Pagi hari pukul 7
Suci sudah menyiapkan sarapan pagi untuk mereka semua. Sedangkan Dimas ia masih bersiap-siap untuk berangkat kerja, yang mana ia sudah bangun lebih dulu dan mengajak Suci selalu shalat berjamaah.
Lalu, setalah itu Suci pergi ke dapur untuk memasak dan Dimas langsung bersiap-siap. Di meja makan semuanya sudah berkumpul, hanya saja Vina tidak ada karena ia belum bangun dari tidurnya.
“Dimana Vina, Mah?” tanya Papah Angga sambil menyuapkan nasi ke dalam mulutnya.
“Biasa, Pah. Dia masih tidur, lagian juga kayanya kecapean. Kan kemarin kami habis shoping terus memanjakan tubuh juga biar tetap cantik hehe...” jawab Mamah Mita sambil makan.
“Apa kalian pergi bertiga?” tanya Papah Angga yang melirik ke arah Suci, lalu kembali menatap Mamah Mita.
Suci hanya bisa menundukkan kepalanya sambil makan, sedangkan Dimas pun ikut menatap Mamahnya.
“Bertiga? Aduh, si Papah ini sepertinya sudah mulai pikun ya. Mana ada Mamah jalan bertiga, yang ada berdua lah... Mamah dan Vina, lagian kalau bertiga sama siapa? Suci? Astaga, Papah. Masa ia Mamah mengajak Suci, yang ada nanti dia malah bikin malu lagi. Apa lagi, Suci kan enggak pernah ke salon dan Shopping aduh... Jangan deh, dari pada nanti Mamah malu kan, mending sama Vina” Saut Mamah Mita yang melirik Suci dengan tatapan menjijikkan.
“Astaghfirullah, Mamah. Jaga ucapanmu ya, Papah tidak pernah mengajarkan Mamah untuk berbicara serendah itu kepada menantumu sendiri yang mana dia juga adalah anak kita. Sudah berapa kali Papah bilang kalau Mamah harus bisa menghargai Suci, bukan malah menyakiti dia seperti ini” tegas Papah Angga dengan tatapan tajam yang mengarah ke Mamah Mita.
“Apaan sih, Pah. Lagian juga Suci biasa-biasa saja, ya kan? Memangnya kamu merasa kalau saya ini menyakitimu? Enggak kan...” jawab Mamah Mita sambil menatap Suci dengan tatapan menusuk.
“Ya, Pah. Mamah enggak menyakiti Suci kok, mungkin ini cara Mamah untuk bisa sayang sama Suci. Lagian, Suci juga tidak suka ke salon apa lagi belanja-belanja seperti itu, Pah. Jadi biarkan Mamah dan Vina untuk bersenang-senang” ucap Suci sambil tersenyum.
“Tuh... Papah lihat sendiri kan. Jadi, stop untuk selalu menyalahkan Mamah” saut Mamah Mita dengan kesal.
“Jika Suci menjawab dengan kata tidak, maka aku sebagai suaminya akan menjawab dengan kata iya. Bagi Suci, Mamah tidak menyakitinya, tapi bagi Dimas selaku suaminya Suci maka Mamah benar-benar telah menyakiti Suci karena apa pun kata-kata yang keluar dari mulut Mamah dan Vina itu semuanya benar-benar sangat kejam” tegas Dimas sambil menatap Mamah Mita.
“Ya ya ya... Bela saja terus istrimu itu, lagian juga Mamah sudah tidak di anggap di sini kan. Dan Papah juga, bela saja menantu kesayanganmu itu. Toh di sini tidak ada yang sayang lagi dengan Mamah. Apa pun yang Mamah lakukan selalu saja salah di mata kalian. Dahlah, Mamah sudah tidak nafsu untuk makan” ucap Mamah Mita penuh emosi dan langsung meninggalkan meja makan.
Papah Angga hanya bisa mengelus dada sambil mengucapkan Istighfar sebanyak-banyak saat melihat kelakuan istrinya. Baru kali ini Papah Angga dan Dimas melihat kelakuan Mamah Mita yang sangat buruk, padahal dulu ia begitu ramah dan sangat baik. Namun, saat mengetahui Suci tidak bisa memiliki seorang anak dan berkat Vina yang selalu menjadi kompor untuk sang Mamah, dari situlah sifat Mamah Mita berubah sangat drastis.
“Papah...”
“Mas...”
“Sudah, ya. Kalian tidak usah memperpanjang semua ini. Suci ikhlas dengan semuanya yang Mamah lakukan kepada Suci, lagian juga Mamah berubah itu semua karena Suci. Suci yang tidak bisa membuat Mamah bahagia dengan memberikan cucu yang lucu untuknya. Suci tahu, Pah, Mas, kalau Suci adalah wanita yang tidak berguna yang tidak bisa memberikan kalian semua kebahagiaan. Tapi Suci juga sedih saat tahu ini semua, kenapa enggak dari awal saja di saat Suci dan Mas Dimas belum menikah. Jadi, Mas Dimas bisa mencari wanita lain untuk memberikan kebahagiaan kepada Mamah dan semuanya”
Suci meneteskan air matanya sambil merasakan hatinya yang sangat sakit. Namun, ia berusaha untuk tetap tegar serta tersenyum di hadapan mereka semua yang sebetulnya ia benar-benar sangat rapuh.
Bagaimana tidak, wanita mana yang tidak akan merasakan sedih serta sakit, jika ia mengetahui bahwa dirinya tidak bisa mengandung seorang anak untuk melengkapi keluarga kecilnya. Sampai akhirnya Suci berusaha untuk mengikhlaskan semua itu dan berserah diri kepada Allah karena Dialah yang maha segala-galanya.
“Dek, kamu ngomong apaan sih. Mas enggak pernah suka ya kalau kamu selalu berkata seperti itu. Lagian, Mas sangat bersyukur bisa menikah dengan wanita sebaik kamu. Mas tidak peduli mau kita punya anak atau tidak, itu semua tidak akan mengurangi rasa cinta Mas untuk kamu sedikit pun. Malah rasa sayang, cinta dan kekaguman ini akan semakin bertambah saat Mas melihat kamu begitu tegar menghadapi ini semua” tegas Dimas yang langsung meraih kedua tangan Suci.
Dimas menatap mata Suci dengan sangat dalam, dapat ia lihat bahwa Suci yang berusaha tersenyum namun dengan keadaan air mata yang mengalir itu membuat hati Dimas serasa tersayat-sayat. Ia bisa merasakan kepedihan Suci yang sangat mendalam. Namun, ia juga di tuntut untuk berusaha kuat agar tidak membuat Suci semakin berlarut dalam kesedihannya.
“Apa yang di katakan Dimas itu benar, Papah juga tidak akan menuntut apa pun dari kalian. Walau pun Allah memang menakdirkan kalian untuk tidak bisa memiliki anak, tapi kan masih banyak anak-anak yang sangat membutuhkan kasih sayang orang tua. Jadi, kalian bisa mengadopsinya untuk menjadi bagian dari hidup kalian sambil kita berikhtiar, bertawakal dan bersyukur. Semoga saja Allah memberikan mukjizat-Nya untuk kalian kelak” saut Papah Angga dengan lembut.
“Terima kasih banyak Pah, Mas. Kalian sudah bisa menerima keadaan Suci yang seperti ini, Suci sudah sangat-sangat bersyukur telah di berikan suami serta ayah mertua sebaik kalian. Suci merasa kalau sosok Bapak ada di dalam diri Papah yang membuat Suci merasa kuat” ucap Suci sambil tersenyum dan menangis saat mendapat dukungan dari suami serta mertuanya.
“Sudah, sekarang kamu jangan nangis ya. Lebih baik kamu siap-siap gih terus ikut aku ke kantor nanti, kalau pekerjaanku sudah selesai kita jalan-jalan biar pikiran kamu lebih tenang lagi” ucap Dimas yang langsung menghapus air mata Suci dan tak lupa mencium kening Suci.
“Ta-tapi, Mas...” ucapan Suci terpotong saat Papah Angga langsung berbicara.
“Sudah, lebih baik kamu ikut dengan suamimu. Dari pada di rumah, kamu akan semakin merasakan sakit saat melihat kelakuan Mamahmu itu. Jadi pergilah bersenang-senang, kalau perlu kalian tidur di Apartemen saja untuk malam ini, supaya Suci bisa menenangkan pikirannya. Kasihan dia, pasti mentalnya sangat terganggu” ucap Papah Angga.
“Ya, Papah ada benarnya. Ya sudah, kami mau siap-siap dulu ya, Pah. Habis itu kami berangkat, dan tolong jangan bilang sama Mamah atau Vina kalau kami nanti malam pulang langsung ke Apartemen tidak ke rumah. Karena Dimas tidak mau sampai ada yang mengganggu kami nantinya” ucap Dimas yang hanya di angguki oleh Papah Angga sambil tersenyum.
Dimas pun langsung membawa Suci ke kamar mereka untuk bersiap-siap. Suci hanya bisa menuruti perintah dari Dimas, karena ia juga sepertinya memang sangat butuh waktu untuk menenangkan pikirannya yang saat ini benar-benar sangat pusing.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hai para readers semuanya 🤗
Perkenalkan ini adalah karya novel ke-3 Author loh 🤩
Semoga kalian menyukainya ya 🤝
Dukung Author terus dengan cara berikut :
Like 👍
Komen 📨
Favorite ❤️
Rate 🌟
Share 📲
Dan tidak lupa pula selipkan hadiahnya ya 😍🙏
Bunga, kopi atau sebagainya pun tak apa kok malah lebih bagus lagi pundi-pundi receh yang berterbangan di karyaku ini hihi 😆😜
Sayang kalian banyak banyak ❤️❤️❤️
Terima kasih semuanya 🙏🙏
Papaaayyy~~~ 👋🏻👋🏻👋🏻
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 282 Episodes
Comments
Yoyoh
Allah tdk akan menguji pada umat ny yg tak mampu. yakin Suci pasti kamu bisa
2022-07-17
3
Risma Panggabean
thor suci dan dimas jgn sampai ber pisah
2022-07-17
1