Perlahan Suci membuka pintu kamarnya dengan sangat hati-hati, karena ia takut jika sampai mengganggu Dimas yang sedang beristirahat. Namun, saat Suci menutup kembali pintu kamarnya tiba-tiba saja ia di kagetkan dengan suara Dimas.
“Sayang, kamu sudah pulang?” tanya Dimas dengan suara lemasnya dan mencoba untuk bangun serta duduk bersandar di sandaran kasur.
“Assalammuaikum, loh Mas Dimas kenapa bangun? Apa Suci tadi buka pintunya terlalu berisik ya, sampai membangunkan Mas yang sedang beristirahat” ucap Suci sambil berjalan mendekati Dimas sambil mencium tangannya.
“Waalaikumsalam, enggak kok. Memang tadi Mas cuma memejamkan mata saja untuk menghilangkan rasa pusingnya. Pas dengar suara pintu terbuka ternyata istriku sudah pulang, hem... Aku kangen kamu, Dek” ucap Dimas dengan sangat manja sambil memeluk Suci dari samping.
“Mas kenapa tidak bilang sama Suci kalau Mas sedang sakit seperti ini. Suci kaget loh saat Mamah bilang Mas sakit, padahal kan kita video call terus Mas terlihat dalam keadaan baik-baik saja. Lalu Mas juga janji mau menghubungi aku saat sudah sampai di rumah, tapi tahunya Mas tidak ada kabar sama sekali. Jadi, ternyata ini jawabannya” jawab Suci sambil mengusap sayang pipi Dimas.
“Maaf, Dek. Mas tidak bermaksud mengingkari janji, tapi Mas tidak tahu saat pulang dari kantor kok badan Mas tiba-tiba menggigil. Ya sudah Mas coba untuk mandi air hangat biar bisa sedikit menyegarkan, eh tahunya malah jadi seperti ini. Mungkin, Mas sakit karena menahan rindu yang mendalam saat tidak ada kamu di samping Mas hehe...” ucap Dimas sambil menggoda Suci.
“Sudah selesai bercandanya? Mas saat ini sedang sakit loh, jadi stop merayu atau menggoda Suci lagi. Sekarang Mas fokus untuk sembuh dulu, lagi pula kalau Mas menggigil harusnya Mas itu langsung minum obat dan minum yang hangat-hangat. Bukannya malah mandi air hangat, jadi ya kaya begini akhirnya” saut Suci dengan wajah cemasnya saat mendapati tubuh Dimas yang sedikit demam serta wajah tampannya terlihat sangat lemas dan pucat.
“Ya maafkan aku, Sayang. Sudah dong aku kan lagi sakit, harusnya di sayang-sayang, di manja-manja sama kamu. Bukannya malah di omeli seperti ini, kalau nanti sakitnya tambah parah bagaimana? Mas kan jadi enggak bisa sembuh dengan cepat dong, tapi kalau di manja kan Mas bisa sembuh lebih cepat hehe...” ucap Dimas dengan suara manjanya sambil tertawa gemas bagaikan Big Baby yang sangat lucu.
“Mas, stop ya seperti ini. Mas tahu kan kelemahan Suci itu enggak bisa melihat sifat manja kaya gini. Awalnya Suci mau marah sama Mas, tapi kalau Mas Dimasnya aja seperti ini Suci jadi tidak tega untuk memarahi Mas Dimas sekarang” jawab Suci sambil meraup wajah Dimas dan memandanginya.
“Hihi... Cayang, tium dong bial atu ica cepet cembuh” ucap Dimas yang langsung menggunakan jurus andalannya untuk membuat Suci luluh.
“Aaa... Mas Dimas, stop seperti itu ya! Suci tidak mau sampai tergoda” rengek Suci sambil membuang wajahnya seolah-olah sedang mengambek kepada Dimas.
Namun, tindakan Suci tersebut malah membuatnya terlihat seperti orang yang menahan rasa malunya menurut sudut pandangan Dimas.
“Hem... Benelan ni, ndak au tium atu. Ya udah deh, atu ndak au cembuh. Agian cayang atu ndak au tium-tium atu cih...” saut Dimas dengan memasang wajah gemasnya yang membuat Suci sedikit melirik hingga senyum-senyum sendiri.
“Uuu... cayang ahat, ndak au tium atu. Tan atu agi cakit, maca ndak di cayang-cayang cih. Issh... cebel deh ama cayang, au malah api ndak boyeh anti cayangnya atu diambil olang. Jadi atu diem aja deh...” ucap Dimas sambil mengerucutkan bibirnya.
Suci yang sudah tidak kuat lagi menahan rasa malunya seketika tertawa dengan sangat puas, saat melihat tingkah manja suaminya yang sangat lucu ini.
“Haha... Aduh, Mas Dimas ada-ada saja haha... Bahkan sekarang Mas Dimas terlihat seperti bayi besar haha... Aduh, perutku sakit haaha...” tawa Suci tertular oleh Dimas.
Dimas pun tersenyum sangat lebar saat melihat sang istri yang bisa tertawa dengan sangat lepas seperti tidak ada beban sama sekali.
“Mas tahu, Dek. Pasti saat pulang tadi, kamu langsung di marahi oleh Ibu karena Mas bisa melihat matamu yang sembab itu. Siapa lagi dalangnya kalau bukan ulah Ibu dan adikku itu. Maafkan aku ya Dek. Mas belum bisa menjadi suami yang terbaik untukmu, Mas hanya sedang berusaha untuk membuatmu tetap tersenyum seperti ini. Serapat apa pun kamu menyembunyikan rasa sedihmu, Mas bisa merasakannya dari sorotan matamu. Jadi, Mas hanya bisa berdoa dan selalu berharap semoga Allah bisa lebih-lebih lagi memberimu kekuatan, ketabahan, kesabaran serta kebahagiaan ” ucap Dimas di dalam hati kecilnya sambil menatap Suci yang masih tertawa.
“Aduh, Mas belajar dari mana bahasa bayi seperti itu? Suci saja terkadang masih tidak paham apa yang di bicarakan oleh bayi hehe...” ucap Suci yang sudah berhenti tertawa.
“Tium duyu dong, balu anti atu acih auh” saut Dimas dengan nada manjanya.
“Kebiasaan deh, pasti mencari kesempatan dalam kesempitan” jawab Suci sedikit menyunggingkan bibirnya ke bawah.
“ Ya sudah kalau enggak mau mah, enggak apa-apa kok” jawab Dimas dengan nada sedikit dingin.
“Eh, ngambek deh mulai hehe... Yaudah yaudah, sini Suci cium dulu. Tapi Mas tutup matanya ya” ucap Suci.
“Oke, siapa takut” jawab Dimas dengan percaya diri sambil memejamkan matanya.
“Muach...” Suci mencium pipi kanan Dimas dengan sangat lembut.
“Nah... Sudah kan. Jadi, jangan ngambek lagi ya bayi gedenya Suci yang tampan dan menggemaskan uhhh...” Suci mencubit kedua pipi Dimas dengan gemas yang membuat Dimas sedikit meringis ke sakitan.
“Auchh... Sakit tahu sayang, ishh... Nakal ya sekarang, kamu mainnya cubit-cubitan. Pokonya kamu harus mendapat hukuman karena sudah membuat aku kesakitan” tegas Dimas dengan berpura-pura kesal.
“Loh, kok marah sih Mas. Kan Suci cuman bercanda saja, lagian Suci cubitnya enggak terlalu kencang kok. Beneran deh, suer...” saut Suci sambil menunjukkan jari yang membentuk huruf V dengan wajah yang sedikit cemas.
“Menurut kamu itu bercanda, tapi tidak dengan aku karena yang merasakan sakitnya itu aku bukan kamu. Paham!” tegas Dimas yang sedikit membuat Suci terkejut dengan suara Dimas yang sedikit meninggi.
“Ma-maaf, Mas. Ya-ya sudah, apa hukumannya Suci akan menjalankannya supaya bisa mendapatkan maaf dari Mas Dimas” ucap Suci dengan nada sedihnya.
Dimas yang melihat wajah Suci berubah jadi sedih, seketika ia ingin tertawa lepas karena menurut Dimas wajah Suci bukannya terlihat seperti orang yang mau menangis. Melainkan seperti anak kecil yang sedang ketakutan jika dimarahi oleh Ayah mereka.
“Maafkan aku sayang, jika tidak seperti ini maka aku tidak akan bisa mendapatkannya. Apa lagi, kamu tipikal wanita yang sangat pemalu tapi dengan begini kamu akan terbisa dengan apa yang kamu lakukan nanti ” ucap Dimas di dalam hatinya.
“Yakin, kamu mau menuruti semua hukumannya tanpa menolak sedikit pun?” tanya Dimas yang ingin memastikan jika Suci mau menjalani hukuman ini.
“Suci yakin, Mas. Hal ini karena Suci tahu jika suami Suci ini bukanlah suami yang kejam dengan istrinya, tapi ia adalah suami yang sangat mencintai istrinya” jawab Suci dengan suara lirihnya yang hampir saja membuat Das tertawa
“Ekhem... Baiklah, hukumannya adalah...” ucapan Dimas terpotong, ia menatap Suci dengan sangat lama yang membuat Suci pun merasa deg-degan atas hukuman yang akan ia jalani ini.
“Adalah...” jawab Suci sambil menatap Dimas dengan penuh penasaran.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hai para readers semuanya 🤗
Perkenalkan ini adalah karya novel ke-3 Author loh 🤩
Semoga kalian menyukainya ya 🤝
Dukung Author terus dengan cara berikut :
Like 👍
Komen 📨
Favorite ❤️
Rate 🌟
Share 📲
Dan tidak lupa pula selipkan hadiahnya ya 😍🙏
Bunga, kopi atau sebagainya pun tak apa kok malah lebih bagus lagi pundi-pundi receh yang berterbangan di karyaku ini hihi 😆😜
Sayang kalian banyak banyak ❤️❤️❤️
Terima kasih semuanya 🙏🙏
Papaaayyy~~~ 🤗🤗
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 282 Episodes
Comments