“Kamu pria baik-baik Mas, tidak seharusnya kamu menderita seperti ini hanya karena diriku hiks... Insya Allah, aku akan mencoba mengikhlaskan terlebih dahulu hatiku untuk kamu menikah lagi dan memiliki keturunan. Jika aku sudah siap, maka aku akan langsung membicarakan hal ini denganmu Mas. Sekali lagi maafkan aku yang belum bisa menjadi seorang istri yang sangat sempurna serta baik untukmu. Dan aku pun minta maaf juga karena belum bisa membahagiakan kamu beserta keluargamu hiks...”
Suci menangis di dalam kamar mandi saat mendengar semua pembicaraan antara Dimas dan Dion.
Ya, Suci sudah mengetahui kepergian Dion yang secara tiba-tiba saja untuk keluar negeri itu pasti karena di suruh oleh Dimas.
Dan nyatanya benar dugaan Suci selama ini, maka dari itu ia berpura-pura ke kamar mandi padahal Suci hanya ingin tahu tujuan Dimas menyuruh Dion pergi ke luar negeri. Padahal Dion selama ini tidak pernah mau pergi jauh tanpa adanya Dimas di sampingnya.
Apa lagi ini masalah pekerjaan, otomatis seharusnya Dimas lah yang akan turun tangan sendiri. Melainkan bukan hanya Dion yang mengurus semuanya sendirian, karena ia hanya sebagai tangan kanan atau pun orang kepercayaan Dimas.
Di saat Suci sudah berhenti menangisi takdirnya, ia pun segera mencuci wajahnya agar terlihat lebih segar lagi. Dan ia tidak lupa untuk sedikit membenarkan riasan wajahnya menggunakan alat rias yang ia bawa di dalam tas kecilnya untuk berjaga-jaga supaya di saat ia sedang menangis alat tersebut bisa sedikit menutupi atau menyamarkan wajah yang sembab.
Setelah semuanya selesai Suci langsung membuka pintu kamar mandi serta tidak lupa berkaca lebih dulu agar terlihat sempurna di depan Dimas tanpa membuatnya curiga.
Dengan perlahan Suci menarik nafasnya dan duduk di samping Dimas yang sedang menundukkan kepalanya dengan tangan mengepal di tempel tepat atas dahi. Suci pun mengelus punggung Dimas dengan perlahan yang membuatnya sedikit terkejut.
“Sayang...” ucap Dimas langsung menoleh dengan wajah lesunya ke arah Suci yang sedang tersenyum lebar.
“Ada apa, Mas? Sepertinya Mas terlihat sangat lelah...” jawab Suci sambil menatap wajah lesu Dimas.
“Tidak ada apa-apa, sayang. Mungkin benar katamu, aku hanya sedang kelelahan saja. Habisnya pekerjaan aku semakin hari semakin menumpuk jadi ya kamu tahu sendirilah, Dek. Bagaimana aku ini saat bekerja” ucap Dimas yang berusaha tersenyum.
“Kamu memang pandai membohongi perasaanmu sendiri Mas, hanya demi menutupi semuanya dariku. Aku tahu kamu seperti ini karena kamu sangat mencintaiku, makannya kamu mengesampingkan pekerjaanmu dan menomor satukan diriku supaya tidak lagi di hina oleh Mamah ” ucap Suci di dalam hatinya dengan wajah yang masih tersenyum.
“Ya sudah, Dek. Lebih baik istirahat di rumah saja biar aku teruskan pekerjaan ini, lagian sebentar lagi aku akan ada meeting di luar kantor bersama Dion serta Lisa” ucap Dimas sambil menggenggam tangan Suci.
“Baiklah, suamiku. Semangat bekerjanya ya, semoga lelahmu menjadi berkah untuk keluarga kita. Dan semoga Mas selalu di berikan kesehatan supaya bisa lebih semangat lagi kerjanya” jawab Suci dengan tersenyum lebar serta menunjukkan lesung pipi yang begitu manis.
Dimas yang melihat senyum Suci pun kembali merasakan kesegaran di dalam tubuhnya. Entahlah, Dimas merasa seperti telah di beri vitamin yang langsung memberikan efek cepat pada tubuhnya.
“I love you, suamiku yang tampan. Suci pulang dulu ya... Semangat kerjanya, jaga diri baik-baik dan jangan lupa selalu kabari Suci supaya Suci tidak merasa khawatir saat melihat kondisi Mas yang kurang fit seperti ini” ucap Suci.
“Siap, istriku yang cantik. Kamu juga baik-baik ya di rumah, kalau Mamah marah-marah Mas mohon kamu lebih sabar lagi ya untuk ngadepin sifat jelek Mamah. Dan kamu juga di jalan hati-hati, langsung pulang jangan kemana-mana lagi tanpa aku” ucap Dimas.
“Ya, Mas. Suci paham kok. Ya sudah Suci pamit ya... Assalamualaikum suamiku” ucap Suci sambil mencium tangan Dimas dengan wajah tersenyum.
“Waalaikumsalam...” ucap Dimas yang tidak lupa mengecup kening Suci dengan lembut.
Suci pun pergi sambil melambaikan tangannya dan langsung keluar dari ruangan Dimas. Dengan begitu wajah Dimas kembali murung, dia tidak tahu harus bagaimana lagi untuk menyembuhkan Suci.
Dimas sudah tidak kuat saat melihat perlakuan sang Mamah kepada istrinya yang selalu memperlakukannya layaknya seorang pembantu. Bahkan sekarang Mamahnya selalu saja membanding-bandingkan Suci dengan menantu tetangganya yang baru saja beberapa bulan menikah sudah dikaruniai seorang anak yang lucu dan menggemaskan.
“Mau pulang, Mbak?” tanya Lisa sambil berdiri saat melihat Suci keluar dari ruangan Dimas.
“Iya, Lis. Aku duluan ya, kamu kerja yang benar jangan banyakin makan pedas kasihan lambungmu nanti tambah parah” ucap Suci yang memberikan perhatian pada Lisa.
“Asyiap, Bu cantik” jawab Lisa sambil hormat kepada Suci.
“Eleh... eleh... Kamu ini ada-ada saja tingkahnya. Dasar.. Sudahlah aku pamit pulang dulu, baik-baik kau di sini ya yang betah jangan berantem terus sama jodohmu itu. Tidak baik, loh...” ledek Suci.
“Jo-jodoh? Ma-maksudnya siapa jodohku yang Mbak Suci maksud itu?” tanya Lisa dengan wajah yang penasaran.
“Mas Dion toh siapa lagi... Sudah ya aku pulang dulu, Assalammuaikum...” ucap Suci yang pergi meninggalkan Lisa dengan keadaan terdiam mencerna ucapan yang Suci berikan tadi.
“Ma-mas Dion jodohku?” tanya Lisa kepada dirinya sendiri.
“Argghhh... E-enggak, enggak mau. Amit-amit tujuh turunan. Pria menyebalkan seperti itu mana mungkin bisa menjadi jodohku, ya ampun bisa stres aku lama-lama. Dahlah mending lanjut kerja lagi biar cepat pulang ke Apartemen” gumam Lisa yang kembali duduk di kursinya sambil memainkan laptopnya.
Suci pun berjalan keluar kantor Dimas dengan perlahan yang mendapatkan sambutan hangat dari karyawan Dimas. Suci hanya bisa tersenyum sambil menganggukkan kepalanya. Suci tidak menyangka bahkan banyak karyawan Dimas yang sangat menyukainya.
Suci memang dikenal sebagai wanita berhati emas yang selalu mau berteman dengan siapa saja tanpa memperdulikan masalah status, pekerjaan ataupun harta mereka.
Dengan perlahan Suci menaiki mobilnya yang telah di belikan oleh Brian dan tak lupa beserta sopirnya. Mobil pun pergi meninggalkan kantor Brian. Namun, di saat perjalanan tiba-tiba saja sang sopir berhenti secara mendadak.
Ciiiiaaattt !...
Suara kampas rem yang di tekan habis untuk menghindari sesuatu.
“Astaghfirullah, ada apa ini Pak Dandi? Kenapa tiba-tiba saja Bapak berhenti begitu saja. Bagaimana jika mobil besar di belakang kita tidak bisa berhenti? Pasti kita hanya tinggal nama saja, Pak?” ucap Suci dengan suara jantung yang berdetak sangat kencang.
Degh... Degh... Degh...
“Ma-maaf, Bu Suci. Itu di depan ada seorang wanita yang ingin bunuh diri di atas jembatan” ucap Pak Dandi dengan wajah cemasnya sambil menunjuk ke arah wanita tersebut.
Suci yang mendengar penjelasan dari Pak Dandi pun langsung buru-buru turun dari mobil dan sedikit berlari ke arah wanita tersebut.
“Hiks... Kamu jahat Mas Fajar, kamu jahat sama aku. Kenapa kamu menikahi wanita itu ketimbang aku hiks... Padahal kita sudah 10 tahun bersama, tapi di saat aku sudah siap untuk menikah kamu malah memutuskan hubungan ini dan memilih wanita itu hiks...”
“Apa salahku, Mas Fajar! Apaaaaaa!!!... hiks...” teriak wanita tersebut sekeras mungkin dengan keadaan yang sudah kacau balau.
“Lebih baik aku mati saja, Mas hiks... Sudah cukup aku hidup menderita sebatang kara seperti ini. Tapi di saat aku ingin merasakan kebahagiaan kamu malah merenggutnya dariku hiks.. Aku benci sama kamu Mas Fajar!! Aku Benciiiiiii...!! Selamat tinggal Mas...” teriak wanita tersebut dengan merentangkan kedua tangannya sambil mendongak menutup kedua matanya.
Suci yang telah berhasil memeluk pinggang dari wanita tersebut pun langsung menariknya untuk turun dan menjauh dari pembatas jembatan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hai para readers semuanya 🤗
Perkenalkan ini adalah karya novel ke-3 Author loh 🤩
Semoga kalian menyukainya ya 🤝
Dukung Author terus dengan cara berikut :
Like 👍
Komen 📨
Favorite ❤️
Rate 🌟
Share 📲
Dan tidak lupa pula selipkan hadiahnya ya 😍🙏
Bunga, kopi atau sebagainya pun tak apa kok malah lebih bagus lagi pundi-pundi receh yang berterbangan di karyaku ini hihi 😆😜
Sayang kalian banyak banyak ❤️❤️❤️
Terima kasih semuanya 🙏🙏
Papaaayyy~~~ 🤗🤗
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 282 Episodes
Comments