BAB 14 . BERANI BERKATA TIDAK

Seringkali kita di saat akan mengambil sebuah keputusan mempertimbangkan banyak hal dari mulai tentang sudut pandang keluarga hingga masyarakat namun bagaimana dengan perasaan kita sendiri yang sering kali kita kesampingkan hanya karena menjaga perasaan atau sudut pandang masyarakat bila kita sampai mengambil sebuah keputusan yang bagi kita itu yang terbaik.

Namun seperti nya kali ini Dinda berani mengatakan tidak kepada kedua orang tua nya dan di hadapan Paman nya Sulaiman bukan lain Pak Husein yang sekaligus RT di tempat Dinda tinggal dan memang benar semua kembali kepada pribadi masing-masing orang yang berada di sekitar kita hanya memberikan sebuah asumsi dan saran, Pasti nya semua asumsi dan sudut pandang orang lain tidak harus kita turuti bila tidak sesuai dengan hati nurani kita.

Sore ini di hadapan kedua orang tua nya dan Pak Husein sudah mengambil sebuah keputusan yang bagi nya tidak mudah harus melepaskan orang yang ia sayang dan cintai selama ini namun semua nya sepertinya harus usai di sini sebab sudah puncak nya Dinda menahan rasa malu dan sakit hati selama hidup bersama Sulaiman.

" Bu, Aku sudah tidak mau untuk bersama lagi dengan Bang Sulaiman, Sudah cukup dia membuat ku malu selama ini,"

Ucap Dinda sambil sesekali menyeka air mata yang tidak bisa terbendung lagi.

" Din, Ibu dan Ayah mu tidak akan memaksa mu dalam mengambil keputusan tapi tolong tenang kan hati mu sebelum mengambil keputusan, Pertimbangkan dahulu semua nya Din,"

Jawab Bu Isfa sambil mengelus pundak Dinda.

" Benar Din kata Ibu mu, Jangan memutuskan sesuatu dalam kondisi sedang emosi nanti akan menimbulkan kekecewaan kedepan nya,"

Imbuh Pak Husein dengan nada menenangkan Dinda.

" Kalian berdua ini bagaimana cara berfikir nya, Dinda sudah tersakiti seperti itu tapi kalian malah meminta nya untuk memikirkan lagi?"

Tanya Ayah nya Dinda dengan nada geram.

" Pak Komar, Semua masalah itu harus di putuskan dan di selesaikan dengan kondisi tenang agar bisa kita memilah nya bukan dengan emosi,"

Jawab Pak Husein mencoba memberi pemahaman kepada Ayah nya Dinda.

" Sudah ... sudah inti nya saya setuju dengan keputusan Dinda untuk berpisah dengan suami nya yang tidak berguna itu lagi pula Dinda masih mudah dan bisa menikah lagi nanti,"

Ucap Pak Komarudin sambil bangkit dari duduk nya lalu melangkah menuju teras rumah nya.

" Ayah akan pergi kemana sebentar lagi sudah adzan magrib?"

Tanya Bu Isfa dengan tatapan khawatir.

" Akan ke rumah nya orang tua nya Sulaiman untuk menceritakan kelakuan anak nya yang tidak tau etika tata krama,"

Jawab Pak Komarudin dengan nada geram.

" Pak Komar mari bersama saya agar ada penengah dan juga saksi kejadian tadi yang terjadi antara Sulaiman dan Dinda."

Ucap Pak Husein sambil bangkit berdiri dari duduk nya.

Kemudian Pak Komarudin dan Pak Husein pun menuju rumah kedua orang tua Sulaiman dan ternyata saat itu Sulaiman sudah berada di rumah orang tua nya dan saat ini Sulaiman sedang mengadu kepada Ibu nya bukan lain Bu Hasanah yang selama ini selalu membela Sulaiman, Sedangkan Ayah dan adik nya Sulaiman sedang tidak ada di rumah.

Kondisi seperti itu membuat Sulaiman semakin leluasa membuat cerita dusta mengenai Dinda dan Ustad Fadly, Seperti nya semua cerita dusta yang Sulaiman sampaikan kepada Ibu nya mendapat dukungan dan Ibu nya pun mendukung tindakan Sulaiman dengan memukul Dinda untuk menimbulkan efek jera kepada Dinda.

" Bu, Aku jijik sekali melihat wajah Ustad gadungan lelaki bujang lapuk itu!"

Ucap Sulaiman sambil berdiri di teras rumah nya membelakangi Bu Hasanah.

" Ibu sungguh tidak menyangka bahwa Ustad itu serendah itu, Bagaimana dengan anak didik nya bila guru nya saja seperti itu,"

Jawab Bu Hasanah dengan nada geram.

" Dan lebih menyebalkan lagi tadi Paman Husein tiba-tiba datang dan menarik ku, Padahal aku sudah ingin menghajar wajah itu ustad Bu,"

Ucap Sulaiman sambil membalikkan badan nya menghadap ke Bu Hasanah.

" Untuk apa Paman mu itu ikut campur, Harus nya kamu suruh saja dia pulang biar mengurus istri nya yang sakit-sakitan itu!"

Jawab Bu Hasanah dengan mata terbelalak.

" Itu lah yang sebenarnya ingin aku kata kan kepada Paman tapi aku masih menahan nya agar dia tidak malu memiliki istri yang penyakitan seperti itu."

Ucap Sulaiman diiringi senyum meledek mengingat wajah Paman nya.

Saat itu Pak Husein dan Pak Komarudin sudah tiba di depan rumah orang tua Sulaiman dan pasti nya Pak Husein mendengar apa yang sudah di katakan oleh Sulaiman, Serasa mendidih darah Pak Husein mendengar perkataan Sulaiman yang sudah menghina istri nya namun semua itu di kesampingkan dahulu oleh Pak Husein.

" Assalamualaikum, Bagus kamu sedang ada di sini juga Sulaiman agar semua jelas dan tidak menjadi fitnah,"

Ucap Pak Husein yang sudah berdiri tepat di belakang Sulaiman.

" Wa'allaikumusallam, Paman kapan datang nya mari Paman dan Pak Komar masuk,"

Jawab Sulaiman dengan wajah terkejut melihat kehadiran mereka berdua.

" Abang dan Pak Komar ada urusan apa kemari apakah akan membahas wanita tukang selingkuh anak mu itu Pak Komar?"

Tanya Bu Hasanah sambil melirik sinis.

" JAGA BICARA MU HASANAH WANITA LAKNAT!"

Teriak Pak Komarudin yang lepas kontrol emosi nya.

" Pak Komar sabar jangan terpancing emosi,"

Ucap Pak Husein sambil menahan tubuh Pak Komar yang ingin menampar wajah Bu Hasanah.

" Orang tua mana yang tidak emosi dan marah bila anak nya di katakan seperti itu Pak!"

Jawab Pak Komar dengan nada geram.

" Iya saya paham Pak tapi tolong tenang dulu kita jelaskan dulu titik masalah nya di mana agar semua nya jelas dan tidak menjadi fitnah Pak Komar,"

Ucap Pak Husein mencoba menenangkan Pak Komar yang terpancing emosi nya.

" Halah ... aku tidak butuh penjelasan dari kalian sebab sudah sering aku memergoki Dinda anak mu itu Komar pergi pagi-pagi entah kemana dan sekarang sudah terbukti kan bahwa anak mu tukang selingkuh dengan Ustad Fadly!"

Ucap Bu Hasanah dengan tatapan sinis.

" Hasanah, Semua itu tidak seperti yang kamu lihat dan selama ini Dinda keluar pagi-pagi untuk ke pasar membantu Ibu nya menjaga toko,"

Pak Husein mencoba menjelaskan kepada Bu Hasanah.

" Kenapa sih Bang selalu membela wanita murahan itu dan tidak pernah membela keponakan mu sendiri atau jangan-jangan Abang sudah di beri sesuatu dengan wanita murahan itu, Secara gitu kan istri Abang sakit-sakitan,"

Jawab Bu Hasanah diiringi senyum sinis melirik ke arah Pak Husein.

" Astagfirullahalazim ya Allah ini fitnah, Sungguh picik pikiran mu Hasanah!"

Ucap Pak Husein yang serasa akan meledak amarah nya dan ingin menampar wajah Bu Hasanah namun sebisa mungkin menahan nya.

Kemudian Pak Husein pun menarik lengan Pak Komar mengajak nya pergi dari rumah itu dan mengurungkan niat nya untuk melakukan mediasi kepada keluarga Sulaiman karena perkataan Bu Hasanah yang cukup membuat sakit hati Pak Husein dan Pak Komarudin saat itu.

Di sisi lain ada Weni adik nya Sulaiman baru saja pulang dari kampus dan melihat Paman nya bersama Pak Komarudin mertua Sulaiman sedang berjalan dan Weni pun menghampiri mereka berdua yang niat awal nya hanya ingin menegur dan tidak mengetahui duduk permasalahan antara Sulaiman dan Dinda kali ini.

" Assalamualaikum Paman, Dari mana dan akan kemana Paman dan Pak komar?"

Tanya Weni setelah mencium tangan mereka berdua.

" Wa'allaikumusallam Wen, Dari rumah mu dan akan ke mushola kan sebentar lagi masuk waktu shalat magrib,"

Jawab Pak Husein dengan nada sedih.

" Apakah ada masalah Paman kok tumben Paman ke rumah jam segini atau hanya sekedar mampir saja?"

Tanya Weni sambil bergantian memandang ke mereka berdua yang berdiri di hadapan Weni.

" Benar Wen ini masalah Abang mu dan Dinda putri ku yang sudah di fitnah berselingkuh dengan Ustad Fadly,"

Jawab Pak Komarudin dengan nada rendah.

" Astagfirullahalazim tidak mungkin Kak Dinda melakukan hal hina seperti itu, Sudah biar nanti saya yang berbicara kepada Ayah dan Bang Sulaiman, Saya mohon pamit dulu Paman ... Pak Komarudin Assalamualaikum,"

Ucap Weni sambil terkejut mendengar penjelasan mereka berdua.

" Wa'allaikumuasallam Wen."

Jawab mereka serempak sambil sekilas melihat ke arah Weni yang melanjutkan langkah nya menuju rumah nya.

Sedangkan Pak Husein dan Pak Komarudin melanjutkan langkah kaki nya menuju mushola sambil sesekali istighfar untuk menenangkan hati masing-masing mengenang ucapan Bu Hasanah yang lumayan membuat hati mereka berdua merasa perih dan sakit, Andaikan Pak Husein tidak mengingat di negara ini ada hukum mungkin Bu Hasanah sudah di hajar oleh nya.

Lalu bagaimana sikap Weni yang baru mengetahui hal tersebut apakah Weni dan Ayah nya akan mendatangi kediaman Dinda atau kah menyerahkan semua keputusan kepada Bu Hasanah dan Sulaiman lalu bagaimana dengan Dinda yang kondisi nya saat ini sedang tidak baik-baik saja apakah Dinda mampu bangkit demi buah hati nya di tengah guncangan mental yang hebat?

Jangan pernah beranjak dari kisah mereka semua dan temukan jawaban nya hanya di MY LORD HELP ME dan jangan pernah bosan untuk selalu dukung author agar semangat nulis nya.

Terpopuler

Comments

💜⃞⃟𝓛 ༄༅⃟𝐐🇺𝗠𝗠𝗜ᴰᴱᵂᴵ 🌀🖌

💜⃞⃟𝓛 ༄༅⃟𝐐🇺𝗠𝗠𝗜ᴰᴱᵂᴵ 🌀🖌

mudah mudahan aqu tidak menjadi ibu seperti ibu nya Sulaiman, menjadi pembelajaran

2022-08-07

1

𝙍𝙖𝙝𝙢𝙖𝙣𝙞𝙖✧・ 。゚★: *.

𝙍𝙖𝙝𝙢𝙖𝙣𝙞𝙖✧・ 。゚★: *.

Wahh ga bener tuh Sulaiman kenapa mengadu yg ga bener ke orang tuanya, malah ibunya ikutan menghina orang lain pula

2022-08-01

2

𝙍𝙖𝙝𝙢𝙖𝙣𝙞𝙖✧・ 。゚★: *.

𝙍𝙖𝙝𝙢𝙖𝙣𝙞𝙖✧・ 。゚★: *.

Benar tuh apa yg d katakan ibu kamu Din, jgn gegabah mengambil keputusan d saat emosi

2022-08-01

2

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!