dengan cara mendorong Bu Rahayu ke sungai yang sedang banjir dan arus nya pun cukup deras saat itu.
Singkat cerita Bu Rahayu meninggal dunia karena terbawa arus yang lumayan deras dan selama bertahun-tahun Bu Isfa harus menjalani hidup yang sangat getir di besarkan oleh seorang Ibu tiri yang sudah menghabisi nyawa Ibu kandung nya bahkan berulang kali juga Bu Sarah dan Hasanah ingin menghabisi Bu Isfa namun niat nya itu bisa di gagalkan oleh Pak Hadi dan Husein.
" Sudah paham sekarang kamu Din apa penyebab kita tidak akan bisa berdamai sampai kapan pun,"
Ucap Bu Isfa dengan mata yang berkaca-kaca mengenang semua kejadian itu.
" Sungguh biadab ternyata mereka hanya karena harta mereka tega menghabisi nyawa seseorang,"
Jawab Dinda yang merasa kesal setelah mendengar penjelasan Ibu nya.
Di situ lah Dinda berfikir memang orang seperti Bu Hasanah tidak pantas mendapatkan prilaku baik sebab dalam hati nya sudah bersarang penyakit hati yang lumayan parah hingga begitu tega nya menghabisi Nenek nya sendiri dengan dalih hanyut di sungai dan seperti nya Sulaiman pun mewarisi sifat Bu Hasanah yang picik tersebut.
Lalu bagaimana tindakan Dinda selanjut nya setelah mengetahui kisah mengenai mertua nya yang bisa melakukan apa pun demi tercapai nya keinginan nya bahkan hingga mempermalukan diri nya sendiri seperti saat ini dan apakah Ustad Fadly tetap akan membantu Bu Hasanah dan Sulaiman agar terlepas dari jeratan hukum jika mengetahui kisah tersebut atau kah Ustad Fadly akan berubah pikiran dan mengurungkan niat nya untuk membebaskan mereka berdua dengan sebuah jaminan?
Jangan pernah beranjak dari kisah mereka semua dan temukan lah jawaban nya hanya di MY LORD HELP ME dan jangan pernah bosan untuk selalu dukung author agar semangat nulis nya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 24 Episodes
Comments
𝙍𝙖𝙝𝙢𝙖𝙣𝙞𝙖✧・ 。゚★: *.
Bu Sarah jahat betul, dy malah membalas dg mencelakai istri pertama pak Hadi y
2023-01-07
1
💜⃞⃟𝓛 ༄༅⃟𝐐🇺𝗠𝗠𝗜ᴰᴱᵂᴵ 🌀🖌
apa yg kita tanam itulah yang kita tuai,
segala perbuatan buruk atau pun baik pasti ada balasan nya
2022-08-08
1
@C͜͡R7🍾⃝ᴀͩnᷞnͧiᷠsͣa✰͜͡w⃠࿈⃟ࣧ
sungguh baik hati ustat Fadly,udah di rugikan dengan kebakaran rumah dan toko nya,tapi masih saja ingin membebaskan Hasanah dan Sulaiman
2022-08-06
3