Di luar ruangan Dimas
Seseorang kembali menutup pintu dengan tangan satunya yang menutupi wajahnya.
“Loh Pak Dion kenapa tidak jadi masuk?” tanya Lisa yang aneh melihat Dion kembali keluar.
“Bagaimana aku bisa masuk, Lis. Orang mereka sedang itu tuh...” ucap Dion sambil menguncupkan kedua tangannya dan di satukan.
Lisa yang sangat bingung hanya bisa terdiam melihat tingkah aneh dari Dion.
“Hah? Ma-maksudnya bagaimana Pak Dion? Lisa tidak mengerti bahasa tangannya” saut Lisa dengan wajah polosnya.
Di saat Dion ingin kembali menjawab pertanyaan Lisa, kini ia mendengar suara Dimas yang memanggilnya dari dalam ruangan.
“Aish... Sudahlah, jangan kepo! Kamu masih di bawah umur mending fokus kerja saja. Dahhh...” ucap Dion sambil tersenyum melambaikan tangannya dan masuk ke ruangan Dimas dengan sangat hati-hati.
Dion membuka pintu ruangannya Dimas secara perlahan sambil mengintip.
“Cepat masuk, atau aku jepit palamu itu” ucap Dimas dengan nada tegasnya.
“Yakk... Jangan dong, iya-iya ini aku masuk. Hoya... Bagaimana tadi, sudah berhasil kan mengisi vitamin” ucap Dion yang langsung duduk di depan Dimas dengan wajah yang mengintimidasi.
“Apaan, baru juga mau nempel tapi sudah di ganggu saja, akhirnya di tunda dulu lah. Tahu sendiri istriku seperti apa. Dia sangat pemalu dalam melakukan hal seperti itu. Bahkan, saat di kamar pun dia masih saja malu padahal kita menikah sudah 1 tahun ini” saut Dimas yang kembali meminum teh.
“Ya sih, istrimu memang seperti itu sifatnya. Tetapi di balik rasa malunya, dia adalah wanita yang sangat di cari semua laki-laki. Kalau pun aku yang bertemu dengan Suci, mungkin saja aku sangat bahagia punya istri seperti dia yang cantik, sholeh, perhatian, bisa menyenangkan suami, bahkan baik pula. Apa lagi yang kurang dari dia” ucap Dion sambil tersenyum-senyum.
Dimas yang melihat ekspresinya Dion merasa sangat kesal, lalu ia mengambil map dan melemparkannya tepat di wajah Dion yang membuat bayangannya seketika hilang.
“Ouchh... Sakit tahu” saut Dion sambil mengusap wajahnya.
“Sekali lagi berani membayangkan istriku... Maka tidak ada lagi kata pertemanan. Mengerti!” ucap Dimas dengan emosi.
“Hehe... Santai, Bro. Aku bercanda kok, lagian kalau dia punya kembaran aku mau minta dikenalin. Kalau enggak punya ya sudah, ngapain mengejar istri orang. Kaya tidak ada harga diri saja, aku laki-laki tampan, baik, kaya, romantis, dan juga perhatian. Masa ia tidak ada wanita yang mau denganku, mana mungkinlah” jawab Dion dengan nada sombongnya.
“Jika itu tidak mungkin maka kau tidak akan jomblo selama 2 tahun ini. Paham!” ucap Dimas dengan jengkel.
“Yak... Kenapa kau mengungkitnya sih. Lagian aku jomblo juga ada sebabnya lah” saut Dion.
“Apa sebabnya? Tidak laku? Kurang tampan? Banyak selingkuhan? Atau jangan-jangan kau menjadi simpanan tante-tante di luar sana?” tanya Dimas yang mendekati wajah Dion.
“Idishh... Amit-amit tujuh turunan, tujuh tanjakan. Ogah banget aku sama tante-tante. Ya kali kaya tidak ada gadis lain saja” ucap Dion dengan wajah kesalnya.
“Permisi, maaf mengganggu” ucap Suci yang sudah keluar dari kamar mandi.
“Hai bidadari tanpa sayap, apa kabar?” tanya Dion sambil menatap jahil kepada Suci.
“Alhamdulillah baik, Mas Dion sendiri bagaimana kabarnya? Katanya lagi keluar negeri ngurusin bisnis Mas Dimas. Lalu, apa sekarang sudah selesai makanya Mas Dion balik ke sini?” tanya Suci dengan wajah polosnya.
“Ya, dong. Kan aku kangen sama bidadari tak bersayap” ucap Dion.
Dimas yang sudah sangat kesal pun mengepalkan tangannya, namun Dion hanya melirik sekilas pada Dimas tetapi di dalam hatinya Dion tertawa dengan sangat puas.
“Bidadari tak bersayap? Memang ada bidadari pakai sayap Mas Dion? Bukannya bidadari pakai selendang ya. Kalau ada sayapnya itu namanya burung loh bukan bidadari. Mas Dion salah lihat kali, makanya baca buku dong” ucap Suci penuh kepolosan yang membuat Dimas tertawa terbahak-bahak saat mendapati jawab polos dari Suci.
“Bhaha... Syukurin, makan tuh” ucap Dimas yang kembali tertawa.
Dion pun yang melihatnya hanya bisa mengusap wajahnya dengan sangat kasar. Dia kira Suci adalah wanita yang mudah di rayu. Tapi, nyatanya malah ia sangat susah untuk di rayu. Bahkan sangat polos.
“Loh Mas Dimas kenapa tertawa sih, memangnya ada yang lucu?” tanya Suci dengan wajah yang kebingungan.
“Tidak sayang, sudah lupakan saja” ucap Dimas yang sudah selesai tertawa.
“Hoya... Apa Mas Dion sudah makan?” tanya Suci yang kembali membuat Dimas terkejut.
“Belum nih...” jawab Dion dengan wajah lesunya.
“Ya sudah, ayo kita makan bareng-bareng. Lagian juga Suci membawa makanan lumayan banyak. Jadi cukuplah buat kita makan bertiga, atau kalau perlu kita ajak makan saja Lisa. Bagaimana Mas Dimas, Mas Dion?” tanya Suci dengan wajah cerianya.
“Sayang, kenapa kamu ngajakin dia makan sih. Kan ini masakan kamu khusus untuk aku, jadi tidak perlu ajak mereka makan. Mereka juga bisa membeli makan sendiri di kantin, ya kan Dion?” kode Dimas kepada Dion yang malah membuat Dion seolah-olah tidak mengerti.
“Enggak argh, aku malas makan di kantin. Masakannya kurang enak, lebih baik aku makan masakan Suci yang lebih nikmat” ucap Dion yang kembali memanas-manasi Dimas.
“Mas Dion bisa saja, ya sudah Suci siapkan dulu ya sebentar” ucap Suci yang langsung berjalan menuju sofa untuk menyiapkan makanan yang sudah ia bawa.
Dimas yang sudah sangat jengkel pun langsung berdiri mendekati Dion.
“Awas saja kalau kau macam-macam dengan istriku, maka akan aku buat kau kembali merasakan di sunat” ancam Dimas dan langsung berjalan mendekati Suci.
Glegek !...
Dion menelan air liurnya dengan susah payah sambil berkata di dalam hatinya “Astaga, ini orang kenapa bisa galak banget sih. Padahal kan aku hanya memanas-manasinya saja. Kenapa dia serius menanggapinya? Tahulah bagaimana dia saja, yang penting hari ini aku bisa menikmati masakan Suci yang enak itu ”
Dimas pun duduk di sofa sebelah Suci yang sedang menata makanan di atas meja. Dion pun yang sudah menghilangkan rasa takutnya pun langsung duduk di sofa lainnya sambil menatap wajah Suci.
“Jika ada seseorang yang telah lancang berani menatap wajah istriku, maka akan aku pastikan besok nyawanya sudah hilang” ucap Dimas dengan aura mencekam.
Dion yang merasa tersindir pun langsung gelagapan dan berpura-pura memainkan telepon genggamnya.
“Sudahlah Mas, jangan galak-galak kenapa sih... Jadi orang itu harus ramah, jika Mas galak seperti ini yang ada semua karyawan bisa-bisa kabur loh kalau atasannya kaya begini” ucap Suci yang sudah selesai menata semuanya.
“Biarkan saja sayang, itu peringatan buat semuanya TANPA TERKECUALI!” ucap Dimas yang kembali menekankan kata-katanya.
“Ya sudah, Mas juga tidak boleh menatap wajah Suci karena jika Mas menatap wajah Suci maka nyawa Mas besok akan hilang” ucap Suci yang menirukan perkataan Dimas.
Bukan hanya Dion yang terkejut, melainkan Dimas pun ikut terkejut saat mendengar penuturan kata Suci barusan.
“Loh sayang... Kok gitu sih, aku kan suamimu kenapa aku enggak boleh melihat wajah cantik istriku?” rengek Dimas.
“Kan Mas sendiri yang bilang tadi tidak ada pengecualian, jadi ya sudah jangan menatap Suci. Eh, tu-tunggu deh. Kalau tanpa pengecualian berarti Suci juga tidak boleh menatap wajah Suci sendiri di cermin dong Mas. Lalu, bagaimana jika Suci ingin berias? Apa Suci harus menutup mata saat di cermin?” tanya Suci yang penuh kebingungan.
Dion pun yang dari tadi berusaha menahan tawanya tidak bisa terus menerus seperti ini, ia langsung berlari keluar ruangan Dimas lalu ia tertawa sepuasnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hai para readers semuanya 🤗
Perkenalkan ini adalah karya novel ke-3 Author loh 🤩
Semoga kalian menyukainya ya 🤝
Dukung Author terus dengan cara berikut :
Like 👍
Komen 📨
Favorite ❤️
Rate 🌟
Share 📲
Dan tidak lupa pula selipkan hadiahnya ya 😍🙏
Bunga, kopi atau sebagainya pun tak apa kok malah lebih bagus lagi pundi-pundi receh yang berterbangan di karyaku ini hihi 😆😜
Sayang kalian banyak banyak ❤️❤️❤️
Terima kasih semuanya 🙏🙏
Papaaayyy~~~ 🤗🤗
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 282 Episodes
Comments
AdindaRa
Suci polosnya nggemesiiiiin yaaaa. 🤭
2022-08-22
4
Desilia Chisfia Lina
polosnya istri dimas
2022-08-14
2