Dalam kehidupan ini tidak ada yang di kata kan sempurna bila ada yang menuntut sebuah kesempurnaan dari orang lain maka itu sebuah alibi saja dengan kata lain tuntutan kesempurnaan hanyalah sebuah keegoisan seseorang untuk menjatuh kan orang lain.
Begitu juga dengan Sulaiman yang selalu mencari kesempurnaan dalam diri Dinda istri nya dan hal itu lah yang di jadi kan sebuah alasan bagi Sulaiman untuk selalu menyiksa batin Dinda semenjak Dinda hamil hingga melahirkan.
Dan tidak bisa di mengerti bagaimana pola pikir Sulaiman dengan kata sempurna itu sendiri sebab yang di lakukan Sulaiman hanya lah menyakiti perasaan Dinda dan hal itu lah yang semakin tidak bisa menjadi diri nya sendiri karena tuntutan dari suami nya.
Siang ini Dinda dan bayi nya sudah di ijinkan pulang oleh dokter sebab meski bayi nya lahir belum cukup umur namun kondisi nya sehat begitu pun dengan Dinda yang baru saja melahirkan.
Dinda pulang dari rumah sakit menuju rumah kontrakan nya bersama Ibu dan mertua nya yang perempuan, Saat itu kondisi rumah kontrakan Dinda sangat lah berantakan hingga Ibu nya Dinda berfikir apakah Sulaiman tidak membantu Dinda sama sekali untuk membersihkan rumah nya agar tidak seberantakan itu.
Ini rumah apa kandang kambing, Berantakan sekali semua baju berserakan di mana-mana gelas kopi pun masih di atas meja dan kamar pun sudah seperti kapal pecah, Apakah Sulaiman tidak membantu Dinda untuk merapikan nya atau bagaimana?
Bergumam lah dalam hati Ibu Isfa dengan pandangan mata nya menyebar ke seluruh ruangan, Kemudian tanpa banyak berbicara Ibu Isfa segera membersihkan gelas kopi yang tergeletak di meja ruang tamu dan membawa nya ke dapur.
Sedangkan Ibu Hasana mertua Dinda lebih menyalahkan Dinda menantu nya saat melihat kondisi rumah berantakan dan selalu membela Sulaiman putra nya yang dianggap selalu benar dalam bersikap dan bertindak.
" Din kamu bagaimana si sebagai istri, Rumah bisa sekotor ini semua nya berserak di mana-mana memang kerja mu di rumah apa saja?"
Tanya Bu Hasana dengan nada ketus.
" Saya tadi belum sempat berberes Bu sebab buru-buru ke pasar itu pun sudah kesiangan dan tahu nya malah saya melahirkan,"
Jawab Dinda menanggapi dengan senyum simpul sambil memangku bayi nya yang sedang tertidur lelap.
" Kamu itu ya Din jadi istri harus bisa membagi waktu jangan malah sibuk sendiri dengan urusan pribadi mu,"
Ucap Bu Hasana dengan lirikan sinis.
" Iya Bu, Biasa nya juga saya yang membersihkan,"
Jawab Dinda dengan senyum simpul.
" Ya harus lah, Masak harus suami mu yang sudah capek kerja yang harus membereskan rumah juga,"
Ucap Bu Hasna sambil melihat ke arah Bu Isfa yang sedang mencuci piring.
Saat itu sebenarnya Dinda sangat malu kepada Ibu kandung nya sebab harus membantu nya mencuci piring dan Dinda pun merasa sangat malu dengan sikap mertua nya, Kemudian Bu Hasana pun berpamitan untuk pulang kepada Dinda dan Bu Isfa yang saat itu berada di situ dan pasti nya dengan tatapan sinis kepada mereka berdua.
Setelah Bu Hasna pulang baru lah Bu Isfa duduk di samping Dinda mencoba bertanya mengenai rumah tangga Dinda selama ini dan apakah Dinda di perlakukan dengan baik oleh Sulaiman.
" Din, Bukan Ibu mau ikut campur masalah keluarga mu tapi sebenarnya bagaimana hubungan mu dengan suami mu selama ini?"
Tanya Bu Isfa sambil memegang pundak Dinda.
" Aku dengan suami ku baik-baik saja kok Bu, Aku juga bahagia kok Bu jadi Ibu jangan khawatir ya,"
Jawab Dinda mencoba menenangkan hati Ibu nya.
" Bila memang ada masalah bicara lah Din agar kamu lebih lega jangan kamu simpan sendiri ya Nak,"
Ucap Bu Isfa sambil mengelus pundak Dinda.
Saat itu sebenarnya air mata Dinda sudah ingin jatuh mendengar perkataan Ibu nya namun Dinda mencoba tegar dan tidak ingin membuat Ibu nya bersedih sebab bagi Dinda cukup diri nya saja yang merasakan semua.
Sekitar 30 menit kemudian Ibu Isfa pun mohon pamit kepada Dinda sebab waktu sudah semakin sore saat itu dan kini tinggal lah Dinda dan putri kecil nya di rumah kontrakan tersebut, Kemudian Dinda pun bangkit dari duduk nya dan berjalan ke kamar untuk meletakkan putri yang di ranjang dan perlahan Dinda merapikan baju milik Sulainan yang berserak di ranjang tidur.
Ya Allah sampai kapan aku harus merasakan semua ini sedangkan selama ini aku sudah berusaha menjadi seperti yang diingin kan oleh suami ku namun seperti nya hal itu belum cukup bagi nya dan aku harus seperti apa lagi agar suami ku bisa menghargai ku sebagai istri.
Bergumam lah dalam hati Dinda yang tanpa sengaja meneteslah air mata membasahi pipi nya sambil ia melipat kain di hadapan nya dan sesekali menyeka air mata nya, Tiba-tiba terdengar suara yang sangat keras dari arah teras rumah kontrakan nya dan hal itu pasti nya membuat Dinda terkejut.
" Astagfirullahalazim ... suara apa itu seperti ada yang membanting sesuatu di teras, Apakah itu Bang Sulaiman yang sudah pulang?"
Ucap Dinda sambil menyeka air mata yang membasahi pipi nya.
Kemudian Dinda pun segeralah bangkit dari duduk nya lalu melangkahkan kaki nya menuju teras rumah asal suara yang membuat nya terkejut dan ternyata benar ternyata Sulaiman lah yang menendang motor nya hingga kaca lampu sen dan spion nya pecah.
" Ya Allah Bang kenapa marah seperti itu?"
Tanya Dinda sambil terkejut melihat motor milik nya sudah tergeletak di tanah.
" Bagaimana aku tidak marah, Gara-gara motor mu yang sudah tua dan suka mogok ini, Aku jadi terlambat datang keperlombaan burung dan akhir nya aku kalah, MENYEBAL KAN BRAK!"
Ucap Sulaiman sambil menginjak body motor yang sudah tergeletak di tanah dengan penuh emosi.
" Kenapa menyalahkan motor ku kalau kamu kalah dalam pertandingan Bang, Aku saja tidak pernah menyalahkan mu kalau kamu sedang mogok?"
Tanya Dinda diiringi senyum mencoba menghibur suami nya.
" Memang nya kamu pikir aku motor pakai mogok segala, Besok jual saja motor nya ganti yang baru!"
Jawab Sulaiman dengan nada kesal.
" Bang kita sekarang sudah punya anak di tambah lagi aku tidak cukup uang untuk membeli motor yang baru kecuali kamu ada uang untuk membeli motor yang baru kalau motor itu di jual,"
Ucap Dinda mencoba memberi penjelasan kepada suami nya.
" Orang tua mu kan punya toko di pasar minta saja uang pada Ibu mu pasti di berikan dan lagi selama ini kan kamu yang membantu Ibu mu di pasar!"
Jawab Sulaiman dengan lirikan sinis.
" Tidak bisa begitulah Bang, Kan motor nya kita yang pakai kenapa harus minta uang ke Ibu ku?"
Tanya Dinda dengan tatapan bingung.
" Banyak bicara kamu, Anak sama Ibu sama saja, Aku itu ingin punya istri yang sempurna tidak banyak tanya dan mengerti kebutuhan suami nya tidak seperti kamu banyak tanya tidak paham-paham dengan keinginan ku apa, Dasar istri bebal!'
Jawab Sulaiman sambil melemparkan jaket ke arah wajah nya Dinda lalu berlalu pergi.
Ya Allah aku harus seperti apa lagi agar suami ku sadar bahwa seharus nya dia lah yang bertanggung jawab memenuhi kebutuhan anak dan istri nya bukan lah aku yang harus terus memenuhi keinginan dia.
Bergumam lah dalam hati Dinda sambil mematung di teras rumah nya sesaat kemudian terdengar suara tangisan dari bayi nya baru lah Dinda tersadar lalu segeralah melangkahkan kaki nya menuju kamar nya dan saat itu Dinda sungguh terkejut melihat posisi bayi nya sudah berpindah tempat.
" BANG APA SUDAH TIDAK WARAS OTAK MU MELETAK KAN ANAK MU DI LANTAI TANPA ALAS!"
Teriak Dinda karena terkejut melihat putri nya yang berada di lantai saat itu.
" BRISIK ... aku mau tidur anak mu membuat sempit ranjang ini maka nya aku pindah kan ke lantai, Sudah sukur tidak aku lempar keluar juga!"
Bentak Sulaiman lalu membelakangi Dinda sambil memeluk guling.
Saat itu segera lah Dinda mengambil bayi nya dan menggendong nya dengan kain sambil menenangkan bayi nya yang sedang menangis, Hati Dinda merasa sangat perih melihat perlakuan suami nya kepada putri nya sendiri.
Namun semua rasa pahit yang di rasakan hanya mampu di telan nya sendiri tanpa ada tempat berbagi kecuali Allah, Sambil menggendong putri nya Dinda ingin rasa nya pergi yang jauh meninggal kan semua nya namun ia berfikir harus pergi kemana.
Dinda tidak ingin menjadi beban bagi Ibu nya yang selama ini membanting tulang membesarkan Dinda dan kedua adik nya, Belum lagi saat ini kedua adik nya Dinda masih membutuhkan biyaya sekolah yang cukup besar.
Dengan pikiran yang bingung Dinda hanya mampu menangis merasakan hinaan dan cacian yang terlontar dari mertua dan suami nya dan saat ini seperti nya sudah terlambat untuk terlepas dari semua masalah yang sedang terjadi.
Di sisi lain Bu Isfa orang tua Dinda sebenar nya mengetahui derita yang sedang di alami putri nya hanya saja saat ini Bu Isfa tidak bisa berbicara banyak sebab bagaimana pun juga semua kembali kepada Dinda yang menjalani rumah tangga bersama Sulaiman lelaki pilihan Dinda.
Lalu apakah Dinda akan mengambil sikap saat ini dalam menghadapi Sulaiman yang semakin menjadi sikap nya atau kah Dinda masih mampu bersabar menghadapi sikap Sulaiman dan berharap akan ada keajaiban sehingga Sulaiman bisa berubah?
Jangan pernah beranjak dari kisah rumah tangga Sulaiman dan Dinda yang penuh dengan permasalahan dan temukan jawaban nya hanya di MY LORD HELP ME dan jangan bosan untuk selalu dukung author agar semangat nulis nya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 24 Episodes
Comments
Zidan Malik Ibrahim
Di dunia ini tidak ada manusia yang sempurna, masing2 manusia diciptakan dengan kekurangan dan kelebihannya masing2😊
2023-01-24
1
💜⃞⃟𝓛 ༄༅⃟𝐐🇺𝗠𝗠𝗜ᴰᴱᵂᴵ 🌀🖌
rasanya pengen ngeracun tuh suami model seperti itu,
yg baca stres sendiri 🤦
2022-08-05
1
Tania Callia
Bu hasanah anak mu cape kerja apa orang dia kerjaan nya cuma nongkrong di club malam sama teman" nya.
2022-07-12
8