BAB 13 . MASA PEMISAH

Pada masa nya akan tiba masa nya untuk semua di pisahkan dari apa pun itu antara kebaikan dan keburukan, antara kebencian dan ke ikhalasan dan masih banyak hal yang akan di pisah kan namun seperti nya kali ini masa pemisah itu sudah terjadi lebih awal dari ketentuan Allah yang maha pengasih dan maha penyayang kepada umat nya.

Kali ini antara Dinda dan Sulaiman benar-benar harus berpisah dan semua itu karena ulah Sulaiman yang melakukan tindakan tidak wajar dan mempermalukan Dinda serta Paman nya sendiri bukan lain Pak Husein sebagai RT daerah tersebut, Ulah Sulaiman kali ini sudah tidak bisa ditolerir lagi bagi Dinda yang selama ini sudah bersikap sabar menghadapi watak Sulaiman yang suka berbicara kasar dan juga melukai secara fisik.

Siang itu Sulaiman, Dinda dan Pak Husein berjalan bersama menuju rumah kontrakan di mana Dinda dan Sulaiman tinggal dan pasti nya timbul lah desas desus warga mengenai kejadian tersebut ada yang menduga-duga apa yang di katakan Sulaiman tersebut benar ada nya dan ada juga yang menepis semua apa yang di kata kan Sulaiman tersebut hanyalah fitnah belaka dan niat Sulaiman saja yang ingin merusak nama baik Ustad Fadly yang selama ini berbuat baik kepada masyarakat.

Tidak lama kemudian mereka bertiga pun tiba di rumah kontrakan di mana Sulaiman dan Dinda tinggal lalu mereka bertiga pun masuk kedalam rumah tersebut dan pasti nya Pak Husein sangat geram dengan perlakuan Sulaiman yang sudah melampaui batasan kali ini bahkan berani menuduh Ustad Fadly tanpa ada nya sebuah bukti nyata dan hal tersebut sudah masuk kedalam pelanggaran hukum.

" Sulaiman, Paman benar-benar tidak habis pikir dengan mu, Sebenar nya apa mau mu sampai bertindak seperti itu bahkan kamu sudah menuduh istri mu sendiri di depan warga tanpa ada bukti?"

Tanya Pak Husein dengan nada dan tatapan geram.

" Benar bagi Paman aku sudah menuduh tanpa ada bukti tapi aku punya bukti yang sangat kuat bahwa bayi itu bukan anak ku tapi dia bayi haram!"

Jawab Sulaiman sambil melirik sinis kepada Aida bayi mungil yang berada dalam pelukan Dinda.

" Astagfirullahalazim Bang jaga bicara mu, Ini bayi mu dia darah daging mu kenapa kamu tega mengatakan itu Bang kepada putri mu sendiri?"

Tanya Dinda sambil menangis menahan perih dan sesak di dada nya saat mendengar perkataan Sulaiman.

" Dasar wanita jalanan masih saja kamu membela diri, PLAK!"

Ucap Sulaiman sambil melayangkan tamparan keras ke wajah Dinda di hadapan Paman nya.

" CUKUP SULAIMAN SUDAH MELAMPAUI BATASAN TINDAKAN MU KALI INI!"

Teriak Pak Husein yang terlihat memerah wajah nya melihat perlakuan Sulaiman kepada Dinda.

" Paman jangan di bela wanita jalanan ini, Tingkah laku nya sangat memalukan dan tidak pantas dia menjadi seorang Ibu!"

Ucap Sulaiman dengan nada tinggi sambil menunjuk ke arah Dinda yang sedang menangis.

" Dinda lekas kemas semua apa yang kamu butuh kan dan Paman akan mengantar mu pulang kepada orang tua mu, Jangan hirau kan perkataan Sulaiman yang sudah tidak waras ini!"

Ucap Pak Husein dengan nada geram memandang sinis kepada Sulaiman.

" Bagus pergi sana wanita tidak tahu diri dasar wanita murahan tidak tahu malu!"

Bentak Sulaiman yang seperti nya semakin marah sebab mendapat pembelaan dari Paman nya.

" PLAK, Sekali lagi kamu berbicara maka akan aku robek mulut mu Sulaiman dan ingat mulai detik ini aku tidak pernah memiliki keponakan seperti mu yang tidak berguna dan pengecut hanya berani nya menyiksa seorang wanita lemah!"

Ancam Pak Husein sambil menarik krah baju Sulaiman dengan kasar.

Maka sore itu juga setelah shalat ashar Dinda dan Aida pun di antar kan pulang kerumah orang tua nya oleh Pak Husein dan hal itu pasti membuat Bu Isfa terkejut mengapa putri dan cucu nya di antarkan pulang dan lagi di wajah Dinda ada luka lebam di pipi kiri nya hal tersebut pasti membuat Bu Isfa sangat khawatir dengan kondisi putri dan cucu nya saat ini.

Tepat pukul lima sore sampai lah Dinda dan Aida serta Pak Husein di rumah Bu Isfa bukan lain orang tua Dinda yang juga baru tiba dari pasar dan saat mereka bertiga tiba di rumah Bu Isfa saat itu Ayah nya Dinda yang menyambut kedatangan mereka bertiga sebab Bu Isfa sedang melaksanakan shalat ashar.

" Assalamualaikum,"

Ucap Dinda dan Pak Husein bersamaan sambil mengetuk pintu rumah.

" Wa'allaikumusallam, Siapa lagi sih ganggu saja orang sedang menonton pertandingan bola,"

Jawab Pak Komarudin sambil bangkit dari duduk nya dan berjalan menuju ruang tamu untuk membukakan pintu.

" Oh kalian, Aku pikir siapa itu tadi ayo masuk jangan berdiri di depan pintu saja nanti kalau ada yang melihat di pikir kalian menagih hutang pada ku,"

Ucap Pak Komarudin dengan tatapan kurang suka.

" Pak Komar apakah Bu Isfa ada di rumah sebab saya akan membicarakan masalah Dinda dan Sulaiman,"

Jawab Pak Husein sambil melangkah masuk kedalam ruang tamu.

" Ada apa lagi kamu Din, Bukan nya lelaki bebal itu pilihan mu sekarang pulang-pulang membawa masalah pula kamu!"

Ucap Pak Komarudin dengan nada sinis kepada Dinda dengan tatapan tidak suka.

" Pak Komar bukan seperti itu yang terjadi Pak, Mari kita bicarakan dengan kepala dingin masalah mereka berdua agar menemukan solusi nya Pak,"

Penjelasan Pak Husein yang mencoba tenang menghadapi Ayah nya Dinda.

" Sudah panas kepala saya melihat dia Pak, Sejak awal semua orang sudah memberi tahu bahwa lelaki pilihan dia itu tidak pantas di jadi kan suami tapi dia tetap saja melangkah menikahi nya, Jadi sekarang rasakan itu pilihan mu!"

Bentak Pak Komarudin kepada Dinda dengan tatapan sinis dan ucapan yang tajam.

Saat itu baru saja Bu Isfa selesai menunaikan shalat ashar sudah mendengar keributan di ruang tamu rumah nya dan pasti nya Bu Isfa bingung dengan apa yang terjadi mengapa suami nya hingga bersuara tinggi dan samar-samar terdengar suara Pak Husein dan Dinda yang sedang menangis saat itu.

" Astagfirullahalazim ya Allah ada apa lagi sih itu kenapa Ayah nya anak-anak sampai berteriak seperti itu lalu benarkah itu suara Pak Husein dan Dinda tapi ada apa mereka kemari sore-sore dan seperti nya aku mendengar Dinda sedang menangis, Ada apa ini sebenarnya?"

Tanya Bu Isfa sambil melipat mukenah nya dan membatalkan untuk mengaji.

Setelah itu Bu Isfa pun bangkit dari duduk nya dan berjalan menuju ruang tamu memastikan apa yang terjadi saat itu dengan rasa cemas sebab mendengar suara tangisan Dinda saat itu dan mengapa harus pulang dengan di antar Pak Husein Paman dari Sulaiman sekaligus sebagai RT di tempat tinggal Dinda.

Sesampai nya di ruang tamu Bu Isfa sangat terkejut melihat kondisi putri nya saat ini yang sangat terlihat sedang mengalami tekanan psikis dan Bu Isfa masih bingung melihat putri nya sambil menggendong cucu nya yang baru berusia beberapa hari sambil menangis tersedu-sedu saat itu duduk di sofa.

" Dinda, Apa yang terjadi kepada mu Nak lalu kemana Sulaiman suami mu mengapa kamu pulang bersama Pak Husein ada apa sebenarnya ini?"

Tanya Bu Isfa sambil mendekati Dinda lalu merangkul tubuh Dinda dengan tatapan dan nada panik.

" Ibu maaf kan aku yang sudah tidak patuh dengan kata-kata Ibu dan memutuskan menikah meski tidak mendapatkan restu dari Ayah dan Ibu,"

Jawab Dinda sambil menangis memeluk erat Bu Isfa.

" Sudah-sudah sekarang kamu cerita kan apa yang sebenarnya terjadi Nak?"

Tanya Bu Isfa yang semakin bingung dengan ucapan Dinda.

" Bu Isfa dan Pak Komar, Sebelum nya saya minta maaf bukan maksud saya untuk ikut campur dalam keluarga Bapak dan Ibu tetapi masalah ini berhubungan dengan keponakan saya Sulaiman dan juga sekaligus saya sebagai RT di daerah di mana Dinda dan Sulaiman tinggal jadi saya berkewajiban meluruskan masalah ini Bu dan Pak Komar,"

Ucap Pak Husein mencoba tenang menjelaskan kejadian sebenar nya kepada orang tua Dinda.

" Iya Pak, Ini sebenarnya ada apa mengapa putri saya Bapak yang mengantarkan pulang lalu suami nya kemana, Apa yang terjadi sebenarnya Pak?"

Tanya Bu Isfa dengan nada dan tatapan panik kepada Pak Husein sambil merangkul pundak Dinda yanv sedang menangis.

Kemudian Pak Husein pun menceritakan semua kronologi yang terjadi tanpa menambahi atau pun mengurangi nya dan pasti nya sebagai orang tua Bu Isfa dan Pak Komarudin tidak bisa menerima perlakuan Sulaiman kepada Dinda putri mereka berdua dan lagi Sulaiman sudah bertindak di luar batas hingga berbicara sangat kasar kepada putri nya serta memfitnah nya hingga sedemikian bahkan tidak itu saja Sulaiman sudah dua kali melakukan kekerasan secara fisik kepada putri nya.

Pasti lah sebagai orang tua tidak bisa menerima nya begitu saja dan sudah wajar bila kedua orang tua Dinda akan mempermasalahkan masalah ini hingga ke jalur hukum untuk memberi pelajaran kepada Sulaiman agar tidak melakukan tindakan yang ceroboh seperti itu, Lalu apakah tindakan yang akan di lakukan Pak Komarudin dan Bu Isfa saat ini apakah akan membawa kasus ini kerana hukum sesuai yang berlaku?

Lalu bagaimana dengan respon Dinda bila kedua orang tua nya akan membawa masalah ini kemeja hukum apakah Dinda akan mengikuti kemauan kedua orang tua nya atau kah Dinda memiliki cara lain untuk menghukum Sulaiman?

Jangan pernah beranjak dari kisah ini dan temukan jawaban nya hanya di MY LORD HELP ME dan jangan pernah bosan untuk selalu dukung author agar semangat nulis nya.

Terpopuler

Comments

Zidan Malik Ibrahim

Zidan Malik Ibrahim

nasibmu oh dinda?

2023-02-08

1

𝙍𝙖𝙝𝙢𝙖𝙣𝙞𝙖✧・ 。゚★: *.

𝙍𝙖𝙝𝙢𝙖𝙣𝙞𝙖✧・ 。゚★: *.

Ternyata Dinda menikah tanpa restu dr ayahnya ya, makanya dy sekarang malah d suruh merasakan akibat kelakuannya sndr

2022-08-01

1

𝙍𝙖𝙝𝙢𝙖𝙣𝙞𝙖✧・ 。゚★: *.

𝙍𝙖𝙝𝙢𝙖𝙣𝙞𝙖✧・ 。゚★: *.

Issh geram deh sama Sulaiman istri sendiri ko d bilang gitu sih, bayi itu anak kamu lho Kenapa d bilang anak haram wehhh

2022-08-01

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!