“Maaf ya, Sa. Suamiku memang seperti itu, jadi malu aku hehe...” ucap Suci yang tidak enak dengan Elsa.
“Tidak apa-apa, Mbak. Malah aku senang melihat Mbak dan suami Mbak sangat bahagia di dalam pernikahan kalian. Tidak seperti nasib aku yang buruk ini, kapan ya aku bisa seperti kalian yang sangat romantis dan bisa membuat orang merasakan iri saat melihat kemesraan aku dan pasanganku” ucap Elsa.
“Insya Allah... Pasti Allah akan menggantikan laki-laki itu dengan laki-laki yang jauh lebih baik lagi untukmu, Sa. Jadi, sudah ya jangan berpikir seperti itu. Kamu tidak boleh menyalahkan takdir karena semua sudah diatur sama Allah untuk membuat kita lebih kuat lagi untuk menghadapi cobaannya yang lebih dari ini. Karena namanya hidup itu bagaikan kita sedang bersekolah. Banyak belajarnya serta ujiannya supaya kita tahu kemampuan kita sampai mana. Dan anggap saja Allah sedang ingin mengangkat derajatmu untuk menjadi wanita yang jauh lebih baik lagi dari ini...” jawab Suci sambil menggenggam tangan Elsa dan tersenyum.
“Amin... Terima kasih sudah membuat aku sadar, apa yang aku lakukan tadi adalah salah. Aku malu mbak, aku sudah tak bisa menjadi seorang wanita yang utuh untuk suamiku nanti. Apakah masih ada laki-laki yang mau dengan tubuhku yang kotor ini?” tanya Elsa.
“Serahkan semuanya kepada Allah, jadi sudah ya tidak sudah banyak pikiran lagi. Kamu harus semangat lagi untuk menjalani hidup kamu yang masih sangat panjang ini, apa lagi sekarang kan sudah ada aku yang akan selalu ada untukmu” jawab Suci sambil menghapus air mata Elsa.
Elsa yang merasa terharu pun langsung memeluk Suci dengan sangat erat.
...*...
...*...
Saat ini jam sudah menunjukkan pukul 7 malam.
Elsa dan Suci pun sudah selesai bersih-bersih. Suci yang memang tidak membawa baju salinnya pun langsung di pinjamkan baju tidur yang tertutup oleh Elsa.
Kemudian, mereka berbincang-bincang sambil tertawa saat menceritakan betapa serunya masa kecil mereka yang sangat lucu. Namun, di saat sedang tertawa, Suci mendengar suara yang tidak asing lagi.
Kereukk... kereukk... kereukk...
“Bunyi apa ya itu?” ucap Suci dengan nada meledek.
“Hehe...” jawab Elsa yang hanya bisa cengengesan saat ketahuan ternyata itu adalah bunyi dari perutnya yang sudah memberontak minta diisi.
“Kalau lapar itu makan, Sa. Jangan diam saja, kasihan perutmu minta diisi itu. Kalau tidak nanti kamu bisa sakit loh... Ya sudah aku mau buatkan kamu makanan dulu ya” ucap Suci yang langsung pergi menuju dapur.
“Eh, M-mbak... Tu-tunggu, aku enggak lapar kok. Lagian ini cuma angin saja” saut Elsa yang langsung mengejar Suci ke dapur.
“Angin bagaimana si, Sa. Kamu itu lapar, kenapa ngeyel banget jadi orang” jawab Suci yang sudah berhasil di tahan oleh Elsa.
“Ma-maaf, Mbak. Bu-bukan begitu... Maksudnya...” ucapan Elsa terhenti saat Suci kembali berjalan ke arah dapur dan mencari sesuatu yang bisa ia masak untuk menu makan malam.
Namun, dengan rasa kegelisahan Elsa pun menggigit jarinya karena ia tidak mau sampai Suci tahu keadaannya yang begitu sulit.
“Aduh... Bagaimana ini, jangan sampai Mbak Suci tahu kalau keadaanku seperti ini. Aku malu jika dia harus tahu kalau aku hidup dengan kesusahan seperti ini...” ucap Elsa di dalam hatinya.
Dan di saat Suci telah mengecek semua keadaan dapur Elsa, betapa terkejutnya ia saat tidak mendapati apa pun yang bisa Suci masak untuk makan malam mereka berdua. Suci langsung berbalik dan menatap Elsa dengan sedikit kesal yang malah membuat Elsa hanya bisa tertawa malu.
“Hem... Jadi ini yang kamu bilang enggak lapar? Kenapa sih kamu tidak jujur saja sama aku kalau di dapur tidak ada makanan sama sekali. Kita kan bisa beli di luar, kenapa harus menahan lapar seperti ini? Dan apakah ini kehidupan kamu sehari-hari, Sa?” tanya Suci yang membuat Elsa terdiam serta sedikit menundukkan kepalanya.
“Ma-maaf, Mbak. Aku enggak bisa memberikan Mbak makanan yang enak seperti yang Mbak makan sehari-hari. Inilah keadaanku yang sebenarnya, selama ini aku berjuang hidup sendiri dengan pekerjaanku yang gajinya tidak seberapa. Jadi, aku harus bisa mengatur keuangan sebaik mungkin supaya bisa cukup sampai ketemu gajian bulan berikutnya” jawab Elsa dengan sangat lirih.
Suci bisa merasakan apa yang Elsa rasakan saat ini, hanya dari mendengar suara lirihnya Elsa. Suci juga busa merasakannya karena ia juga dulu pernah ada diposisi yang bahkan jauh di bawah Elsa.
“Memangnya kalau boleh aku tahu, apa pekerjaanmu dan berapa gajimu perbulanmu, Sa?” tanya Suci dengan serius.
“Aku bekerja sebagai penjaga toko baju, Mbak. Dan gajiku hanya 50.000 perhari. Tapi jika aku tidak masuk kerja, maka tidak akan digaji” jawab Elsa.
“Penjaga toko baju? Bukannya tadi kamu cerita bahwa kamu sekolah tamatan SMK dengan jurusan perkantoran, kan...?” tanya Suci dengan wajah yang sangat bingung.
“Namanya juga pekerjaan, Mbak. Lulusan tidak akan menjadi jaminan orang itu bisa kerja sesuai dengan apa yang telah dihasilkan, bahkan banyak anak kuliahan yang bekerja sebagai OB. Apa lagi saat ini jika kita bekerja harus membayar biaya admin yang cukup besar baru kita bisa bekerja. Jika tidak, maka tidak akan di terima, Mbak. Tahu sendiri, kita mencari pekerjaan untuk mendapatkan upah bukan malah kita yang memberikan mereka upah di awal” jawab Elsa sambil duduk di kursi depan meja makan yang tidak jauh dari dapur.
“Ya sih, kamu memang benar. Ya sudah, coba nanti aku tanyakan pada suamiku dulu apakah di kantornya ada lowongan untuk kamu, jika ada nanti aku kabarin ya...” ucap Suci sambil duduk.
“Tidak usah repot-repot, Mbak. Lagian juga aku tidak bisa kerja kantoran, takutnya nanti aku malah buat susah suami Mbak lagi” saut Elsa dengan perasaan tidak enak.
“Kan semua itu bisa di mulai dari belajar, Sa. Kalau kamu niat pasti semuanya akan ada jalannya sendiri. Percaya deh sama aku, siapa tahu kamu bisa menjadi karyawan suamiku yang bisa membantu meringankan sedikit pekerjaannya” ucap Suci dengan percaya diri.
“Ya sudah, terserah Mbak Suci saja. Aku ikut wae hehe...” ucap Suci sambil tertawa.
“Nah... Gitu dong, hehe... Ya sudah hari ini mau makan apa? Biar kita pesan saja lewat aplikasi, bagaimana? Kamu mau makan apa, hem...?” tanya Suci sambil membuka ponselnya dan mencari menu makanan di aplikasi online.
“Apa ya, Mbak. Aku bingung hehe... Lagian Mbak Suci saja yang milih biar aku tinggal makan saja, lagian aku semuanya juga suka kok. Asalkan jangan batu dan kotoran saja haha...” jawab Elsa dengan candanya yang malah membuat Suci menggelengkan kepalanya.
Suci langsung memesan beberapa menu makanan serta camilan untuk mereka berdua. Sehingga tidak membutuhkan waktu yang lama, sang kurir pun datang dengan membawa beberapa tas belanjaan yang telah Suci pesan.
Kemudian, Suci membayarnya dengan memberikan uang lelah untuk sang kurir supaya bisa lebih semangat lagi untuk menjemput rezeki. Elsa yang melihat kebaikan hati Suci pun begitu tersentuh, ternyata Suci yang dulu ia kenal dan saat ini benar-benar tidak berubah.
Meskipun saat ini Suci sudah menjadi istri pebisnis yang hebat dan kaya raya, namun semua itu tak membuat Suci merasakan kesombongan dan keangkuhan. Tidak menunggu terlalu lama, kini mereka berdua langsung menyantap makanan yang sudah di pesan tadi.
Terlihat dari sudut pandangan Suci bahwa Elsa saat ini benar-benar sangat lapar. Suci melihat dari cara makannya Elsa serta kelahapannya dalam menyantap makanan tersebut yang membuat Suci tersenyum bahagia.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hai para readers semuanya 🤗
Perkenalkan ini adalah karya novel ke-3 Author loh 🤩
Semoga kalian menyukainya ya 🤝
Dukung Author terus dengan cara berikut :
Like 👍
Komen 📨
Favorite ❤️
Rate 🌟
Share 📲
Dan tidak lupa pula selipkan hadiahnya ya 😍🙏
Bunga, kopi atau sebagainya pun tak apa kok malah lebih bagus lagi pundi-pundi receh yang berterbangan di karyaku ini hihi 😆😜
Sayang kalian banyak banyak ❤️❤️❤️
Terima kasih semuanya 🙏🙏
Papaaayyy~~~ 🤗🤗
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 282 Episodes
Comments