Dalam pernikahan yang lebih di utamakan adalah kata saling yaitu saling memahami, saling mengerti, saling menghargai, saling mendukung dan masih banyak lagi kata saling yang harus nya di lakukan, Namun seperti nya dalam rumah tangga Sulaiman dan Dinda jauh dari kata saling itu sendiri yang muncul hanyalah ego semata dan saling merasa benar sendiri utama nya Sulaiman sebagai kepala keluarga.
Seyogyanya sebagai kepala keluarga bisa memberi contoh yang baik kepada istri dan anak nya sebab semua akan tergantung dari sikap kepala rumah tangga itu sendiri dan apa bila sebagai kepala rumah tangga ego mementingkan kesenangan pribadi maka secara otomatis anggota keluarga yang lain pun akan melakukan hal yang sama.
Seperti yang terjadi di sore hari ini Sulaiman dengan tanpa merasa bersalah mengambil perhiasan yang menggantung di tubuh Ida putri kecil nya tanpa ada rasa bersalah dan hal itu di lakukan hanya karena ia meminta uang kepada Dinda tidak di beri dan dengan santai nya setelah mengambil perhiasan milik Ida putri nya Sulaiman pergi meninggalkan rumah tanpa ada rasa iba sedikit pun kepada istri dan putri nya.
Anak ku saat ni Ibu akan bersumpah akan melakukan apa pun demi diri mu dan tidak akan Ibu mengijinkan siapa pun bisa melukai mu lagi utama nya Ayah mu sendiri yang tidak pernah menganggap diri mu sebagai putri nya bahkan dengan tega menyebut diri mu anak haram nak, Semoga Allah melimpahkan hidayah kepada Ayah mu dan ia menjadi sadar.
Bergumam lah dalam hati Dinda sambil menangis sejadi-jadi nya merasakan perih di hati nya mengenang perlakuan suami nya kepada diri nya dan selalu menuduh Dinda selingkuh sedangkan selama ini Dinda tidak pernah melakukan hal tersebut yang ada di dalam benak Dinda bagaimana cara nya bertahan hidup.
Di sisi lain ternyata Sulaiman pergi ke rumah Ibu nya untuk menjual perhiasan milik Ida putri nya ke orang tua Sinta yang letak rumah nya berhadapan dengan rumah orang tua Sulaiman, Jadi Sulaiman singgah kerumah orang tua nya untuk mengadu mengenai sikap Dinda istri nya yang sudah berani melawan kepada Sulaiman, Hal itu menurut Sulaiman pasti nya.
" Assalamualaikum Bu,"
Ucap Sulaiman sambil turun dari motor nya.
" Wa'allaikumusallam Man, Tumben kamu kemari sore-sore apakah istri mu membuat ulah lagi Nak?"
Tanya Bu Hasanah sambil menyodorkan tangan nya kepada Sulaiman.
" Begitu lah Bu, Entah sampai kapan aku harus menunggu dia mengerti apa mau ku, Ayah kemana Bu?"
Jawab Sulaiman sambil mencium telapak tangan Ibu nya.
" Ayah mu sedang mandi baru pulang dari kantor itu tadi, Man sudah Ibu kata kan pada mu sejak dulu kalau perempuan itu tidak pantas untuk mu sedangkan kamu tahu sendiri Ayah nya saja tidak benar bagaimana dengan anak nya coba?"
Ucap Bu Hasanah sambil melirik sinis kepada Sulaiman.
" Iya aku tahu Bu dan pasti nya Ibu juga tahu kan mengapa aku memaksa untuk menikah dengan dia, Itu semua aku lakukan tidak lebih hanya untuk balas dendam karena orang tua nya sudah menyinggung ku,"
Jawab Sulaiman sambil duduk di bangku kayu di teras rumah nya.
" Benar Man, Tidak hanya kamu yang tersinggung tetapi Ibu lebih tersinggung dengan ucapan mereka."
Ucap Bu Hasanah yang tersirat dendam di sorot mata nya.
Tidak lama kemudian muncul lah Ayah Sulaiman dari dalam rumah nya setelah mandi dan seperti nya Ayah nya Sulaiman tidak sependapat dengan pola pikir istri dan anak nya saat ini begitu juga dengan adik kandung Sulaiman yang pola pikir nya berbeda dengan Sulaiman dan Ibu nya, Sehingga sore itu terjadi adu argumen di teras rumah Sulaiman.
" Man kapan kamu datang, Lalu kemana istri dan anak mu apakah mereka baik-baik saja?"
Tanya Ali Ayah kandung Sulaiman diiringi senyum ramah sambil membetulkan kancing di baju koko.
" Assalamualaikum Yah, Baru saja aku datang dan masalah istri dan anak ku baik-baik saja Yah,"
Jawab Sulaiman sambil bangkit berdiri mencium telapak tangan Ayah nya.
" Wa'allaikumusallam, Alhamdulillah kalau anak dan istri mu baik- baik saja lalu kamu dari mana ini tadi dan akan kemana Man?"
Tanya Ali sambil duduk di samping Sulaiman.
" Aku dari rumah dan akan ke rumah nya Sinta untuk menjual perhiasan ini untuk membeli oli dan bensin Yah,"
Jawab Sulaiman sambil menunjukkan perhiasan milik Aida putri nya.
" Astagfirullahalazim Man, Apakah kamu tidak malu untuk membeli oli dan bensin harus menjual perhiasan milik anak mu yang masih bayi itu, Di mana harga diri mu Man lalu selama ini kamu bekerja kemana lari nya gaji mu Man sampai harus menjual perhiasan milik putri mu seperti itu!"
Bentak Ali dengan raut wajah penuh emosi.
" Apa-apaan si Ayah ini main marah-marah saja dengan anak sendiri, Yang harus nya Ayah salahkan itu Dinda kenapa bukan memberi uang malah memberikan perhiasan kepada Sulaiman,"
Ucap Bu Hasanah dengan tatapan sinis.
" Bu, Tidak mungkin Dinda yang memberikan perhiasan itu kepada Sulaiman dan kenapa Ibu lebih membelah Sulaiman yang jelas-jelas salah!"
Bentak Ali dengan tatapan marah kepada istri nya.
" Mana perhiasan itu dan Abang tunggu di sini!"
Bentak Weni sambil mengambil bungkusan yang berisi perhiasan Ida.
Tanpa banyak berbicara Weni adik kandung Sulaiman mengambil perhiasan itu dari tangan Sulaiman lalu membawa nya masuk kedalam rumah dengan tatapan penuh amarah kepada Sulaiman dan Ibu nya, Sedangkan Sulaiman berpura-pura memasang wajah sedih sebab kena marah oleh Ayah nya saat itu.
Benar-benar tidak habis pikir aku melihat ulah Bang Sulaiman ini, Apakah urat malu nya sudah putus sampai akan menjual perhiasan milik putri nya yang masih bayi dan aku yakin tidak mungkin Kak Dinda yang memberikan perhiasan itu kepada Bang Sulaiman, Meski Bang Sulaiman Abang kandung ku tapi aku tidak suka dengan tabiat nya yang tidak bisa menghargai seorang wanita dan aku akan mengembalikan perhiasan ini kepada Kak Dinda.
Bergumam lah dalam hati Weni sambil mengambil uang beberapa lembar untuk di berikan kepada Sulaiman yang sedang duduk di teras bersama Ayah dan Ibu nya, Tidak lama kemudian Weni pun keluar dari kamar nya sambil membawa kunci motor nya dan melangkahkan kaki nya dengan menahan rasa emosi kepada Abang kandung nya.
" Ini uang untuk mu dan ingat jangan kamu ulangi lagi perbuatan mu yang memalukan ini!"
Ucap Weni dengan nada geram sambil meletakkan lima lembar uang seratus ribuan di atas meja di hadapan Sulaiman.
" Thanks Wen aku suka model perempuan seperti mu yang pengertian tidak seperti istri ku yang tidak pernah pengertian kepada suami,"
Jawab Sulaiman diiringi senyum licik sambil mengambil uang pemberian Weni adik nya.
" PLAK, Dasar suami tidak berguna kamu Sulaiman, Ayah benar-benar malu memiliki anak seperti mu, Pergi kamu dari sini muak aku melihat wajah mu!"
Bentak Ali Ayah nya Sulaiman setelah menampar wajah Sulaiman dengan keras.
Saat itu di ujung bibir Sulaiman mengucur lah darah segar karena terkena tamparan Ayah nya dan pasti nya Bu Hasanah tidak tinggal diam melihat putra kesayangan nya di perlakukan seperti itu di depan mata nya, Kemudian Sulaiman pun meninggalkan rumah nya dengan tatapan penuh amarah kepada Ayah nya sedangkan Weni adik nya Sulaiman sedang menuju ke rumah kontrakan di mana Dinda tinggal.
Tidak lama kemudian sampailah Weni di depan kontrakan Dinda dan dari luar terlihat Dinda sedang menyetrika baju di ruang tengah kontrakan nya dan terlihat Dinda sangat lelah dan terlihat dari wajah dan tatapan mata yang sayu hanya saja berpura-pura tegar menghadapi semua permasalah yang tengah di hadapi nya sendiri tanpa ada tempat untuk mengadu selain kepada Allah di waktu shalat.
" Assalamualaikum Kak,"
Ucap Weni sambil berdiri di depan pintu rumah kontrakan Dinda.
" Wa'allaikumusallam, Hay Wen ayo masuk aku pikir siapa itu tadi,"
Jawab Dinda sambil menoleh dan mencabut kabel setrika.
" Maaf Kak aku kemari malam-malam jadi mengganggu jam istirahat Kakak,"
Ucap Weni sambil melangkah masuk kedalam rumah.
" Oh tidak ini saja aku masih setrika Wen, Ada apa Wen apakah Ibu dan Ayah baik-baik saja di rumah?"
Tanya Dinda sambil duduk di samping Weni.
" Alhamdulillah Ayah dan Ibu baik-baik saja Kak, Tujuan aku kemari untuk mengembalikan perhiasan nya Aida yang sudah di ambil Bang Sulaiman, Kak,"
Jawab Weni sambil menyodorkan bungkusan kertas yang berisi perhiasan milik Aida keponakan nya.
" Subhanallah alhamdulillah akhir nya anak ku bisa menggunakan anting lagi, Terimakasih banyak ya Wen atas bantuan nya tapi bagaimana dengan Bang Sulaiman Wen?"
Tanya Dinda yang tiba-tiba berubah ekspresi wajah nya sambil memegang lengan Weni.
" Sudah Kakak jangan pikirkan Bang Sulaiman yang terpenting Kakak fokus menjaga keponakan ku yang cantik dan juga jaga kesehatan Kakak ya."
Jawab Weni sambil senyum simpul kepada Dinda.
Kemudian mereka berdua pun saling berpelukan dan saat itu juga Dinda merasa ada yang mengerti posisi nya yang selalu di dzalimi oleh suami dan pasti nya hal itu membuat Dinda memiliki kekuatan baru untuk menatap masa depan demi putri kecil nya yang tidak diakui oleh Ayah kandung nya sendiri.
Lalu bagaimana sikap Sulaiman nanti saat pulang kerumah kontrakan nya dan bertemu Dinda sebab Sulaiman sudah terkena tamparan yang cukup keras dari Ayah nya belum lagi ia sudah mendapat ancaman dari Weni Adik kandung nya sendiri, Apakah benar Sulaiman tidak akan mengulangi lagi ulah nya untuk menyakiti perasaan nya Dinda?
Jangan pernah beranjak dari kisah ini dan temukan jawaban nya hanya di MY LORD HELP ME dan jangan pernah bosan untuk selalu dukung author agar semangat nulis nya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 24 Episodes
Comments
Mutia Callysta
Syukur lah dinda msh mempunyai adik ipar yg baik seperti weni
2022-07-14
9
Mutia Callysta
Laki" kok mau nya di mengerti cwek sedangkn dia tdk belajar ngertiin pasangn nya...laki" model kyk gitu mah buang aja ke kutub selatan biar beku.
2022-07-14
9
Mutia Callysta
Benar Weni urat malu abang mu sdh putus krn itu dia sdh tdk tahu malu lagi.
2022-07-14
7