Tidak menunggu lama, kini mereka berdua langsung menyantap makanan yang sudah di pesan Suci. Terlihat dari sudut pandangan Suci, bahwa Elsa saat ini benar-benar sangat lapar. Cara makannya serta kelahapannya membuat Suci tersenyum bahagia.
“Loh, Mbak. Kenapa tidak makan? Apa makanannya tidak enak? Tapi tidak mungkin, buktinya aku saja lahap...” ucap Elsa dengan mulut yang sedikit penuh terisi oleh makanan.
“Enak kok, bahkan saat aku melihat cara makanmu saja itu sudah membuatku merasa sangat kenyang” saut Suci sambil memakan makanannya sedikit demi sedikit.
“Benarkah? Apakah aku terlihat sangat rakus, Mbak? Atau aku terlihat seperti orang yang tidak makan selama sebulan?” tanya Elsa dengan wajah polosnya.
“Hehe... Tidak, kamu terlihat sangat manis dan cantik saat makan dengan begitu lahapnya. Ya sudah ayo habiskan makanannya, biar cacing-cacing di perutmu tidak berteriak meminta makanan” jawab Suci.
“Ishh... Mbak nih bisa saja. Sudah ayo Mbak juga makan yang banyak kasihan nanti suaminya Mbak kalau tahu istrinya sehari tinggal sama aku jadi kurus” ucap Elsa yang kembali makan.
“Hehe... Ya ya ya, ini aku makan kok...” jawab Suci yang kembali makan sambil tersenyum.
Akhirnya mereka makan dengan begitu lahap, ets... ralat. Hanya Elsa ya yang begitu lahap karena ia baru bisa kembali merasakan makanan yang enak. Apa lagi, ia sangat jarang menyentuh atau pun membeli makanan yang menurutnya akan menguras habis isi dompetnya.
Setelah mereka selesai makan, Suci dan Elsa kembali duduk sambil menonton televisi. Dan tak terasa Elsa pun tertidur dengan sangat lelap. Suci yang melihatnya merasa sedikit tersentuh dengan nasib sahabatnya ini.
Elsa hidup seorang diri tanpa keluarga di sisinya dan di tambah lagi dengan pekerjaan yang jauh dari kemampuan Elsa. Tapi, yang Suci salutkan dengan Elsa adalah ia masih mau bekerja sebagai penjaga toko dengan penghasilan sedikit tanpa adanya rasa mengeluh.
Hanya saja, di saat sang kekasih meninggalkan Elsa di situlah ia baru bisa merasakan betapa tidak berharga hidupnya ini. Suci kembali menatap televisi sambil beberapa kali mengecek ponselnya berharap sang suami menghubunginya. Karena ia sudah berpesan untuk menghubungi Suci saat sudah pulang ke rumah.
Namun, hari yang semakin larut membuat Suci tertidur tanpa sadar. Bahkan, sang suami juga tidak menghubunginya. Mungkin, saja Dimas sangat kelelahan di kantor sehingga ia lupa untuk mengabari sang istri.
...*...
...*...
Pagi hari di kontrakan Elsa
Suci sudah bangun lebih pagi serta sedikit membereskan kontrakan Elsa yang memang rada berantakan. Setelah Elsa terbangun dari tidurnya, Suci segera menyuruhnya untuk mandi dan bersiap-siap.
Suci ingin mengajak Elsa pergi berbelanja untuk kebutuhan sehari-harinya. Awalnya Elsa menolak karena ia merasa tidak enak, tapi Suci selalu saja mendesaknya dengan alasan seorang Kakak yang ingin membantu adiknya. Di situlah Elsa langsung menuruti apa yang Suci ucapkan.
Saat ini Elsa merasa hanya memiliki Suci, ia tidak mau sampai kehilangan Suci kembali. Karena hidupnya saat ini sudah benar-benar sangat sepi setelah di tinggal sang kekasih yang menikahi wanita lain. Hampir 1 jam lebih Suci menunggu Elsa yang baru saja selesai, dan tak lama kemudian sopir Suci pun langsung datang untuk mengantarkan mereka berdua.
Selama di perjalanan Elsa mencoba menghubungi mantan kekasihnya atas perintah Suci. Namun, naas sepertinya mantannya itu sudah memblockir nomer ponsel Elsa. Di situ Elsa merasa sangat sedih, dengan mudahnya sang mantan berpaling dan melupakannya. Padahal 10 tahun bukanlah waktu yang sebentar untuk mereka menjalin hubungan.
Hingga saatnya Suci mencoba menghibur Elsa untuk tidak lagi mengingat apa pun yang membuat ia bersedih. Cukup ingatlah apa pun yang membuat Elsa bahagia karena Suci tidak mau kembali melihat air mata Elsa terjatuh hanya untuk menangisi laki-laki yang tidak pantas untuknya.
Sesampainya di sebuah Mall besar, Suci dan Elsa kemudian langsung turun. Suci mengajak Elsa untuk berbelanja untuk kebutuhan sehari-hari terlebih dulu, baru kemudian Suci membelikan beberapa setel baju untuk Elsa.
Bagaikan seorang Kakak yang sedang memanjakan sang adik terlihat jelas di wajah mereka berdua yang sangat bahagia. Bahkan hampir pengunjung Mall yang melihat keakraban mereka berdua malah membuat semua sedikit merasakan iri.
Hampir 3 jam mereka berkeliling Mall dengan belanjaan yang begitu banyak. Hingga membuat sang sopir harus membawakan setengah dari belanjaan Elsa. Namun, di saat mereka ingin kembali pulang, tiba-tiba saja Elsa melihat mantan kekasihnya sedang duduk sendirian di sebuah Cafe.
“Mbak, Mbak. Lihat deh... Itu sepertinya Mas Fajar” ucap Elsa sambil menunjuk ke arah Cafe yang berada di dalam Mall.
“Jika benar itu mantanmu, ayo kita ke sana. Aku ingin tahu penjelasan kenapa dia bisa meninggalkanmu begitu saja” jawab Suci.
“Ta-tapi, Mbak. A-aku takut kalau nanti tiba-tiba istrinya datang ke situ bagaimana?” tanya Elsa.
“Sudahlah, tenang saja. Aku hanya ingin meminta penjelasan dia sebagai laki-laki bukan ingin menghancurkan keluarganya” ucap Suci dengan wajah serius.
“Pak, maaf. Tolong bawa belanjaannya ke dalam mobil ya, saya dan sahabat saya ada urusan sebentar. Nanti kalau sudah selesai saya telepon bapak untuk menunggu di pintu keluar” ucap Suci sambil memberikan beberapa tas belanjaan pada sang sopir.
Dan mereka pun pergi begitu saja mendekati mantan kekasihnya Elsa. Terlihat di wajah Suci kalau ia sedang menahan emosi untuk membela sahabatnya yang sudah di sakiti. Suci ingin tahu seberapa jantannya laki-laki itu saat di mintai penjelasan tentang hubungan mereka berdua.
Elsa yang begitu ketakutan membuat ia hanya mengikuti langkah kaki dari Suci. Bukan tanpa alasan Elsa takut, hanya saja ia tidak mau di tuduh sebagai pelakor yang jelas-jelas wanita itulah yang telah merebut Fajar darinya.
“Kamu harus berani Elsa, jika kamu seperti ini maka laki-laki itu akan terus seenaknya padamu. Namun, jika kamu berani maka laki-laki itu tidak akan bisa menginjak-injakkan harga dirimu sebagai seorang wanita. Paham kamu!” tegas Suci sambil menatap Elsa.
“Pa-paham, Mbak” ucap Elsa dengan gugup.
Kemudian mereka membuka pintu Cafe tersebut dengan perlahan.
“Permisi, Mas. Boleh kami bergabung di sini?” ucap Suci dengan tutup point.
Fajar yang saat itu sedang melamun pun merasa terkejut saat tahu jika Elsa berada di belakang Suci.
“E-elsa...” ucap Fajar sambil berdiri.
“Ya, dia Elsa adikku. Boleh kami duduk di sini!” tegas Suci.
“Bo-boleh, silahkan Mbak” ucap Fajar dengan gugup yang langsung membuat Suci dan Elsa duduk, lalu diikuti oleh Fajar.
“Sa, bagaimana kabarmu?” tanya Fajar sambil menatap Elsa dengan sangat dalam.
“A-aku baik, Mas” jawab Elsa dengan gugup.
“Alhamdulillah, hoya... Aku mau ngasih tahu sama kamu kalau ponselku hilang. Ini saja aku baru membelinya lagi, boleh aku meminta nomormu? Soalnya aku lupa” ucap Fajar sambil memberikan ponselnya kepada Elsa.
“Ti-tidak, Mas. Saat ini kita sudah bukan siapa-siapa lagi, Mas juga sudah memiliki seorang istri. Jadi, lebih baik Mas fokus saja pada rumah tangga Mas yang baru saja di mulai” ucap Elsa dengan lantang.
Fajar terlihat begitu terkejut saat mendengar bahwa Elsa sudah mengetahui semua ini.
“Ka-kamu tahu dari mana aku sudah menikah, Sa?” tanya Fajar dengan wajah penasaran.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hai para readers semuanya 🤗
Perkenalkan ini adalah karya novel ke-3 Author loh 🤩
Semoga kalian menyukainya ya 🤝
Dukung Author terus dengan cara berikut :
Like 👍
Komen 📨
Favorite ❤️
Rate 🌟
Share 📲
Dan tidak lupa pula selipkan hadiahnya ya 😍🙏
Bunga, kopi atau sebagainya pun tak apa kok malah lebih bagus lagi pundi-pundi receh yang berterbangan di karyaku ini hihi 😆😜
Sayang kalian banyak banyak ❤️❤️❤️
Terima kasih semuanya 🙏🙏
Papaaayyy~~~ 🤗🤗
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 282 Episodes
Comments