1 tahun telah berlalu. Kini, kehidupan pernikahan Suci dan Dimas sedikit goyang hanya karena saat ini Suci belum bisa memberikan keluarga Dimas seorang cucu.
Bahkan saat ini pula Dimas sangat sibuk dengan pekerjaannya, ia selalu pulang larut malam dan berangkat sangat pagi sekali untuk bekerja.
Perusahaan Dimas semakin hari semakin meningkat yang membuat ia selalu keteteran saat mengerjakan semua dokumen-dokumen yang tertinggal. Tidak lupa pula, Suci selalu mengirimkan makan siang untuk Dimas dan mengantarkannya ke kantor.
Mashar Group adalah nama kantor Dimas yang dari awal hingga saat ini berkembang sangat pesat. Di saat Dimas sedang sibuk dengan pekerjaannya kemudian ia di kagetkan dengan suara ketukan pintu.
Tok... tok... tok...
“Ya, masuk” ucap Dimas sambil menatap dokumen-dokumennya.
“Assalamualaikum, Mas” Suci mengucapkan salamnya dengan nada yang sangat lembut serta di lapisi senyuman manisnya.
Kemudian, Suci masuk ke dalam ruangan kerja Dimas tak lupa ia menutupnya kembali.
“Waalaikumsalam, Dek. Tumben kamu ke sini di jam seperti ini? Biasanya pas jam makan siang” ucap Dimas sambil menatap Suci.
Suci pun berjalan untuk mendekati Dimas lalu ia mencium tangan Dimas penuh kehormatan.
“Iya, Mas. Habisnya Suci bingung mau kemana lagi, di rumah lagi sepi. Mamah dan Papah lagi pergi, lalu Vina juga kan jarang ada di rumah” jawab Suci.
“Ya sudah kamu istirahat dulu gih di kamar, Mas masih banyak kerjaan. Makanannya taruh di meja saja nanti pas jam makan siang baru kita makan bersama” ucap Dimas sambil kembali mengecek semua dokumennya.
“Maaf ya, Mas. Suci ke sini sudah mengganggu pekerjaan Mas Dimas. Kalau begitu, Suci pulang saja ya biar Mas Dimas lebih fokus” jawab Suci dengan menunjukkan wajahnya yang merasa bersalah.
Dimas yang mendengar ucapan Suci pun langsung menoleh ke arah Suci dan menarik tangan Suci hingga akhirnya ia duduk di pangkuan Dimas.
“Astaghfirullah, Mas Dimas. Ini kantor loh, nanti kalau ada yang masuk bagaimana? Suci malu” ucap Suci sambil menatap Dimas dan ingin kembali bangun, namun Dimas langsung memeluk Suci dengan sangat erat.
“Biarkan seperti ini sebentar saja, Dek. Mas lagi benar-benar lelah. Hanya kamu yang menjadi penguat untuk Mas” ucap Dimas sambil memeluk Suci.
Suci yang merasakan suaminya butuh sandaran ia pun langsung mengelus tangan Dimas dengan sangat lembut. Sehingga akhirnya mereka berpelukan hampir 10 menit lamanya dengan saling terdiam dan cukup merasakan kasih sayang satu sama lain dengan pelukan tersebut.
Dimas kemudian melepaskan pelukannya lalu ia mencium kening Suci sambil berkata “ Alhamdulillah... Terima kasih ya Dek. Kamu selalu bisa menjadi obat untuk Mas dan kamu juga bagaikan charger yang bisa mengisi semua kekuatan tenaga Mas supaya bisa kembali pulih”
“Sama-sama, Mas. Itu sudah kewajiban seorang istri yang selalu menyenangkan hati suaminya. Ya sudah Mas kerja dulu. Suci mau ke pantri untuk membuatkan Mas teh hangat supaya tenaga Mas kembali semangat” jawab Suci sambil tersenyum dan berdiri di hadapan Dimas.
Dimas hanya bisa tersenyum lebar sambil mengedipkan matanya perlahan dan berbarengan dengan menganggukkan kepalanya. Suci pun keluar dari ruangan Dimas, kemudian ia tersenyum dengan sekretarisnya Brian.
“Siang, Bu Suci” Lisa pun berdiri sambil tersenyum dan sedikit menundukkan badanya dengan hormat.
“Eh, Lisa. Bagaimana kabarmu, suamiku bilang katanya kemarin selama 3 hari kamu tidak masuk kerja karena sakit. Memangnya sakit apa?” tanya Suci.
“Ya, Bu. Kemarin-kemarin asam lambung saya naik karena memakan makanan pedas hehe. jadi harus di opname selama 3 hari” jawab Lisa sambil tersenyum.
“Astaghfirullah, kamu ini bandel banget ya. Kan sudah aku bilang jangan makan-makanan pedas, perut kamu itu tidak cukup kuat jadinya begitu kan” ucap Suci sambil menggelengkan kepalanya menatap Lisa yang cengengesan.
“Hehe... Hoya, Ibu Suci mau kemana?” tanya Lisa dengan wajah penasaran.
“Kebiasaan ya kamu, Lis. Kan sudah aku bilang panggil aku Suci saja tidak usah ada embel-embelan Ibu. Aku sudah menganggap kamu seperti sahabatku loh” saut Suci sambil memegang tangan Lisa.
“Tapi saya tidak enak, Bu. Kalau Tuan Dimas tahu bisa-bisa saya di pecat nanti. Bagaimana kalau jika kita sedang berdua saja, saya manggilnya Mbak Suci biar lebih sopan dari pada Suci saya enggak enak Mbak lagian umur saya di bawah Mbak Suci. Dan kalau di depan banyak orang baru saya panggil Ibu” tanya Lisa sambil memegang tangan Suci.
“Ya, sudah gimana kamu saja, Lis. Yang penting aku kurang nyaman dengan sebutan itu, kesannya aku terlalu bagaimana gitu” ucap Suci.
“Sudahlah, Mbak. Tidak apa-apa kok, harusnya Mbak senang dong bisa mendapatkan Tuan Dimas yang di luaran sana masih banyak sekali wanita mengantre untuk bisa mendapatkannya termasuk aku hehe...” ucap Lisa dengan tertawa.
“Ya ampun, kamu itu bisa saja menggoda aku loh Lis. Tapi, apa kamu masih menyukai suamiku hem...” goda Suci sambil menyenggol bahu Lisa.
“Enggak dong, Mbak. Aku sudah ikhlas, dan aku pun sudah move on. Malah aku senang Tuan Dimas bisa mendapatkan wanita cantik, sholehah, dan baik lagi seperti Mbak Suci ini. Jadi aku tenang, tapi kalau wanita centil yang mendapatkan Tuan Dimas, wah... Bisa aku unyel-unyel palanya” ucap Lisa sambil *******-***** tangannya layaknya seseorang yang sedang mengasih pelajaran.
“Aish... Kamu ini ada-ada saja. Ya sudah, aku ke pantri dulu ya. Mau buatkan suamiku minuman, apa kamu mau menitip sesuatu biar aku buatkan sekalian” ucap Suci sambil menawarkan sesuatu.
“Tidak usah, Mbak. Nanti kalau aku pengen pun aku bisa bikin sendiri kok, Mbak bikinin buat Tuan Dimas saja jangan lupa buatinnya pakai cinta biar tambah kelepek-kelepek kaya ikan di darat heheh...” goda Lisa.
“Sudahlah, jika aku terus mengobrol denganmu tidak akan jadi-jadi minumannya. Aku ke sana dulu ya...” saut Suci sambil berjalan menuju pantri.
“Semoga cinta mereka berdua akan selalu bahagia, amin ya Allah. Iri sebenarnya melihat kemesraan mereka, kapan ya aku bisa seperti mereka? Aish... Sudahlah Lisa ayo fokus kerja. Masa depanmu menunggumu di sana, masalah jodoh biar Tuhan yang mengaturnya semoga masih ada orang yang seperti Mas Dimas” gumam Lisa sambil kembali bekerja.
Suci yang sudah memasuki pantri pun langsung di sambut hangat oleh para OB di sana.
“Bagaimana pekerjaan kalian semua, apa ada kendala?” tanya Suci sambil membuatkan teh untuk Brian.
“Alhamdulillah, Bu. Semuanya lancar saja sejauh ini tidak ada kendala apa pun kok” ucap OB wanita.
“Bu Suci, tumben sebelum jam makan siang sudah di sini. Apa jangan-jangan kangen ya sama Tuan Dimas ekhem... ekhem... Aduh kayanya aku keselak deh...” ucap OB wanita lainnya.
“Ya ampun, ayo minum dulu ini hati-hati” ucap Suci yang langsung memberikan air minum kepada OB wanita itu dengan perasaan cemas.
OB yang satunya pun hanya tertawa saat melihat temannya terpaksa meminum air yang di berikan Suci untuknya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hai para readers semuanya 🤗
Perkenalkan ini adalah karya novel ke-3 Author loh 🤩
Semoga kalian menyukainya ya 🤝
Dukung Author terus dengan cara berikut :
Like 👍
Komen 📨
Favorite ❤️
Rate 🌟
Dan tidak lupa selipkan hadiahnya ya 😍🙏
Bunga, kopi atau sebagainya pun tak apa kok malah lebih bagus lagi pundi-pundi receh yang berterbangan di karyaku ini hihi 😆😜
Sayang kalian banyak banyak ❤️❤️❤️
Terima kasih 🙏🙏
Papaaayyy~~~ 🤗🤗
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 282 Episodes
Comments
AdindaRa
Mati dong Liza, klepek klepek gak bisa nafas
2022-08-22
1