BAB 17 . JANGAN BERASUMSI

Sering kita temui di masyarakat pada umum nya saat melihat suatu kejadian maka mereka pun segera berasumsi dan menduga-duga apa penyebab hal itu bisa terjadi namun sesungguhnya asumsi tidak bisa di pastikan kebenaran nya tapi hal itu lah yang sering kita temui di kalangan masyarakat, Setelah berasumsi maka mereka mulai menghakimi orang yang mengalami sebuah musibah.

Namun sesungguhnya di saat kita berasumsi dan menghakimi seseorang maka secara tidak langsung itu lah takaran yang akan di gunakan orang lain menghakimi kita, Contoh kecil di saat tanpa sengaja kita berasumsi bahwa orang di hadapan kita sudah hilang akal pikir nya maka tidak lama kemudian ada orang lain yang mengatakan bahwa diri kita yang hilang akal pikiran nya.

Saat itu sebenarnya Allah sedang menegur kita bahwa kita sebagai manusia tidak memiliki hak sedikit pun untuk menghakimi atas diri orang lain sebab takaran yang kita asumsi kan kepada orang lain akan kembali kepada diri kita sendiri, Seperti saat ini warga masyarakat sedangkan mengguncing kan tentang kejadian kebakaran di rumah Ustad Fadly dan tidak hanya rumah nya namun toko nya pun ludes di lalap si jago merah.

Pasti nya asumsi masyarakat berbeda-beda bila yang menyukai perangai Ustad Fadly sebagai contoh yang baik di masyarakat maka mereka merasa iba dengan kejadian tersebut namun bila yang membenci nya maka akan di berkata bahwa itu lah karma dari Allah yang memang pantas untuk di terima.

Malam itu Ustad Fadly hanya mampu berdzikir kepada Allah agar di tenang kan hati nya, di lapang kan dada nya dan tetap mampu berfikir secara jernih di saat cobaan datang menguji keimanan nya, Saat itu Ustad Fadly duduk di pos ronda sambil terus berdzikir sambil memandang ke arah rumah nya yang sudah hangus terbakar hanya menyisakan puing-puing dan nyaris rata dengan tanah.

" Paman, Aku sangat yakin pelaku dari semua kejadian ini adalah orang yang tadi siang berteriak di depan rumah memfitnah Paman!"

Ucap Fahri dengan nada geram.

" Aku setuju dengan pendapat mu Fahri, Mari kita cari orang itu lalu kita seret dia ke kantor polisi untuk mempertanggung jawab kan prilaku nya!"

Imbuh Firhad dengan penuh amarah.

" Astagfirullahalazim, Kalian ini kenapa lagi dan mengapa kalian berasumsi bahwa lelaki tadi yang melakukan semua ini, Apakah kalian berdua memiliki bukti atas asumsi kalian itu?"

Tanya Ustad Fadly sambil bergantian melihat ke arah kedua keponakan nya.

" Ya memang kita tidak memiliki bukti yang kuat terapi kan siapa lagi yang berbuat jahat seperti ini selain lelaki itu, Paman,"

Jawab Firhad dengan nada kesal.

" Jangan berasumsi nanti akan menimbulkan fitnah, Apakah derajat kalian sama dengan lelaki yang tadi siang itu tentu nya tidak kan, Allah sangat membenci umat Nya yang suka memfitnah maka akan di turunkan azab yang sangat pedih atas nya,"

Ucap Ustad Fadly mencoba menasehati kedua keponakan nya yang mulai tersulut emosi.

Sedangkan saat itu Pak Husein bersama beberapa warga yang lain mengikuti mobil yang membawa Pak Ali dan Weni yang sedang pingsan setelah di pukul tengkuk nya dengan sebilah kayu balok dan seperti nya mobil tersebut mengarah ke gudang buah yang sudah tidak di gunakan lagi.

Sesampai nya di gudang buah lalu terlihat lah Sulaiman dan Bu Hasanah serta beberapa orang rekan nya Sulaiman membawa Pak Ali dan Weni yang sedang pingsan masuk kedalam gudang tersebut, Saat itu Pak Husein dan beberapa warga lain nya saling pandang sebab bingung melihat apa yang sedang di lakukan mereka semua kepada Pak Ali dan Weni yang sedang pingsan.

" Mengapa Bu Hasanah dan Sulaiman membawa Pak Ali dan Weni yang sedang pingsan ke gudang tua itu ya Pak Husein, Mengapa tidak membawa nya pulang kerumah nya saja?"

Tanya Sugiono salah satu warga yang menemani Pak Husein.

" Benar juga apa kata mu No, Kan mereka memiliki rumah kenapa harus membawa nya ke situ?"

Timpal Sodiq salah satu warga yang merasa bingung melihat kejadian tersebut.

" Kalian berdua siapa yang membawa hp, Saya pinjam sebentar sebab saya tidak membawa hp ini tadi,"

Jawab Pak Husein dengan tatapan lurus ke arah gudang tua.

" Saya bawa Pak, Memang hp untuk apa Pak?"

Tanya Sugiono dengan wajah polos.

" Giono kamu naik ke atap gudang tua itu lalu rekam apa yang terjadi di dalam setelah itu lekas kembali kemari,"

Jawab Pak Husein sambil menunjuk arah atap gudang tua di hadapan nya.

Kemudian Sugiono dan Sodiq pun menjalan kan perintah Pak Husein lalu Sugiono merayap ke atap gudang tua tersebut perlahan Sugiono membuka salah satu genting dan mulai menyalakan kamera yang ada di hp nya, Begitu juga dengan Sodiq yang merekam tindakan mereka dari jendela yang berada di salah satu sisi gudang tua tersebut.

Hal tersebut di lakukan oleh Pak Husein semata-mata untuk barang bukti sebab bila melaporkan sebuah kejadian kepada pihak yang berwajib harus di sertakan barang bukti yang kuat bila tidak maka hasil laporan kita bisa di putar balik kan fakta dan terjerat pasal pencemaran nama baik.

Sedangkan Bu Hasanah dan Sulaiman serta beberapa kawan nya tidak tahu bahwa saat ini semua percakapan dan prilaku nya sedang di video kan oleh Sugiono dan Sodiq atas perintah Pak Husein sebagai RT setempat dan semua itu akan di jadikan bukti oleh Pak Husein di hadapan kepolisian.

" Bu sekarang bagaimana, Ayah dan Weni pingsan apakah tidak sebaik nya tidak kita bawa pulang saja?"

Tanya Sulaiman dengan wajah gugup.

" Sulaiman apa kamu mau meringkuk di penjara, Kita sudah melakukan pembakaran rumah dan toko Ustad gadungan itu, Pasti nya warga sudah mengepung rumah mu!"

Jawab Wahyu salah satu teman Sulaiman.

" Tapi ini Ayah dan adik ku sedang pingsan bagaimana kalau sampai ada apa-apa dengan mereka berdua?"

Tanya Sulaiman yang mulai semakin panik.

" Diam kalian semua, Beri kesempatan aku berfikir jangan pikirkan mereka berdua saat ini!"

Jawab Bu Hasanah dengan nada membentak kepada Sulaiman dan kawan-kawan nya.

Saat itu Sugiono dan Sodiq sudah merekam percakapan mereka dan kondisi di dalam ruangan pun terlihat Pak Ali dan Weni yang sedang duduk terikat di sebuah kursi kayu dengan posisi terikat dan hal itu sudah bisa di jadikan barang bukti yang kuat di hadapan kepolisian.

" Bagaimana sudah kalian video kan kejadian di dalam sana dan apakah suara nya terdengar jelas apa yang sedang mereka bicarakan?"

Tanya Pak Husein kepada mereka berdua.

Kemudian mereka berdua pun serempak mengangguk sebagai jawaban bahwa mereka sudah menjalan kan perintah Pak Husein dengan baik lalu mereka bertiga pun pergi ke kantor kepolisian untuk membuat laporan atas kejadian yang sudah merugikan orang lain dan juga motif penculikan juga penganiayaan dan hal itu bisa masuk kedalam kategori terkena pasal pidana berlapis.

Sedangkan Bu Hasanah sudah memprediksikan semua yang akan terjadi atas semua tindakan nya dan pasti nya Bu Hasanah dan Sulaiman serta beberapa kawan nya tidak ingin meringkuk di balik jeruji besi maka Bu Hasanah memberi perintah kepada yang lain nya untuk pergi meninggalkan kampung tersebut sejauh mungkin.

" Kalian semua dengar kan aku, Sekarang juga kalian menyebar pergi dari kampung ini sejauh mungkin dan jangan pernah kembali lagi,"

Ucap Bu Hasanah dengan nada dan tatapan serius.

" Lalu bagaimana dengan kita Bu?"

Tanya Sulaiman dengan nada panik.

" Kita pergi kerumah Kakek mu yang berada di luar pulau ini dan ingat ganti semua no telepon kalian jangan sampai bisa di hubungi siapa pun,"

Jawab Bu Hasanah dengan tegas.

" Baik bila begitu, Mari kita pergi sekarang sebelum mereka berdua bangun dari pingsan nya."

Ucap salah satu kawan Sulaiman sambil bangkit dari duduk nya.

Namun seperti nya gerakan mereka kalah cepat dengan pihak berwajib yang saat ini sudah mengepung gudang tua tersebut, Di saat mereka membuka pintu maka di sambut lah dengan pihak kepolisian yang sudah berjajar di hadapan mereka dan pasti nya mereka tidak bisa mengelak atau kabur dari jeratan hukum kali ini.

Maka dengan sangat mudah nya pihak kepolisian meringkus mereka yang sudah tidak mampu membuat perlawanan lagi, Saat itu yang di rasakan oleh Bu Hasanah dan Sulaiman utama nya hanyalah rasa malu kepada masyarakat bahwa kini mereka harus berurusan dengan pihak berwajib.

Sedangkan Pak Ali dan Weni yang sedang pingsan segera mendapat kan perawatan medis dan pasti nya berita tersebut sampai kepada Dinda dan Ustad Fadly yang kebetulan saat itu mereka berdua sedang berada di pasar untuk melihat kondisi toko masing-masing yang sudah hangus di lahap si jago merah dan bisa di pasti kan berita itu membuat Dinda tidak bisa berkata-kata lagi mengenai Sulaiman dan Bu Hasanah yang selalu membuat masalah dalam kehidupan Dinda sejak awal menikah.

Lalu bagaimana respon Dinda dan Ustad Fadly setelah mengetahui dalang dari semua masalah yang telah terjadi dalam hidup nya kali ini, Apakah Ustad Fadly bisa memaafkan prilaku Sulaiman dan Bu Hasanah yang sudah melampaui batasan atau kah Ustad Fadly akan menuntut semua kerugian yang sudah di alami kepada Sulaiman dan Bu Hasanah, Lalu bagaimana dengan sikap Dinda mengetahui suami dan mertua nya terjerat dengan hukum apakah Dinda akan segera menggugat cerai kepada Sulaiman atau kah Dinda masih memberi kesempatan Sulaiman dan Bu Hasanah untuk bertaubat dan memperbaiki hidup nya?

Jangan pernah beranjak dari kisah mereka semua dan temukan jawaban nya hanya di MY LORD HELP ME dan jangan pernah bosan untuk selalu dukung author agar semangat nulis nya.

Terpopuler

Comments

💜⃞⃟𝓛 ༄༅⃟𝐐🇺𝗠𝗠𝗜ᴰᴱᵂᴵ 🌀🖌

💜⃞⃟𝓛 ༄༅⃟𝐐🇺𝗠𝗠𝗜ᴰᴱᵂᴵ 🌀🖌

kalau Dinda bertahan dgn suami model seperti itu, alangkah bodohnya kamu Dinda,🙄🙄🙄

2022-08-07

1

Putri oktaviani

Putri oktaviani

Bu Hasanah nyuruh yg lain ny kabur pergi dr kampung situ biar tdk msuk penjara,tp untung ny sblm mereka pergi polisi keburu dateng.

2022-08-02

12

Putri oktaviani

Putri oktaviani

Bu Hasansh qm msh punya malu ya,kirain urat malu mu dh putus krn dendam.

2022-08-02

11

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!